Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 67 : Keyla's Point Of View


__ADS_3

Hari pertama, kakak terbaring di sini, di ruang rawat ini, setelah dokter dengan susah payah mempertahankan nyawanya yang hampir saja diambil Tuhan. Lalu dinyatakan koma, saat selesai dilakukan operasi.


Kepalanya sebenarnya tidak boleh terkena apapun. Kakak selalu kecelakaan, kata dokter. Apa kalau kakak sudah siuman, lebih baik aku ikat saja, atau ku kurung di kamar? Agar tidak ada yang dapat membuat kakak sakit lagi.


Edward, dia selalu ku tanya, apa yang menyebabkan ini semua terjadi, tapi dia hanya menghindar dari semua pertanyaan ku. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak.


Kakak punya masalah saat menjadi Vina? Kalau iya, siapa? Dan kalaupun tidak, kenapa ini terjadi?


Aish.. Kepala ku mumet. Aku gak mau kehilangan lagi. Cukup, cukup, nenek, ayah dan ibu. Jangan ada lagi. Aku menelan ludah ku.


Aku harus jaga kesehatan dan keselamatan kakak. Kak Rissa, aku mohon cepat lah sadar. Bahkan janji mu belum kakak tepati. Kala itu, kakak janji, saat semua ini selesai, kakak dan aku akan bersenang-senang!


Aku juga sangat berharap dan membayangkan bagaimana bahagia dan senang nya kita. Habis itu kita makan gula-gula kapas, sambil bernyanyi bersama dengan gitar kesayangan kakak.


"Jangan melamun terus, Key."


Aku agak terkejut, karena tiba-tiba ada yang bersuara. Itu Gio rupanya. Aku menyandarkan punggung ku ke kursi, setelah membetulkan posisi dudukku agar menghadap Gio.


"Gue gak melamun. Tapi cuman kepikiran sesuatu aja."


Gio tersenyum tipis. "Itu sama aja, Key. Lo pasti mikirin Vina, kan? Jangan terlalu mikirin, ntar Lo sakit, dan Vina pasti gak mau Lo sakit Key. Lagi pula, tugas Lo masih banyak. Selain jadi ketua Red Blood, Lo udah jadi kepala sekolah, walau usia Lo terbilang muda."


Ocehan Gio membuatku sadar, iya juga, aku masih memiliki tugas yang menumpuk, begitu melelahkan. Selalu diriku limpahkan pada anggota Red Blood lainnya, agar bisa menyelesaikan tugas aku yang menjadi kepala sekolah.


Memikirkan nya saja membuatku garuk kepala. Kenapa aku semalas itu? Kakek sih! Aku jadi gak bisa menikmati masa muda ku dengan benar. Kalau begini aku gak mau jadi kepala sekolah.


Tapi, karena kepala sekolah, aku bisa bertemu sama kak Vina lagi, kan. Ada untung sama ruginya sih.


"Capek banget! Kalau gini bisa pecah kepala gue, Gio~"

__ADS_1


Jadi gemas sendiri, wajah kubuat merengut tak suka kan yang terjadi. Aku hanya semangat untuk balas dendam pada siapa yang membuat Kak Rissa seperti ini, pasti ada caranya!


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


Hari kedua, kakak di rawat. Aku memandang siluet Edward dari kejauhan, dia hanya menatap koridor tempat kakak di rawat. Lalu berlalu. Apa gunanya hanya menatap, tapi tidak menjenguk kakak?


Apa yang dia lakukan sebenarnya, pas kemarin? Aku berjalan mengendap-endap di belakangnya, supaya aku tahu apa yang dibuatnya. Bukan nya aku kepo. Tapi dia terlalu misterius, jadi aku susah menilai, pemuda yang mendekati kakak ini baik atau malah jahat?


Aku hanya mau kakak bersama orang yang baik, perhatian, yang paling-paling yaitu setia.


