
"Gio, Roby. Anterin gue ke salah satu kalang gudang kita."
Keduanya terkejut dengan perintah Keyla. Tak biasanya Keyla ingin datang ke tempat itu, dia memang hanya mau di markas, dan tak ingin tahu tentang hal-hal lain.
"Key, bukannya kamβ"
Ucapan Gio dipotong langsung oleh Keyla, "gue.. mau mempelajari semuanya." Terkekeh pelan atas keputusannya sendiri. Mengusak rambutnya ke belakang. "Karena, gue tebak, kakak gak bakal balik dan harus gue yang urus semua. Jadi gue mau pelajarin perdagangan kita."
Tak bisa berkata-kata lagi. Keputusan gadis di depannya sudah tak bisa diganggu gugat. Mereka bertiga masuk ke mobil dan berjalan ke tempat tujuan.
"Ini kalang kita yang ada di bagian Timur. Paling dekat dengan markas. Persenjataan, obat-obatan, minyak dan lainnya ada disini. Keuangan dan pajak terkondisikan dengan baik. Koneksi kita sudah sangat meluas. Red Blood sudah terkenal di kalangan Mafia."
Keyla mengangguk mendengarkan penjelasan tentang setiap pembelian dan penjualan yang terjadi. Dan Keyla belajar, bahwa pekerjaan dia harus lebih kejam dari kakaknya, jadi dia bisa menunjukkan pada kakeknya bahwa dia bisa melebihi Rissa.
"Kak. Ini kan yang kakak mau? Aku bangkit dan mampu melawan mu?"
Keyla menatap senjata-senjata yang terpajang. Lalu melihat jadwal yang ada di meja salah satu staff Red Blood. Membacanya dan meneliti nya. Keyla semakin mengerti, mengapa kakaknya begitu senang melakukan ini. Karena.. dia bisa melampiaskan hawa nafsu marah dan benci di sini. Dengan cara membunuh, mengancam dan banyak lagi. Dan bisa dipastikan Keyla akan melakukannya juga.
"Disini tertera, kalau lusa malam ada penjualan obat-obatan ke dua kelompok di Italia, ya?"
"Seperti yang tertera. Dan biasanya yang melakukannya hanya staff staff sini, selain Rissa," ujar Roby.
Keyla tersenyum miring. "Biar gue ikut. Gue mau tau cara transaksi nya."
...π₯π₯π₯...
"Blackkind yang bekerjasama dengan Prolvitens akan melakukan transaksi secara langsung dengan Red Blood. Apa kamu gak mau ikut?"
Vina yang sedang membaca, menaikkan sebelah alisnya, "ngapain? Itu hanya transaksi biasa. Bertemu dengan staff ku, lalu memastikan barang asli atau palsu, setelahnya baru bayar. Just It."
"Tapi.. kemarin mereka telah mengkonfirmasi bahwa yang akan melakukan transaksi itu bukan hanya staff tapi juga ketua Red Blood."
__ADS_1
Vina tertegun mendengarnya. Apa maksudnya ketua Red Blood? Keyla, melakukan transaksi itu?
"Ikut atau tidak?"
"Tuan Blackkind. Apa topeng yang saya minta sudah ada?" Tanya Vina menatap manik mata hitam pria tua itu.
Dijawab dengan anggukan, "sudah nona. Seperti yang nona minta."
Vina memasang pembatas lalu meletakkan buku yang sedang dibacanya di meja depannya. "Lusa malam, biarkan aku ikut tuan Hevarreo. Blackkind dan Prolvitens pasti akan kubantu. Aku tau barang-barang ku sendiri."
Havarreo, ketua Blackkind, ayahanda Ciandra, mengangguk tersenyum puas. "Ini adalah ketua kami! Ketua Red Blood yang terhormat dan terkenal. Rissa Arabella William."
"Yea! Thats my name!"
...π₯π₯π₯...
Lusa, seperti yang sudah direncanakan. Malam itu Vina datang dengan topeng di wajah, menatap rindu sang adik, yang terlihat.. sangat berbeda seperti biasanya. Sifatnya berubah total. Apa ini karena dirinya? Vina hanya terkekeh miris, dia sungguh bukan kakak yang baik untuk adik nya.
Havarreo memerintahkan nya untuk mengecek kondisi benda itu. Vina diperkenalkan dengan nama samaran nya, dan tentu Keyla dan Red Blood sama sekali tidak peduli dengan itu sebenarnya. Hanya transaksi cepat selesai.
