Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 81 : War


__ADS_3

DOR!


"KAKAK! JANGAN LAGI!"


Disaat yang sama dengan teriakan Keyla, ada seseorang yang melindungi Vina dari belakang membuat orang itulah yang terluka akibat tembakan. Vina tersenyum miring.


"Reflek yang bagus Gio," ujarnya memuji Gio yang melindungi nya. Gio tersenyum tipis, tentu saja, dan untungnya dia memakai anti-peluru di dalam pakaiannya.


Keyla yang melihat itu sungguh merasakan debaran gelisah di jantung nya. Untung saja Gio datang di waktu yang tepat, namun dia khawatir juga akan keselamatan Gio. Dia mengepalkan tangannya, berpikir, apakah dirinya harus turun tangan? Tapi itu akan membuat semuanya kacau berantakan. Terlebih kakaknya menyuruh nya jangan ikut campur.


Napasnya memang tersengal melihat pemandangan dari cctv-nya yang ada di hadapannya. Tapi dia jangan gegabah.


Vina menggeram melihat bahwa pelaku yang menembak malah tertawa. Seperti meremehkan.


'Jangan terpengaruh, Vin. Jangan terpengaruh!'


Batin Vina mencoba menyadarkan nya agar tidak terpengaruh dan bertambah berbuat yang tidak sesuai rencana nya. Matanya melihat sekeliling yang sudah hancur berantakan. Tempat ini tidaklah di kota yang banyak orang, dia tidak mau banyak korban berjatuhan. Jangan juga polisi mengetahui semua ini.


Matanya melihat Roby ada di medan perang menyernyit tak suka. Harusnya pemuda itu menjaga calon istri dan calon anaknya di rumah, kenapa dia disini?! Ya sudahlah, jangan pikirin yang lain, dirinya menatap kembali orang di depannya sudah mengarahkan pukulan keras.


Vina menggertak, "kembaliin dunia gue, brengsek!"


Vina menangkap pukulan Knuckle itu, tak peduli tangannya akan luka dan berdarah seperti pelipis nya yang sudah terluka dan berdarah. Tangan satunya ia pakai untuk memukul dagu lawan nya dengan sekuat tenaga.


Vina tidak merasakan sakit, hanya ada amarah yang membuncah. Knuckle yang dipakai oleh lawan nya terlepas.


"Kembaliin," ucapnya lagi dengan suara rendahnya. Yang menembakkan peluru terdiam melihatnya, matanya menajam menahan kesal melihat Vina. Pistol itu kembali diarahkan, namun Gio dengan cepat berlari dan menendang nya, namun ternyata tidak terlepas. Orang itu memerintahkan sopirnya menjalankan mobilnya. Gio naik ke kap dan menahan keseimbangan di atas itu.


Keyla yang melihat itu membulatkan matanya. Menggenggam erat kursi yang didudukinya.


"Gio, astaga! Keyla tenang, jangan panik. Percaya sama mereka," ujar Keyla menenangkan diri.


Gio bertahan di sana, dan naik ke atap mobil. Ia tahu pistol dengan peluru di dalamnya akan di lesatkan ke arah nya. Maka di memakai sebuah bom yang ia modifikasi, belum sempat dia menembak, rentetan dari bawah membuatnya hampir terjatuh.


*KRETANG..

__ADS_1


TAK..


DOR*..


Rentetan peluru itu mengenai salah satu kakinya, tak membuat Gio menyerah. Dia menahan sakit, tapi masih bisa membentangkan bom itu di atap, dan di kap. Dengan tenaga tersisa, di melompat dari atap ke Roby yang memang sudah tau rencananya.


Vina dan Keyla yang melihat itu sempat menahan napas nya sendiri. Vina menarik belati dari sakunya.


SATSHH..


Leher laki-laki itu langsung disabit olehnya. Darah menyiprat kemana-mana. Vina menarik belati itu dan membiarkan laki-laki itu tergeletak tak bernyawa lagi. Matanya menatap dengan nyalang mobil yang mencoba menjauh itu.


Detik berikutnya, ledakan besar yang diakibatkan di bom yang terpasang di mobil itu meledak bersama isi dari mobil itu. Vina tersenyum tipis, dan melangkah mendekati Roby dan Gio. Dengan mereka berdua yang sudah keluar dari mobil.


Sekitarnya para Red Blood sudah membasmi Xlovenos, beberapa dari mereka sudah mati, dan ada beberapa yang masih hidup. Tapi karena sebegitu nya mereka mengayomi Red Blood, mereka tidaklah mati dengan sia-sia.


