
Roby berlari masuk ke dalam markas setelah mengantar sang istri jauh dari jangkauan musuh. Membuka ruangan Keyla, yang sedang mengawasi komputer nya. Keyla menatap kesal pada Roby yang seenaknya membuka pintu dengan kasar.
"Apaan sih, Roby?!"
"Key! Perang besar akan dimulai! Kode Guerra sudah dikibarkan!"
Roby dengan panik berbicara begitu, dan mendengar penjelasan itu membuat Keyla tersenyum miring. Dan mengherankan Roby yang sudah kelelahan karena gelisah.
"Kenapa? Ada apa?" Roby linglung.
"Gue tau ini akan terjadi cepat atau lambat." Roby menoleh pada sofa yang ternyata ada Gio yang tengah duduk di sana.
"Kapan kalian tau?"
"Karena gue memberitakan hal itu di forum terkenal oleh mafia bengis tapi bagi gue mafia bodoh. Gue buat pengumuman tentang Kakak. Red Blood masih mencari nya."
"Dan tentunya itu pasti menarik semua mafia melihat postingan itu."
"And, see, mereka terpancing."
Gio dan Keyla tersenyum melihat Roby mengangguk dan ber-oh ria di tempatnya.
"Eh, tapi Lo dapat dari mana bakal ada perang, dan kode itu? Kode itu hanya kita berempat yang tau kan?"
Roby menatap serius pada Gio," Vina masih hidup!"
Gio menganga. "Hah? Maksud Lo, Vina hidup?!"
Keyla menatap mereka dengan tajam dan bingung, "maksudnya masih hidup, apa?"
Gio dan Roby mengatupkan kedua bibirnya, tegang. Bisa-bisanya mereka keceplosan di depan Keyla, harusnya mereka tutupi kasus ini. Kasus kematian misterius Vina. Ah, mungkin kasus aneh sebenarnya.
"Maksud kalian kakak dah mati gitu?!" Keyla meninggikan nada suaranya, dia mau jawaban.
"Pesawat itu menghantarkan bencana, pesawat Vina mengalami kecelakaan, kami berusaha mencari, walau nihil hasil nya, tapi sekarang Vina masih hidup," jelas Gio yang disikut oleh Roby. Gio menyipitkan matanya ke Roby.
"Jadi.. Kalian bohongin gue selama itu? Bilang kalau kakak mungkin sibuk? Ah, tapi.. Setidaknya gue tau alasan kakak gue ilang kabar." Keyla menatap Roby, "tapi Lo bilang kak Vin telepon Lo, kok gak gue aja?!"
"Gue gak tau."
"Tapi menurut gue, orang bertopeng itu kakak!"
Gio menyernyit, "Lo gak asal tuduh kan? Perempuan itu kan bodyguard nya anak Blackkind, Ciandra itu."
__ADS_1
"Tapi dari kamera yang ada di sekitar dia, gerak gerik itu menunjukkan hal yang sama dengan apa yang kakak lakuin. Juga tambahan dari Roby yang dicari saat itu, kalau aneh jika Blackkind tiba-tiba memiliki bodyguard yang bukan dari keluarga turun-temurun nya."
Gio dan Roby tersenyum dan saling bertatapan. Batin mereka mengungkapkan hal ya sama, "Vin, liat adik Lo. Dia sudah dewasa, bisa meneliti setiap kejadian."
..._____...
Vina menatap Havarreo yang tertidur di kamarnya. Lalu dengan pelan menutup kamar tersebut, berjalan ke arah ruang tamu, duduk di samping Ciandra yang masih menatap kosong lantai.
Vina memegang bahu Ciandra mengusapnya, "Cia.. Maafin gue. Kalau bukan karena gue, ayah Lo gak bakal terlibat begini."
Ciandra memejamkan matanya dan menunduk. Dia tidak bisa berkata-kata terlebih dahulu, dia ingin kesal, marah pada Vina. Tapi dia tak ingin mengeluarkan kalimat yang menyinggung. Dia hanya takut terjadi sesuatu pada ayahnya, karena ayah nya satu-satunya keluarga dari Ciandra.
"Vin, Lo tau kan, Blackkind udah kerjasama dengan Red Blood lebih dari puluhan tahun. Gue tau kakek William bersahabat dengan mendingan kakek gue. Gue sekeluarga tau konsekuensinya. Banyak hutang yang tak terbilang dan belum kami bayar—"
Vina mengeraskan genggaman tangannya pada bahu Ciandra, membuatnya sedikit meringis.
"Bukannya udah gue bilang? Gue gak sama kayak kakek gue, yang selalu meminta imbalan akan semua hal baik yang dilakukannya. Gue udah anggap Lo sama Havarreo keluarga gue yang pasti gue lindungi."
Vina sadar cengkraman nya membuat Ciandra sakit, dia melepaskan tangannya, dan membawa tubuh itu memeluknya, Ciandra sudah dianggap seperti adik baginya.
"Bagiku.. Kamu dan Keyla memiliki posisi yang sama. Adik kesayanganku."
..._____...
Dia sudah menetapkan rencana, bahwa dia akan menjadi pengalih perhatian. Setiap sudut pastinya akan dijaga. Walaupun banyak yang menentang rencananya, tapi dia merasa bertanggungjawab akan keselamatan kelompok Red Blood.
