
Cklek..
Pintu yang terbuka mengalihkan perhatian orang-orang yang sedang berbincang di ruang tamu.
"Eh.. aa.. umm.. maaf aku ganggu kalian."
Vina tersenyum tipis. "Enggak kok. Ayok sini, Vero," ajak Vina.
"Dia siapa Vin?" Tanya Amanda yang bersandar di bahu Vina sembari memakan cemilan kripik yang tersedia.
"Orang yang bully Vina," jawab Gio, yang sebenarnya masih benci pada Vero. Veronica ini masih harus ia pantau, benar-benar berubah jadi baik atau tidak.
Mendengar omongan sinis Gio, membuat Vero menghentikan langkah nya dan menggigit bibirnya.
'Mungkin ini benar-benar karma buat gue, dari semua perbuatan gue selama ini.' Batin Vero menghembuskan nafasnya.
"Gio, kita udah omongin ini!" Vina menatap tajam kearah Gio yang hanya dibalas dengusan dari pemuda itu.
"Lo dibully? Biasanya Lo langsung bales orang yang berani nyentuh Lo," kata Jane menopang dagunya. Vina terkekeh.
"Yep, itu yang gue lakukan. Dan Vero, dia udah berubah," jelas Vina, kembali memanggil Vero. "Ver, Lo harus makan. Kasian bayi Lo, laper ntar."
Vero melangkah kembali menuju Vina dan mendudukkan dirinya dengan ragu, ditatap dengan berbeda-beda seperti sekarang membuatnya risih. Vina beranjak, membuat Amanda mau tak mau bergeser.
Ternyata dia memberikan makanan dan susu ibu hamil untuk Vero dari dapur, dan memberikan nya pada Veronica. Vina sebenarnya ingin bertanya sesuatu yang ada dipikirannya, karena seperti nya dia lupa sesuatu, bukan nya jika ada Vero, pasti ada.. Laura! Nanti saja dia tanyakan.
"Makan. Gue tau Lo laper."
Vero benar-benar tak menyangka dia diberlakukan sangat baik oleh Vina, orang yang sudah dia sakiti terus menerus. Rasanya dia ingin menenggelamkan diri di air, betapa malunya dia pernah iri pada orang berhati malaikat seperti, Vina.
"Makasih," ucap Vero menahan tangis nya, membuat nada bicaranya sedikit bergetar. Dan memakan makanan yang sudah Vina berikan. Dia baru merasakan ketulusan.
...π€π€π€...
"Lo yakin? Dia udah berubah?"
Vina tersenyum tipis, dan menghadap Gio, Keyla, Roby, Sena, dan Audi. Gadis itu menggeleng, "gue gak yakin. Tapi setidaknya mari kita liat perkembangan nya. Lo tau kan kalau kita perlakukan dia dengan baik pasti lama-lama dia juga merasa rasa bersalah. Dan jika kembali jahat, kalian tau apa yang harus kalian perbuat, kayak gue yang tau gue harus perbuat apa."
Gio mengangguk sambil melirik ke kamar. "Bener kata Lo, Vin. Apapun itu gue rasa, gak salah mencoba percaya."
"Ya gue setuju sama Lo," ujar Keyla.
"Tambahan, setidaknya, saat itu berlanjut, kita masih dengan sikap kita yang sebenarnya. Kalian paham maksud gue kan?" Sena menaikkan sebelah alisnya, berharap mereka mengerti apa yang dirinya maksud.
__ADS_1
"Kita ngerti kok, Sen. Kita jalanin ini dengan apa adanya sifat kita," jawab Audi. Membuat semuanya mengangguk, selain Sena.
"Yaudah gue mau pergi bentar. Mau ngurus sesuatu dulu," pamit Roby yang beranjak dari duduknya. Membuat pandangan semua mengarah pada pemuda itu.
"Tumben. Emang ngurus apa?" Tanya Keyla menaikkan sebelah alisnya, bingung. Gio hanya bisa menatapnya dengan maksud yang tidak bisa Roby terjemahkan.
"Ada aja. Ya udah gue pergi bentar." Roby langsung melangkah pergi ke luar rumah, tanpa ingin mendengar celotehan lainnya, yang akan membuat nya lama untuk pergi dari sana.
...π€π€π€...
...π₯π₯π₯...
Pemuda itu memarkir kan mobilnya di sebuah club yang sudah lama di tak kunjungi, dia bisa mengingat perbuatan bejatnya saat itu. Walau dia hanya mengingat beberapa bagian dari wajah gadis itu.
Tapi seperti nya dia ingat, pemuda itu mabuk, dan membuat seseorang yang menemani nya untuk mabuk itu malah jadi incarannya. Dan berakhir diβ
"Roby, Lo adalah manusia terbejat!" Desis Roby memukul-mukul kepalanya, bahkan air matanya siap tumpah. Dia ingat, waktu itu, dirinya terpengaruh akan alkohol.
"Dan.. dan gadis itu. Gadis itu benar dia," ucap Roby dengan nada nya yang gusar. Diri nya menggenggam erat setiran dan menunduk.
