
Matahari terbit, memancarkan cahaya, dan kicauan burung menyapa gendang telinga seseorang yang tertidur di atas ranjang. Perlahan matanya mengerjap pelan, matanya yang sembab, karena sedari kemarin dia menangis hingga tertidur.
Perempuan itu menghela nafasnya, "seperti nya lagi-lagi aku akan memakai make-up untuk menutupi wajahku."
Kakinya menyentuh lantai yang terasa dingin, sekujur tubuhnya juga terasa lemah, tak bersemangat. Rasanya dia ingin bersandar pada seseorang yang mampu mengerti apa kesakitan nya.
Masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar nya. Menatap sendu cermin di depannya. "Apa, aku bertemu dengan kak Dinda aja?"
"Tapi.. dia mungin tidak akan menerima keberadaan ku di sekitarnya." Dia mengusap rambutnya ke belakang menahannya agar tidak terjatuh ke wajahnya.
"Kiara.. kamu mungkin hidup hanya untuk tetap bertahan." Kiara membasahi wajahnya, setelah mengikat rambutnya ke belakang. Air mengalir, dan menetes ke bawah. Dan mulai hari ini, seperti nya dia sudah memutuskan suatu hal.
"Ingatkan aku jika aku gagal menjaga omongan ku. Tapi mulai hari ini, aku tidak akan peduli akan kamu Prodibyo. Kebahagiaan ku, hanya aku dan anak ku," gumam nya, tangan kirinya yang sedang memegang wastafel mengepal.
...🥀🥀🥀...
Gadis itu kembali ke lantai bawah, menjenguk sang sahabat. Bersama dengan Gio tentunya. Kemarin dirinya mendapat kabar kalau Sena telah siuman, dan akan turun, tapi berpikir pasti Sena butuh istirahat juga.
Dirinya juga memikirkan bagaimana untuk membuat laki-laki pelaku itu membuka mulutnya agar memberitahu siapa yang memerintahkan nya. Karena setelah dibawa ke rumah sakit, laki-laki yang entah siapa namanya itu di bawa ke tempat yang sama dengan tempat Aiden dikurung.
Aiden juga sudah lepas dari tempat itu, dia dirawat di kamar Dandelion di lantai 5. Roby dan yang lainnya dia perintahkan untuk menjaga laki-laki itu, dan mengabari nya jika ada suatu hal penting terjadi.
"Kalau dia buka mulut, apa Lo akan percaya gitu aja?" Tanya Gio tiba-tiba saat berada di lift. Vina yang sedari diam, menoleh pada pemuda jangkung itu. Dan mengendikkan bahunya.
"Kan cari tau dulu, kalau gak bener ya kita cari tau dengan cara lain." Vina tidak memikirkan sampai disitu, yang dia inginkan hanya ketenangan. Ah iya, dia jadi ingat, mengenai kesehatan Maya, wanita itu berangsur-angsur pulih kembali.
__ADS_1
Bahkan besok wanita itu sudah bisa pulang, dan kembali beraktivitas. Tapi, tetap diawasi, jika merasa tertekan wanita itu akan kambuh. Kambuh, karena mentalnya sedikit rusak.
Tapi Raditya, dia memang sulit. Bahkan semakin parah, mungkin dia sangat merasa bersalah pada semua nya, dan dengan apa yang terjadi dari belasan tahun yang lalu itu.
Pernah dia bicara, bahwa lebih baik dia disiksa secara fisik oleh Vina, daripada disiksa dengan tidak pernah dipedulikan oleh gadis itu. Pria tua itu bahkan memiliki sifat yang sama seperti anak kecil.
Lift berhenti di lantai yang mereka inginkan. Tentu berpapasan dengan seorang laki-laki, yang terlihat mencurigakan. Tapi gadis itu melirik. Dan menyernyit, sepertinya ada yang aneh pada laki-laki itu.
Lebih baik kembali ke tujuannya ke lantai bawah ini, pintu lift telah tertutup, setelah mereka berdua menghilang di balik dinding. Laki-laki yang ada di lift berdengus kesal, menatap handphone nya.
