
Paul menendang keras dada salah satu pria yang mengejar nya. Lalu memasang kuda-kudanya, mengelak akan serangan yang datang padanya. Dan mengusap peluh yang ada di wajahnya.
"Jangan kira, ya! Walau cuma dokter, gue masih bisa berantem!"
Semua itu diperhatikan dari jauh oleh Gio dan juga Vina yang tengah bersembunyi. Mereka sudah berencana, jika salah satu dari mereka ketahuan, maka orang itu akan menghadapi nya sendiri terlebih dahulu.
"Paul kan masih minim bela dirinya." Dengan cemas Gio menggigit kuku jari nya, sembari memperhatikan setiap gerakan Paul yang asal.
"Gue gak bakal kalah dari kalian!" Teriak Paul, agak ketar-ketir menghadapi orang-orang yang dari badannya lebih besar darinya. Bahkan berotot.
Kakek tua yang melihat mereka dari jarak yang lumayan jauh, berjalan mendekat, dan tangannya yang membawa tongkat, diketuk beberapa kali di tanah. Membuat mereka, yaitu Paul, dan juga penjaga itu mengalihkan perhatian nya pada Kakek William.
"Oh, hai Paul," sapa nya pada Paul, dengan senyuman, yang terlihat mengerikan baginya. Paul menegakkan tubuhnya, dan mengepalkan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya kakek William, yang mengangkat dagu Paul dengan tangannya yang terbalut sarung tangan kain berwarna hitam.
Pakaian Kakek itu formal, dan dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Memiringkan kepalanya, menatap Paul yang semakin berkeringat.
"Apa, kamu sudah tau?" Tatapan mata dari kakeknya menajam, dan meremas dagu lancip milik Paul. Vina dan Gio membulatkan matanya, bergerak sedikit untuk melihat apa yang terjadi.
"Gak usah dijawab. Saya sudah tau jawabannya, bukan begitu, Paul?"
Tangannya melepas kasar wajah Paul, membuat wajahnya terhempas ke kanan. "Selain kamu, apa ada lagi?"
Kakek itu berjalan ke tengah-tengah mereka, dan melihat sekeliling, sunyi dan senyap. Tapi kepekaan nya tidak boleh dianggap remeh. Dengan cepat tangannya mengambil sebuah pistol di saku nya.
DOR!
DOR!
Paul menegang di tempatnya, khawatir dengan dua orang itu.
"Kamu gak akan jadi pengkhianat kan, Paul?"
Dua tembakan itu menyasar ke tempat yang berbeda. Satu peluru merusak dinding depan Gio, membuat pemuda itu memejamkan matanya, bersyukur bukan dia yang terkena, dan hanya dinding.
Satu peluru lagi menembus lemari, dan untung nya saja Vina tidak terkena. Kakek itu sengaja melakukan itu, untuk mengancam orang-orang yang sedang bersembunyi itu.
__ADS_1
Vina mengumpat dalam diamnya, ternyata dirinya telah ketahuan, apa yang dilakukan nya sekarang?
...🥀🥀🥀...
PRANG...
"AKH! Gila lama-lama gue?!" Bentak nya pada diri sendiri, setelah melemparkan sebuah gelas yang tadi berisi minumannya.
"Gagal lagi! Gagal lagi! Maunya apa sih?! Geregetan sendiri gue!" Umpat nya. Lalu meminum dari gelas yang lain lagi, beberapa tetes wine merah mengalir masuk ke kerongkongan.
Wajahnya memerah, dan menggenggam erat gelas yang sudah kosong itu. "Vin. Gue sayang Lo, gue cinta! Tapi apa Lo gak liat gue? Jangan liat gue sebagai abang Lo, atau sebagai orang yang Lo benci! Tapi harusnya Lo liat gue sebagai laki-laki yang mencintai Lo setulus hati!"
Teriak-teriak tidak jelas di dalam kamar apartemen nya, untung saja dirinya sedang sendirian. Dengan cepat teriak nya terganti dengan tawa, rasanya dia akan gila kalau seperti itu lama-lama.
"Tapi tenang aja, Vin. Kamu pasti bakal jatuh di tangan aku, Calos. Calos Vonasi Callandra!"
Pemuda itu menyandarkan tubuhnya, memejamkan matanya, yang berputar di kepalanya sekarang hanyalah Clarissa Davina, selalu begitu.
Bodo amat terhadap orang lain, yang menganggap dirinya hanya terobsesi! Ia hanya memperjuangkan cinta, bukan obsesi belaka. Vina hanya milik Calos. Camkan itu.
