
Sat..
Gio dan Roby hanya gemetar menatap Keyla yang sedang kalap di depannya. Ujung tombak itu menghadap tepat di depan mata kiri dari Roby. Dan anggota tadi tak ada yang berani maju.
"Jadi.. gak mau ngomong apapun?"
"Key, Vina mungkin agak lama di sana. Tolong jangan kayak gini.." Mohon Gio.
Roby seperti menahan napasnya, "Key. Kita gak tau sebenarnya ada apa, tapi Vina kan memang agak lama di sana."
Mereka tetap melanjutkan kebohongan yang seharusnya dijelaskan. Keyla menatap tajam mereka, napasnya menggebu. Berbalik dan melampiaskan nya ada Bryan, dengan mensabitkan katana itu berkali-kali pada tubuh pemuda itu.
...🥀🥀🥀...
Suara bunyi pintu yang dibuka tersebut, mengalihkan perhatian seseorang dari laptopnya. Dan menyambutnya. Mempersilahkan duduk sosok gadis yang di hadapan nya.
"Ada apa, Ciandra?"
Gadis yang dipanggil Ciandra tersebut menatap serius sang sosok pria paruh baya di depannya. "Ayah, dia, gimana keadaannya?"
Ayah nya terdiam, bersandar pada kursinya, menyilangkan kedua tangannya. "Sebenarnya keadaan dia memang parah. Tapi itu kemauannya, itu rencana yang dibuatannya, padahal ayah sudah ingatkan dia. Memang keras kepala anak itu."
Ciandra menatap wajah ayahnya yang sudah ada beberapa kerutan, dan ada bekas luka di bagian pipinya. Ciandra menatap ke luar jendela, memerhatikan pemandangan.
"Ayah, kumohon selamatkan dia."
Pria itu berdiri dan menghampirinya. "Ciandra.. ayah pasti akan terus berusaha semaksimal mungkin. Termasuk melarang dia melakukan itu, walau rencananya hanya mengorbankan nyawa demi banyak orang."
Tangannya mengelus rambut Ciandra dengan sayang dan memeluk nya. "Karena dia, telah membantu kita terlalu banyak."
Ciandra dipelukannya hanya mengangguk menjawab ayahnya.
...🥀🥀🥀...
Tawa menggelegar. Di dalam berkumpul para petinggi-petinggi pendukung dari dua orang tersebut. Bersulang akan kemenangan mereka, yang berhasil menjebak dan membunuh 'wakil Red Blood'.
"Kalian tau? Perang besar akan terjadi, saat mereka tau kematian sang wakil. Oh, atau perempuan itu ketua nya? Soalnya ketua Red Blood kan selalu bersembunyi dibalik orang yang bernama Vina itu."
"Yeah. Itu sebabnya, kenapa kalian mendukung kami kan? Ini berhasil, karena dia.. adalah kelemahan bagi Red Blood!" Seru orang itu.
"Kematian nya, pasti tercatat disepanjang sejarah dunia per-mafiaan."
Orang itu menggeleng menolak pernyataan itu. Tangan nya menggoyangkan gelas di tangannya. "Bukannya itu Rissa? Ketua Red Blood sebelumnya. Padahal tadinya, jika orang yang sudah berhasil membunuh Rissa masih hidup, aku akan memberi nya penghargaan."
__ADS_1
"Tentu, tuan Xlovenos. Saya dari klan Flandora pun akan melakukan itu."
"Klan Yellow Radeon tak kalah meyakinkan kalian tau!"
Tawa dari Xlovenos menghentikan perdebatan diantara mereka, "sudahlah. Kita disini untuk bekerjasama, bukan untuk berdebat."
"Hubungan kerja ini semoga menguntungkan, tuan Xlovenos."
Mereka semua menyeringai. Dan itu adalah permulaan mimpi buruk dari Red Blood.
"Tapi, kelompok saya, hanya bekerjasama karena musuh kita sama. Bukan berarti perdamaian dikibarkan sekarang, para tuan-tuan."
Ucapan dari Ketua Blackkind yang sedari tadi diam. Membuat semua setuju, hanya saja Xlovenos menatap datar pada ketua kelompok itu, terlihat kalau dia sama sekali tidak tertarik dan tidak senang akan kabar ini.
"Si tua Bangka ini, hanya bisa jadi penghambat saya menjadi penguasa dunia mafia ini." Batin Xlovenos.
..._____...
"Akh!"
"Haish, makanya jangan gegabah!"
Gadis di depannya mengerucutkan bibirnya, menatap sebal pada perempuan di depannya. "Bukannya bantu kek, malah marah-marah, dasar Mak lampir," gerutunya.
"Ciandra, walau gitu jiwa gue ini sama Lo sama umurnya! Udah deh, kalau gak niat bantu."
Ciandra memutar bola matanya malas, "Rissa.. eh nggak.. Vina, Lo itu baru sadar dari mari suri Lo, eh dari masa kritis Lo, jadi Lo masih lemah. Lagian salah Lo sendiri. Pakai parasut udah, tapi lupa landing yang benar."
"Cerewet banget sih anak ini," gumam Vina, tapi masih di dengar Ciandra karena jarak mereka berdua dekat.
"Lo tuh ya—"
Suara tawa menghentikan perdebatan mereka, terlihat pria paruh baya yang mendekati mereka berdua sembari tersenyum menatap interaksi keduanya.
