
Vina memukul salah seorang yang mencoba menikam anggota Red Blood dari belakang. Dia menghindar dan menghabisi satu persatu dari anggota Xlovenos itu.
Sudah lama dia tidak berolahraga seperti ini, tapi baginya anggota Xlovenos ini hanyalah baru pemanasan, ya, awalan. Mata nya menoleh ke segala arah, dan menangkap sesosok orang yang pernah ia tabrak.
Sosok itu tersenyum miring. Dan melemparkan kunai seperti milik ninja. Dengan cepat Vina menghindar, dan berlari cepat ke arah pemuda itu. Tangan nya mengepal dan memukul nya, membuat pemuda itu menahan kepalan tangan gadis itu.
"Kita bertemu lagi, Vin. Tapi dengan wujud yang sebenarnya. Bukan di dalam cerita yang ku ambil dari Sasya," ujar pemuda itu membuat Vina membulatkan matanya.
Dirinya pernah mendengar pemuda itu, suara itu terdengar jelas. Suara yang selalu membuat nya terpengaruh. Apakah dia memang dirinya, apakah dirinya adalah orang lain?
Pemuda itu yang membuat nya tak bisa berkutik, karena memang alasan yang ia sebutkan masuk akal.
Dirinya..
Bukanlah..
Dirinya..
Itu yang selalu membuat nya bingung dan terkadang tidak mengenali diri sendiri. Dan membuat dirinya malah divonis memiliki masalah Gangguan disosiatif dan Depersonalisasi. Dia selalu melamun, karena lelah berpikir dengan keras.
"Ya, itu gue. Gue yang selalu bisa membuat Lo bingung akan dunia ini. Dunia fiksi, yang ternyata adalah kenyataan yang harus dijalankan."
Pemuda itu tersenyum menampakkan giginya yang ia jilat. Genggaman tangan itu ia kuatkan, dan pemuda itu memukul nya dengan tangan satunya. Vina menangkap pantulan cahaya dari tangan pemuda itu.
Matanya membulat, melihat alat yang ada di tangan pemuda itu. Itu adalah Knuckle. Seakan tahu gadis itu mencoba menghindar.
"REN, BON! TAHAN GADIS INI" Teriaknya memerintah bawahan nya. Vina menggeram dan menendang tubuh bongsor dari salah satu laki-laki yang mencoba memegang tangannya. Dan setelahnya memukul titik lemah laki-laki yang lebih kurusan.
"Cih, jangan pegang-pegang kulit gue yang lembut ini, dasar laki-laki kurang ajar!"
Pemuda yang memakai Knuckle itu menggelatukkan gigi nya, dengan bertubi-tubi dirinya memukul Vina, dan gadis itu menghindari.
__ADS_1
"Dia terlalu cepat!" Batin Vina.
BUGH!
Salah satu Knuckle itu berhasil mendarat di pelipisnya, membuat nya meringis tapi tidak membuat gadis itu jatuh. Tapi mata tajam layaknya milik elang, saat pemuda itu memberikan pukulan, ia melihat mobil yang terparkir di belakang pemuda itu.
Dia terkekeh, dia kenal siapa itu. Ya, dia bos dari Xlovenos. Tangan orang di dalam mobil itu bahkan sudah naik, ia tahu apa yang ada di tangan nya. Sebuah SCAR, keluar dari jendela itu, sekalian mengacungkannya pada dirinya.
"Sepengecut itukah, anda? Sampai hanya para anggota anda yang turun tapi ketuanya tidak?"
"DIAM!"
DOR!
"KAKAK! JANGAN LAGI!"
...🥀🥀🥀...
Kevin menjadi lebih pendiam. Gio akan membantu nya mulai besok pagi, dia harus menjadwalkan latihannya, dan dia harus berlatih penuh. Para gadis sudah masuk ke kamar. Gio dan Roby pergi, dan menyuruh nya menjaga rumah.
"Lo kesini cuman buat minum beer lagi, Kevin?"
Kevin mendongak, menatap dingin gadis yang menggangu keheningan nya. Dia tahu, tidak seharusnya dirinya mengubah sikapnya pada gadis yang selama ini selalu ia dekati dengan tingkah laku anehnya.
