Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 83 : Epilog


__ADS_3

Hasil yang memuaskan setelah perjuangan, itu adalah hal yang sangat membahagiakan. Seperti yang dilakukan Kevin, tentu semua tau betapa besar perjuangannya dalam menghadapi hati nya.


Dia harus berusaha melupakan sejenak perasaan nya untuk berjuang memperbaiki dirinya. Dia berusaha untuk bisa menjadi laki-laki sejati yang bisa melindungi gadis nya.


Yah, Kevin sadar diri, bahwa dirinya masih lemah. Butuh waktu yang lumayan lama untuk merubah dirinya. Rissa, Gio, Jane, dan juga Roby juga membantu selalu dirinya.


Gio memang sudah pulih. Tapi masih harus memperhatikan lukanya yang masih basah. Kakek? Dia banyak berubah pada Keyla dan Rissa, menjadi tidak terlalu kasar dan keras seperti biasanya.


Keyla dia menjadi lebih ceria, setelah mengungkapkan semua perasaan lelahnya pada kakek. Bahkan Gio juga sepertinya sudah mulai memberanikan dirinya untuk mengejar Keyla.


Pasangan Roby dan Veronica, mereka akan menikah di tahun ini pada bulan ke-empat. Rencana nya mereka menikah secara tertutup dan hanya kerabat-kerabat dekat, dan kami saja yang diundang.


Kalian menanyakan tentang Aditya dan Maya? Mereka tentunya menjadi keluarga ku juga, tapi sayang, Aditya memang harus dipenjara, seperti yang dia bilang, dirinya akan bertanggungjawab, atas perbuatannya.


Untuk Maya dia Rissa rawat di sini. Setidaknya istri dari Raditya Rafa Callandra ini sudah menjadi lebih baik lagi. Dia juga merawat ku dan yang lain seperti anak sendiri. Rissa dan Keyla akhirnya bisa merasakan kehadiran seorang ibu bagi anaknya.


Dan si kembar C. Mereka memang tidak pernah bisa Rissa maafkan, tapi setidaknya mereka berubah bukan hanya omongan mereka saja, mereka membuktikannya. Ah iya, tentang Calos, tentu saja Edward jujur tentang nya pada Rissa, sejujur-jujurnya.


Bagaimana dengan Laura, mantan sahabatnya Vero itu? Ish, sebenarnya dia bahkan lebih licik dari Vero. Dia rela membuat Vero hampir terbunuh oleh salah satu klien di bar tempat mereka bekerja. Tapi karena instan karma dinikmati Laura, malah dia yang terbunuh. Dan Vero berhasil kabur. Vero akhirnya bisa menceritakan nya pada semua.


Oiya, pasti kalian juga penasaran dengan Rissa. Ya, seperti yang kalian tau, Rissa sama sekali tidak tertarik pacaran. Dan Edward sama sekali gak lelah untuk terus-menerus mengejar Rissa.


Tapi saat ini, bulan Maret. Mereka berkumpul setelah semua yang mereka lakukan selesai, walaupun bukan akhirnya. Tapi mereka ingin setidaknya mempunyai kenangan bersama.


"Bro, balikin itu dagingnya, ntar gosong, gelo siah!" Semua tertawa melihat Gio yang panik, saat Roby meneriaki nya.


"Iya, sabar masbro." Gio dengan sedikit buru-buru membalikkan daging nya.


Rissa tersenyum, dan berjalan sedikit menjauh dari mereka. Mereka merayakan nya di atas rooftop markas Red Blood. Dan melihat bahwa pemandangan yang indah dari atas sini begitu menenangkan.


Gadis itu jadi mengingat rasa kosong ini. Tak seperti dulu saat Vina masih ada di dalam juga. Tangan nya menapak di dada, merasa hampa di dada. Rissa tenang lah, dirimu sudah berjanji untuk mengikhlaskan nya, pikir nya.


"Kak," panggil seseorang di belakangnya. Membuat Rissa menengok ke arahnya.


"Keyla."


Keyla tersenyum. "Kak, aku tau kamu masih memikirkan nya kan?"


