
Sebuah mobil sedan memasuki markas. Terlihat tiga orang keluar dari mobil tersebut, markas tersebut sudah mengenal mereka, walaupun mereka jarang ke markas kota ini.
"Selamat sore, nona Jane, nona Amanda, tuan Kevin. Sudah lama sekali sejak saat itu, kalian semua datang ke sini. Apakah ada kendala?" Tanya salah satu anak buah Red Blood, yang menyambut kedatangan tiba-tiba ketiganya.
"Kami ke sini hanya ingin bertemu seseorang. Apakah ada Gio, disini? Atau Roby, Keyla?" Tanya Jane setelah melirik sekitar nya, memang sudah lama mereka tak kesini, terakhir kali mereka ke sini karena Keyla dan Gio memberitahukan sebuah rahasia besar, yaitu Red Blood.
"Oh, mereka sedang menginap di rumah teman mereka."
"Siapa itu? Dan dimana alamatnya?" Tanya Amanda dengan datar. Dia duduk bersandar di kap mobil sedannya.
"Sepertinya ada hal yang penting sekali ya," gumam nya. "Ah, ini alamatnya. Kalian bisa ke sana," jawab nya sembari memberikan sebuah kertas yang sudah ia tuliskan alamat rumah.
"Makasih, Vilip. Kami pergi dulu," ujar Kevin sembari masuk kembali ke dalam mobil sedan itu. Dan mereka bergerak ke tempat rumah yang dituju.
"Uh.. kenapa para inti Red Blood semuanya menyeramkan," dengus orang tersebut yang baru saja dipanggil Vilip, tangannya mengusap tengkuk leher nya merinding.
...🥀🥀🥀...
Vina masuk ke dalam kamar milik nya. Melihat seorang wanita tertidur di atas ranjang empuk nya.
"Masih tidur ternyata," gumam Vina. Dirinya kemari hanya akan mengambil laptopnya, tidak berniat mengganggu Vero yang tertidur.
"Berusaha tidak membenci seseorang," batinnya menutup mata nya, dan tangan nya memegang meja belajar nya. Menghela nafas panjang, dan mengambil laptopnya, lalu keluar dari kamar nya.
Di luar terlihat sepi, masing-masing masuk ke kamar nya, dan Roby yang sedang pergi entah kemana. Dia duduk di ruang tamu, bersama laptop dipangkuan nya. Mengecek keadaan orang-orang yang disayanginya sekarang, sudah lama sekali rasanya.
Dia memasang headphone nya dan menelpon seseorang. "Halo, dokter Paul. Gimana perkembangan mereka?"
"Oh, hai Vina. Maya, ia sudah lebih baik, tapi untuk Raditya, seperti belum, walaupun dari luar dia sudah terlihat normal, tapi mental nya belum bisa diperbaiki," jelas Paul dari seberang.
"Kalau Aiden?"
"Aiden? Dia sudah lebih baik, sebelum nya jantung milik Aiden melemah, namun sekarang dirinya sudah siuman. Luka-luka nya juga sudah mengering."
"Oh begitu. Bagus lah, setidaknya dia masih hidup, untuk menjelaskan sesuatu ke gue." Vina yang duduk di sofa, bersandar ke sandaran, dan menyernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Gue juga mau tau lebih lanjut, tentang masalah mereka," lanjut Vina dalam hati.
...🥀🥀🥀...
CKITT..
Mobil itu mengerem tepat di depan rumah megah, dan masuk ke pekarangan rumah itu setelah memastikan bahwa rumah ini benar-benar alamat yang di tuju.
"Ini rumah nya?" Tanya nya. Dan yang memegang kemudi mengangguk. Salah satu dari mereka mengetuk pintu, dan membunyikan bel rumah itu.
Dari dalam yang masih duduk di sofa, dan memasang headphone di telinga nya hanya bergeming, tidak mendengarkan ada orang yang mengetuk.
Pemuda itu keluar dari kamar, karena terganggu akibat bel rumah yang dibunyikan terus menerus, matanya melirik gadis yang duduk manis di sofa dengan laptop dipangkuan nya.
Dia membuka pintu, dan membulatkan matanya setelah tahu siapa yang berisik.
"Kevin, Amanda, Jane. Kalian kenapa bisa di sini?!" Pekik pemuda itu terkaget.
