Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Se.2_ #88. Missions are priority!


__ADS_3

Vina menaikkan sebelah alisnya, "gimana?"


"Setidaknya mereka percaya, kalau dia bisa membuat seolah-olah Keyla bisa masuk ke jebakan itu." Havarreo menatap penasaran pada Vina, dan berdeham, "tapi kenapa kamu membiarkan itu terjadi ada Keyla?"


Vina menyeringai, "dia.. gak semudah itu percaya, aku yakin dia punya rencana walaupun dia mau ikut hal-hal seperti itu."


"Kenapa.. kamu sepercaya itu?"


Vina menatap tajam dirinya, "dia adikku!"


Havarreo tersenyum miring, "kamu bisa menjamin itu?"


Vina berdengus, mengambil topeng nya, dan berjalan keluar dari ruangan itu, pergi menemui Ciandra yang sudah menunggu nya. Namun sebelum menutup pintu dia mendengar Havarreo kembali bicara.


"Bahkan dia gak mempercayai mu, karena kamu tak pernah memberitahu apa yang jadi fokus mu sekarang." Vina merengut.


"Dia sudah tak bisa tersentuh semudah itu, jika kamu kembali, Vin. Kamu sekarang hanya sosok yang hanya menjadi sampah masa lalu yang akan dibuang."


"Jika itu terjadi, maka gue yang akan hancur. Karena Keyla cuman satu-satunya yang gue punya dan gue anggap."


..._____...


Vina telah memasang topengnya, lalu mengendarai mobilnya dengan Ciandra di kursi penumpang sebelah nya. Ciandra dapat melihat Vina yang pasti memikirkan perkataan ayahnya. Tujuan Vina ke Italia karena masalah ini.


"Lo tau.. Lo bisa selesaiin masalah ini dari Indonesia. Gak harus begini," ujar Ciandra menatap ke depan.


Vina melirik Ciandra dan kembali fokus ke jalan, "Lo terlambat bilang itu. Tapi, lagian gue ke sini juga merasa bertanggungjawab atas masalah ini."


"Ini.. memang tanggung jawab Lo sih," gumamnya. Membuat Vina terkekeh.


"Liat Lo, jadi inget Keyla."


Ciandra memutar bola mata nya malas, "kalo inget.. setidaknya kabarin, or tell her tentang masalah ini."


"Komunikasi gampang di hack," jawabnya singkat.


Ciandra memijat pelipisnya. "Setidaknya, gue bilang setidaknya."


Beberapa saat setelah keheningan, mereka sampai di tempat yang seharusnya. Turun dan masuk ke tempat tersebut. Vina menatap tak suka, gedung milik nya dipakai untuk seperti ini.


"Astaga. Cosa hanno fatto al mio edificio?!" (Apa yang mereka lakukan pada gedung ku?!)


Aksen nya keluar karena melihat perubahan gedungnya. Ciandra menggaruk tengkuknya, "mereka menyewanya, tapi kita gak tau kalau mereka nyewa ini hanya untuk begini."


Mereka melihat gedung itu, sudah berantakan dan hanya menjadi tempat persembunyian mereka yang menyewa. Tapi gedung itu telah kosong. Dengan bercak darah yang tak dihilangkan. Barang-barang yang telah kosong.


"Mereka.. memanfaatkan gedung ini, dan sekarang kita dicurigai polisi karena hal ini. Jejak ini hanya beralih pada kita, kita, dan kita lagi."

__ADS_1


Rahangnya mengeras, Vina menatap tajam pada Ciandra. "Siapa yang menyetujui mereka untuk menyewa?"


Ciandra menelan ludah nya, menunduk tak berani. Dia tahu bahwa Vina, ah bukan, Rissa, benar benar marah saat ini. Dan bahkan bulu kuduk nya sudah naik karena rasa takutnya.


Vina berteriak kesal, dan meninju kusen pintu dari gedung itu dengan keras. "Gue eneg berhubungan sama polisi. Mereka selalu salah menilai seseorang. Apalagi gue."


Ciandra perlahan mendongak, "saat itu terjadi, ayah udah menyuruh melacak mereka yang telah membuat ini semua berantakan. Vin, kami.. berusaha untuk mencari orang-orang yang gak bertanggungjawab itu."


Vina menyeringai, mengangguk sambil menatap nya. "Harus itu, karena itu kelalaian kalian."


Ciandra menggigit bibir bawahnya, "i.. iya. Maaf."


Vina menatap Ciandra, dirinya merasa ada sesuatu yang janggal. Ciandra menatap kode Vina. dia berdeham. Ciandra berjalan keluar dari gedung itu dengan Vina di belakang nya, seolah mengawalnya.


"Mereka disuruh siapa?" Batin Vina dan Ciandra, merasakan hal yang sama.


