Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Se.2_ #89. Mask


__ADS_3

Pria itu tersenyum menatap Keyla yang datang. Namun, batinnya sangat senang bahwa dia berhasil membuat Keyla berbicara dengan nya. Di sekitarnya pasti ada yang mengawasi nya. Dari pihak Red Blood, dan juga dari kelompok Floan, gabungan dari kelompok itu.


Keyla berdiri di samping tempat duduk seberang pria itu, lalu duduk setelah dipersilahkan.


"Saya just straight to the point. Jadi, bantuan apa yang mau anda berikan, Sir?"


Pria itu terkekeh geli. "Kamu memang orangnya to the point banget ya."


Keyla menatap serius dan tajam padanya. Membuat pria itu berdeham gugup, "apapun itu yang bisa buat kamu lebih baik, nona cantik."


Keyla menyeringai, "hm.. Apapun? Interesting. Kalau begitu.. sumbangan dana bagaimana? Bukankah anda memilik perusahaan yang begitu besar?"


Dia mendapat laporan dari Gio, bahwa saat Gio ke gedung perusahaan yang dituju, gedung itu begitu besar dan tinggi. Terlihat mewah dan elegan di mata. Jadi dirinya ingin mengetahui apa pria di hadapannya main-main dengan pembicaraan nya.


Pria itu membalas seringai itu dengan senyuman nakal, "itu terlalu mudah, nona. Tapi tentu dari semua yang ingin saya bantu, pasti ada syaratnya. Kamu tau itu kan?"


Keyla bersandar dan bersidekap dada, "sudah saya duga, sir. Saya ingin tau syarat apa yang akan anda tawarkan pada saya."


"Kamu harus setuju dulu, sayang~"


"Ewh.. Menjijikan!" Gumam Gio dari kejauhan menatap keduanya. Di telinganya terpasang alat pendengar yang ia pasang di baju Keyla. Dia mengalihkan pandangannya, dadanya terasa sakit ketika Keyla menerima begitu saja genggaman tangan dari pria itu di atas meja.


Keyla melirik tangan nya yang ada di atas meja yang di genggam pria menjijikkan di depannya. Sabar, sabar. Dia hanya butuh sesuatu hal yang pasti berguna untuk Red Blood. Rahangnya mengeras, tapi dirinya tahan.


"Oke. Tapi lebih baik jangan yang aneh-aneh, tuan."


"Tentu tidak, sayang~"


..._____...


"ARGH! COWOK APAAN ITU!"


Keyla berteriak kesal sembari mengelap tangannya dengan tisu basah dengan kasar, dan melangkah ke arah westafel dapur di markasnya. Mencuci berkali-kali bekas genggaman pria aneh itu.


Ya, setelah memutuskan menyetujui apapun itu syaratnya, selagi tidak hitam di atas putih. Tapi seperti mendapat kesialan, Keyla malah membiarkan dirinya disentuh.

__ADS_1


Gio menatapnya dari belakang tanpa berbicara apapun. Menunduk seperti hal nya hormat pada ketua nya, tak mencampuri urusan nya, hanya mengikuti perintahnya. Hanya itu. Hanya itu, cukup bagi Gio untuk berada di samping Keyla.


"Yo! Kok Lo gak bilang, kalau tuh laki-laki genit banget. Ewh!" Seru Keyla mengusak rambutnya, sembari mondar-mandir kesal.


"Maaf. Saya tidak tahu kalau pria itu memiliki sikap yang tidak seperti pemilik perusahaan."


Mendengar hal itu Keyla menatap Gio setelah mendengar perkataan Gio yang janggal. Seperti ada yang aneh. Kenapa.. Kenapa Gio berbicara formal padanya? Dirinya mendekat pada pemuda yang diam dan menunduk menatap tanah itu.


"Yo.. Apa yang Lo lakuin sebenarnya? Gaya omong Lo jadi aneh."


Gio mendongak, "ah.. Iya tadi 'kan sa.. Gu.. Gue belom dikasih makan, gue balik dulu."


Gio dengan cepat menghindari Keyla, dan menutup pintu dengan rapat meninggalkan Keyla di kekosongan ruangan. Di tengah kebingungan dan kegelisahan Keyla, dia teringat kembali dengan apa yang menjadi tujuan nya, dan menatap monitor yang selalu ia awasi.


"Kalau itu bener bener Lo, kak, kenapa gak ada yang bilang keadaan Lo? Sebenarnya apa yang terjadi?!"


