Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 37 : Damage


__ADS_3

Vina kembali menyiapkan teknik Taekwondo nya, kembali menyerang Aiden. Memukul bertubi-tubi, tanpa ada cela, membuat Aiden susah untuk membalas pukulan tersebut.


Bahkan Jab yang digunakan Aiden untuk memukul Vina tidak membuat Vina sakit. Wajah Vina hanya ada beberapa memar dibuat Jab dari teknik boxing Aiden.


ARGH!!


Teriakan nya membuat Vina menghentikan pukulannya, dengan terengah-engah. Wajah Aiden sudah babak belur, darah mengalir dari sisi. Juga memar. Apalagi teriakan terakhir disebabkan Vina mematahkan tulang bahu nya.


TRAK!


Keyla terlihat lengah kala teriakan terjadi, membuat dirinya yang masih sakit karena pukulan Martin menjadi tersungkur, akibat benturan keras dari tongkat baseball milik Hendra, tangan kanan Aiden yang lain, selain Martin.


Kening Keyla berdarah. Keyla meraba daerah keningnya, darah. Kesal karena itu, Keyla menarik pelatuk senjatanya, mengarahkan nya tepat pada kepala Hendra.


DOR!


Kakak beradik itu sudah puas. Vina mendekati Keyla yang sekarang tengah menunduk memegang kepalanya dengan tangan kirinya. Vina langsung khawatir setelah melihat luka pada Keyla.


"Key. Kita bawa Lo ke rumah sakit, ya. Tadinya ikutin kata gue! Jangan ikut kita, Lo kena lagi 'kan!" Bentak Vina, membuat Keyla mengerucutkan bibirnya.


"Ish. Aku sakit, bukannya disayang kek, malah dimarahin!" Dengan mata berkaca-kaca Keyla meringis dan mengeluh.


Vina merengkuh tubuh Keyla. Menatap sekitar, dua orang yang barusan terikat tali, telah dibebaskan. Audi, Maya, dan Raditya dibawa keluar. Dan dirinya memapah Keyla keluar.


"Key. Lo kenapa? Ada yang sakit, gue papah ya." Gio merebut Keyla dari tangan Vina. Membuat Vina hampir melayangkan tinjunya pada Gio, tapi ditahan dirinya sendiri.


Sena mendekati Vina, dan merangkul nya. "Tuh cowok kek nya suka sama si Keyla deh." Celetuk nya.


Vina mendelik. "Sotoy Lo! Oh iya panggil dia kakak, dua lebih tua dari Lo. Gue juga lebih tua dari Lo."


"Kalau dia sih masih mending dipanggil kakak, lah Lo, badan aja keliatan lebih gede gue."


"Idih. Kuat, kuatan gue! Ayok lah kita berantem, ngajak berantem kan Lo!" Vina memasang kuda-kudanya. Membuat Sena bersembunyi dibalik badan Keyla dan Gio. Keyla terkekeh, dan Gio hanya tetap memasang wajah datarnya.

__ADS_1


Roby menatap mereka dengan heran. "By the way, Yo! Mereka berdua siapa? Kok gue baru liat?"


"Mereka berdua sahabat gue," jawab Keyla mendahului Gio, sebelum Giovani berbicara.


"Dih. Key, gue tanya tuh ke si Gio, bukan ke Lo." Ujar Roby sewot. Keyla berdecih.


"Udah tau si Gio datar, lah Lo malah ngajak ngobrol!"


Vina dan Sena hanya menggeleng menatap Keyla dan Roby yang masih saja berdebat. Vina terhuyung ke belakang saat tangan nya ditarik, membuat nya kaget dan menabrak dada bidang seseorang.


Lalu mendongak dan membulatkan matanya, memasang wajah kesal. Avrenzo. Kenapa orang ini tidak ikut terbasmi, dan malah berdiri di depannya sehat walafiat.


Mana pasang wajah yang sangat menyebalkan menurut Vina. Sena yang melihat Avrenzo pun menggeram, mengganggu suasana saja. Gadis itu menendang tulang kering Avrenzo dengan keras, membuat pemuda itu meringis dan sembari melompat-lompat.


"Sakit, Sen motor! Tulang gue," rintih nya. Avrenzo mengkodisikan kembali keadaannya. Untung saja tulang nya hanya nyeri.


"Vin. Gue mau ngomong sesuatu ke Lo." Kata Avrenzo setelah beberapa saat hening.


"Apa! Lo mau cari masalah juga ke gue?" Vina menaikan sebelah alisnya, sedikit penasaran tentang apa Avrenzo berbicara.


"Lo udah asing, Vin. Lo bukan Vina yang dulu gue kenal. Gue pengen banget, Vina yang dulu kembali." Tatapan teduh Avrenzo membuat Vina seakan terhipnotis.


