Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 61 : Accident


__ADS_3

"Bukan itu bodoh, kenapa larinya ke buah." Dengus Gio. Padahal yang dimaksud oleh wanita itu bukan mengenai buah saja, namun, juga mengenai pertolongan Vina yang membuat wanita itu entah mengapa malah tersinggung.


"Bukan buah, tapi semua nya, nona." Wanita berdiri dan mendekati Vina, Sena tak mampu menahan sang ibu, dengan kondisi nya yang masih lemah. Sena menggenggam erat selimut, dan tangan Audi.


"Saya dan Sena tidak butuh semua itu. Terlebih membantu kami untuk membayar kontrakan kecil yang kami tinggali," bisik nya pada Vina. Gadis itu sudah menerka, bahwa wanita tua di depannya pasti telah mengetahui nya.


"Tante. Rejeki jangan ditolak," ucap Gio berusaha mencairkan suasana.


"Diam kamu. Saya bukan bicara dengan mu," sarkas Dinda dengan nada angkuhnya. Vina melirik Gio, yang juga sedang meliriknya. Pemuda itu tahu apa artinya, dia diam tanpa ikut campur lagi.


Sena terlihat menahan tawa, ketika wajah Gio berubah masam saat ibunya membentaknya. Tapi di lain sisi, dirinya kecewa, terhadap sikap ibunya yang tidak pernah berubah. Masih ada rasa sakit dari perkataan ibunya tadi.


Dinda, sejak menikah dengan Prodibyo, dirinya mulai angkuh. Karena apa? Karena kekayaan pria tersebut yang membuatnya menjadi sombong. Mereka jadi kehilangan hal yang terpenting di dalam pernikahan.


Yaitu, kesetiaan. Vina hanya bisa tersenyum memaklumi. Ketika kembali mengingat Novel aslinya yang tidak pernah mengorek masa lalu yang kelam dari masing-masing pemeran.


Tapi, semua nya sudah keluar dari jalur. Dia tidak bisa lagi berpatokan pada novel yang asli, buatan Sasya. Sekarang dia harus mencari tahu sendiri, tanpa bisa mendapatkan clue.


Ibu dari Sena ini pun sebenarnya tidak pernah ada di dalam Novel. Apa, Sasya menggambarkan Dinda datang di novel seri yang baru? Bisa jadi begitu, karena pada seri sebelumnya, masih banyak teka-teki yang belum dipecahkan dengan tuntas.


"Saya masih kuat untuk mencari uang, jadi tidak usah sok, nona." Ujaran sarkastik itu hampir saja membuat Gio meledak. Bagaimana tidak? Gadis itu tidak dihargai. Padahal dia hanya ingin membantu.


Vina menghela nafasnya. "Baiklah, maaf nyonya. Saya tidak akan membantu kalian. Saya percaya kalian masih bisa menghadapi ini semua, anda dan Sena sangat kuat."


Dinda mengangguk, sembari kembali duduk di kursi sebelah ranjang. "Saya pegang omongan mu."


"Kayak nya memang, aku udah ditakdirkan menjadi Antagonis. Aku antagonis."


...🥀🥀🥀...


"Mana makanan saya, Kiara?" Tanya pria itu yang sudah duduk di ruang makan. Kiara yang sedang berjalan hanya berlalu, tanpa menoleh ataupun menjawab Prodibyo.

__ADS_1


Pria itu menatap tajam Kiara, dia berdiri dengan kasar. Berani-beraninya perempuan itu tidak menghiraukan nya di sini. Kiara pergi ke arah taman rumah, dan mencari udara segar.


"Kenapa kamu tidak menjawab saya?"


Kiara mendengus kesal, dan menjawab pria itu dengan ketus, "saya punya hak untuk tidak menjawab."


Prodibyo menyeringai lebar, dan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir, bisa hidup enak begitu, kalau kamu jadi istri durhaka?"


Kiara tidak takut akan Prodibyo. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk kali ini, dia akan egois! Kiara menatap datar pada pria tua di depannya, dan mampu membuat Prodibyo agak terdiam menatap Kiara.


"Dia kenapa jadi lebih berani?" Batin Prodibyo. Biasanya jika dirinya menggertak, Kiara akan ketakutan, dan akan melayani nya seperti biasa. Tapi, apa-apaan sekarang?!