"Apa yang bakal Vina lakuin ke gue, kalau dia tau, kalau gue sebejat itu?" Tanya Roby pada dirinya sendiri.
...π₯π₯π₯...
Awal nya Roby sepulang dari berkunjung ke club itu, dirinya membeli banyak bahan makanan. Dan sampai di rumah dia dikejutkan dengan tiga orang tambahan dari Bogor.
"Makanan telah siap," ujar Roby memanggil orang-orang yang sedang bersantai. Mereka dengan semangat bangkit dan mengambil makanannya.
"Weh, tau gak sih tadi Roby sama Vero udah kayak keluarga bahagia," celetuk Sena dengan nada bercanda, saat mereka sudah kembali ke ruang tamu, sembari menonton televisi.
Roby terdiam kaku. Dan celetukan Sena membuat wajah Vero memerah, perempuan itu menatap wajah Roby dengan seksama. Dan seperti nya baru menyadari, wajah pemuda itu tidak asing.
Membuat Vina berdeham, "Vero liat nya biasa aja dong~"
"Ah, itu. Tadi aku liat nasi di hidung nya Roby," gelagapan Vero mencari alasan.
Membuat Roby panik, dan mengelap wajahnya. "Mana? Dimana?"
"Bercanda," jawab Vero dengan polos. Membuat semuanya tertawa, kecuali Roby dan Vero.
"Mereka cocok memang." Audi mengemukakan pendapat nya, sembari membetulkan kacamata nya.
Vina terkekeh. Dan merasakan getaran handphone dalam sakunya, lalu melihat siapa yang menelepon nya. Gadis itu beranjak dari duduk nya setelah menaruh makanan nya di meja, pergi keluar, ke halaman.
__ADS_1
"Edward."
"Halo, Vin. Udah lama kita gak ketemu. Tadinya aku nunggu kamu, di sekolah. Ternyata malah kamu gak masuk-masuk," ujar seberang sana. Nada nya terdengar menyedihkan.
"Bahkan aku sama sekali gak liat, kamu, Sena, Calos atau Carlos, selama semingguan ini. Kemana kamu Vin? Kamu di rumah?"
"Ya, aku di rumah. Istirahat, males juga ke sekolah." Vina mengusap rambutnya ke belakang. Tunggu, Calos hilang? Ah, dia tidak peduli tentang itu.
"Aku boleh samperin kamu?"
Vina menggeleng samar, dia tahu gelengan itu tidak bisa Edward lihat. "Gak, gak bisa sekarang, ya. Nanti aja," jawab Vina.
"Nanti aja, itu kapan?"
"Entahlah. Sampai aku bener-bener udah sehat, Ward. Mungkin sampai aku berani masuk ke sekolah lagi."
Sebenarnya maksud dari 'berani sekolah lagi' adalah dia sudah bisa terlepas dari bayang-bayang aneh. Setiap kali melamun, atau kapan pun, tak menentu, pasti ada suatu hal yang membuat nya tidak bisa berpikir. Membuat dirinya seperti orang gila. Dan dia tidak mau terlihat lemah, di depan semua orang yang ada di sekolah.
"Kamu, masih sakit? Hm? Kalau masih, kenapa malah minta pulang?"
Vina duduk di salah satu bangku taman depan rumahnya. Melihat bintang-bintang yang ada di langit. "Karena gue tau, gue di rumah sakit, ataupun di rumah, itu sama aja. Gak bakal merubah apapun, yang ada di isi kepala gue."
Di sebrang sana, mencoba berpikir, maksudnya apa. "Maksud kamu apa, Vin? Aku gak ngerti."
"Lo tau. Gue disini cuman buat menyelesaikan tugas, bukan untuk mencari hal duniawi. Gue pikir, gue bisa menjalani ini dengan lancar. Tapi masalah terus datang. Jadi gue mohon, Lo berhenti ya."
Membuat Edward berdetak kencang. Maksudnya, apa? Dia disuruh berhenti? Untuk?
"Berhenti ngejar gue, yang bahkan gak bisa kasih yang Lo mau."
Degh..
Edward tidak bisa berkata apa-apa. Panggilan itu dimatikan begitu saja, oleh Vina. Jadi maksudnya dia harus berhenti sebelum maju lebih dekat 'lagi'?
Vina memandang handphone nya, dia menyuruh Edward untuk berhenti menyukai nya itu memiliki alasan. Penyakit itu, membuatnya akan semakin menggila, dan bisa membuat lupa apapun di sekitarnya dalam sekejap.
"Gue gak mau, Lo tambah sakit kalau gue malah lupa akan Lo, Ward."
Vina mendongakan wajahnya, melihat bulan yang perlahan ditutupi awan. Dan bintang-bintang yang tidak seterang tadi.
"Langit, apapun keputusan gue, gue harap itu langkah yang benar. Bukan kehendak ku yang jadi, namun kehendak mu ya, Tuhan."
...π₯π₯π₯...
__ADS_1
BERSAMBUNG...