...🥀🥀🥀...
"Lo katanya gak khawatir, tapi muka Lo yang memperlihatkan kalo Lo khawatir!" Celetuk Anwar yang sedang bermain dengan PlayStation 5 terbaru miliknya.
Edward mendudukkan dirinya di samping pemuda yang memegang stik itu, dengan wajah datar dan menghentak kasar cangkir teh nya. "Mending diem. Mereka semua udah buang gue, jadi buat apa gue mikirin mereka."
Anwar melirik Edward, dan menggeleng melihat kelakuan pemuda itu, yang terlihat bimbang. Padahal pemuda itu sedari tadi bolak-balik, gelisah, galau, merana.
"Lo gak mau jujur? Kalau Lo kangen keluarga Lo yang dulu?" Tanya Anwar, sembari tangannya mengambil beberapa keripik yang ada di meja, dan melahap nya.
Edward terdiam, matanya hanya terpaku pada televisi yang memperlihatkan permainan yang Anwar mainkan. Tangannya meraih satu stik yang menganggur.
"Gue gak mau ikut campur dalam masalah keluarga Lo, tapi gue cuma mengingatkan. Kalo Lo masih butuh mereka, ibu, ayah, sama adek Lo," nasihat Anwar, menatap Edward.
Edward menggigit bibir dalamnya. "Ayah jahat sama gue, sama Sena, juga ibu. Dia udah ngusir mereka, dan gue gak tau, sekarang di mana Ibu dan Sena!" Edward menggenggam erat stik PlayStation di tangannya.
Anwar merebut stik itu dari Edward. Takut saja stik itu akan menjadi tempat pelampiasan, dan yang ada rusak karena dilempar atau dibanting. Edward tidak marah, dia sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
"Kalau gitu, kenapa gak cari tau aja? Atau mau besok kita tanya? Pas Sena masuk ke sekolah," saran Anwar meminum air putih yang dibawa Edward. Parah memang, pemilik apartemen hanya dibawakan minuman air, sedangkan dirinya teh.
"Ide bagus."
"Jadi, sekarang udah sadar kan. Kalau Lo sebenarnya khawatir sama mereka?" Anwar ingin memperjelas, karena hanya gengsi yang ada di kepala Edward. Pemuda yang ditanyakan menghela nafas.
"Ya. Gue khawatir sama mereka, gue kangen keluarga gue yang dulu. Pengen semuanya balik, tapi itu semua telat. Seharusnya gue jauhin tuh cewek dari ayah gue!" Matanya menajam, kepalanya mendongak menatap atap-atap apartemen.
Lalu kepalanya menengok pada Anwar, "makasih."
Anwar mempause permainannya, dan menatap wajah Edward dengan mengangkat sebelah alisnya. "Untuk?"
"Udah nyadarin gue. Dan gue butuh keadilan buat ibu dan adik satu-satunya gue."
Anwar menanggapi nya dengan tersenyum senang, dan jempolnya terangkat, "Gue senang dapet ngebantu. Walaupun hanya begini, anggap aja sebagai rasa terima kasih gue ke Lo."
...🥀🥀🥀...
Gio keluar dari tempat persembunyiannya dengan kedua tangannya terangkat ke atas, berjalan mendekati mereka yang berdiri di tengah-tengah gedung itu.
"Ah, ternyata kamu, Gio. Kenapa kalian ada di sini? Ada urusan?" Senyuman terpatri di bibir pucat kakek tua itu, kerutan nya menghiasi wajah nya, tangan nya yang memegang tongkat terangkat.
SAT!
Tongkat itu menunjuk ke arah lain peluru tembakan nya menyasar. Matanya menatap tajam, seseorang yang masih di tempat persembunyiannya.
"Satu lagi! Yang bersembunyi di balik lemari. KELUAR!" Teriak nya. Vina menahan nafasnya, pada akhirnya, mau tak mau dirinya keluar dari sana.
Sama dengan Gio, tangannya terangkat ke atas, berjalan keluar dengan menundukkan kepalanya. Membuat rambutnya menutupi wajahnya. Kini, jarak antara Vina dengan kakek itu tinggal dua meter.
Gio, Paul, dan juga gadis di depannya diam, bergeming. "Angkat wajah mu! Saya ingin lihat wajah mu!"
Vina mengangkat kepalanya yang semula menunduk dengan perlahan. Membuat mata sipit kakek William membelalak. Vina hanya tersenyum tipis, walau tak terlihat oleh yang lain.
"Dia, mirip dengan Rissa juga Keyla!" Batinnya. Tangannya meremas tongkat di pegangannya.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...