"Semua aman?"
Keyla menatap Gio yang diam menatap cemas dirinya. Keyla tersenyum dan mengangguk, "aman!"
"Jangan khawatir gitu, Yo. Gue bakal baik-baik aja."
Gio mengecup kening Keyla, "berhati-hatilah."
Keyla mengangguk dan keluar, Gio hanya dapat berdoa, semoga masalah ini bisa cepat selesai. Dari dalam dirinya, dia tetap bertekad agar tidak lagi kebobolan menjaga putri William.
"War begins."
Xlovenos berteriak kencang mengajak semua anggota-anggota Floan. Satu persatu mereka naik mobil anti peluru, dan juga helikopter. Menyerang setiap bagian Red Blood di Indonesia adalah pusat nya. Memang mereka tidak bisa dibilang sedikit ataupun banyak, tapi mereka sangat berjuang akan mengambil kekuasaan Red Blood.
Xlovenos menatap Keyla dari koordinat di iPad nya. "Dia sedang tidak di markas? Perintah seluruh nya menyerang markas. Dua mobil ikuti aku."
Keyla menghembuskan napas nya, menatap tiga mobil yang melaju cepat mengarah padanya. Dengan gerakan cepat, motornya ia pacu, dan menghindari serangan-serangan dari mereka.
__ADS_1
"Kak.. Ini demi kakak dan juga Red Blood."
Dia mengendarai motor itu sampai di jembatan, menatap arah depan yang masih beberapa meter jauhnya untuk keluar dari jembatan. Melirik ke bawah ada air yang mengalir. Motor nya sudah dia atur agar ke mode auto, lalu menekan salah satu tombol merah, yang mengaktifkan sesuatu.
Keyla melompat dari motor nya terjun ke bawah jembatan tempat air, sebelum dirinya terkena rentetan peluru yang ditembakkan, tapi bukan tercebur, dirinya mendarat di tempat empuk, ada sebuah kapal yang menyelamatkan nya, walau dia tidak tahu itu siapa, tapi kapal itu dengan cepat berjalan.
Keyla menatap atas dua mobil itu saling bertabrakan dan terkena ledakan dari motor nya, tapi salah satu mobil itu selama. Keyla berjalan bersembunyi supaya tak terlihat oleh orang yang keluar dari mobil di atas sana, tapi ternyata kaak itu sudah duluan berhenti di sebuah goa yang sudah memiliki terang dari lampu.
Keyla waspada terhadap orang yang keluar dari tempat kemudi kapal. Dengan ditutup jaket dan topi, orang itu menunduk, tapi berjalan mendekatinya.
"Siapa Lo?! Gue yakin Lo bukan musuh, tapi gue juga gak yakin Lo teman!"
Keyla mengambil pistol nya, dan mengarahkan pada orang itu. Tapi dibalik topinya orang itu tersenyum, "bagus ajaran ku sudah kamu penuhi, Key."
Orang itu mengangkat wajahnya, topeng itu menutupi setengah wajah atasnya. Topeng yang sama dengan saat mereka bertemu terakhir kali. Keyla yang tadinya menodongkan senjata, menurunkannya. Dan melengkungkan bibirnya ke bawah, seakan ingin menangis.
"Eh.. Ja— jangan nangis." Dengan kelabakan dirinya mendekat dan memeluk erat Keyla, juga dibalas tak kalah erat. Keyla menangis tapi kedua tangan memukul kecil tubuh itu.
"Kakak jahat! Jahat! Kak Vin, jahat~"
Vina, orang bertopeng itu tersenyum tipis akan adiknya yang selalu tahu bahwa ini dirinya, walaupun dia sudah menutup nya dengan topeng. Vina mengangguk.
"Iya, kakak disini. Kakak gak hilang," ujarnya sembari menenangkan adiknya.
..._____...
Tembakan bersahutan oleh pihak Red Blood juga Xlovenos. Beberapa bangunan habis terbakar juga beberapa fasilitas sosial rusak. Untung Red Blood tidak pernah memiliki markas dekat dengan orang banyak, mereka menjaga nyawa-nyawa tak berdosa itu, supaya tak terkena masalah.
"Bagian kanan!!"
Roby mengerahkan semua nya agar bisa terkordinasi dengan baik. Dan Red Blood akan kembali memenangkan pertarungan ini. Gio memandang mobil yang baru saja datang dengan gelisah, dia belum mendapat kabar dari Keyla.
Dia bertarung dengan Katana yang pernah Keyla pakai, menyabit satu persatu orang yang menghalangi nya. Walau dia juga terkena pukulan dan hampir terkena tembakan, dia tetap berusaha semaksimal mungkin menjaga base-nya dari musuh.
"Base selatan, ada yang terkena tembakan."
"Dokter, ke base selatan!"
Telinga nya selalu berisik, karena dia memakai alat komunikasi itu. Ada banyak yang terluka dari pihak Red Blood, juga dari pihak Xlovenos. Banyak kematian yang semoga saja tidak sia-sia.
"Ah, anda membuat kerjaan saya menumpuk."
..._____...
__ADS_1
BERSAMBUNG...