Blackkind dan Prolvitens berjabat tangan dengan bergantian pada ketua Red Blood. "Tentu saya akan memberikan yang terbaik untuk konsumen kami, tuan-tuan."
Keyla menatap kedua orang yang baru saja menjabat tangan nya, dan menaikkan sebelah alisnya. Tersenyum tipis melihat gadis yang bertopeng itu, lalu berjalan perlahan ke arahnya.
Hal itu tentu membuat Vina merasa panas dingin. Adiknya tak bisa diajak berencana untuk menyembunyikan identitasnya, yang sudah diketahui telah mati karena kejadian pesawat itu.
"Entah kenapa.. anda ini.. seperti tidak menghargai orang." Keyla mengusap topeng itu dengan jari telunjuknya dari ujung atas sampai bawah. "Memakai topeng, seperti tak ingin ada yang tahu identitas dan wajah anda. Apa.. karena niat berkhianat, jadi tak ingin ketahuan wajah asli kamu?"
Mereka terdiam. Hening. Suasana agak tegang sebenarnya. Tapi tawa kekehan Keyla menghentikan ketegangan. "I'm just kidding. Why so serious?"
"Tapi.. ini serius untuk mu, siapapun kamu dibalik topeng itu.. jangan sampai kamu berkhianat pada tuan mu. Karena dari yang kudengar, mafia dari Italia lebih kejam," Bisiknya di telinga gadis di depannya, lalu berbalik menjauhi nya.
__ADS_1
Vina sempat menahan napasnya saat Keyla membuatnya menjadi tertekan. Lalu tersenyum bangga dibalik topeng nya dan bergumam, "apa kalau begini, kamu akan lebih dewasa dalam menghadapi masalah, Key? Adanya aku di sisi kamu membuat kamu terlalu bergantung pada kakak. Bukan. Bukan kakak tak suka, tapi kakak mau kamu juga bisa mandiri."
"Sebenarnya, apa aku kakak yang baik?" Tanya Vina pada diri sendiri. Dia sadar Blackkind dan Prolvitens akan melangkah pergi, setelah di kode Havarreo baru saja, dia mengikuti langkah keduanya, diikuti bodyguard yang sudah berjaga sedaritadi.
Keyla menatap intens punggung dari orang-orang yang baru saja pergi.
"Roby.. gunakan ahli komputer Lo. Cari tentang Blackkind dan Prolvitens, yang paling penting, gadis bertopeng itu."
Gio yang mendengar itu terheran, "Lo curiga mereka ada sesuatu?"
Keyla mengangguk samar tapi sedetik kemudian menggeleng. "Gak, gue cuman mau tau, latar belakang tiga orang itu aja. Gue kasih waktu 3 jam, Ro. Bisa?"
Roby yang sudah menyiapkan peralatan nya mengangguk, lalu dengan lihai tangannya menari-nari di atas keyboard laptopnya. Di layar nya terlihat screening yang dilakukan.
...π₯π₯π₯...
Kakek tua itu melepaskan topinya sembari menghela napasnya. Menunduk dan mulai menerima nasib. Cucunya benar-benar telah diindentifikasi dan itu benar. Cucunya dilaporkan telah mati terbakar.
Rasanya ia ingin membunuh semua orang yang terlibat dalam kasus pesawat itu. Tangannya mengepal, bahkan topinya sudah ruwet di genggamannya. Dia tahu, apa yang menyebabkan pesawat itu hancur, yang pasti musuh dari Red Blood lah yang membuat ledakan itu.
"Clarissa Davina Callandra. Atau bisa dibilang Rissa Arabella William, meninggal untuk kedua kalinya? Lelucon apa ini sebenarnya, ini bukan April mop. Ini bukan prank, gak lucu!"
Kakek tua itu terduduk di kursinya. Mengusap kasar wajahnya. "Saya akan balas orang-orang yang membuat ini pada cucu saya!"
Dan memerintahkan kepada bawahannya mencari tahu apa saja yang bisa membawa dirinya ke pelaku sebenarnya. "Dead or not, you have to suffer. Like my son, my grandson, my life?!"
"Bawa pada saya, hidup atau mati!"
...π₯π₯π₯...
BERSAMBUNG...
__ADS_1
BTW GUYS..
MAU INFOIN, KALAU S2 GAK TERLALU BANYAK.