
Keadaan kantin menjadi hening. Vinsensius dengan malu perlahan mundur, dan pergi meninggalkan mereka. Veronica dan juga Laura hanya mematung di tempatnya. Ada beberapa murid yang memvideokan yang hal terjadi.
Ada seorang murid yang melihat dari kejauhan, lagi-lagi niatnya batal untuk mendekati Vina, hanya untuk melindunginya. Selalu dihentikan oleh seseorang yang sama, sang coach.
Carlos dan Calos kembali menatap Vina. Di satu sisi masih ada marah dalam mereka yang belum dapat dipadamkan, tapi di sisi lain, tidak mungkin mereka menyakiti lagi gadis yang ada di depannya ini.
"Ya udah, kita maafin untuk kali ini ya, Vin. Lain kali jangan ulangi," ujar Carlos dengan lembut. Eh, siapa yang meminta maaf karena hal itu, gadis itu melongo tak percaya.
"Maksudnya? Gue kan gak ada salah. Kalian juga gak perlu tau kan apa yang gue lakuin." Vina sedikit memiringkan kepalanya. "Karena kita itu kan sebenarnya bukan keluarga, kita gak sedarah, juga kalian gak ngerawat gue. Jadi, gak usah sok banget," kata Vina sedikit pelan.
Calos yang memang dasarnya orang yang suka panasan, menjadi terpancing. Tersenyum seram, dan mendekatkan wajahnya pada Vina. "Kalau gitu Lo udah tau, ya? Udah tau bukan keluarga Callandra, tapi masih numpang sama kita?"
Carlos seketika menahan nafasnya mendengar perkataan Calos yang berlebihan. Pemuda yang lebih tua itu menarik bahu Calos, agar menjauhi Vina. Menatap tajam pemuda yang lebih muda.
"Gue sih niat nya mau keluar dari rumah." Satu kalimat yang berasal dari Vina itu, membuat Carlos dan Calos diam. Sena hanya memakan cemilan yang dia beli saat sebelum drama terjadi.
Sedikit bertepuk tangan, Sena menyorak semangat pada Vina yang seperti sedang berdebat. Kubu Duo Ca, dan juga kubu Vina.
"Saya sih kubu Vina. Udah keliatan, dia itu savage banget," lapor Sena pada wartawan yang sebenarnya tidak ada. Seperti berita dalam televisi, dia menjadi wasit antara kedua kubu.
"Papa sama mama pasti kecewa sama Lo. Mereka udah rawat Lo dari kecil, tapi anak yang dirawat malah gak tau diri," sarkas Carlos. Abang tertua itu terlihat sangat kecewa akan perkataan Vina.
"Adik gak tau diri," desis Calos.
Vina tersenyum miring. "Tetep gak bisa berubah ya. Kalau udah jahat, tetep aja jahat sama adik sendiri."
"Harusnya kalian tau, kebohongan terbesar yang papa Radit gak ceritain. Yang ada sih bukan gue yang salah, tapi laki-laki itu!"
Mendengar itu Carlos menarik kerah seragam Vina, matanya melotot tak terima. "Sialan. Itu orang tua Lo juga, Vina!"
"Dia pembunuh!" Bisik Vina depan wajah Carlos. Membuat Carlos murka, dengan keras pipi Vina dipukul. Sena yang melihat itu langsung tersedak, dan berjalan dengan cepat ke arah Carlos.
Walaupun rencana mereka berdua gagal. Tapi ini akan menjadi tontonan menarik untuk Veronica dan Laura. Melihat Vina yang sangat dipojokkan disini. Puas, tapi belum seberapa. Mereka ingin lebih dari ini.
Vina tidak tersungkur, hanya saja wajah nya sampai lebam di bagian ujung bibir, membuat nya menjadi berdarah. Vina mengelap nya dengan ibu jari tangan. Beberapa murid terkejut melihat Carlos yang memukul seorang gadis.
Apalagi itu adalah adiknya. Itu adalah berita besar bagi seluruh sekolah. Lambe turah di sekopah itu juga pastinya akan mendapat hal yang menarik untuk diupload ke sosial media khususnya.
Ada juga yang melakukan siaran langsung disebuah aplikasi Angstagram. Bahkan lumayan yang menonton nya.
Sena hendak memukul Carlos, tangan nya ditahan. "Jangan. Yang ada Lo kena juga," bisik Vina.
__ADS_1
Nafas Sena tersengal-sengal menahan diri, agar tidak berbuat yang berlebihan selain dari memukul atau menendang. Sena ditarik ke belakang Vina.
"Lo harus tau diri, Vina." Calos menunjuk wajah Vina dengan jari telunjuk tangan nya.
"CALOS! CARLOS! VINA! PERGI KE RUANG BK, SEKARANG!" Teriak seorang guru berperut berisi, yang bisa ditebak guru BK.
...🥀🥀🥀...
Guru BK memijit pangkal hidung nya, pusing akan perbuatan kedua pemuda yang dengan berani memukul seorang gadis, setelah mendengarkan kesaksian yang bertolakbelakang. Mata nya menyorot tajam pada Carlos dan Calos.
"Kalian tau, apa yang kalian lakukan itu salah?" Tanya sang guru setelah memenangkan diri. Baru kali ini ada murid laki-laki menghajar murid perempuan di sekolah ini. Biasa nya laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, yang saling bertengkar.
Carlos dan Calos yang berdiri, hanya menundukkan kepalanya, pasrah akan konsekuensi yang berlaku. Memang salah mereka, ini sudah kesekian kalinya menyakiti sang adik.