..._____...


Keyla menatap monitor hasil laporan suruhannya yang ada di Italia. Agak heran tiba-tiba perubahan gerakan mereka berdua. Yang tadinya suasana tegang, dan kembali menurun, dan melihat mereka kembali ke mobil.


Hanya sorotan singkat itu, semakin membuat Keyla curiga. Dia memukul sandaran tangan di kursinya.


Keyla menatap kertas yang ada di ujung matanya, kertas yang pernah diberikan seorang pria itu. "Gio! Gio! Sini!"


Gio mendengar dari luar, dan segera bergegas datang, "Hm? kenapa?"


Gio terdiam dan mengambil kertas itu. Menghela nafas pelan agar tak terdengar oleh Keyla. "Iya."


Berbalik dan meninggalkan Keyla dalam keheningan. Menatap pintu yang tertutup tersebut.


Di luar, menunduk Gio menggelatukkan giginya. Berpikir sepertinya dia sudah sangat terlambat mengenai perasaan nya. "Gue.. memang salah. Tanggung jawab gue jaga kalian, tapi kalian.."


"Key.. apapun itu, kapan pun, dan dimana pun, walau hubungan kita gak bisa lebih dari sekarang, ketua dengan bawahannya. Aku udah janji, bahwa tubuh dan jiwa ku sudah kutaruhkan pada keluarga William."


Sekarang Gio akan bertekad untuk menghapus perasaannya, dan hanya mementingkan misinya, yang mungkin akan menyakiti hatinya. Karena otaknya akan tetap menolak hatinya terus menerus.


"Cinta? It's just bullshit!"


Dan melangkah pergi, menyelesaikan tugasnya.


..._____...


"Untunglah Lo langsung ngerti kode gue, Cia."


Ciandra mengangguk, "tapi gue penasaran, kenapa ada yang tau kalau kita lagi pergi?"


"Ya kesimpulannya kalau mereka udah cari tau tentang kita selama beberapa hari ini."

__ADS_1


"Apa itu Xlovenos? Atau ada orang lain?"


Vina menggerakkan kemudi, dan menggeleng. Dia tersenyum tipis, "bukan mereka. Tapi Red Blood."


Ciandra terkejut, "kenapa?"


"Saat pertemuan kemarin, gue liat mimik wajah dia yang curiga ke gue," jawab nya dengan terkekeh. Vina memberhentikan mobilnya ketika lampu berubah merah.


Ciandra ber-oh ria. "Dia pintar."


"Tentu, adik gue gitu."


Ciandra menaikkan sebelah alisnya, "tapi gak cukup pintar untuk mengetahui apa yang terjadi pada kakaknya."


Membuat Vina terdiam, jujur dia memang merindukan adik kecil nya yang manja itu. Vina menghela nafasnya. "Gue gak tau gimana caranya, tapi gue mau sih ngabarin dia. Tapi handphone gue kan udah gue hancur."


"Beli yang baru, terus isi deh kontaknya."


"Iya juga."


Ciandra menatap datar pada Ketua Red Blood yang menatap polos dirinya. Dan kemudian kembali mengendarai mobil setelah lampu berganti hijau. Ciandra memukul pelan bahu Vina.


"Lo mau kita celaka, apa gimana?" Vina meringis mengusap bahunya, walau itu tak terasa sakit sebenarnya.


"Lagian. Kenapa gak kepikiran?"


Vina terkekeh dan mengusak rambut. "Takut ih, responnya gimana."


"Kalo gak, ke salah satu anggota Red Blood aja, terus terang abis itu."


"Red Blood dalam bahaya sekarang, Cia. Gue gak mau nambah masalah lagi."


Ciandra mencibir, " Red Blood sudah bermasalah, dan Lo hilang.. itu udah buat mereka diambang kehancuran, Vin."


"Ugh, Lo terlalu jujur."


Ada benarnya perkataan dari Ciandra itu. Dia hanya memperburuk keadaan, dia jadi menyesali perbuatannya yang semena-mena dan tanpa rencana yang diketahui siapapun.


Dirinya merasa bersalah pada adiknya. Alasan pergi untuk mencari udara segar ke negara lain hanya membuat adiknya semakin hancur. Kematian kedua? Dia jadi tertawa mengingat ini adalah kematian nya yang kedua.


"Ci, kita ke toko handphone dulu. Setidaknya, gue nya bilang, kalau Red Blood bisa hancur, sehancur hancurnya. Dan jika para penjahat itu yang bisa menguasai perdagangan internasional, bisa bisa keutuhan perdagangan diambang kepunahan."


Ciandra menatap setuju pada Vina, "dan itu semua pembayaran akan semakin meningkat."


..._____...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2