"Yeah, tapi aku gak memikirkannya selarut itu, Key. Karena di sana dia bahagia, jadi aku gak khawatir."


Keyla mengangguk setuju, "setidaknya kakak pernah menorehkan kenangan bersama Davina."


Rissa terdiam. Dan hanya menatap ke depan, melihat cahaya di kelap-kelip gedung dan jalanan di bawah.


Ekhem..


Mereka berdua yang terdiam melihat pemandangan menoleh ke arah belakang, untuk melihat siapa yang bedeham itu. Keyla langsung peka melihat laki-laki yang agak canggung itu mendatangi mereka bertujuan apa. Keyla pamit untuk pergi ke tengah-tengah rooftop lagi bersama yang lain, meninggalkan Rissa dengan laki-laki itu.


"Vina," panggilnya. Rissa yang memang dengan tubuh Vina menoleh menatap seseorang itu.


"Kenapa Lo ke sini, Ward?"


Edward menghela nafasnya. "Lo tau gue cuman mau tanya.. keputusan Lo kala itu, bener-bener serius?" Tanya nya, ya itu adalah Edward. Rissa berbalik menghadapnya.


"Ward, Lo tau kan, gue di sini ngejalanin banyak hal. Mulai dari penderitaan," Rissa menatap dua sosok di sana yang sedang ikut makan bersama. Duo Ca, Carlos dan Calos. "Lalu, teka-teki yang menyulitkan datang, misteri dari semua nya berasal dari nya."


Mata Rissa kini beralih pada Audi dan Sena yang sepertinya sedang asik sendiri, lalu berbisik-bisik, dan malah menjahili Gio yang sedang minum dari botol. "Kemudian, duka."


Kemudian, Vero yang sedang duduk bersama Roby yang mengelus kepala nya dengan lembut. Rissa tersenyum manis menatap segala perasaan emosi yang bisa dirasakan ada dirinya.


"Dan lalu, suka." Rissa kini terdiam sejenak. "Lo liat sendiri perjuangan gue menahan diri buat gak jatuh, gak hancur, dan gak hilang harapan."


Entah apa yang terjadi, jika Edward tahu, jika Davina yang sebenarnya sudah meninggal, dan di depan nya hanya lah tubuh dengan diisi jiwa orang lain. Karena yang dicintai Edward adalah Davina, bukanlah Rissa.


"Setelah semuanya selesai, gue pernah janji ke Keyla, kalau kita berdua bakal senang-senang. Dan gue mau ajak dia keluar dari negara ini. Tapi sebelum itu, Gue mau menjauh dulu dari masalah disini."


Rissa menepuk lengan laki-laki di depannya, mendongak menatap langit malam di atas. "Ward, sampai kapanpun, kalau emang lu udah capek, lu boleh nyerah. Gue takut, gue takut gak bisa balas perasaan Lo."


"Mungkin lusa, gue bakal pergi. Dan, kalau ini hari terakhir kita ketemu. Gue gak tau bakal berapa lama di sana, gue gak tau bakal menetap di sana apa gak, gue gak tau. Yang gue tau pasti, dalam waktu dekat ini, gue yang pergi ke negara tetangga gak secepat itu pulang ke Indonesia."


Rissa membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menjauh dari Edward. Tapi baru tiga langkah, kaki nya berhenti ketika Edward kembali menahan nya.


"Vina, aku cinta kamu, entah akan sampai kapan aku dibuat menunggu, aku akan tetap nunggu kamu, atau aku akan menyusul kamu ke negara mana pun itu. Maaf, kalau cinta ini membuat kamu risih."


Rissa perlahan melepaskan genggaman tangan dari lengannya. "Maaf membuat perasaan Lo selalu tersakiti."


Edward menggeleng, tersenyum miris. "Gak kok."

__ADS_1


"Vin. Boleh aku peluk kamu untuk perpisahan, mungkin?"


Rissa mengangguk tanpa banyak bicara. Edward memeluk tubuh Vina dengan lembut dan memeluk nya seperti tidak mau dia pergi jauh dari kehidupan nya. Hidup nya akan terasa hampa.