Vina menyeringai sekilas saat pukulan terjadi. Dia sengaja tidak membalas, karena telah melihat dari kejauhan, jika ada seorang guru yang mendekati mereka. Dia hanya ingin seluruh sekolah tahu, siapa sebenarnya kedua anak laki-laki dari keluarga Callandra itu.
Sena ada disana bersama Vina, sebagai saksi. Bahkan Vero dan Laura, mereka ikut, bersama Carlos, juga Calos. Tentu akan membela duo Ca itu.
"Saya memukul Vina, Bu." Carlos menggigit bibir bawahnya, dan memejamkan matanya. Memikirkan kenapa dia bisa berbuat hal yang diluar batas. Betapa bodohnya dia.
"Dan kamu, Calos. Kamu tau kesalahan kamu apa?"
Calos mengangkat wajah nya, tidak ada raut merasa bersalah. "Enggaklah Bu. Kan saya gak buat apa-apa, yang mukul juga Bang Carlos."
Calos menatap tidak terima pada guru bertubuh berisi itu. "Kalau ini namanya pembullyan, terus apa yang selama ini dilakuin Vina ke Vero itu bukan pembullyan?!"
"Apa maksud kamu?! Perbuatan apa yang telah Vina lakukan ke Vero? Gak ada bukti, kalau kamu mau tau itu," ujar Guru itu sedikit membentak.
Calos memukul meja dengan keras. "Banyak, Bu, buktinya, saya udah kasih ke ibu, loh. Ibu aja yang tutup mata dan telinga akan hal itu!"
Vina tidak terima akan apa yang sedari tadi Calos katakan langsung menyambar balasan. "Lo liat tadi, bukti yang ada di Vinsensius hanya editan," balas Vina dengan sengit.
Carlos mengangguk membenarkan. "Betul Bu. Bukti-bukti yang dikumpulkan hanya sebuah editan. Di handphone saya juga ada bukti yang sama dengan milik Vinsensius."
Calos mendelik menatap saudara laki-laki nya. Mengapa pemuda itu tidak membelanya, malah lebih membela pada seorang gadis anak pungut, yang entah siapa keluarganya.
"Saya sudah tau itu editan. Kami para guru tidak tutup mata dan telinga mengenai pembullyan. Kami menyelidikinya lebih dalam lagi, jadi itu semua hanya fitnah."
Calos menganga, tidak percaya dia sudah dikelabui oleh seseorang. Yang mengirimkan hanya foto-foto, seharusnya dia lebih percaya pada adiknya. Kalau video mungkin akan lebih susah untuk diedit.
"Karena kalian berdua sudah melakukan pembullyan kalian akan saya hukum. Empat hari diskors. Jika lagi-lagi melakukannya kesalahan, saya akan membicarakan ini dengan kepala sekolah." Guru BK menunjuk duo Ca.
__ADS_1
Veronica diam-diam mengepalkan tangannya, kesal akan keputusan guru itu. Seharusnya dia bisa melihat hal yang lebih menarik dari ini.
"APA.. DISKORS!"
...🥀🥀🥀...
Vina kini di dalam UKS bersama Sena. Luka nya diobati memakai obat merah, sedikit berdesis saat obat itu bersentuhan dengan lukanya. Padahal dirinya sudah terbiasa.
Sena menatapnya dengan datar, dan menekan obat nya. "Sakit edan!"
"Diem makanya. Berisik banget Lo. Biasanya juga Lo langsung sembuh, ini malah diteken dikit malah langsung kesakitan."
"Lo teken tadi, makanya sakit." Sena hanya menggerakkan bibirnya meledek Vina, tangannya membereskan peralatan obat, yang telah selesai dipasangkan nya.
BRAK!
Pintu UKS dibuka dengan sedikit kasar. Menampakkan seorang pemuda dengan peluh di kening nya, tangan kirinya bertopang pada kusen pintu dan tangan sebelah nya mengusap keringat nya.
Vina yang melongo melihatnya. "Cogan gue~ udah lama gak ketemu," batinnya.
Pemuda itu mendekat, tidak sadar bahwa ada Sena yang ada disana juga. "Kamu gak papa Vin? Aku liat di kantin kamu lagi debat sama dua Abang kamu. Ini juga kenapa, bibir kamu luka."
Sena menyernyit jijik melihat pemuda itu, sejak kapan dia bisa selembut itu sama seorang gadis. "Ini si Edward gak kepentok kan kepala nya?" Gumamnya, setelah menaruh peralatan obat merah ke tempat nya kembali
Pemuda yang baru saja datang adalah Edward. Setelah istirahat dari latihan basket, dia langsung lari ke UKS, setelah bertanya ke murid-murid lain yang berlalu-lalang.
"Gue gak sengaja nabr—"
"Ditonjok tuh sama si Carlos," potong Sena. Perkataan Vina pasti akan berbohong tadi.
Edward panik, lalu mengusap pipi Vina. Sudah lebih berani dari pertama kali kenalan. Mata mereka bertubrukan. Sena hanya mengamati pasangan di depannya, yang sebenarnya belum jadi pasangan.
"Kok kamu bisa ditonjok? Mau aku tonjok bales gak?" Tanya Edward dengan lembut. Sena ingin mual rasanya.
"Gak, gak usah. Mereka udah dihukum kok sama Bu Yesa," jawab Vina juga dengan lembut, sengaja.
Sena benar-benar muak dengan indahnya romansa di depannya. "Ih, lama-lama kalian bikin gue jijay!"
"Loh ada Lo, sen motor," kata Edward seakan baru sadar ada sesosok orang lain di dalam ruangan. Dengan wajah sok polos, dan tangan yang masih bertengger di pipi Vina.
"Akh! Kurang ajar kalian. Gue jomblo tau!"
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...