
Vina meneguk minuman alkohol di tangan nya. Saat ini Havarreo bertemu dengan Red Blood, entah apa yang mereka perlukan dari Blackkind. Melihat adiknya dari kejauhan sudah cukup menghilangkan sedikit rasa rindunya.
"Uh.. Ke toilet dulu deh," gumam Vina. Topeng yang dipakai hanya menutupi sebagian wajahnya ke atas, tidak dengan mulutnya itu memudahkannya menghabiskan minumannya, lalu beranjak pergi ke arah toilet.
Beberapa lama kemudian, Vina selesai dari toilet dan membersihkan tangannya di wastafel. Merasakan ada seseorang di belakang nya, untung saja dia masih tetap memakai topeng itu. Menatap sosok dari pantulan.
"Saya kira kamu pergi karena ada sesuatu," ujar nya, berjalan mendekati Vina. Vina bertumpu pada wastafel, menatap dari balik topengnya. Adiknya membalikkan tubuhnya dengan paksa.
Menatap tajam dirinya, mengepalkan tangannya. Dan mencoba meraih topeng Vina, membuat Vina menghindari tangannya.
"Maaf, kenapa anda seperti ini pada saya?" Tanya Vina dengan suara yang agak diubah, dan berbicara formal.
Keyla menggenggam kerah kemeja Vina, "aku udah tau siapa kamu, kamu—"
Ckleek...
Toilet terbuka, Ciandra datang melihat mereka berdua. Dengan posisi yang seperti akan bertengkar. Ciandra memisahkan mereka berdua dengan lembut, "maaf nona. Kenapa anda seperti akan bertengkar dengan bodyguard saya, ya?"
Keyla menatap sinis pada Ciandra. "Ah, saya tadi sedikit ada perlu."
Keyla berbalik arah dan hendak pergi dari hadapan Ciandra dan perempuan bertopeng tersebut. Ciandra mengusak rambutnya pusing, gemas karena sikap Vina yang aneh. Memang tujuannya untuk membuat Keyla tidak dalam bahaya, tapi tidak begini, pikir nya.
"Keyla Maharani William."
Keyla berhenti saat jaraknya sudah beberapa langkah di depan nya. Vina bersuara, suara yang terdengar berat. Vina bergerak mendekat. Suaranya terdengar berbisik di balik bahu Keyla.
"Ingat hal ini. Tidak semua orang bisa dipercaya, jadi berhati-hatilah dalam memilih rekan."
Vina berjalan mendahului Keyla, membuka pintu dan mempersilahkan Ciandra berjalan terlebih dahulu. Keyla menatap pintu yang telah tertutup, menghela napasnya lelah. Dan ikut keluar, kembali ke tempat kursinya.
..._____...
"Lo kenapa sih?!"
Vina mengendarai mobil itu dengan telinga panas. Menggosoknya dengan satu tangan, "kan gue cuman gak mau dia kena masalah juga, dalam bahaya, atau hal semacamnya lah."
"Ya tetep aja. Dia mafia, Lo juga, dengan pekerjaannya begitu aja udah selalu terlibat dalam masalah." Tangan Ciandra mengepal kuat, gemas terhadap temannya.
__ADS_1
"Bodoh~" gumam Ciandra, menatap luar mobil.
"Gue denger loh!" Vina menatap kesal Ciandra lalu kembali menatap jalanan.
"Setidaknya Lo bisa kerja sama 'kan. Keyla juga ngerti kok apa yang Lo rasa, kayaknya juga Lo udah ketauan sama dia."
Vina mengubah gigi mobil dan memutar stir. "Yah, kalau.. Kalau ketemu lagi sama Keyla, gue bakal bilang ke dia semuanya. Tapi ini masalah nya makin rumit. Gedung, dan juga Xlovenos dan para mafia yang bekerjasama sama Xlo."
"Oh, bener gedung. Pelaku gedung telah terlacak oleh ayah," ujar Ciandra.
"Terlacak, ya. Tangkap dia, taruh di gedung kosong itu, dan sisanya serahin ke gue. Cuman nanti siapin bensin dan api." Mata Vina menajam.
Ciandra berhenti sebentar, dan tersadar. "Lo mau bakar gedung itu?"
Vina mengangguk, "gedung itu juga udah gak berguna. Dan gedung itu bahkan udah dicurigai polisi."
"Tapi, kakek William?"
"Kakek pasti ngerti apa yang gue lakuin."
Ciandra hanya bisa menghela napasnya. "Okey, kalau gitu gue bisa apa."
..._____...
Pintu salah satu ruangan dalam gedung itu dibanting dengan keras. Vina dengan topeng berbeda dan pasti nya penampilan yang biasa dia pakai saat menjadi ketua Red Blood.
Sarung yang menutupi tiga orang yang diikat dibuka dengan kasar. Dua diantaranya laki-laki dan artinya perempuan. Matanya yang kaget melihat cahaya terang di depan wajah dengan cepat memejamkan matanya.
