
Sinar matahari mulai menembus jendela, burung-burung berkicau, seorang gadis mengerjapkan matanya, meregangkan tubuhnya. Gadis itu terduduk dan mengumpulkan nyawanya.
Gadis itu mendatarkan wajahnya, karena mengingat abang pertamanya mengganggu waktu tidurnya. Menggosok matanya pelan, dan beranjak dari tempat tidur nya. Melirik ke arah jam, dan terburu-buru membersihkan badannya ke kamar mandi.
"Anak Anjing, anak babi! Gue jadi bangun kesiangan kan?! Mana gak dibangunin gue."
Vina, turun dari tangga dengan tergesa-gesa, menuju meja makan.
Vina mengambil satu roti yang sudah dibuat oleh mama nya.
"Nak, pelan-pelan! Ntar kamu kesedek!"
Benar saja saat menelan makanannya, gadis itu tersedak, dan buru-buru meminum air putih nya. Vina melahap makanan dan minuman nya sampai tandas.
"Pah, mah. Aku berangkat dulu ya!" Pamit nya. Dirinya berlari ke luar rumah.
"Hati-hati nak!" teriak mamanya. Papanya dan Carlos hanya diam.
Mengingat Calos yang tidak kunjung pulang, membuat Maya, Raditya, maupun Carlos merasa marah.
"Calos, anak kamu udah tambah berandal, Raditya." Celetuk Maya.
Raditya menghela nafasnya. "Aku berangkat." Tidak menghiraukan ucapan Maya, dirinya dengan cepat berangkat.
Carlos menatap wajah mamanya. Terlihat sendu, mereka tidak biasa dengan suasana ini. Dirinya juga sama, meratapi keluarga nya yang berada di ambang kehancuran. Entah siapa yang pantas di salahkan.
...🥀🥀🥀...
Gadis itu turun dari motornya, berlari ke arah kelasnya. Saat di depan kelasnya, dirinya bersandar pada dinding dan terengah-engah. Melihat ke dalam kelas, belum ada guru. Gadis itu perlahan ingin membuka pintu kelas, mendongak ke atas. Dirinya tersenyum miring.
"Pasti mau ngerjain gue lagi nih!" Gadis itu menendang pintu.
BRAK...
Byursh...
Ember berisi air kotor jatuh dari atas pintu, tapi sebelum itu dirinya menghindar agar tidak terkena air itu.
"Udah basi, bung!" Batinnya. Anak-anak dalam kelas terdiam, padahal mereka menunggu hal yang menarik.
"Eh! Sialan kok basah nih lantai?!" Pekik seseorang dari belakang Vina. Vina menoleh.
"Nih anak telat juga."
"Siapa yang buat nih!?" Tanya nya dengan sedikit berteriak.
"Gak tau, Na!" Teriak salah satu murid dalam kelas.
"Akh!! Mana hari ini gue piket!" Rutuk Sena.
Vina hanya masuk, melangkahi air yang menggenang itu. "Masuk tinggal masuk, Semak belukar."
"Ish, nama gue diganti-ganti.
Mereka duduk di kursi masing-masing. Guru yang mengajar masuk, dan seketika wajah nya memerah.
"KALIAN SEMUA SIAPA YANG BERBUAT INI!!"
"BRIANA SAMA TEMAN-TEMANNYA BU!" Jawab serentak murid-murid kecuali Vina dan Sena. Vina menatap orang yang disebutkan, orang yang pernah membully Audi, kini dia yang membully Vina.
"BRIANA SAMA YANG LAIN NYA, BERSIHKAN INI. SEKARANG!"
...🥀🥀🥀...
Calos, pemuda itu berjalan dengan santai. Baju seragamnya berantakan. Saat ini dia tidak masuk sekolah. Masuk ke sebuah bar, memesan minuman. Menunggu teman-temannya.
__ADS_1
Ada seseorang yang menepuk pundak Calos, "Wih, bro. Udah nyampe aja Lo!"
"Oit, Regar, Galang!" Calos menyapa kedua temannya ini. Duduk bersama dengannya.
"Jadi, ada kerjaan apa nih?" Tanya salah satu temannya yang berkacamata, dan hidung mancung nya. Terlihat tampan.
"Bantu gue buat deket sama Vina."
"Vina? Adik lu itu?" Tanya pemuda satunya, memakai baju dengan dua kancing atas yang dibuka.
"No. Bukan adik. Calon masa depan."
"Cih. Adik sendiri diembat." Decih pemuda berkacamata.
"Lo kayak gak tau aja sih, Lang!"
"Yee, Lo juga gak tau kali, Gar!"
Calos meneguk minumannya, meminta kembali.
"Jadi, apa rencana Lo?"
Calos menggoyangkan gelas wine nya. Tersenyum miring.
"Ada rencana yang pasti sangat menarik."
"Apa itu?" Tanya teman nya tidak sabaran.
"Jebak dia. Dan bawa dia, ke hadapan gue."
...🥀🥀🥀...
Vina dan Sena datang ke aula sekolah. Pada jam kedua tadi, pemilik sekolah datang, dan akan mengumumkan sesuatu. Jadi, satu sekolah dikumpulkan di aula sekolah.
"Ini ada pengumuman apa yak?" Tanya Sena pada yang duduk di sampingnya.
"Ah elah. Serius dikit napa!"
"Gue gak tau, semak belukar!"
Seorang kakek tua, menaiki panggung yang ada di dalam aula. Mengetuk mic yang sudah disiapkan.