"Gio, kita yang seharusnya nanya. Vina ada di dalem kan?" Tanya pemuda di hadapannya.
Mereka masuk, setelah dipersilahkan masuk. Mata nya mengitari sekitar, dan melihat punggung gadis yang membelakangi nya. Gadis itu yang melepaskan headphone nya, dan meletakkan laptop nya di meja setelah menyelesaikan pembicaraan nya dengan Paul. Dia ingin pergi ke toilet, dan belum menyadari bahwa ada tamu di belakang nya.
" Rissa!" Panggil salah satu dari kedua gadis itu, Amanda. Gadis yang terpanggil tersentak dan terdiam sebentar, lalu membalikkan badannya.
"Amanda," bisiknya pada diri sendiri.
BUGH..
Pelukan tak terhindarkan di antara mereka. Amanda memeluk Vina dengan erat.
Vina melirik Gio, Kevin, dan Jane yang melangkah menghampiri nya. "Gimana caranya Lo tau, ini gue?" Tanya nya pada Amanda yang ada dipelukkannya. Tangan nya bergerak membalas pelukan sahabatnya.
"Semuanya. Semua tingkah Lo, dan panggilan itu. Gue gak pernah lupain itu, dan itu yang buat gue selalu gak lupain Lo, Rissa."
Vina tersenyum. "Hayiraaa ternyata bisa ngenalin gue~" ujar Vina dengan suara lucu nya. Membuat Amanda terkekeh.
__ADS_1
"Loh kita juga loh, Vin. Gue sama Kevin juga tau itu Lo," rengek Jane sembari mengerucutkan bibir nya.
Vina tertawa, dan itu pertama kalinya mereka melihat tawa lepas dari Rissa. "Iya, Jin~"
Vina dan Amanda melepaskan pelukan nya, dan beralih pada Jane. "Sini peluk~"
Mata Vina tidak pernah memancarkan sinar setulus ini tapi sekarang dia bisa merasakan nya. "Gue, eh bukan gue doang, kita bertiga kangen Lo!"
"Gue juga.. Jin"
Kini beralih ke Kevin. Kevin hanya menatap Vina dengan mata berkaca-kaca, dan menumpu kan kening pada bahu Vina.
"Kangen," ucapnya. Vina mengangguk.
"Gue juga." Vina mengelus lembut kepala Kevin. Mereka bertiga sebenarnya terkejut dengan perubahan Vina, padahal dulu Vina sama sekali tidak menyukai skinship, seperti pelukan, sandaran, atau hal yang tak jauh berbeda.
"Oh iya, gimana? Hubungan Lo sama Amanda," bisik Vina pada Kevin. Dan pembicaraan itu tentu hanya mereka yang dengar.
Tubuh Kevin menegang, dan dia menegakkan tubuhnya mendengar pertanyaan konyol Vina padanya. Pipinya merona, dan tengkuk leher nya diusap dengan gugup.
"Gak ada kemajuan," cicitnya. Vina hanya bisa tersenyum sedih.
Dia tahu sebenarnya, perasaan Kevin pada Amanda yang sudah lama ditutupi nya, dengan menjadi pribadi yang menjengkelkan di depan Amanda. Kevin melirik Amanda yang hanya memerhatikan mereka berdua. Dan mengenai perasaan Kevin, hanya Vina dan Jane yang tahu.
Gio menatap mereka. "Vina, sebenarnya mereka itu berisik banget nanyain Lo mulu, yang keliatan familiar di mata mereka. Mereka juga sadar Lo itu Rissa."
Gio mengangkat kedua tangan nya saat mata tajam Vina memandang nya dengan tidak santai. "Bukan gue yang kasih tau! Mereka tau sendiri. Dan mereka mau ketemu Lo, gue bilang 'jangan, ngapain coba kalian ketemu?' Gue bilang gitu karena gue gak tau, kalau mereka udah tau tentang Lo, mereka sadar." Jelas Gio panjang lebar, agar dia tidak disalahkan.
Vina merangkul Gio. "Iye.. gue juga gak papa mereka datang, lagipula gue juga kangen mereka," balas Vina menatap ketiga orang di depannya dengan tatapan rindu.
"Dan sekarang, mari kita habiskan waktu bersama."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1