Tidak! Ayolah Vina, perasaan harus dihapus. Disini Rissa lah yang mengambil alih, jangan perasaan asli Vina. Gadis itu sudah memberikan raga nya untuk Rissa, maka Rissa akan memakainya sesuai dengan kemauan diri sendiri.


"Maksud Lo, gue harus berubah lagi jadi Vina yang bodoh, yang cuman fokus untuk ngejar-ngejar cinta Lo? Lo itu cuman mantan. Jadi gak usah sok kepedean, mantan tetep mantan, jangan berharap balik kek dulu! Ngerti? Tapi kalau Lo gak ngerti itu sama aja Lo bodoh. Idiot!" Dengan sinis dan sarkas Vina berikan.


Avrenzo terdiam melihat Vina yang tatapan penuh dengan aura kebencian yang mendalam pada dirinya. Disetiap kata yang dikeluarkan Vina pun, sangat menusuk hati nya. Hancur berkeping-keping, seperti kaca yang pecah, tidak bisa dikembalikan seperti semula.


Namun, di kamus Avrenzo tidak ada nama nya menyerah. Dia yakin, di lubuk hati Vina yang paling dalam, masih ada cinta untuknya. Terlalu percaya diri memang.


"Tapi bodoh bodoh kayak gue, dulu Lo pernah suka kan?" Balas Avrenzo tak kalah sinis.


Vina tertawa. Yang lain hanya melihat tanpa ingin ikut campur.

__ADS_1


"Gue akui. Dulu gue bodoh, ah gak, gue bego banget, pernah punya rasa ke cowok banci kayak Lo. Yang sukanya 'main sana-sini', dan sukanya main tangan kayak Lo. Lo tuh gak pantes dapetin cewek baik-baik, lah, apalagi gue! Iuh, ogah, Lo tuh cuman kuman dihidup orang." Ledek Vina.


Sakit tapi tak berdarah bung. Avrenzo terkena damage berkali-kali atas perkataan Vina. Apa dia sebegitu nya di mata Vina? Semenjijik 'kan itu kah. Terkekeh miris merasa seperti orang yang paling tersakiti.


Dia laki-laki, dan harga dirinya hancur saat Vina mengatakan, dia adalah banci. Benar juga, seharusnya dia minta maaf, atas semua kesalahan yang terjadi pada Vina karena nya.


Maaf karena sudah menyakiti hati nya dulu, dengan cara berselingkuh bersama Vero. Dia sadar selama ini kelakuan nya sudah melebihi batas. Padahal awalnya semua karena teman-teman nya!


Bodoh. Dia bodoh mengiyakan taruhan yang dilaksanakan geng motor nya. Taruhan jika ia bisa mengambil hati Vero, dia bisa dapat uang yang banyak. Terlalu serakah memang.


Itu sudah beberapa tahun yang lalu kejadiannya. Dan dikira nya Vina sudah melupakan nya.


"Gak mungkin lah! Kejadian buruk mana mungkin semudah itu dilupakan."


...🥀🥀🥀...


Vina ikut mengantar Keyla ke rumah sakit, dan sedang menunggu di depan ruang rawat Keyla. Sembari memainkan handphone nya, menunggu kabar dari dokter yang sedang mengecek keadaan Keyla di dalam.


Ternyata sudah banyak pesan dan juga misscall dari kedua Abangnya. Vina seperti anak yang hilang, tidak ada kabar. Menghilang dari pagi. Tapi Vina tak peduli.


Dulu saja, keduanya tidak pernah menganggap dia ada. Hanya ada Vero, Vero, dan Vero di kepala duo Ca itu. Tanpa membaca sama sekali pesan dari mereka, Vina lebih memilih mengabaikan Carlos, Calos.


Dan pergi ke aplikasi Angstagram. Hanya menggulir, tidak bisa fokus. Dia hanya memikirkan, kenapa Raditya bisa memiliki pikiran jahat. Dan berakhir membunuh.


Walau jauh di Bogor. Dia akan menghampiri makam ke dua orang tuanya. Rindu hatinya membuncah, setelah mendengar Raditya bercerita, tentang orang tuanya.


Rasanya ingin mengadu. Mengadu pada ayah dan ibunya, kalau banyak orang jahat di dunia, kenapa tidak sekalian dirinya diajak juga?


"Ayah, ibu. Aku pikir setelah tau siapa pelaku pembunuhan kalian, apakah kalian hidup dengan tenang disana sekarang? Ke siapa Rissa akan mengadu, Yah, Bu." Monolog Vina, ya, perasaan mereka saling bercampur aduk.


"Hanya Tuhan tempat satu-satunya manusia mengadu, Sa."


Namun, apakah dirinya layak untuk berdoa pada Tuhan? Orang berdosa seperti nya?

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2