
Martin membuka satu persatu ikatan tali, yang ada di tubuh Raditya. Para anggota Shadow Legion berkumpul mengelilingi mereka semua, agar tidak ada yang lepas.
Martin menarik dengan paksa Raditya ke tengah-tengah kumpulan, menghadapkan Raditya dengan Vina yang ditahan agar tetap duduk dengan tenang.
"Katakan! Katakan semuanya! Raditya!" Teriak Aiden, yang menggelegar di dalam ruangan itu. Maya hanya bisa menangis dan meraung minta agar mereka semua dilepaskan.
"Kami gak ada hubungannya dengan Vina! Lepaskan saya, lepaskan Suami saya!" Teriaknya. Aiden berdecih.
"See. Rissa, lihatlah wanita yang kau anggap keluarga ini. Bahkan dia gak segan-segan untuk berteriak, tak mengenalmu. Keluarga ini sakit, keluarga ini hina!" Hina Aiden, membuat Vina geram.
"Just shut up your mouth, Aiden! Mereka gak kayak gitu." Vina berusaha membela orang tua yang sudah membesarkan Clarissa Davina Callandra ini. Vina harus mendapatkan semua jawaban yang dia inginkan.
Vina menatap mata elang Aiden, "lepasin gue. Gue mau ngomong sama papa. Gue mau semua nya terungkap! Termasuk Lo."
Aiden hanya tersenyum dan berjalan mendekati Vina. "Kamu pikir semudah itu?"
PLAK!
Vina ditampar oleh Aiden. Membuat Raditya yang melihat itu, langsung menerjang Aiden dan memukuli nya dengan membabi-buta. Dua anggota Shadow Legion berlari menghampiri Raditya, dan menariknya menjauh dari Aiden.
Aiden terduduk sembari sedikit tertawa, dan menghapus noda darah yang berada di sudut bibir nya.
"Raditya. Saya hanya meminta kamu untuk jujur pada 'anak' mu. Kenapa susah sekali?" Aiden menekankan kata anak pada kalimat nya. Membuat Raditya yang beringas, kian melunak.
Raditya mengontrol emosi nya. "Baiklah. Saya akan jujur."
Raditya berjalan ke arah Vina, saat kedua tangannya telah dilepas oleh orang-orang itu. Duduk di lantai berhadapan dengan sang anak. Dan tersenyum hangat, walau di hati nya gelisah dengan respon Vina.
"Vina. Kamu tahu kan, kalau papa sayang banget sama kamu. Bahkan papa akan selalu menjaga kamu. Maaf, maafin papa ya, nak."
Mata Raditya berkaca-kaca, langsung menundukkan kepalanya sembari mengelap air mata nya yang mulai menetes, bulir-bulir keringat mulai memompa keluar dari pori-pori kulit.
"Aku.. ada banyak hal yang ingin Vina tanyain, pah. Bukan hanya papa, mama pun juga." Vina menatap Raditya dan juga Maya. "Kamu juga, Audi."
__ADS_1
Merasa nama nya disebut, seorang gadis yang sedari tadi lemas, dan hanya menunduk tanpa ada tingkah apapun, mendongak menatapnya. Matanya bergetar menatap Vina. Vina yakin, tatapan apa itu.
"Pertama, aku mau tanya ke papa. Siapa orang tua ku?" Tanya Vina, dia harus to the point. Karena hari ini, menurut nya waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya. Semua tentang Red Blood, Shadow Legion, dan juga masalah papa dan mama, serta siapa dalang dirinya bisa berpindah raga seperti ini.
Tatapan Raditya tiba-tiba berubah sendu. "Maaf! Maaf karena memutar balikkan fakta. Maaf membohongi kamu selama ini, membohongi mama juga. Tentang orang tua kamu, papa sengaja, tidak sengaja, papa gak tau apa itu, yang papa tau, ini ambisi! Ambisi ingin mengambil mu dari mereka."
Raditya menatap lurus Vina. Agar Vina tahu, semua yang dia katakan, adalah fakta dan benar. Jantung Vina mulai berdetak kencang. Bibir nya memucat, "selesaikan cerita nya pah!"
"Semua yang papa ceritakan pada mama, juga bukan lah kejujuran yang sebenarnya."
Aiden mendengar itu, sedikit kesal. Wah, saya ternyata dibohongi, pikirnya.
"Kecelakaan itu papa reka. Semua nya! Kematian itu papa tutupi sebagai kematian karena kecelakaan. Pada saat itu, orang tua kamu pulang dari cafe, papa mengikuti mereka dari belakang. Karena apa? Karena ada kamu disana."
Raditya masih mempertahankan senyuman nya, membuat Vina bergidik. Pasalnya tatapan nya aneh, dan membuatnya tidak nyaman akan perlakuan itu.
Raditya yang tadinya duduk, sekarang berdiri. "Awalnya memang papa mau buat kecelakaan, tapi setelah dipikir-pikir lagi, nanti akan ada banyak barang bukti."