..._____...


Vina menatap gedung itu. Dia sendiri ke sini, Ciandra di rumah karena memang Havarreo yang memerintahkan anaknya untuk tetap tinggal untuk sementara, tentu dirinya setuju. Dia tidak ingin Ciandra dalam bahaya, dia sudah menganggap gadis itu saudaranya.


"Sepertinya, satu-satunya cara hanya membuat gedung ini hancur. Supaya polisi berhenti menuduh gue yang jadi biang masalah."


Menatap sekitar. Dan matanya menangkap cahaya dari pos listrik yang ada di dekat pintu. Membuatnya mendapat ide. Setidaknya dia harus cepat-cepat membereskan semua tindakan dari orang-orang yang tak bertanggungjawab tersebut.


"Hapus.. semua bukti. Seperti yang biasa kamu lakukan, Vin," gumamnya. Berbalik membuka handphonenya, menatap kontak yang akan dia telepon. Orang dari kelompok Havarreo. Untuk membuat sebuah rentetan cerita celaka pada gedung tak terpakai ini.


Dirinya berjalan melewati trotoar akan mengarah pada mobilnya yang terparkir agak jauh dan tersembunyi. Dirinya sudah memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikuti nya. Tapi memang pikiran nya sedang melayang. Rasa itu, rasa saat beberapa saat sebelum Willy benar-benar muncul di kehidupan nya. Haus akan darah, haus akan amarah yang menderu, dia lelah, tapi dia harus menyelesaikannya.


Dug...


"Akh.. Apa-apaan sih nih orang?!" Kesal Vina menatap orang yang menabraknya.


"Ouh.. Maaf. Saya gak sengaja."


"Eh.. bisa Indo juga?" Tanya Vina sedikit terkejut, melihat pemuda di depannya itu bisa bahasa Indonesia. Padahal dari corak wajahnya, khas Italia sekali pemuda itu.

__ADS_1


"Mbak-nya juga bisa. Asal Indo ya, mbak?"


Mbak? Ini orang dari mana? Sejak kapan dirinya jadi mbak-mbak? Pikir nya.


"Eh iya. Tapi kok anda tau saya mbak-mbak? Eh, perempuan maksudnya."


Pemuda itu terkekeh, "mbaknya walau pake topeng, suaranya tetep atuh cewek."


Sungguh rasanya dirinya ingin tenggelam. Bisa-bisanya dia lupa kalau masih pakai topeng.


"Oh iya, kenalin, saya teh Kasep Aldebaran. Panggil aja Aran." Pemuda itu mengulurkan tangannya, menatap dengan senyuman terpatri di wajahnya. Membuat Vina terdiam, dirinya menatap wajah Pemuda itu.


"Wajahnya.. polos sih. Gak mencurigakan. But, gue gak bisa kasih tau nama gue 'kan? Bisa aja ada orang bakal cari tahu dari dia. Saking polosnya nta**r malah dia yang bocor."


"Gue Claire. Just call me Claire." Bohongnya. Dia harus berpikir kritis dalam masa masa orang yang tak dapat dipercaya. Dengan menyambut uluran tangannya.


"Okeh, Claire. Urg.. Topengnya agak serem yah."


..._____...


Elina menatap komputernya dengan menyernyit, ada sesuatu yang menjadi clue di rekaman video pengawas dekat sebuah gedung. Dirinya baru saja mendapat kiriman file yang menggunakan bahasa Italia sebagai nama nya, dan juga sebuah pesan singkat.


Dengan terjemahan yang sudah dipastikan kebenarannya, "kamu pasti mencari tahu siapa dia. Jawaban dari segala pertanyaan mu selama ini."


"Ya tentu saja dia jawaban ku. Vina selalu menjadi jawaban atas pertanyaan ku, karena dia adalah Rissa," batinnya. Heran sebenarnya, apa maksud orang yang mengirim ini.


Lebih anehnya, mengapa di video, Vina memakai topeng, dan hidup di sana selalu memakai itu seperti ingin menutupi identitasnya? Tapi apakah disekitar Vina ada penyusup? Dan mengapa video ini dikirim hanya padanya?


Elina harus mencari tahu apa yang terjadi. Dan menambah beban pikiran saja.


"Vin.. kalau kita bertemu, gue pastiin gak ada satu pertanyaan dibenak gue terlewat begitu aja tanpa jawaban pasti dari Lo."


..._____...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2