...🥀🥀🥀...


Vina mengendarai motor miliknya, membelah jalanan. Dirinya akan menenangkan diri, sebenarnya Gio telah menahan nya. Pemuda itu ingat bahwa ada yang ingin membuat celaka Vina.


Tapi gadis itu tetap keras kepala. Tepat saat tikungan pertama menuju danau, ada satu motor yang mengikuti nya. Dan dua sadar akan itu. Memacu motornya dengan lebih cepat.


"Di sana kan ada kereta api. Vina mengarah ke sana," khawatir Edward. Tadinya ia akan membeli makanan di supermarket dekat rumah Anwar. Tapi dia melihat motor Vina yang dikejar oleh orang di belakangnya.


DUAGH!


Edward menendang motor itu, tapi bisa diseimbangkan kembali oleh pemilik motor itu. Edward tertinggal kembali.


"Edward! Ngapain dia bantu gue?!" Pekik Vina melirik kaca spion, jarak nya dengan dua motor di belakang lumayan dekat. Membuatnya tidak fokus.


TIIIT!!


"AWAS!" Teriak sekitar Vina.


"Apa gue bakal mati lagi?" Gumam Vina, yang hanya bisa menatap nanar pada mobil yang mengarah pada nya. Dia kaku, tak bisa mengerem atau menambah kecepatan, untuk sekedar menghindari.

__ADS_1


BRAK!!


Bukan, motor Vina tidak menabrak atau ditabrak kereta. Tapi sebuah mobil yang tiba-tiba muncul dari arah kiri. Itu membuat Edward membelalakkan matanya, dan berhenti di samping Vina.


Mobil yang melaju tadi, juga ikut berhenti, darah nya mengucur membasahi aspal. Pemotor yang sedari mengejar terdiam kaku. "Vina, gak Vina! Jangan lagi!"


Dengan cepat pemotor itu turun, dan berlari mendekati Vina sembari melempar helm nya ke aspal. Mata nya sudah meneteskan air. Edward memandang marah pada orang yang dia kenal.


"Calos!" Geramnya. Orang-orang sekitar mengerubungi Vina, dan mencoba menelepon rumah sakit terdekat. Edward menahan Calos yang akan mendekati Vina. Dan memukuli nya dengan keras.


Pengemudi dari mobil itu bersedia bertanggung jawab. Dengan tergesa-gesa mobil itu pergi ke arah rumah sakit. Meninggalkan motor dan darah Vina yang berceceran di aspal.


Edward masih memukul Calos membabi-buta. "Lo selalu nyakitin orang yang gue cinta, Calos! Vina begini gara-gara Lo!" Teriak Edward depan wajah Calos. "Lo, kakak Vina yang paling terburuk!" Makinya.


Dua sampai tiga orang mencoba menenangkan Edward, menarik nya menjauh dari Calos agar tidak membuat anak orang mati. Lihat, wajah tampan Calos sudah tidak berbentuk lagi.


Calos terbatuk-batuk, lemas. "Pukul gue, Ward. Pukul! Gue memang gak pantas hidup! Sekali nya gue hidup, selalu nyakitin orang! Papa! Mama! Carlos Sekarang Vina!" Ucap nya dengan suara terbata-bata dan meringis sakit.


"Lo memang gak pantas hidup! Lo pantas nya di neraka. Sialan!" Sarkas Edward. Mencoba memberontak dari tangan-tangan orang yang menahannya.


"Dek, tahan dek. Kamu bisa masuk penjara, kamu udah buat orang babak belur."


"Iya, nak sadar. Bukan begini caranya. Kita harus bicarain baik-baik."


Edward masih menyorot tajam pada Calos yang sudah tak bisa menggerakkan tubuhnya. Nafas nya tersengal-sengal, bulir-bulir keringat mengalir. Sebenarnya dia belum puas. Tapi, Vina lebih penting.


Badannya yang tegang, perlahan melemah. Dia akan ke rumah sakit, agar bisa menjenguk gadis nya. Gadis nya, ya? Apa dia bisa mengambil langkah seberani itu?


"Vina. Maaf, aku belum bisa jagain kamu. Pantaskah aku berada di samping mu?"


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2