"Vin, kamu tau, aku akan selalu ada di sisi kamu. Kalau kamu butuh sandaran aku siap, tapi aku mohon, jangan menanggungnya sendirian lagi. Kamu punya aku, kamu punya teman-teman kamu, kamu punya keluarga kamu. Kamu gak sendiri, jangan hadapin semuanya sendiri. Maaf, kalau aku banyak ngomong gini," cengir Edward walaupun dalam lubuk hatinya dia juga sakit ditinggalkan oleh orang yang tersayang. Matanya dipaksa tak meneteskan air matanya.


Pelukan hangat itu dilepas, membuat Edward kembali hampa. Rissa tersenyum, "terima kasih perhatian nya selama ini, Ward. Dan, iya, gue juga sadar, gue terlalu banyak menanggung beban sendiri, padahal ada kalian yang siap mendengar apa yang jadi keresahan gue."


Rissa ingin rasanya menangis, dia kan merindukan semua kenangan di sini, bersama teman-temannya, bersama Red Blood, dan tentu bersama keluarga nya. Tapi setidaknya dia harus menenangkan diri dari semua ini. Tapi rasanya air mata nya sudah kering.


Edward menghela nafasnya, dan tersenyum. "Udah ah, berarti kita semua harus begadang, dan berpesta! Untuk perpisahan ini."


"Iya ayo. Kenapa malah melow gini, kita kan mau senang-senang."


Mereka berdua kembali ke tempat berkumpul teman-temannya. Mereka sibuk berpesta malam itu. Jam sudah mengarah ke jam 12 malam, saat Rissa mengecek jam tangan nya.


"Guys! Gue mau ngomong sesuatu."


Semua perhatian mereka teralihkan pada ketua Red Blood itu. Wajahnya terlihat ragu untuk berbicara.


"Kenapa kak?"


Rissa mendongak menatap mereka satu-persatu dia tersenyum bahagia karena bisa melihat semuanya bersama seperti ini. "Gue minta maaf baru sempat ngomong ini sama kalian," dia menarik nafasnya dalam menggenggam erat tangan nya. "Lusa, gue harus pergi. Gue gak akan lama kok di sana."


Semua hening, tak bersuara. Edward yang sudah mengetahui hal ini hanya bisa diam, jika Rissa sudah membicarakan nya di sini bersama yang lain, berarti keputusan nya sudah bulat.


"Gue gak lama." Rissa menggigit bibir bawahnya.


"Kakak mau ninggalin aku lagi? Kakak mau ninggalin Red Blood? Kakak ninggalin teman-teman kakak? Kak, kita lagi senang-senang loh, kenapa tiba-tiba gini sih?" Keyla melepaskan tempat keripik ke meja. Mata nya menatap tajam kakaknya, tatapan nya berkaca-kaca.


"Aku bukan mau meninggalkan kamu Key. Aku kan udah janji setelah semua selesai bakal ngajak kamu ke tempat yang kamu mau. Tapi kasih aku waktu ya, sayangnya kakak, buat tenangin diri. Just two weeks."


Rissa membenci dirinya membuat adiknya menangis seperti ini. Tapi entah kenapa, dia memang butuh waktu. "Semuanya, gue sayang sama kalian, kalian udah gue anggap keluarga."


Rissa tersenyum tulus. "Makasih, udah berjuang bersama, makasih buat saling percaya, dan makasih gue masih bisa ngerasain segala emosi dari kalian. Just one thing i wanna tell you guys! I love you so much, all!"


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Maret 2023, hari keberangkatan. Jam 09:38. Rissa mengambil keberangkatan pagi, agar bisa sampai sana sore, dan bisa langsung beristirahat kembali saat sampai ke tempat villa nya.


"Hng? Kamu ngomong apa, kok malah gumam gitu?" Tanya gadis di sebelah Keyla itu. Keyla menggeleng, tanda menghapus segala kemungkinan yang ada di kepalanya.