Tunggu, ini bukannya arah jalan ke bawah tanah nya rumah sakit? Kenapa dia tahu? Padahal yang memakai ini hanya ada Red Blood. Tapi ada satu ruangan yang memang terkunci dan tergembok. Kami hanya menghargai apa yang ada di dalam sana, jadi kami tidak membukakan atau apapun tiu yang membuat pintu itu rusak dan semacamnya.


Apa dia yang memiliki ruangan itu? Sebenarnya, ruang bawah tanah itu dipakai untuk eksperimen para dokter, dan uji coba obat dari farmasi-farmasi dalam rumah sakit besar ini.


Benar! Dia masuk ke sana, tapi sepertinya dia menguncinya dari dalam. Apa aku harus menunggu?


"Apa yang Lo perbuat di dalam sana, Edward?"


Setengah jam, Edward keluar. Dan kaget ada aku yang muncul di depan nya.


"Ka.. kamu," paniknya. Pintu di belakangnya tertutup. Aku menghentak pintu itu agar bisa terbuka.


Aku membulatkan mata saat melihat siapa yang di dalam. Calos? Kenapa dia di sini?


"Dia yang buat Vina celaka," ujar Edward dari nada nya dia terdengar menahan marah. Pemuda yang di sana sudah babak belur. Apa dari tadi dia dipukuli Edward?


Ku kira cupu ternyata suhu.


"Gue gak celakain Vina! Bukan gue! Bukan gue!" Teriak Calos dan terbatuk-batuk lemas. Tubuh nya terbaring dan menggeliat, mungkin kesakitan.

__ADS_1


Dia pantas mendapatkan itu!


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


Hari Ketiga, aku mengusap tangan kakak yang mendingin, please, jangan buat aku takut kak. Aku mengusap keduanya, agar bisa kembali menghangat. Entahlah itu bekerja atau tidak, yang penting aku berusaha!


C'mon kak. Kamu bisa melewati semuanya. Kembali, dan bersenang-senang lah di dunia ini! Jangan kayak aku, yang bukannya menikmati masa muda, yang ada dibebani oleh tugas-tugas dan kewajiban yang kakek buat.


Kakek jahat memang. Dia melimpahkan semua pada kita cucu-cucu nya. Mana keluarga William yang harmonis? Seperti kebanyakan rumor di kalangan para elite-elite yang ada di negara ini.


Pada kenyataannya keluarga William lebih buruk dari yang aku bayangkan.


Aku hanya bisa berbicara, tanpa tahu apa sebenarnya yang harus aku lakukan.


"Kak, ayo bangun. Aku gak akan bikin kakak terbebani lagi, tapi ayo bangun, dan aku mau kakak bisa jujur, apa yang kakak pikirkan selama ini. Karena saat aku melihat kakak, pasti kakak seperti menatap kosong ke depan. Aku hanya berharap kakak mau berbagi dengan ku."


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


Hari keempat. Sampai sekarang, setiap kali dokter mengecek, kakak sama sekali tidak ada perkembangan. Aku juga kadang memeriksa Calos yang ada di bawah tanah. Calos, aku membencinya sampai kapanpun itu.


Mendengar semua dari Edward, membuat respect ku pada siapapun menjadi menurun. Semoga saja, kakak bisa memilih pasangan yang tepat. Tapi, Edward, dia sangat tertutup, aku rasa di masih belum bisa dipercayai.


Selagi aku masih belum tahu latar belakangnya. Aku harus mengorek lagi informasi-informasi yang dipunyai sekitaran pemuda di depan sana, yang masih melampiaskan amarahnya pada Calos.


Kejam. Tapi Calos pantas mendapatkan itu. Edward juga sebenarnya salah, dia harusnya membiarkan Calos, dan kak Vina yang memberi hukuman pada Calos bajingan itu.


"Cukup, Ward. Lo bisa bunuh orang, dan dipenjara." Sadis, aku harus cepat-cepat menghentikan nya supaya tidak bertindak lebih jauh.


Aku semakin tidak mengerti jalan pikiran orang-orang, mengenai balas dendam. Oh iya, tadinya aku juga mau membalas dendam ya.

__ADS_1


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


BERSAMBUNG...


__ADS_2