
Ckrek..
Krak..
Itu adalah senjata yang sedang dipersiapkan oleh Xlovenos di ikuti antek-anteknya yang sangat semangat akan menyerang Red Blood. Yang kabarnya dari orang yang bekerja sama dengan Red Blood, Eric, jika Red Blood sedang fokus mencari dimana mayat Vina berada.
"Tunggu.. bukan kah itu terlalu tiba-tiba?"
Flandora mengangkat sebelah alisnya dengan tangannya yang sibuk mengecek perlengkapan peluru, "Blackkind, tenang lah kawan. Ini saat yang tepat bukan? Red Blood tengah sibuk dengan masalah yang bahkan sudah dipastikan itu telah selesai. Tapi mereka masih saja menyibukkan diri, karena tak terima."
"Ini aneh, Xlo." Havarreo merasa aneh akan kejadian itu, dia juga mengulur waktu supaya mereka tidak pergi.
"Haish, Blackkind! Anda tenang saja, kota pasti kalahkan mereka dengan mudah, kita memiliki orang yang bisa menyamar untuk masuk ke sebuah kelompok. Ya 'kan Havarreo?" Tanya Xlovenos menatap Havarreo dengan senyuman mengerikan.
Membuat semuanya terdiam. Terlebih Havarreo. Nama aslinya hanya diketahui beberapa orang saja, dan kini dia sudah terjebak. Xlovenos memang cerdik dan licik, entah dari mana ia dapat identitasnya.
"Maksudnya? Anda mencurigai saya?" Havarreo berusaha bersikap tenang, bersandar pada meja.
"Apa yang anda tahu, Xlovenos?" Tanya Yellow Radeon. Tangannya sibuk menepuk debu di kakinya sembari berdiri.
Xlovenos mengangkat jari telunjuknya ke arah Havarreo, "dia pengkhianat."
..._____...
Suara decitan rem pada mobil terdengar, dari terburu buru keluar dari mobil. Menatap kaget pada bangunan yang di hadapan nya. Api besar membara yang sudah menggerogoti bangunan tersebut dengan asap hitam yang bertebaran ke langit.
"Sial. Apa aku telat?" Gumamnya sambil menatap kejadian itu. Sirine polisi juga pemadam kebakaran sudah sedari tadi menggema. Seorang polisi menghampiri gadis yang masih terfokus itu.
"Permisi, apa yang anda lakukan di sini? Anda bisa pergi jika tidak ada urusan." Dengan bahasa Italia yang pastinya sangat fasih di bibir laki-laki tersebut dengan memakai rompi polisi.
"Saya adalah Elina, letnan yang beberapa hari lalu dipindahkan ke bagian kasus berat seperti sekarang," jawabnya juga dalam bahasa yang sama.
"Ah, Elina. Saya tahu anda," katanya sembari memberi hormat dan mengizinkan Elina untuk ikut investasi.
"Rissa, apa ini kamu yang lakukan?" Saat melihat setiap sudut bangunan yang hancur terlahap api, pemadaman sudah selesai, terjadi selama beberapa jam, karena gedung tersebut lumayan besar.
Seseorang mengawasi itu dari gedung lain, menatap orang yang familiar baginya. Dirinya menyesap gelas isi kopi susunya. Meletakkan pada meja dan melihat lebih dekat.
"Elina?"
"Ada apa, Vin?"
Pertanyaan itu hanya disambut gelengan tak pasti dari pemilik yang dipanggil.
..._____...
__ADS_1
Trek..
Penembak jitu dari sisi sana dan sini terarah pada empat orang yang sedang berada di situasi tegang. Havarreo memang tidak tahu ada di pihak siapa para penembak jitu itu, tapi setidaknya, jika ia mati, maka orang-orang di depan nya juga ikut.
Seperti nya hanya dia yang baru sadar, atau memang itu hanyalah musuh baginya?
Dor!
DOR!
DOR!!
Tembakan itu pas di dada bukan di kepala atau tempat lain dari mereka bertiga. Tapi hal itu tidak bisa menembus tubuh mereka, karena ada anti peluru yang telah terpasang. Namun, Havarreo heran, dia tidak ikut diserang. Tapi itu kesempatan nya untuk kabur, karena mereka bertiga sedang teralihkan.
Havarreo kabur dengan lincah, tapi Xlovenos sadar dan mengarahkan peluru nya pada Havarreo. Suara tembakan bersahutan. Dirinya tertembak di lengan kanan yang memegang pistol, membuat tembakan dirinya meleset dan hanya mengenai bahu Havarreo.
"Argh! Saya bisa! Bisa!" Gumamnya sembari berlari dengan tangan kiri masih memegangi bahu kanannya.
..._____...