"Gak kak. Kakak keberangkatan nya sebentar lagi kan?" Tanya Keyla mengalihkan topik. Rissa mengangguk.


Keyla menyernyit, mata nya panas rasanya. Dia takut. Tapi berusaha dicegah pun kakaknya bersikeras. "Kak, kalau udah nyampe sana bilang ya. Kabarin kita. Jangan lupa makan, tidur, jangan begadang, teratur makan nya jangan lupa. Kalau mau jalan jangan jauh-jauh dari rumah entar kesesat, abis itu jangan lupa telpon aku juga yang lain. Terus jaβ€”"


"Sst.. kakak tau, kakak tau. Kamu udah dong jangan nangis," ujar Rissa sembari memeluk erat adiknya.


Keyla menggeleng cepat dalam pelukan itu, "gak kok aku gak nangis. Mata aku kelilipan truk tangki doang."


Hal itu malah membuat Rissa terkekeh. Pelukan itu terpisah, dan beralih memeluk kedua temannya yang sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga juga. "Gue bakal kangen Lo, semak belukar. Lo juga, Sya."


"Kita juga bakal kangen Lo recokin, Vin," jawab Sena tersenyum tipis.


"Sena.."


"Hehehe peace."


Pelukan terlepas. Dan beralih ke depan Vero, gadis yang lebih mungil itu mendongak menatapnya, gadis rapuh yang selalu mengganggu nya seolah dia korban kini menjadi bagian dari keluarga nya juga.


"Vero, jaga bayi kamu ya. Jangan lupa makan yang banyak, terus jangan banyak pikiran." Rissa mengelus kepala Vero dengan sayang. "Karena kamu juga adik aku."


"Aku boleh meluk kamu, kak?" Kakak? Ini pertama kalinya Vero mengucapkan itu pada 'Vina', walaupun Vero tak tau, bahwa Vina asli bukanlah yang di hadapan nya.


Tanpa banyak bicara lagi, Rissa membawa perlahan tubuh bongsor dari Vero itu ke dalam dekapan hangat dan tulus milik nya. "Aku sayang sama kakak, jangan lama-lama ya, disana," gumam Vero.


"Iya, aku gak lama."


Setelah bertanya ria, Rissa berjalan masuk ke dalam. Dia melirik teman-temannya di belakang sana. Berat rasanya meninggalkan mereka, tapi mengingat dirinya ingin melupakan, dan membiasakan diri juga.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Pesawat menuju Kanada lepas landas. Semua hanya bisa melihat dari bawah sini. Pesawat yang sudah menghilang di balik awan. Termasuk dua orang yang melihat dari kejauhan dengan senyuman mengerikan.


"Kamu sudah mengerjakan nya kan?"


"Sudah Tuan. Bom sudah melekat pada badan pesawat."

__ADS_1


"Bagus."


'Entah siapa perempuan itu, tapi dia yang menjadi ketua Red Blood dari pada adiknya? Gak peduli sih. Tapi gue bakal balas Lo, gara-gara Lo semua anggota gue mati, dan bahkan luka ledakan itu masih terasa di punggung gue. Sialan!'


Setelah 15 menit yang lalu lepas landas. Pesawat berada tepat di atas perairan. Semakin tinggi terbang dari pesawat, tekanan akan semakin membesar, dan mempercepat ledakan akan muncul.


DHUAR!


Ledakan besar tak terelakkan, badan pesawat bagian belakang sudah terbuka lebar. Dan ledakan berlanjut sampai dua kali lagi. Pesawat menukik tajam ke bawah, karena mesin dari pesawat sudah dikatakan hancur. Dan menabrak langsung air yang membentang dibawah.


DHAGHGH..


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


"Kamu tidur gih, denger kan pas tadi Kakak kamu ngomong apa."


"Iya, mas. Aku juga mau tidur kok, ngantuk. Tapi temenin ya?"


Roby terkekeh melihat calon istri nya semakin manja. Mereka berdua berbaring, sebenarnya Roby tak mengantuk, jadi dia memasang televisi dan memainkan handphone nya. Tangan satu nya lagi menepuk Vero agar tidur. Dia mencium pucuk kepala nya dengan sayang.


