Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part 62 : Edward's Point Of View


__ADS_3

Aku kira.. aku bisa menahan diri, untuk tidak mendekati nya. Orang yang baru-baru ini mengisi hati ku. Tidak terlalu baru, tapi ku perkirakan mungkin sudah hampir tiga Minggu yang lalu, ku jatuh cinta.


Pertemuan pertama, kala itu. Sangat berarti buatku. Dan aku merasa sangat berdebar.


"Hei. Kamu kenapa, mas? Kok melamun?" Suara halus itu mengalun merdu di telinga ku, eh, aku ingat aku masih memasang earpod ku di telinga. Tentu ditemani lagu galau, di taman ini, saat sendirian.


Lagu itu yang selalu menemani ku, untuk melupakan masa lalu ku kelam. Tapi, gadis itu membuat ku sekejap melupakan sekitar. Wajahnya, dan suaranya, membuat hati ini berdegup.


Tangannya mengayun di depan ku, mengecek kesadaran ku. "Mas, muka saya emang cantik, tapi jangan segitunya liatnya."


"Ah.. em.. maaf." Kenapa malah gugup gini, Ward? Biasanya kamu akan berbicara dingin pada siapapun tanpa pandang bulu. Bahkan kini tangan ku agak tremor. Gadis itu terkekeh pelan.


"Gak boleh melamun di sini, mas. Ntar malah dicapit setan," ujarnya, mungkin dia sedang ngelawak. Lagipula bahasa apa itu, dicapit setan. Ada-ada saja, namun, gadis itu membuat ku agak ceria.


Gadis ini, mengingatkan ku dengan nya. Yang sudah bahagia di atas sana, bersama Tuhan. Oiya, aku belum nanya nama dia. "Em.. kamu, nama nya siapa?"


"Oh iya. Kenalin Clarissa Davina Callandra," ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya. Aku tersenyum tipis, dan hendak menggapai tangan itu. Tapi sebuah hentakan membuat aku mundur beberapa langkah.


"Siapa Lo? Berani-beraninya deketin pacar gue." Ternyata cowok, dan dia bilang pacar. Jadi, hilang ya harapan aku. Tapi dilihat-lihat, cowok ini seperti pernah lihat. Aku menyernyit, ketika tangan cowok nya menarik kasar Vina.


"Jangan dekat-dekat orang lain, aku gak suka." Gadis itu merintih, ketika tangan nya ditekan, hanya bisa mengangguk.


"Iya, aku ngerti, Vrenzo. Tolong lepasin~" Aku dengan sigap melepaskan tangan cowok yang bernama Vrenzo tadi, dari Vina. Aku serasa jadi pahlawan.


"Jangan sok pahlawan, Lo gak kenal kita. Dan Lo cuman orang asing, jangan ikut campur!"


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...

__ADS_1


Aku menghela nafas, setelah berhasil keluar dari pasangan kekasih itu. Aku merasa bersalah, karena aku, penyebab mereka bertengkar. Diriku sedikit melirik ke belakang, melihat mereka yang masih beradu mulut.


Aku tidak suka melihat laki-laki kasar terhadap perempuan, ingin rasanya ke sana, dan membuat laki-laki itu kapok. Hei, sadarlah, Ward. Jatuh cinta pada pandangan pertama ke orang yang sudah punya itu salah.


Senyuman sendu terpatri di bibir ku. Cinta yang kualami selalu sakit di ujung nya, padahal baru saja sejam yang lalu bertemu, dan berbicara santai dengan gadis itu, gadis yang namanya Vina.


Hatiku murahan ya. Segitu cepatnya mencintai, ke seseorang yang baru ditemui. Aku yakin, hati ini hanya suka sementara, kagum untuk sementara. Kita tidak akan bertemu lagi, kan. Aku berjalan dalam kesendirian lagi.


Pada akhirnya, orang yang berjumpa, akan kembali terpisah entah dengan cara apapun. Sampai jumpa cinta sesaat.


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


Tidak! Ternyata ini bukan cinta sesaat. Aku salah besar, aku kembali melihatnya di sana, di tempat yang sama dengan pertama kali kami bertemu. Taman itu. Jantung ku berdegup melihatnya duduk, dan menunduk di sana.


