Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 31 : Promise between Sisters.


__ADS_3

Aiden menatap satu persatu semua anggota nya, dengan senyuman tipis. Tapi, menurut mereka yang melihat Aiden, mata elangnya seperti menatap mangsa. Mengerikan dan menakutkan.


"Siapkan yang lain, bawa Martin dan anak-anak lainnya!" Perintah nya. Dengan bergegas pergi semua melakukan yang diperintahkan pemuda itu.


Aiden menghela nafasnya, memijit pangkal hidung nya. Berbalik kembali, menatap ketiga orang yang menunduk sudah tidak lagi memberontak.


"Saya akan menunggu waktu nya, saat terpuruk nya seorang Rissa. Atas kenyataan hidup yang ada, lalu dia menjadi lemah. Dan kalah!" Aiden tertawa sarkas. Memukul keras dinding yang berada di sampingnya.


"Ah, sial. Kenapa saya jadi merinding." Bulu kuduk nya tiba-tiba merinding.


...🥀🥀🥀...


Sebelum Vina bangkit dari duduknya, sebuah pesan dari nomor tidak diketahui masuk ke handphone milik nya. Ragu untuk melihat nya, namun tetap dibaca. Rasa penasaran membuncah. Dirinya melirik Carlos yang duduk di seberang nya, sedang melipat tangannya, dan menutup matanya.


"Nomor siapa ini?" Tanya Vina pada dirinya sendiri. Menekan ikon pesan, lalu membacanya. Entahlah, tapi dari isi pesan itu pikirannya tertuju pada seseorang.


Aiden. Lagi dan lagi. Orang itu tidak memberikan dirinya ketenangan bahkan hanya sementara. Pesan berisikan ancaman, tidak membuatnya gentar. Dia yakin keluarga nya baik-baik saja.


Tapi sepertinya dia lupa. Bahwa orang tuanya, Raditya dan Maya yang akan ke luar negeri untuk mengurus perusahaan di sana. Sekarang ada di tangan Aiden. Yang awalnya memang bertujuan menculik laki-laki paruh baya dan sekaligus tubuhnya, Maya.


Sebuah foto dikirimkan oleh nomor tersebut, karena Vina hanya membaca tanpa merespon. Matanya membelalak, jantung nya berdegup kencang. Melihat foto yang dikirim.


Sebuah foto yang di dalam nya ada tiga orang terikat tak berdaya. Tangannya bergetar takut. Dia yakin, dirinya seperti orang bodoh, yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Tangan nya mengepal, genggaman pada handphone mengerat. Bulir-bulir keringat keluar dari pori-pori kulit nya yang mulus. Dia membesarkan foto itu, menuju seseorang yang paling pojok.


Astaga. Bahkan bukan orang tua nya saja. Audi atau Sasya, ada di situ. Bagaikan boneka yang sudah tidak terpakai. Jelek, kusam, dan terbuang, tak terpakai lagi. Habis manis sepah dibuang.


Pandangannya teralihkan pada pintu yang terbuka. Gio keluar, tanpa menatapnya berjalan ke arah kantin rumah sakit. Vina menahan nya.


"Gimana keadaan Keyla?" Tanya Vina pada Gio. Gio meliriknya.


"Lo bisa liat sendiri kan? Gue lapar, jadi tolong lepasin." Gio sedikit menyentak tangan nya, membuat Vina melepaskan. Dengan jalan cepatnya Gio pergi dari hadapan Vina.


"Key." Vina masuk dan duduk di kursi. Menatap adiknya yang tertidur lelap. Menggenggam erat tangan ringkih itu, mendekap nya di pipi. Memejamkan matanya, perlahan pikiran nya kembali ke masa lalu, sebelum orang tua sebenarnya meninggal.


Bahagia. Itu yang dapat dikatakan saat dulu mereka masih merasakan kasih sayang orang tua nya, tidak memikirkan akan keras dan kejam nya dunia luar. Beban berat di pundak tidak sebesar sekarang.

__ADS_1


Rissa dan Keyla hanyalah seorang anak yang rapuh, seorang anak yang haus akan perhatian. Tapi itu tidak membuat mereka manja, paksaan dari kakeknya membuat mereka terpaksa bangkit dari keterpurukannya.


Mereka yakin, walaupun kakek nya kasar dan keras kepala. Kakek tua itu sangat menyayangi mereka. Tanggung jawab nya sangat besar!


"Kakak mohon kamu bangun, Key. Kakak janji, bakal luangin waktu yang banyak buat kamu, kita bakal pergi ke taman bermain. Kita bakal jalan-jalan ke mall, nonton film kesukaan kamu, dan masih banyak lagi." Monolog nya.