"Baru dikabarkan pada kami, bahwa pesawat Marsair dengan kode penerbangan MT-0045 menuju Kanada meledak tepat di atas lautan. Kini tim SAR, dan pihak terkait lainnya mencari puing-puing pesawat dan dimana black box dari pesawat itu, juga mencari apakah ada orang yang selamat. Dari data yang diterima, berikut daftar penumpang yang ada di dalam pesawat tersebut."


Roby terpaku, menatap televisi. Melihat satu persatu daftar penumpang itu. Dan nama Davina tercatat. Tubuhnya lemas seketika. "Gak mungkin kan, Rissa. Rissa gak mungkin ada dalam pesawat itu," gumam Roby mata nya entah dari kapan mulai mengeluarkan bulir air mata.


"Rissa, Lo bilang sayang kita. Tapi malah Lo ninggalin kita semua, termasuk adik Lo sendiri!"


Roby mematikan televisi itu. Melirik Vero yang sudah dari tadi tertidur lelap. Dirinya keluar dari kamar. Dan masuk kamar mandi yang ada di luar. Menonjok dinding melampiaskan amarahnya.


"Sialan, Lo Rissa. Lo ninggalin Keyla, dengan mudah nya, dan kedua kalinya."


Roby terkekeh kecil dirinya sudah gila. Tangannya bahkan sudah mengeluarkan darah. Dirinya bersandar pada dinding dan merosot turun. Tangannya dengan bergetar, mengambil handphone yang ada di saku.


Menelpon kontak Gio. "Yo, Lo lagi sendiri? Gak bareng Keyla kan?"


Roby langsung bertanya seperti itu saat Gio mengangkat nya. "Gak sih gue lagi di taman sendirian, nemenin Kevin. Kenapa?"


Roby menangis. "Yo, Lo kuat berita. Rissa, Yo. Rissa~"


Nafasnya tercekat. "Rissa kenapa?! Ngomong yang jelas, Ro?!"


"Pesawat nya.. meledak," ungkap Roby. Gio yang di seberang terdiam.


"Gak.. gak mungkin, kan?! Dia ninggalin kita lagi? Dia ninggalin adiknya? Kedua kali nya? For real?!"


"Kalau Lo gak percaya, Lo bisa kuat berita di tv, Yo." Roby tidak kuat, dia langsung mematikan panggilan handphone nya. Melemparkan nya ke sembarang arah. Lagi, mereka harus kembali merasakan kehilangan sosok sahabat, sosok saudara, lagi.


Bagi mereka cukup Rissa mati saat penembakan itu. Kenapa ibu terjadi lagi? Kenapa nyawa Rissa seakan dipermainkan? Kenapa perasaan bahagia mereka direngut seketika?! Kenapa!?


Hey, tenang ini bukanlah akhir. Semua masalah memang terlihat selesai, jadi ini baru awal dari segala nya. Rissa pun tahu yang terjadi, akan terjadi sesuai apa yang ditorehkan dibuku takdir. Semua tahu kapan waktunya.


Tapi kenapa takdir mempermainkan mereka! Semua kenangan ini. Semua siksaan ini kembali, lagi. Mereka tidak mau Keyla kembali menjadi sosok yang dulu.


"Kenapa? Kenapa harus terjadi lagi? Kenapa setelah kami bahagia bisa berkumpul, tapi malah Engkau hilangkan kembali alasan kami berbahagia?!" Gio terduduk menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, ya, dia sudah melihat berita di handphone nya.


"I hate you, Sa!"


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


EPILOG END


THANK YOU SO MUCH, FOR MY READER..


Sudah membaca sampai sini.


Nantikan update terbaru yang lain ya!!


Entah apakah ada Season 2 nya?


Makanya pantengin terus ya..


Sekali lagi terima kasih.


Sorry for the ending, kalau gak sesuai ekspektasi.


Salam hangat,


Nothing_JustMe

__ADS_1


__ADS_2