"Siapa anda?!" Teriak perempuan yang terikat. Dia berontak dan itu hanya mengakibatkan tangannya semakin terluka. "Lepasin gue!" Maki nya, alisnya menukik tajam.
"Cewek kampret! Lo gak tau siapa kita!"
"Kalo ini lepas, abis Lo! Lo cuman sendiri 'kan!" Laki-laki tersebut tertawa.
Vina tertawa, dan mengubah suaranya. Perlahan membuka topeng yang ada di wajahnya. "Kalian cuman anggota mafia amatiran. Mudah sekali ditangkap."
Mereka terkejut dan jantung mereka berdetak kencang dari biasanya. Bukan, bukan karena suka atau kagum, namun ketakutan. Yang di hadapan nya adalah orang yang telah mati, dan kenapa sekarang dia hidup?
__ADS_1
"Tuan Xlovenos berbohong? Vina masih hidup!" Batin mereka berteriak kencang.
"Kalian tau, ketakutan kalian terasa menyenangkan. Uh.. Rasanya tidak tergantikan dengan yang lain." Kakinya mendekat pada mereka setelah mengambil gunting yang agak tumpul.
"Kalian berasal dari mafia mana, hm?" Jari Vina memutar di alat tersebut. Membentuk bulatan sesuai dengan alat itu. Seringai nya mengibaratkan bahwa waktu mereka di dunia telah habis.
Dan saatnya, memohon ampun pada sang malaikat maut yang telah memperlihatkan sayapnya. Mengakuinya, dan akan melakukan apapun yang bisa menjauhkan mereka dari neraka buatan Vina.
Vina tersenyum miring. "Semua yang kalian tawarkan gak membuat Saya tertarik. Karena saya lebih tertarik dengan tubuh kalian yang pasti sangat bagus untuk saya simpan."
..._____...
Keyla terduduk di kursinya, menatap pemandangan dari rooftop, mengingat setiap informasi yang dia dapat dari Roby dan juga pengintai yang dia kirim ke Italia. Semua merujuk kalau perempuan bertopeng tersebut adalah sang kakak.
Setidaknya sekarang dia telah tahu, dimana kakaknya 'kan? Tapi kenapa sang kakak seperti tidak mengenal nya? Namun kata-katanya layaknya mengingatkan dirinya.
"Ingat hal ini. Tidak semua orang bisa dipercaya, jadi berhati-hatilah dalam memilih rekan."
Apakah ada yang akan berkhianat? Atau ada seseorang akan masuk ke dirinya? Apa orang yang membantu nya? Pria menjijikkan itu? Kalau benar dia, tentu dari awal dia sudah mengawasi nya. Lalu, siapa lagi?
Di belakang Keyla, Gio menatap punggung rapuh itu. Dia menghela napas, dia ingin mendekat, menghiburnya atau apapun yang bisa membuat Keyla tersenyum, tapi ia sudah berjanji ada diri sendiri bahwa hubungan mereka tak sebatas anggota dengan Ketua.
"Apa yang Lo pikirin? Apa ini tentang Vina? Kalau iya, gue juga sama. Dimana Vina sekarang? Tuan William sampai sekarang belum menemukan apapun lagi mengenai Vina. Tapi aku berharap Vina masih hidup dan bisa kembali ke sini. Karena kita adalah rumahnya, 'kan?" Batin Gio.
Pemuda itu berjalan mendekati Keyla yang sendirian, membuka jaketnya dan memasangnya pada tubuh Keyla yang hanya memakai kaos oblong hitam. Keyla sedikit terkejut dan mendongak, menatap lembut saat tahu itu adalah Gio.
"Nona bisa sakit kalau dingin dingin duduk di atas sini. Pakai jaket saya saja," kata Gio sembari melepaskan tangannya. Keyla merasakan kehangatan yang sempat ada jadi menghilang karena tangan yang sering merangkulnya, menghiburnya, kini lepas.
Keyla menatap Gio, dan berdiri menghadap Gio, tangannya menggenggam erat jaket pemuda itu. "Yo. Apapun yang terjadi jangan tinggalin gue ya. Gue gak sanggup, gue gak bisa tanpa Lo."
Deret kalimat itu membuat hati Gio bergetar. Apakah dia salah menjauhi Keyla, karena memang seharusnya tidak ada hubungan lebih antar anggota dengan Ketua? Apa dia salah asumsi, kalau Keyla hanya fokus ke Vina bukan ke lain? Dia egois?
Tangannya terbuka dan menggapai Keyla, membuat Keyla masuk ke pelukannya. Dagunya ditaruh di atas kepala Keyla, yang juga ikut memeluknya erat seakan tak ingin hangatnya hilang.
"Aku ada di sini. Aku selalu ada di setiap kamu memerlukan ku." Dengan pelan dan penuh cinta Gio mengecup kening Keyla, dan Keyla merasakan cinta menyalur dari kecupan itu.
..._____...
__ADS_1
BERSAMBUNG...