Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 45 : How Dare You Bother Me!


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan sekolah telah usai. Vina menyampirkan tasnya yang ada di pundak, menunggu Sena yang sedang memasukkan buku-buku ke dalam tas.


Dan jalan bersama ke tempat parkiran, setelah bertemu Edward tadi di UKS, mereka kembali ke kelas. Karena Sena ngambek dijadikan nyamuk di antara mereka.


"Gue duluan ya, Vin. Ada urusan," pamit Sena. Dia sudah ada di atas motor nya, Vina menyernyit bingung.


"Katanya mau jenguk Audi," kata gadis itu pada Sena. Gadis tersebut juga telah naik ke atas motor miliknya.


"Nanti bisalah. Soalnya gue ada keperluan dulu bentar, duluan ya." Sena langsung pergi mengendarai motor nya, meninggalkan Vina yang menatapnya aneh.


"Ya udahlah, mungkin dia lagi sibuk."


Vina melanjutkan perjalanan nya sendirian. Motor miliknya membelah jalanan Jakarta, menuju tempat yang dia akan kunjungi, yaitu rumah sakit. Suara kebisingan kota sudah biasa jadi makanan sehari-hari nya.


Motornya melewati sebuah jalanan yang tak asing. Jalanan itu tentunya satu-satunya jalan yang ke arah rumah sakit. Tapi dipertengahan tahun jalan, sekelompok orang menyalipnya, dan menghadang laju motor nya.


Para pemotor itu mencoba menendang nya, dan hampir membuat kendaraan nya oleng. Vina melirik mereka. Satu di kiri, ada satu di kanan, dan juga satu lagi di belakang. Wajah mereka sama sekali tidak terlihat.


"Wah, siapa nih?!" Gumam Vina. Gadis itu menaikkan kecepatan motornya, agar terhindar dari tiga motor yang mengejarnya. Merasa semakin bahaya dia mempunyai ide untuk mempercepat laju nya, supaya bisa masuk ke rumah sakit.


Decitan panjang antara ban juga aspal terdengar, menimbulkan gesekan pada aspal, akibat pengereman yang tiba-tiba, di tikungan. Motor Vina berhasil menjauh dari edaran motor-motor itu.


CIITT!


Saat tikungan motor Vina yang melaju kencang langsung dengan tajam berbelok ke kanan, membuat salah satu pemotor, yang tadinya berada di kanan menjadi oleng, dan terjatuh. Membuat kedua temannya membantunya.


Itu yang terakhir Vina lihat, jantung nya yang tadi berpacu cepat, perlahan kembali. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah sakit yang dituju. Dan masuk dengan mengusap dadanya.


"Siapa mereka? Berani-beraninya ganggu gue. Gak mungkin anak-anak Shadow Legion, mereka udah dibasmi!"


Langkahnya gontai, memikirkan hal yang baru saja terjadi. Tangan nya mengusap dagu, dan kembali berpangku tangan. Gelisah.


"Hola calon kakak ipar." Sapa Gio yang sedang duduk di kursi tunggu depan kamar. Sapaan itu membuyarkan lamunannya. Vina mendelik pada Gio yang baru saja memanggilnya.


"Jangan panggil gue itu, Lo aja belum pernah nembak si Keyla, Keyla nya juga belum tentu nerima," balas Vina.


"Idih. Gak papa lah, berharap dikit gak bikin sakit dikemudian hari kan," ujar Gio sedikit songong.


Vina menatap datar Gio. Lalu kembali ingat pada kejadian tadi, dia harus cerita tidak, ya, pada Gio?

__ADS_1


"Yo. Gue mau cerita sesuatu nih."


"Cerita apaan?" Gio menengok ke arah Vina yang sedang menatap dinding di depannya.


"Tadi tuh ada yang ngejar gue, dan gue gak tau mereka siapa." Vina duduk menumpu kedua tangannya di kakinya.


Gio menatap penasaran. "Siapa? Lo tau apa aja yang ada di motornya? Biar gue cari tau siapa."


Vina menyengir. "Gue gak hapalin plat nomornya."


Pemuda itu menatap datar pada gadis yang sedang menyengir tanpa bersalah. "Bodoh," gumam nya, tapi masih bisa di dengar oleh Vina.


"Gak gue restuin baru tau rasa," sinis Vina, membuat Gio langsung menepuk mulutnya sendiri, karena reflek menghina ketua Red Blood yang sebenarnya.


...🥀🥀🥀...