Kakek itu berdiri dengan tegak penuh wibawa, "kalian semua pasti penasaran, mengapa saya mengumpulkan semuanya disini. Saya ingin mengumumkan sesuatu hal yang penting."
Vina melihat wajah kakek nya itu, rasa rindu menjalar. Rindu dengan pelukan hangat kakeknya. Rindu dengan wajah keriput kakeknya. Dirinya tersenyum sendu, alis mengerut. Mata nya berkaca-kaca, mengingat kenangan nya. Sena yang berada di sampingnya meliriknya, merasa ada yang berbeda dengan tatapan itu.
"Vina, kenapa?" Batin Sena.
"Kalian akan memiliki kepala sekolah baru. Ayo, silahkan naik."
Seorang perempuan naik ke panggung, dan melangkah ke arah kakek tua itu. Mata Vina membulat, mulutnya menganga.
"Keyla!"
Perempuan itu, berdiri di panggung. Menatap sekeliling, menatap murid-murid di depannya yang melihat nya dengan tatapan kagum dan iri.
"Selamat pagi semua. Perkenalkan saya Keyla Maharani William. Saya kepala sekolah baru di sekolah di sini. Salam kenal."
Vina tersenyum tipis, melihat adiknya. Dirinya senang melihat adiknya itu, berarti dirinya sudah bisa menjaga Keyla kembali.
Setelah beberapa pemberitahuan, semua murid kembali ke kelasnya masing-masing. Saat melangkah ke luar dari aula, seseorang mencekal lengan nya.
"Kak."
Vina membulatkan matanya, matanya melirik Sena yang menatap dirinya, dan menoleh pada orang yang menahannya.
__ADS_1
"Wih. Kepala sekolah tuh, langsung nyariin Lo. Gue duluan ya. Kalau mau mesra-mesraan jangan di jalan, oke!" Sena langsung berlari menjauh, sebelum diamuk Vina.
"Gue masih normal, semak belukar!" Teriak Vina. Vina menoleh pada seseorang yang menahannya.
"Keyla." Keyla ingin memeluk nya, namun Vina tahan.
"Ke.. kenapa kak?" Mata Keyla berkaca-kaca, bibir nya melengkung ke bawah.
Mata Vina melirik pada kakek tua yang di samping Keyla. Kakek tua itu hanya menatap datar dirinya, tanpa ekspresi.
Vina melangkah mundur, "sa.. saya masuk kelas dulu."
Vina berlari menjauh. Belum. Belum saatnya dirinya ketahuan oleh orang. Keyla terlalu kentara.
"Yak! Aish! Yang penting aku tau, kakak ada di sini." Gumamnya.
...🥀🥀🥀...
Gadis berkacamata melihat Vina bertemu dengan adiknya sendiri. Dirinya berbalik, menjauh. Bukan ke arah kelas, dirinya ke taman belakang. Dan duduk di salah satu kursi taman.
"Saya tahu, kamu ada disini, Sasya. Oh, atau saya panggil Claudia." Ujar seseorang di depan gadis berkacamata itu. Gadis berkacamata itu menatap nya.
Gadis itu berkata sinis, "Anda tau, wahai wanita tua. Semua ini terjadi, karena Anda. Anda pokok permasalahan semua nya."
Orang itu, berjaket hitam dan menutupi tubuhnya, serta masker nya yang setia menutupi wajahnya.
"Kamu sudah sadar dengan cepat ya?" Orang itu berjalan mendekati nya. "Kamu sepintar itu, tidak salah saya memilih kamu, untuk menjalankan tugas ku."
"Aku begini, juga karena Anda mengancam ku!" Gadis berkacamata itu berdiri, berjalan ke depan orang itu.
"Dasar wanita tua! Gila! Sinting!"
Orang itu mengeraskan rahangnya, menarik kerah seragamnya. "Jaga omongan kamu, Sya. Ingat, saya tidak main-main dengan omongan saya!"
"Tuhan, akan segera mengakhiri perbuatan mu!"
"Omong kosong!"
...🥀🥀🥀...
Vina yang tadi berlari ke arah taman sekolah, mendengar semua perbincangan gadis berkacamata itu, dengan orang yang tidak dikenal itu.
"Who is that?!"
Vina berjalan menghampiri mereka.
"Gak perlu kesana. Mereka juga sudah mau pergi."
Vina menoleh, "Sena."
Sena tersenyum, "Vin, gue gak sebodoh itu percaya sama seseorang." Sena melirik ke taman sekolah, dua orang itu sudah pergi ke arah utara, sedangkan mereka berada di arah timur.
"Gue percaya Lo, gak semudah itu. Dan gue percaya Audi, gak semudah itu juga." Sena menatap Vina kembali.
Vina terdiam memandang dingin Sena. "Terus?"
"Gue bisa percaya Lo. Tapi tidak dengan gadis itu, dia terasa gak asing." Sena membuang pandangannya ke samping.
"Jadi, karena Lo percaya sama gue, Lo jadi bilang apapun ke gue? Tanya Vina. Vina mendekat dan berbisik, "kalau begitu kita sama, Sena. Bisa saling mempercayai, karena saling mencari tahu kan?"
Sena tersenyum miring, "ya benar, kita benar-benar serasi."
"Gue normal, bodoh!" Vina menepuk kepala Sena. Sena tertawa terbahak-bahak, Vina berbalik dan melangkah menjauh. Sena menyusul nya dengan tawanya.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...