Tapi rasanya nyeri, mendengar suara tangisnya. Dia menangis. Kenapa, kenapa dia menangis? Aku ingin kesana, menenangkan nya merengkuhnya dalam pelukan hangat ku.


Kaki ku melangkah, akhirnya, batu-batuan itu pecah dari kakiku. Yang sedari tadi menancap sampai ke ujung bumi. Kini aku di belakangnya, hanya dua meter. Aku menarik nafas keberanian.


"Vina." Panggil ku. Sontak aku menutupi mulut ku, yang memanggil nya dengan lancang. Gadis yang sedari tadi menunduk, mendongak, dan menghadap belakang.


Sebenarnya aku ingin berbicara dengan nya. Namun, badan ku seperti bergerak sendiri. "Maaf, kayak nya saya salah orang." Dengan gerakan cepat aku meninggalkan nya, yang pastinya membuat aku aneh di depannya.


Vina, maaf. Aku pengecut, hanya untuk menenangkan kamu, di dalam kegalauan kamu yang entah apa itu. Tapi setidaknya ada orang yang dapat jadi tempat sandaran kamu. Mungkin itu aku?


Berharap saja, Ward. Kamu pengecut, dan memiliki mulut yang kaku. Garing, dingin, dan datar. Tidak bisa mendapatkan seseorang yang nyaman ke kamu, dengan sikap mu yang masih seperti ini.


"Aku gak mau dianggap aneh."

__ADS_1


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


Lagi. Ternyata dia satu sekolah dengan ku. Aku selalu melihat nya yang mengejar-ngejar laki-laki yang waktu itu bertindak kasar padanya di taman. Tapi, apa yang terjadi pada mereka?


Apa ada hubungannya dengan Vina yang menangis di taman, sendirian? Apa ini karena Vrenzo, Vrenzo, yang sok kegantengan itu? Apaan?! Kasar sekali?!


Kenapa Vina malah didorong, dan ku dengar dua orang di samping Vrenzo itu adalah Abang dari Vina. Kenapa mereka malah tidak membantu, dan ikut memarahinya.


Tangan ku mengepal. Saat orang-orang berteriak keras ikut menghina Vina. Aku tahu, dan aku banyak mendengar, kalau Vina itu pembully. Tapi aku tidak percaya, karena apa? Karena mereka tidak pernah berhasil menunjukkan bukti nya.


Mereka membuat Vina, menjadi pelaku. Padahal dia lah yang menjadi korban, seperti sekarang. Ini namanya pembullyan. Harus ditindak tegas! Di mana para guru? Di mana para anak-anak OSIS yang biasanya memeriksa keadaan sekitar?


Lagi dan lagi. Aku bagai pengecut. Tidak bisa berbuat apa-apa pada Vina, yang selalu dibuat seperti itu di tengah-tengah kami semua. Dia sama sekali tidak punya sahabat, maupun teman.


Lalu, aku sungguh bertanya. Sekuat apa dia, sampai-sampai selalu tegar, dan tak pernah menangis walau setitik pun mengalir dari ujung matanya.


Aku sekalipun tidak pernah melihatnya menangis. Aku merasa, dia sepertinya sudah biasa akan hal ini. Aku terhenyak, ketika abang-abang nya itu malah menarik nya dan mendorong nya keluar dari kantin ini. Dimana orang tua mereka?!


Mereka kejam! Bodoh! Tolol. Tapi hinaan itu hanya ada dalam hatiku. Aku pengecut. Maaf, Vina. Lagi, aku hanya bisa melihat mu dari jauh. Tanpa bisa berusaha menjaga dan menolong mu.


"Ward. I know what you feel. Kenapa gak Lo coba aja? Coba deketin dia. Dan buat dia benar-benar nyaman sama Lo, berharap bisa membuat tuh cewek bisa merasa ada yang menginginkan nya di dunia yang kejam, Ward."


Anwar memberiku semangat. Selalu. Aku saja yang bodoh, kenapa tidak gerak dan melangkah lebih dekat, untuk menggapai gadis itu. Ingin rasanya egois, bolehkah?


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2