
"Gak mungkin kan, dia adik gue?!" Teriak Vina dalam hati nya. Merasa gelisah dengan pikirannya. Tapi kenapa pikiran nya menangkap ke arah sana? Apakah jiwa Vina memberi nya petunjuk, lewat hatinya.
Bagaimana tidak, selama ini ia tidak ingat, apakah dia memiliki adik lain, selain Keyla. Dari kecil, hanya kenangan buruk yang selalu diingat nya. Bahkan membully orang pun, termasuk kenangan buruk.
Terkecuali mengenal keluarganya, mungkin itu, satu-satunya kenangan yang indah. Tak habis pikir dengan kelakuannya dulu.
Vina mendongak menatap wajah papa nya, dan beralih pada mama nya. Sangat menyayangkan sikap mama nya tadi. Padahal, diawal pertemuan diantara mereka, dia begitu hangat menyambut sadar nya Vina dari tidur lama nya.
Tapi sekarang ia sadar, kalau itu hanya lah sebuah kemunafikan belaka, yang hanya menutupi wajah asli dari kejahatan mereka yang sebenarnya.
Walaupun dia hanya anak 'tiri'. Namun dia juga ingin disayang secara tulus. Vina hanya terkekeh miris, dia hanya anak 'tiri', mempunyai banyak kemauan. Seharusnya dia bersyukur, diberi atap untuk berteduh pun rasanya sudah bahagia.
Dirinya bertanya-tanya, apakah mama nya, Maya, pernah sedikitpun menoleh ke belakang untuk melihatnya. Barang sedetik?
Kematian Vaness membuat orang tua, bahkan kedua Abangnya terpuruk. Itu karena anak kandung, adik kandung mereka, meninggal, dengan umur yang terhitung masih kecil.
Apa dia boleh bertanya? Jika dirinya yang meninggal seperti itu, apakah semua orang akan murung? Orang yang bukan keluarga sebenarnya, orang yang menculik nya, dan tidak pernah mengembalikan ke keluarga nya.
Dia hanya anak pungut! No! Rasanya sakit, setiap kali melihat papa nya berdiri di depannya, tanpa ada wajah berdosa sedikit pun. Papa nya terlihat asing, sudah melebihi seorang phycopat gila.
Sudah mengaku di hadapan seorang gadis yang masih kecil, dan imut seperti nya. Sudah membunuh dua orang, bahkan kebohongan yang terjadi berlanjut sampai Vina sudah sebesar ini.
BRAK!
Sekarang dia sudah kalap, pandangannya menggelap. Tidak memikirkan siapa yang sudah merawat nya. Siapa yang mau hidup dengan orang yang sudah membunuh orang tua mu. Dan bersikap seakan-akan tidak mempunyai kesalahan.
Vina dengan keras menghantam tubuh ringkih Raditya. Membuat Raditya tersungkur. Seru nafasnya sudah tidak beraturan. Berhasil. Aiden berhasil membuatnya marah hanya sekali pengakuan.
Bagaimana dengan pengakuan pengakuan yang lain nya, kalau begini.
"Sialan! Wajah Anda seperti minta dibasmi!" Sentak Vina. Aiden hanya terkekeh di sudut tempat nya berdiri, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Raditya menatap sendu Vina dari bawah, seharusnya bukan seperti ini maunya. Seharusnya dia bisa memberitahu dari awal, jangan menutupi kebohongan dengan kebohongan lain.
Maya juga sudah memaksanya untuk cerita yang sebenarnya. Entah apa tujuan Maya. Untuk membuat Vina hancur, atau memang sangat ingin kejujuran terjadi di antara keluarga mereka.
__ADS_1
Seperti nya ini bukan hanya perasaan Rissa, tapi juga perasaan asli dari Vina. Perasaan nya menekan dirinya untuk melawan, dan membenci kembali.
Kebencian. Kebencian. Hapus satu kata itu saja dari dunia ini. Dunia kejam.
Orang yang merekam semuanya, mematikan rekaman di handphonenya. Masih berdiri di tempatnya, di persembunyiannya.
"Avrenzo, ini mungkin bisa buat Vina Deket sama Lo lagi." Orang itu berkata pada dirinya sendiri.
...🥀🥀🥀...
Keyla melihat jam tangannya. Sudah lewat beberapa menit dari waktu yang ditentukan. Mata nya kembali terfokus ke arah markas Shadow Legion.
"Guys! Kita masuk, dan menyebar. Basmi orang orang yang ada di luar, tanpa suara." Perintah Keyla ke pasukan nya, lewat earpiece yang terpasang di telinganya.