Havarreo masuk ke tempat di mana biasa dia, Ciandra dan Vina berkumpul. Dengan dipapah bodyguard nya, yang juga sedang menutupi lukanya agar tidak mengeluarkan darah terus menerus.
Vina dan Ciandra telah pulang sedari tadi pun melangkah panik mendekat ketika Havarreo pulang dengan berantakan, memang sekarang telah malam. P3K telah dipersiapkan oleh bodyguard, peluru itu hanya meleset tapi tak bersarang di bahunya.
"Ayah, kenapa? Kok bisa begini?" Tanya Ciandra dengan panik, matanya sudah meneteskan air mata.
Dirinya menggigit bibir bawahnya, dan mengangguk. "Maaf, nona."
Dia mengerang saat lukanya bersentuhan dengan obat. Vina juga Ciandra ikut berdesis.
"Kamu tidak perlu minta maaf."
"Tapi.. saya tidak bisa mengulur waktu lagi, mereka akan menyerang Red Blood!" Dengan sedikit terpatah-patah, Havarreo menjelaskan.
Vina mengepalkan tangannya kuat, lalu beranjak ke kamarnya, mengambil handphonenya. Mengetikkan nomor adiknya. Tapi terdiam, dia tidak bisa. Menghapus nomor itu dan mengganti dengan nomor lain yang tentu orang Red Blood juga.
Havarreo sempat bertanya juga mengenai siapa yang mengirim penembak jitu itu, tapi itu bukanlah Vina maupun Ciandra. Lalu siapa?
..._____...
Kring..
Kring..
Suara telepon dari sebuah handphone itu membuat orang yang di sebelahnya menoleh. Padahal dia sedang sibuk dengan komputer di hadapannya, entah mengapa Keyla kembali memerintahkan mereka mencari Vina. Padahal.. Gadis itu tidak tahu kalau—
__ADS_1
KRING...
Nomor tidak dikenal
Dahinya menyernyit saat membaca hal itu. Bingung siapa yang meneleponnya, walau curiga, dirinya tetap mengangkatnya.
"Halo?"
"Roby, beritahu semua, bahwa perang akan segera dimulai! Waktu ku untuk berbicara tidak banyak.. Jadi perintahkan seluruh Red Blood, ini adalah tanda Guerra!"
Suara ini.. Roby melotot mendengarnya. Dia sangat kenal suara ini. Vi.. Vina?!
Tut!
Beberapa detik dia seperti patung menatap handphonenya menunjukkan nomor dari luar negeri itu. Dan akhirnya dengan terburu-buru dirinya mengambil jaket dan keluar dari kamar pribadinya.
Menghampiri sang istri. "Vero, aku pergi dulu ya?"
Vero yang sedang menonton di sofa ruang tamu, dengan televisi di hadapannya yang hidup menoleh padanya. "Kamu mau kemana? Sekarang udah jam 11 malam, Roby~"
Roby menggigit bibirnya, "aku cuman bentar kok, sayang. Sekalian aku antar kamu ke rumah Tante sama Om dulu ya?"
"Memang kenapa, hm? Aku di sini gak papa kok, 'kan kamu sebentar doang." Veronica berdiri perlahan dan dibantu Roby.
Vero menghela napasnya, dan memegang rahang Roby dan mengusapnya. "Roby.. Sebenarnya kamu kenapa?"
Roby mengusap tangan Vero yang ada di rahangnya. Dan tangannya menarik lembut pinggul istri. Matanya menatap sang istri. Sendu dan tak terarah, tak dapat dipungkiri, walau memang dia hanya bertanggungjawab atas perbuatannya, tapi benar-benar jatuh cinta dan sangat menyayangi Veronica dari awal.
Hanya saja dia membenci perempuan ini karena telah menyakiti Vina terus menerus dengan sifatnya yang egois dan ingin menang sendiri. Tapi dia sekarang telah berubah. Sekarang dirinya jadi lebih takut, jika perempuan di depannya akan menjadi sasaran musuh, terlebih ada darah dagingnya di dalam perut Vero.
"Aku takut, Ver. Aku takut kamu kenapa-napa."
Veronica menggeleng, "no. Bukan itu maksud aku, aku mau kamu jujur, apa yang selama ini kamu pikirin. Tapi.. Maaf kalau aku memaksa."
Vero ingin melepaskan dirinya dari Roby, namun ditahan oleh pemuda itu. Menarik lembut dalam pelukannya. Menyembunyikan dirinya di bahu perempuannya.
"Vina meninggal. Lalu sekarang dia menelepon ku? Apa aku gila? Tapi berita yang dia berikan sangat berarti, Red Blood dalam bahaya."
Mendengar kalimat pertama saja Vero telah sangat terkejut.
"Sudah berapa lama kamu menyembunyikan ini?"
Roby memejamkan matanya. "Sudah lebih dari sebulanan ini."
..._____...
__ADS_1
BERSAMBUNG...