Bagaimana dia menemukan gadis yang bernama Sasya, kalau hanya bermodalkan foto wajah gadis itu, dan alamat dari rumah sakit tempatnya di rawat. Rumah sakit sebesar ini, apakah harus dia cari satu-satu?
Lantai pertama dia sudah bertanya pada resepsionis, dan tidak ada yang bernama Sasya di lantai satu sampai ke lantai atas. Hei, dia tentu tidak percaya, karena salah satu anak buah bos nya telah melihat dan mendapatkan Sasya di rumah sakit ini.
"Bahkan sinyal yang gue dapat dari Kendra terakhir di sini, kok."
...🥀🥀🥀...
Jadi, wanita itu sudah tahu. Ya tentu sudah tau, anaknya tidak pulang seharian. Dan baru se-jam yang lalu dia mengabari Wanita itu, seperti nya wanita itu langsung ke rumah sakit ini.
"Selamat pagi semuanya," sapa Vina dengan hangat. Audi menoleh pada nya dan tersenyum senang, apalagi Sena. Sang ibu, hanya diam memandangi wajah nya.
"Vina, akhirnya kamu dateng!" Girang Audi. Sena juga tersenyum tipis. Tapi pikiran nya jauh dari kenyataan, masih di awang-awang. Mereka berdua masuk, dan menaruh bawaannya. Keranjang buah-buahan yang sedari tadi di pegang oleh Gio, pemuda itu berikan pada ibu Sena.
Ibu Sena menatap keranjang itu. "Kenapa kalian baik pada kami?" Tanya nya dengan dingin.
__ADS_1
Membuat Sena tersentak, mendengar nada ibunya yang dingin. Vina menggigit bibir bawahnya, dan mencoba tersenyum. "Karena saya sudah menganggap kalian sebagai keluarga."
"Omong kosong," gumam wanita itu. Mata nya mulai berkaca-kaca. "Anda hanya kasian kan sama kami," lanjut nya.
Vina menatap Sena lalu beralih ke Dinda. "Saya menganggap kalian sebagai keluarga. Tidak ada bagi saya rasa kasihan," jelas Vina. Benar, memang tidak kasihan, tapi memang dia sudah menganggap mereka keluarga.
"Kamu tau, semua orang bicara omong kosong termasuk kamu. Saya tidak butuh rasa kasihan dari kalian, saya bisa berdiri sendiri tanpa bantuan para orang kaya."
"Amin, dibilang orang kaya gue," batin Vina. Sena beranjak agar bisa memeluk ibunya, tapi tatapan mata dari ibunya seakan menahannya.
"Saya hanya butuh ketenangan, kenapa semua nya malah membuat pikiran saya pusing. Termasuk kamu, Sena!"
Perkataan itu membuat Sena sakit, rasanya lebih sakit dari tusukan dari pisau. Hati nya berdenyut, Vina seperti merasakan sakit yang sama seperti Sena. Sena mematung.
Pikirannya kosong, ibunya menatap tajam padanya. Padahal dirinya saja baru pulih, dan apa tidak ada kepedulian dari ibunya. Ah iya, dia ingat, memang sedari awal ibunya ini mudah berubah-ubah.
"Jadi anak menyusahkan saja."
Sena hanya tersenyum miris. Audi yang di sampingnya memegangi tangan nya dan mengusap nya, berharap bisa menenangkan. Rasanya sakit, setiap omongan yang keluar dari Dinda, menyakitkan.
Gio hanya dapat memandang Wanita yang sudah menyakiti anak kandungnya sendiri dengan kata-kata hinaan itu. Vina jadi merasa bersalah, jika saja dia tidak datang di hari yang sama dengan Dinda, mungkin ini tidak berkepanjangan.
Memang tidak boleh ya, dia membantu sahabatnya? Dia, tulus kok.. kenapa merasa dirinya bersalah karena menolong orang. Tidak ada harga nya sama sekali.
"Maaf, jika perlakuan saya membuat anda tersinggung. Saya hanya ingin menolong, tapi kalau memang anda hanya tidak ingin diberi buah. Saya tidak akan membeli buah lagi, agar anda bisa menjaga omongan anda," ujar Vina.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...