"Ciandra.. astaga nak, kamu ngerusuh banget ya kalau ketemu temen kamu. Vina nya baru siuman udah kamu ajak debat."
"Salah Vina, tuh Ayah!"
Vina memasang wajah merasa tersakiti karena difitnah. "Payah~"
Mereka tertawa bersama, lalu masuk ke dalam ruang VVIP untuk Vina. Vina memandang serius Ciandra dan ayahnya, yang berarti memang ada yang harus dibicarakan.
"Dengan semua yang sudah kulewati, mayat mayat itu berhasil terbakar, seperti yang diperkirakan, tuan Blackkind?" Tanya nya sembari mensandarkan tubuhnya.
__ADS_1
Berdiri tegap dan menjelaskan semuanya, "seperti rencana, orang-orang yang telah mengkhianati Red Blood dan juga Blackkind semua telah disingkirkan dan masuk ke dalam pesawat itu. Tapi.. bagaimana kamu tau mengenai Xlovenos yang mencoba mengebom pesawat itu?"
"Nah, iya tuh. Kita tau seberapa licik nya Xlovenos itu, dan memang dia bermain cantik, sampai kelompok lain yang menjadi musuh Red Blood diajak bekerja sama." Ciandra menatap Vina yang tersenyum tipis.
Vina mengetuk kepalanya menggunakan jari telunjuknya. "Aku bisa tahu, kalau ini semua ulahnya. Pada saat ledakan mobil itu, tidak semudah itu mereka mati, tuan Blackkind. Semuanya memang pantas mati!"
"Mati adalah kunci, gitu?" Tanya Ciandra menyipitkan matanya. Vina terkekeh, dan menggeleng.
"No.. No.. No. Mati lebih baik, tapi aku ingin mereka menderita. Terlebih lagi mengenai semuanya, keluarga ku hampir diujung tanduk, dan aku sudah susah payah dan hampir mati untuk terlihat mati dimata mereka."
Pria itu berjalan mendekati ranjang brankar itu, "jadi.. bagaimana kamu bekerja kalau kamu sudah mati mereka anggap?"
"Yah.. sebenarnya ini cara kuno." Vina mengambil apel yang ada di meja samping ranjangnya, dan menggigitnya sedikit. "Topeng, dan seakan aku hanyalah asisten mu Blackkind, agar aku bisa lebih masuk ke dalam kerjasama kalian, dan bisa lebih tau bagaimana aku harus bertindak."
"Baiklah." Dirinya membungkuk sedikit, "saya pamit, nona Vina."
Vina mengangguk, dan menatap Ciandra yang menatap ayahnya yang menghilang dari balik pintu kamar rawat itu.
"Kamu mengkhawatirkan ayahmu?"
Ciandra menghela nafasnya, "ini bahaya, Vin. Jika Xlovenos dan antek-anteknya tau kalau ayah bekerja sama hanya karena ingin mencari tahu informasi. Nyawa taruhannya."
Vina bangkit dari sandar nya dan berjalan ke arah Ciandra, menepuk bahu perempuan di depannya, "seharusnya dari awal kamu tahu mengenai pekerjaan ayahmu, kamu bisa menghentikannya. Tapi ayahmu sudah terlibat sejauh ini dengan ku, menjadi orang kepercayaan ku juga. Jadi tanggung jawab tetaplah tanggung jawab."
Ciandra mengepalkan tangannya, "sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Vin? Kamu meninggalkan kehidupan mu di Indonesia, dan membawa malapetaka ke Italia, ke kelompok ayah ku."
Vina menggigit bibir bawahnya, "Bukan, bukan maksud ku untuk membuat nyawa manusia yang tak berdosa dalam bahaya." Vina mengambil cangkir minuman yang sudah disiapkan untuk nya. "Aku hanya memanfaatkan itu. Kamu tau kan? Peraturan mafia memang seperti itu, suatu kebaikan tidak diberikan secara percuma. Balas budi adalah hal yang paling penting."
Vina meminum cangkir itu dan menatap jendela mengeraskan rahangnya. "Juga, seorang mafia, akan mengorbankan apapun untuk menemui kemenangan yang abadi. Dan aku sudah mengorbankan hidup ku untuk kesekian kalinya, Cia."
Ciandra menunduk dan memijat pelipisnya, "kamu bisa memperparah kondisi, Vin."
"Kondisi di sana sudah mulai kondusif, Ci. Tinggal aku selesaikan yang di sini." Vina membalikkan tubuhnya dan kembali ceria. "Nah, lebih baik kita Mabar saja. Sudah lama nih."
"Apa.. adikmu gak penting? Apa dia tak hancur? Gak sedih jika mendengar kabar pesawat yang ditumpangi kakaknya meledak beserta kakaknya? Walaupun sebenarnya semuanya hanya manipulasi mu. Tapi kamu sudah dianggap meninggal dengan bukti-bukti yang kamu sengaja taruh."
Tubuh Vina membeku mendengar itu. Adiknya. Dia tertawa sedih dalam hati ketika menyentuh topik tentang keluarga nya. Bukan, bukan dia ingin melupakan adiknya, hanya tak ingin adiknya terkena masalah juga.
"Ciandra semua sudah kuurus. Jadi lebih baik, gue sama Lo Mabar aja yok!" Vina menyodorkan handphone nya.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
__ADS_1