Tapi, gadis itu sendiri yang memerintahkan nya agar berhenti, semua tindakan itu membuat gadis yang ia cinta risih saat didekatnya. Amanda, orang yang memandang nya, yang dirinya tak tahu maksud tatapan itu.
Kenapa baru peduli sekarang, disaat dirinya hanya akan berfokus satu hal?
"Terserah gue," jawab Kevin meneguk kembali kaleng beer itu. Amanda lagi-lagi dibuat terdiam dari jawaban dan tingkah Kevin yang berbeda. Sebenarnya tingkahnya memang berbeda dari kemarin, dan diperparah lagi saat selesai membuang Avrenzo ke luar dan terluka.
Amanda menarik kaleng itu dari tangan Kevin, "Lo bilang mau berhenti!"
__ADS_1
Kevin berdiri dari kursi nya saat acara minum-minum nya diganggu. Amanda melihat ke meja, sudah ada dua kaleng yang kosong dan yang dipegangnya adalah yang ketiga.
Amanda tersenyum remeh, "udah gue duga. Lo gak mungkin bisa ngelepasin beer."
Kevin lelah, dia hanya butuh ketenangan walau hanya sebentar. Dirinya selalu ditarik ulur oleh gadis imut namun dingin di depannya. Tangan nya dengan kasar menarik kaleng itu dan pergi dari hadapan Amanda.
Tentu saja, gadis itu tak tinggal diam, tangan nya menahan Kevin untuk berjalan. "Mana janji Lo? Lo gak bisa kan, nepatin janji Lo?"
"Gue udah bisa berhenti ngerokok, itu demi Lo, Manda. Jadi lebih baik diem, dan biarin waktu yang bantu gue," jawab Kevin tanpa melihat gadisnya. Gadis nya? Bahkan dirinya selalu tertolak, tapi Amanda selalu tetap berbuat seenaknya, dengan menahan nya agar tetap di sisi nya.
Kevin menghentak tangan Amanda. "Tapi Lo dengan gak sabar nya selalu buat gue seakan gue yang paling bersalah."
Kevin memalingkan wajahnya, menatap gadis itu. "Gue cuman minta Lo diem! Bisa?! Gue emang gak sempurna. Untuk Lo yang punya tipe cowok yang sempurna, jadi gue tetap berusaha, walau usaha gue gak Lo liat, secuil pun!"
Kevin geram, tapi ia tidak bisa matah lebih dari ini. Pemuda itu meninggalkan gadis itu di ruangan itu, dirinya keluar dan duduk di taman sendirian.
"Padahal gue cuman mau yang terbaik buat dia. Apa salah?"
Amanda melap setetes air mata yang mengalir. "Ini juga kenapa gue tiba-tiba nangis? Mungkin kelilipan doang. Iya, kelilipan doang," sanggah nya pada diri sendiri.
Dari awal mereka beradu mulut, ada seseorang yang mendengar pertengkaran mereka. Jane, gadis itu menghembuskan nafasnya.
"Ego mereka masing-masing lebih besar, daripada rasa sayang dan cinta. Terlebih Amanda. Manda, kapan Lo sadar, kalau Lo udah cinta sama Kevin. Gue ngerasa kasian sama Kevin yang selalu cemburu sama Lo yang selalu dekat sama laki-laki lain. Gue juga iri, Lo bisa dicintai oleh Kevin. Andai orang yang Kevin cinta itu gue, andai.."
Batin Jane, dia sangat tahu betapa menyakitkan cinta bertepuk sebelah tangan. Karena diri nya selalu merasakan itu, seperti pihak ketiga yang sangat tidak diinginkan.
Tapi dirinya sadar mengikhlaskan adalah jalan terbaik. Ia ingin melihat orang yang ia cintai bahagia, dengan pilihannya. Ia ingin sahabat nya juga bahagia. Tapi sekarang rasa cinta itu sudah lama menghilang. Jadi tenang saja.
Jane mengintip Amanda yang menumpukan tangannya di meja makan, menunduk, dan mengelap ujung matanya yang kembali meneteskan air mata.
"Kenapa? Kenapa air mata ini terus menetes? Dan kenapa dada ini begitu sesak?"
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...