Red Blood ada, untuk memberikan keamanan bagi negara. Dan hari ini bagi mereka, adalah hari dimana Xlovenos habis di tangan Red Blood.


...🥀🥀🥀...


Kini beberapa dari Red Blood menjemput mereka, dan memeriksa dan merawat mereka yang terluka di markas sebelah barat. Keyla menyambut mereka dengan khawatir yang berlebihan menurut Vina.


Gio bersiap untuk mengeluarkan peluru yang ada di kaki nya. Paul pun membantu di sana, dengan rekan-rekan dokternya.


Keyla memijit pangkal hidung nya, "kak~ astaga. Aku pusing liat ini, mual rasanya."


Vina terkekeh, "darah begini aja kamu kayak gitu. Apalagi yang lebih besar? Kabur kali ya."


Keyla memasang wajah jijiknya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Udah kak, kakak tiduran aja biar si Paul obatin."


Vina tersenyum dan menuruti sang adik.


"Bagus. Kamu ikutin apa yang kakak suruh."


Keyla menatap wajah kakaknya dan mengangguk. "Aku cuman gak mau, kejadian waktu itu terjadi lagi, karena aku gegabah. Aku gak mau kehilangan kakak lagi, untuk kedua kalinya, kak Rissa."

__ADS_1


Vina tersenyum dan memejamkan matanya, lelah akibat pertarungan tadi.


...🥀🥀🥀...


Pagi ini. Hari pertama Kevin latihan, tapi Kevin tak tahu bahwa bukan Gio yang mengajar nya, melainkan anak Red Blood yang lain. Orang bagian pertahanan bisa dibilang termasuk inti Red Blood.


Memang Gio sedang tidak bisa membantu nya, dengan kondisi kaki nya yang baru saja selesai dijahit, takutnya malah terbuka lagi. Vina juga pelipisnya dijahit, dan sudah diperban.


Roby membantu Vero di dapur, calonnya ini memang keras kepala. Selalu ingin banyak gerak, memasak, olahraga, dan lainnya. Dia harus ekstra kerja, untungnya dia hanya terluka dan tidak terlalu parah, jadi masih bisa bergerak seluwesnya.


"Ver, udah aku bilang, aku aja yang masak biasanya juga gitu kok." Dengan lembut Roby menahan tubuh Vero yang agak bongsor agar tidak banyak gerak dan menyuruh nya duduk di ruang makan.


Vero mengerucutkan bibirnya cemberut. "Tapi, mas. Kata dokter aku harus banyak gerak. Itu juga demi kesehatan, olahraga juga baik buat kehamilan."


Pemuda itu mengelus rambut Vero, walaupun ia masih belum terbiasa dengan panggilan yang Vero berikan untuk nya, kadang dia tersipu malu dan dia tahan dengan ekspresi yang kaku.


"Iya, tapi jangan terlalu diforsir ya~"


"Ugh. Mata gue lama-lama mau copot liat pasangan ini jadi bucin," geram Kevin yang baru saja datang dengan keringat yang menghiasi wajah dan tubuh nya, handuk bertengger di lehernya untuk membersihkan setiap bulir keringat yang keluar. Pemuda itu bergidik melihat pemandangan yang menurutnya baru.


Mengabaikan hal itu, dirinya lebih baik membuka rak dan mengambil air minum dengan sekali teguk habis.


"Capek banget keknya." Roby terkekeh kecil melihat Kevin yang terlihat lelah, padahal baru diajak lari mengelilingi taman. Vero menyamankan dirinya di dekapan Roby, dan matanya menjadi sayu, karena elusan di kepalanya.


"Iyalah, gue masih pemula, menghadapi inti dari Red Blood yang pastinya udah biasa olahraga begini. Udah ah, gue mau latihan lagi."


"Iye."


Kevin meninggalkan gelas kotor itu di wastafel, dan kembali melanjutkan perjalanan ke tempat latihannya. Melewati gadis imut nan datar tanpa meliriknya atau menyapa nya. Gengsi memakan segala kewarasan mereka.


"Beda. Beda banget Lo kayak gitu ya, Kevin. Lo pikir gue bakal ngerasa kehilangan? Nggak bakal, liat aja nanti!" Geram Amanda dalam hatinya. Pikiran nya mencoba menyangkal semua yang mengenai Kevin.


Bodoh memang, tapi itulah dia, Amanda. Gadis yang pintar dalam hal pelajaran, namun bodoh dalam hal cinta. Labil. Itulah yang dirasakan para pemuda-pemudi zaman sekarang.


Cinta belum banyak orang yang tahu, tentang arti sebenarnya.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2