"Siap ketua!" Ujar pasukannya bersamaan.
Dengan cepat mereka menyebar. Dari semua arah markas, mereka mulai menyerang. Mengendap-endap tanpa terlihat, bersembunyi dalam kegelapan dan memasang jebakan para musuh.
Roby pertama kali menyerang dengan pisau Karambit nya. Menebaskan pisau nya tepat di leher musuh, membuat musuh mati seketika. Keyla muncul dari belakang Roby, membawa pisau lipatnya.
Darah berceceran dimana-mana, ada cipratan darah di wajah para Red Blood. Seperti nama mereka, Red Blood.
Gio menambil sapu tangan dari saku nya. Tentu sudah dibasahi dengan racun ganas. Satu persatu orang-orang Shadow Legion yang berjaga-jaga di sekitar luar markas tewas tak bersisa.
Para Red Blood masuk, tanpa bersuara. Melihat sekitar apakah mereka sudah sampai di tempat Vina berada. Di tengah-tengah gedung mereka melihat musuh-musuhnya berkumpul, entah sedang apa.
Seperti posisi yang sudah direncanakan, lalu bersembunyi di balik dinding-dinding gedung nya.
"Semua sudah siap di tempat."
...🥀🥀🥀...
"Jadi.. kamu ngerti kan sekarang, Vin? Dunia kejam, ke kamu, bahkan ke saya. Masa masih aja mau bertahan di situ-situ mulu. Mau dimanfaatin doang gitu?" Aiden mulai memprovokasi Vina.
Vina hanya diam, dengan sedikit menunduk, tersenyum samar, tanpa ada yang melihat. Vina mendongak, dan menengok ke arah Aiden. Mereka saling berjalan mendekat.
__ADS_1
"Hei, Aiden. Gue mau tau lebih banyak, selain dari papa. Jadi, kasih gue waktu lagi." Vina memasang wajah sendu di depan Aiden, agar Aiden percaya dirinya benar-benar merasa tersakiti, dan sangat menderita dengan kejujuran yang didapatinya.
Mana mau dirinya dimanfaatkan, jika dirinya bisa Mendapatkan lebih banyak dari orang lain. Walau wajahnya hanya terlihat lugu, tapi otaknya pintar. Dalam artian dia tidak sebodoh itu, untuk menyetujui sesuatu.
"Katanya, Lo kan mau bantuin gue, masa setengah-setengah. A deal is a deal, right?" Bisik Vina di samping telinga Aiden, dan tersenyum miring.
Aiden tersenyum, mengira Vina sudah menyetujui perjanjian nya. Tapi kalau bodoh, tetap bodoh. Vina tidak semudah itu, bisa menepatinya 'kan.
"Iya kamu benar, Vin."
Vina sedikit melirik sekitar. Tepat dengan perkiraan waktu nya, dia telah melihat Keyla dan yang lainnya masuk ke dalam gedung.
Lalu bergerak menjauhi Aiden, meregangkan kedua tangannya ke atas dan kibaskan ke bawah. Mengkode Keyla untuk bergerak. Keyla melihat lirikan dan pergerakan Vina, langsung bergerak.
Dari belakang mereka membekuk dan mengunci leher anggota-anggota kelompok Shadow Legion. Aiden membulatkan matanya, bergerak untuk memukul Vina, karena ada jebakan.
Vina membuat gerakan Dollyo Chagi, jurus taekwondo yang pernah diajarkan pelatih dari kakeknya. Dulu belum terlalu sempurna, tapi sekarang jurus itu sudah disempurnakan olehnya sendiri.
Tendangan ini ke arah samping dengan memutar telapak pada kaki empat puluh lima derajat. Dengan begitu pinggang akan ikut memutar, kemudian menendang ke arah kepala.
Tapi Aiden menahannya dengan cepat. Dan menggunakan Gazelle Punch dari idolanya, kemudian melontarkan uppercut nya. Dan Vina menahannya.
BUAGH!
Aiden terkena serangan Dwi Hurigi milik Vina. Taekwondo Vina sudah seperti profesional, bukan hanya melakukan teknik serangan, yang digunakan berandalan biasanya.
Serangan itu terkena leher Aiden. Membuat pemuda itu terbatuk-batuk, dan tersungkur sesaat. Tapi tetap bangkit untuk melawan Vina.
Keyla yang lain nya saling baku tembak, dan bertarung dengan anak buah Aiden. Cukup banyak, bukan hanya di lantai itu saja, ternyata ada yang datang lagi dari lantai atas.
"Cih. Kuat juga Lo, Aiden!"
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1