Terdiam cukup lama, sampai akhirnya tangan yang digenggam merasakan pergerakan. Yang awalnya kepala Vina menunduk, perlahan mendongak. Tangan yang digenggam terlepas, tergantikan dengan elusan halus di rambut hitam sedikit pirang itu.


"Janji ya kak? Kakak bakal luangin waktu buat jalan bareng aku?" Tanya Keyla memastikan, sembari tersenyum manis. Vina menikmati elusan di kepala. Sudah lama dirinya tak menghabiskan waktu dengan adiknya.


Dia tidak mau seperti Calos dan Carlos, yang membuang waktu mereka hanya demi anak murahan seperti, Vero. Untung saja dari awal dia ada di sini, Vero hanya 'dianggap anak' bukan benar-benar dijadikan keluarga Callandra.


Raditya benar-benar tidak menyukai keberadaan Vero saat dulu. Pada akhirnya, Maya menyerah untuk membujuk Raditya membawa Vero menjadi keluarga. Maya hanya membelikan Vero sebuah apartemen, dan perlengkapan nya.


"Kakak janji, Key. Kakak janji kita akan jalan bareng. Tapi.. setelah semua selesai ya, kakak mau menyelesaikan semuanya dulu. Semua kepingan kepingan sudah mulai terpasang dengan rapih meskipun yang lain masih belum mendapatkan jawaban."


Lagi. Keyla menjawab ucapan kakaknya dengan senyuman. Perasaan tidak enak, hanya mampu membuat nya diam tak yakin dengan kakak nya.


"Aku tau apa yang dipikiran kamu, Key. Kakak cuman mau bilang, kakak gak akan mati kalau kakak belum membuat kamu bahagia. Kakak gak akan mati, kalau semua belum selesai!"


Keyla menatap Vina dengan cemberut. Mengulurkan jari kelingking nya, "janji ya kak? Dan janji juga jangan omongin kematian."


Vina tersenyum melihat tingkah Keyla. Menautkan jari kelingking nya dengan milik Keyla.


"Janji."


...🥀🥀🥀...


Sena menikmati hembusan angin menerpa wajahnya, kini dirinya sedang duduk di balkon seorang diri. Sudah biasa baginya. Memetik gitar uang ada di pangkuannya. Memainkan sebuah lagu, yang dulu pernah dirinya buat dengan Sasya.


Jika lagu dimainkan, seketika dirinya seperti ada di masa lalu saat semua masih baik-baik saja. Juga, keadaan keluarganya masih baik-baik saja.


Masa lalu, biarlah berlalu. Karena jika kita kembali mengingat pada masa sekarang, kita akan seperti menyesali sebuah tindakan yang dulu pernah dialaminya.


Beautiful start of our friendship..


I can imagine how happy we are together..

__ADS_1


We can't be separated..


Like light and darkness..


It's a friendship that's like most people's expectations..


Loyal, sacrifice like love, affection..


Complement each other despite the many shortcomings..


We are friends forever..


We can't be separated


Like light and darkness..


Lagu yang dibuatnya sewaktu kecil. Persahabatan yang diekspetasikan, tidak seperti kenyataan. Itu semua tamparan untuk dirinya.


Sena terkekeh lirih setelah menyanyikan lagu nya. Lagu nya belum memiliki judul, mereka tidak membuat judul.


Tapi sepertinya sekarang dia sudah memikirkan nya. Judulnya Can't separated. Tidak terpisahkan. Sena hanya menyesal tidak merawat Sasya dengan baik.


Sena menyudahi galau-galau nya. Masuk ke kamar nya membawa gitar yang baru saja dia mainkan. Menatap handphone yang ada di atas meja belajar.


Sebelum menghubungi Vina tadi, dirinya tidur dan Sasya kembali mendatangi tidurnya. Memberitahu kalau hal besar yang terjadi pada Vina sudah datang dan sedang berlangsung.


Seketika dirinya gemetar. Menyiapkan dirinya untuk pergi ke rumah sakit tempat Vina dirawat.


Takut-takut akan ada orang yang datang ke dalam kamar Vina pada tengah malam saat tertidur lalu membekap nya dengan bantal atau guling. Atau, bisa saja ada orang yang memasukan sebuah obat di dalam makanan dan minuman milik Vina.


Sena menggeleng menghilangkan pikiran negatif nya. Dan beranjak ke kamar mandi.


"Vin. Gue bakal bantu Lo. Walaupun Lo jahat 'dulu', tapi Lo gak bisa lawan mereka seorang diri. Karena gue tau, sekejam apa kelompok Martin. Sepupu kejam emang si Martin."


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2