Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 64 : Rissa's Point Of View —Unreal World—


__ADS_3

Aku merasa tidak mampu lagi menghadapi ini. Aku bodoh, yang membuat ku menopang sendirian beban yang seharusnya bisa aku selesaikan dengan bantuan mereka, orang-orang yang ku sayang. Sejak diriku masuk ke dunia ini, rasa kesendirian menjadi. Bahkan, walau rasa rindu pada Red Blood, terutama adikku, sudah terpenuhi, tapi aku rasa ini bukan diriku yang sebenarnya.


Dengan apa yang sekarang aku tau, banyak rahasia yang terbongkar mengenai keluarga ku sendiri. Mulai dari pelaku kematian orang tua ku, yang tentu sudah kuketahui siapa, tapi cerita nya yang tak kupercaya. Mengapa? Karena dia, Raditya, bercerita, namun berubah-ubah. Lalu tentang sifat asli Maya, yang ternyata menyayangi anaknya, walaupun tidak terlihat.


Kemudian, tentang masa lalu Sasya, yang ternyata berhubungan dengan keluarga William, bagaimana kejam nya kakek, membunuh seseorang. Keluarga Sena, yang pada akhirnya sudah pecah, tak bisa lagi diperbaiki, dan mengenai banyak hal lagi. Masalah yang sudah dipecahkan, tapi rasanya masih ada yang kurang, entah apa itu.


Apa aku bisa, melewati semua, padahal aku saja tidak tahu, apa arti sesungguhnya aku berada di dunia yang sama dengan novel. Kini aku berjalan di sebuah ruangan putih, yang tidak ku tahu, dari mana asalnya, dan aku juga tidak tahu, aku berada di mana.


Melayang tubuh ku. Aku hanya bisa menatap tangan ku, dan menggerakkan nya, begitupun kakiku. Aku tidak punya sayap, tapi bisa terbang. Hebat juga.


Ruangan kosong, hampa, tanpa udara, menjadi ciri khas tempat ini. Tapi kutebak ini adalah alam bawah sadar ku. Jiwa ku tertarik, membawa ku suatu tempat. Dan rasanya berat. Aku merasakan kembali sentuhan dan pergerakan diri ku.


"Gue balik ke tubuh gue kah?"


...💤💤💤...


Aku bisa melihat lagi dunia yang luas. Dan merasa lebih lega. Tapi, ini dimana? Ketika mata ku terbuka pelan, aku menatap sekeliling yang bisa ku tebak bahwa ini di rumah sakit. Ketika bergerak, rasa nya sangat sakit, menusuk dada ku.


Aku meraba nya, dan itu terasa sedikit sakit. Mungkin karena aku sudah lama tidak bergerak? Atau karena sesuatu yang tidak ku tahu? Jangan-jangan aku ketindihan setan. Kadang pikiran ku random.


Tapi kemana semua orang? Kok sepi? Tempat ini juga, kenapa sangat berbeda dengan biasanya. Kaki ku gerakkan, menopang tubuh ku, dan menapaki lantai yang dingin. Uh, rasanya mati rasa.


Tapi baru aku selangkah menuju pintu, seperti otomatis saja, pintu itu terbuka. Dan ternyata itu kakek! Kenapa dia ada di sini? Dan, hanya ada Red Blood yang mengisi ruangan ini.

__ADS_1


"Kak. Akhirnya kakak siuman!" Adik kecilku, Keyla, dirinya menangis. Rasanya tidak sanggup melihatnya terisak, dia mendekati ku dan meletakkan kepalanya di bahu ku, dan air matanya membasahi pakaian rawat yang kupakai. Meremat nya, tapi tidak sampai menyakiti ku.


"Kak Rissa udah lama banget. Kenapa baru sekarang siumannya? Sampai ulang tahun ku yang ke 19 pun kakak gak ada," ujar Keyla dengan bergetar. Ulang tahun ke 19? Itu artinya, aku sudah lama terbaring di sini? 2 Tahun?


Apa yang terjadi di sini? Aku hanya tertabrak mobil, dan pingsan sampai selama itu?!


"Tenang, Rissa. Red Blood sudah membasmi orang yang menembak mu. Mereka semua sudah musnah! Untung saja peluru itu tidak sempat menembus jantung mu," jelas kakek. Hah, peluru?