Setelah sedikit berbincang, Vina menghampiri adiknya yang sedang membaca sesuatu di handphonenya dengan serius. Alis Keyla mengkerut, dan bibir mengerucut.


Vina hanya menggelengkan kepalanya melihat adiknya. "Key," panggil nya dengan lembut.


Keyla meliriknya dan kembali fokus membaca. "Ya?"


"Biasa kak, novel yang kemaren aku bilang. Akhirnya ada update lagi, tapi agak beda gitu cara nya ngebawain ceritanya, kayak gak biasanya," jelas Keyla sembari menunjukkan handphone nya.


Vina teringat akan Audi yang katanya akan menulis revisi nya dengan alur yang akan sedikit berbeda. Tapi yang terpenting dia akan berusaha untuk memperbaiki cerita awalan dari novelnya.


"Mungkin penulis nya memang pengen nya begitu. Udah biasa aja kali, heboh banget," kata Vina. Keyla mengangguk samar dan menaruh handphone nya di nakas sebelahnya.


"Kak, katanya kalau semua udah selesai, kakak bakal ajak aku jalan-jalan."


Vina mengangkat sebelah alisnya, dan mengusap pipi adiknya. " Lo udah sembuh emang? Masih pucat gini juga."


"Hilih, aku emang kayak gini dari dulu. Pucet!" Dengus kesal Keyla, yang dibalas tawa gadis berambut sedikit pirang itu.


"Oke. Mau kemana kita?" Tanya Vina. Keyla memasang raut berpikir.


"Pantai! Ajak yang lain juga!"


"Siapa? Gio? Roby?"

__ADS_1


Keyla mengangguk lucu. "Ada lagi. Temen-temen kita kak. Amanda, Kevin, sama Jane."


"Ide yang bagus! Gue juga sekalian bawa temen."


"Legoo~" Sahut Keyla dengan semangat.


...🥀🥀🥀...


Sena menatap pemuda di depannya, hal yang sama juga dilakukan oleh pemuda itu, tapi tatapan pemuda tersebut datar. Mereka kini duduk di salah satu caffe, cafe Glovic namanya.


"Edward. Apa tujuan Lo deketin sahabat gue?" Tanya Sena dengan tenang. Dia hanya takut, pemuda di depannya sama seperti sepupu nya, Martin.


Edward menyeruput minuman Boba di tangannya. "Lo tuh parnoan ya. Gue deketin Vina, ya, karena gue suka sama dia. Gak ada tujuan lain!"


"Gue gak pernah percaya sama laki-laki, ingat itu! Karena laki-laki lah yang mencemari sahabat gue. Dan jangan sampai terulang lagi!" Sentak Sena. Tangan mengepal di atas meja.


"Gue gak kayak orang-orang yang Lo maksud! Gue cinta sama dia, bahkan gue rela nungguin dia, yang selalu ngeliat Avrenzo." Edward berkata dengan nada yang berat.


"Tapi Lo juga gak dapat dipercaya, Ward. Pacar Lo dulu aja gak bisa Lo jaga, gimana dengan Vina?" Sena kembali membuka luka lama Edward, dimana tabrakan itu terjadi, karena pemuda itu.


Dan pacarnya di bawa keluar negeri oleh keluarga, dirawat intensif di sana. Dan sampai sekarang dia tidak tahu bagaimana keadaan nya. Tapi perasaan nya telah hilang sepenuhnya untuk perempuan nan jauh disana.


Sekarang hanya Vina satu-satunya di hati nya. Dan dirinya berharap kejadian dulu bisa sebagai pelajaran nya supaya bisa menjaga orang yang dia sayangi.


Semoga, seseorang yang jauh di luar negeri sana juga tidak datang kembali, dan menghancurkan segala hal.


Edward tersenyum tipis, setelah mengingat masa-masa percintaannya dulu. "Gak, gak akan. Gue bakal jaga dia sekuat tenaga, sampai akhir hidup gue."


Sena dapat melihat semangat dalam mata Edward, tidak ada keraguan. Mungkin dia harus sedikit percaya, walaupun pemuda ini harus terus diawasi. Gadis itu sedikit tersenyum, bisa melihat sang abang bisa kembali tersenyum bahagia.


"Gue pegang kata-kata Lo. Terus, gimana dengan keadaan orang tua kita? Mau gak bantu gue?"


Edward menggeleng, pemuda itu menunduk menatap tangannya sendiri yang saling bertautan. Dan menghela nafas berat.


"Gue udah nyerah sama mereka."


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2