Raditya melanjutkan ceritanya sembari berjalan menuju Vina yang sekarang menatap nya datar. Vina tahu tujuan Raditya sebenarnya sekarang. Vina hanya terkekeh miris.
Aiden cukup terdiam dengan kejujuran yang tidak ia kira. Kalau ia jadi Vina, mungkin dia sudah mati bunuh diri. Karena sudah hidup bersama dengan orang yang membunuh orang tua nya.
"Anda menyayangi saya, tapi membunuh orang tua kandung saya. Apa anda gila? Itu namanya gila!" Maki Vina pada Raditya. Hilang sudah rasa hormatnya pada keluarga Callandra. Fakta ini sudah membuatnya sadar, bahwa selama ini, keluarga Callandra sama jahatnya dengan keluarga nya sendiri.
Raditya perlahan mengubah senyuman nya menjadi sebuah kemarahan yang mendalam, terlihat dari raut wajahnya. Tangannya memegang dagu Vina, mengangkat nya untuk menatap wajah dia.
Martin melihat itu, langsung ancang-ancang untuk menepis tangan Raditya. Tapi mata nya melirik Aiden, yang menahannya. Seperti mengatakan, 'jika sudah lewat batas, maka kau bisa bertindak'. Membuat Martin kembali ke tempatnya semula.
"Kamu jahat, Vin. Jahat, kalau kamu bilang Papa gila! Mereka gak pantas untuk kamu, mereka jahat, bahkan keluarga William sekarang sudah membuat perusahaan ku hancur berkeping-keping." Raditya menatap kedua kaki nya.
"Makanya hari ini, papa akan ke luar negeri mengurus perusahaan yang di sana. Tapi malah terjebak disini, bersama wanita bodoh itu!" Tunjuk Raditya pada Maya yang terkejut akan sifat asli pria paruh baya yang menjadi suaminya.
"Oh. Jadi ini, ini wajah sebenarnya kamu, Mas Radit! Kamu sudah membuka topeng mu, iya?!" Bentakan istrinya membuat Raditya terkekeh. Mungkin benar dirinya sudah gila.
__ADS_1
Vina yang melihat tangannya sudah tidak digenggam berjalan ke arah papa nya. Dan dengan tatapan muak, tangannya melayang ke pipi Papa nya. Membuat papa nya sadar kembali, setelah beberapa saat menatap kosong ke segala arah.
"SELESAIKAN CERITA PAPA!" Sentak Vina. Rissa sudah bisa kembali ke diri nya yang dulu, yang bengis, kejam, tiada ampun terhadap siapapun.
Seseorang yang merekam pembicaraan mereka dari awal juga terkejut melihat nya. Dari awal setelah Vina terjadi kecelakaan, Vina mulai banyak berubah. Dan dia merasakan hal itu.
"Cara papa membunuh mereka, sampai-sampai kasus ini tenggelam dengan misteri tiada henti. Hasil autopsi mengatakan, bahwa bukan kecelakaan yang terjadi pada ayah dan ibu. Semua seakan direncanakan jauh-jauh hari."
Vina membuka lembaran yang dulu. Tapi mengapa ingatan nya terfokus pada kasus orang tuanya yang kecelakaan, tapi tidak ada barang bukti yang menunjukkan bahwa itu kecelakaan.
Polisi juga menjelaskan, kalau semuanya hanya rekayasa. Kecelakaan tidak pernah terjadi, mobil yang ditumpangi tidak ada rusak sedikit pun. Orang yang membawa keduanya ke rumah sakit juga, tidak bisa diidentifikasi siapa orangnya.
Pintar, licik, dan pastinya memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Jadi semua sudah matang hingga ke akar-akarnya.
"Kenapa kamu bisa tau?" Raditya kembali menatap Vina. Vina terkejut. Jadi benar? Ini semua berkaitan!
"Kamu tau dari mana, kalau semua sudah direncanakan. Kamu masih kecil dan tidak tau apa-apa saat itu! Kenapa kamu tau?!" Teriak Raditya di depan wajah anaknya.
Vina memperbaiki ekspresi wajah nya. Memandang kelompok yang dibencinya sangat seru menonton mereka.
"Seharusnya saya yang bertanya pada anda, Raditya. Keluarga William yang anda maksud. Apakah
Fabian William dan juga istrinya Iris William?" Vina menghembuskan nafas nya, lelah, letih, gelisah.
"Mereka berdua, yang papa bunuh. Kenapa sampai-sampai kamu tau nama mereka?!" Raditya menatap heran pada Vina, sembari menggaruk pipinya.
Jawaban nya membuat Vina melemas. Jadi, benar orang yang selama ini dicarinya ada berada dekat dengannya. Misteri lain terpecahkan, tapi masih banyak pertanyaan yang mau dia dapatkan jawabannya.
"Jadi, siapa Clarissa Davina?"
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1