Bukannya aku mati, dan bertransmigrasi ke tubuh Vina, karena itu? Bagimana bisa aku kembali? Lalu, apakah aku kembali? Lalu kalau aku kembali, bagaimana dengan alur cerita nya, bagaimana dengan tubuh Vina?


Aku masih tidak mengerti akan semua ini. Apa, semua yang terjadi, bukanlah hal yang nyata? Aku melihat sekeliling ku, ketika semua menjadi hening. Aku menelan ludah ku dengan gugup, yang mana dunia sebenarnya.


Di sini tanpa mereka para tokoh novel, atau di sana bersama tokoh novel? Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, tapi, ini memang keluarga ku. Tapi aku tidak nyaman di sini! Perlakuan mereka aneh, dan aku tidak biasa akan hal itu.


Hening. Tanpa suara, membuat ku yakin suatu hal. Kalau mereka, bukanlah sesuatu yang nyata. Lihat lah, bagaimana mereka yang ternyata tidak realistis, dan kaku. Lalu, pembicaraan mereka yang juga sangat berbeda. Aku sangat ingat sekali itu. Ini bisa dikatakan aku bilang dengan istilah the Unreal World. Dunia tidak nyata, yang hanya buatan.


"Kalian semua tidak nyata!" Teriak ku tak tahan. Tangan ku mengepal erat, dan semua nya berubah. Dengan suara yang sangat mengganggu!


...💤💤💤...


ZRRRRREETTT...


Layaknya komputer rusak, semua menghitam, setelah sesuatu terdengar di telinga ku. Dunia tadi, apa? Kenapa ada dunia seperti ini? Dan aku kembali di alam bawah sadar ku. Siapa yang membuat ku seperti ini? Aku sangat membenci ini, membuat ku pusing saja.

__ADS_1


Seingat ku.. aku tertabrak mobil, dan pingsan, lalu entah apalagi. Namun, aku sadar, kalau ini novel, di mana dunia nya masih bisa dibuat-buat oleh seseorang. Tapi, masa Sasya yang melakukan ini. Apakah ada orang lain, yang bisa mengakses cerita ini?


UH.. tapi aku gak bisa merasakan tubuh ku.. walaupun 'lagi' aku siuman. Aku takut. Takut tidak bisa mempercayai orang-orang. Takut, kalau aku akan terjebak di antara ruang dan waktu. Pada akhirnya tidak bisa kembali ke dunia asli.


...💤💤💤...


"VINA! Kamu sadar, syukurlah," ujar seseorang yang begitu lega, ketika tangan ku bergerak, dan mata yang entah sejak kapan tertutup, kembali terbuka. Dia, Edward. Wajah pertama kali ku lihat adalah Edward. Wajahnya semakin tampan saja. Ada beberapa plester di wajahnya. Tapi kayaknya terlihat sudah lama.


Aku bisa merasakan di sekitaran mulutku adalah alat pernapasan. Apa aku separah itu? Ya iyalah, dasar Vina KW. Ringisan keluar dari mulut ku, seketika pemuda itu panik. Dan melesat keluar, memanggil seorang dokter, untuk memeriksa ku. Aku menyamankan diriku di ranjang.


"Gue udah bener-bener di tempat yang seharusnya 'kan?" Sepertinya iya. Aku menjawab pertanyaan ku sendiri. Aku bisa merasakan ada lilitan di kepala, dan di tangan. Kaki ku, apa mereka baik-baik saja, selimut ku hempaskan, agar bisa kulihat dengan jelas. Untunglah, tidak seperti di sinetron-sinetron, yang pasti kakinya lumpuh jika telah terjadi tabrakan.


Out the box banget memang pikiranku.


"Gue bisa gerakin. Puji Tuhan."


Kulihat pintu terbuka, Edward membawa seorang dokter, dan diikuti beberapa orang di belakangnya. Itu Gio, Keyla, dan inti Red Blood.


"Vina. Akhirnya Lo sadar," ucap Gio dengan senang. Dia tersenyum padaku, dan dokter muda itu memeriksa ku.


"Gue udah berapa lama pingsan?"


"Hampir seminggu, kak," jawab Keyla. Kantung matanya terlihat, apa yang dia lakukan sebenarnya? Sampai kurang tidur seperti itu, bagaimana kalau itu membuatnya sakit?!

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2