
Sena masih belum siuman, tubuhnya saat itu memang dalam keadaan lemah. Sepertinya, kesehatan nya sempat menurun, membuatnya kritis. Apa mungkin, pikiran nya yang membuatnya kelelahan seperti ini?
Vina hanya bisa menatap nanar kamar Sena dari kaca jendelanya. Siapa yang tidak sedih, sahabat nya terkapar di rumah sakit, dan sampai sekarang belum ditemukan pelaku yang menyebabkan Sena seperti ini.
"Apa mereka belum menemukannya juga ya?" Tanya Vina dengan bergumam. Gadis itu melirik lorong sebelah kanan dan kiri nya yang kosong. Beberapa menit yang lalu, Audi dan Krisna masih bersamanya.
Tapi karena kondisi Audi yang semakin melemah, pucat dan pingsan. Di bawa ke ruangannya lagi. Membuat Vina menghembuskan nafasnya lelah. Dia memegang kenop pintu, dan masuk ke dalam.
Langkahnya mendekati ranjang Sena. Bibir nya yang pucat, kelopak mata yang masih tertutup, agak sedikit menghitam di lingkaran matanya. "Kayak nya Lo banyak pikiran ya?"
Vina terkekeh dengan pertanyaannya sendiri, masih bertanya padahal dirinya sudah tahu jawabannya. Tentu, pikiran Sena saat ini sedang buyar. Dan kini Sena berada di mimpi yang paling indah. Sampai-sampai tidak ingin bangun.
"Sena. Banyak yang nungguin Lo, Lo gak liat mama nya Lo? Masa mau sih mama Lo sendirian mulu?" Vina mengusak rambutnya ke belakang mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tangannya menggenggam erat pembatas ranjang, supaya yang sedang tertidur pulas itu, tidak jatuh. "Gue gak akan biarin keluarga gue diganggu!" Geram nya.
Suara tawa menyambut nya tiba-tiba. Menoleh ke segala arah, dan mencari asal suara tawa itu. Merinding sebenarnya. Tapi gadis itu memberanikan diri, untuk keluar dari kamar. Melihat lorong yang kosong itu.
"Omong kosong apa lagi yang kamu bicarakan, Vina. Semuanya berjalan begitu bagus, namun kamu yang merusak segalanya yang telah aku rancang dari jauh-jauh hari!"
"Lo selalu bilang, 'gak akan ngebiarin keluarga' Lo diganggu, tapi pada akhirnya akan selalu ada yang mati. Mungkin, kini giliran nya? Itu semua karena kamu!"
"Kamu masuk ke dalam novel ini saja sudah merusak segalanya. Dunia ku, dan dunia mu jadi menyatu. Menyebabkan alur yang tidak ada, menjadi ada. Dan alur yang seharusnya ada, jadi tidak ada!"
Telinganya berdengung keras. Reflek tangan Vina menutupi kedua telinganya, memejamkan matanya, panik mendera tubuhnya. Seperti terhantam batu besar, diri nya terjatuh.
Mata nya terbuka dengan panik, celingak-celinguk memperhatikan segala arah. Dia tengah tertidur di sofa. Dan matanya menangkap ranjang Sena, dengan Audi yang tertidur di samping ranjang.
"Mimpi rupanya~"
Vina memegang keningnya, dan memijit nya pelan, nafasnya masih tersengal-sengal, karena panik nya. Menggigit bibir bawahnya bingung. "Tapi, apa-apaan itu tadi. Kenapa seperti nyata?"
Vina perlahan bangun dari sofa dan berjalan menuju ranjang Sena. Menatap lamat-lamat, dan tangannya terangkat untuk menjewer pipinya. Sakit, ternyata. Berarti dia benar-benar di dunia nyata.
__ADS_1
"Apa, maksud mimpi gue ya?"
...💤💤💤...
Tawa bergema di dalam ruangan putih itu, terdengar keras dan dekat. Rupanya orang itu sedang berhadapan dengan Sena. Wajah datar nya Sena membuat suasana suram.
"Berisik! Kenapa ketawa mulu sih, gue mau tidur, bodoh!" Sentak Sena. Membuat tawa bayangan di depannya mereda, menyambut nya dengan kekehan sinis dari bayangan.
"Lo itu gak boleh tidur, Sena! Lo penting di sini, jadi gak boleh pergi! Bantu, bantu Sasya. Dia melakukan kesalahan yang sangat fatal!"
Sena menyernyit bingung, "kesalahan fatal? Kesalahan apa yang dilakukan Sasya?"
Bayangan itu berjalan menghadap ke depan, membelakangi Sena, dengan tangan yang terlipat di belakang tubuhnya. "Novel itu sudah bocor sebelum waktunya publish, itu kesalahan fatal, terlebih syarat-syarat tertentu yang telah dilanggar."
"Syarat apa maksud Lo?! Ngomong jangan setengah-setengah!"
Bayangan itu terkekeh. Kembali menghadap ke arah Sena kembali.
"Syarat, agar novel nya menjadi kenyataan."
"Tentu ada. Karena di dunia ini tidak ada yang gratis, Sena. Dia butuh membayar itu semua, saat karyanya benar-benar sudah terkenal, dan sesuai dengan apa yang dia mau."
"Apa syarat nya?" Tanya Sena penasaran. Kakinya berjalan melangkah mendekati bayangan hitam itu.
Bayangan itu menyeringai. "Membunuh satu-persatu, keluarga terdekat dari pemeran utama."
Kaget. Sangat! Syarat sangat aneh, dan gila! Membunuh sama saja dengan kriminalitas!
"Jadi itu sebabnya, dia membalas dendam, sekaligus mau membunuh satu keluarga Callandra?"
Bayangan itu tidak menjawab, tapi kediam-an bayangan itu dengan wajah nya yang tenang, membuatnya menyimpulkan kalau itu benar.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Pria itu menyandarkan kepalanya di sofa. Jakun turun naik, saat menelan ludahnya sendiri. Mata nya terpejam, menikmati pijatan tangan di sampingnya. Dia tinggal menunggu jawaban dari orang hacker suruhannya.
Novel itu bisa menjadi uang. Selain difilmkan, bisa juga dijadikan berita, untuk memperburuk kondisi seseorang yang sangat diyakini, memiliki begitu banyak hal yang tidak diumbar ke khalayak bangsa.
"Kenapa dia sangat lama. Sudah lebih dari dua hari, dan hacker itu belum menyahut chatnya." Pria itu gusar, mengusak rambutnya kasar.
"Jangan sampai laki-laki itu menipuku!" Tangannya menepuk beberapa kali, membuat tiga orang yang dikenal menjadi bodyguard. "Kalian cari tahu hacker yang saya bayar, kenapa sampai sekarang belum bergerak, atau belum ada hasil?"
"Siap tuan. Kami akan lakukan segera!" Setelah mengatakan itu, ketiganya pergi keluar, dengan menggunakan mobil.
"Hacker itu mau main-main dengan keluarga Levante. Maka ia akan dapatkan akibatnya."
"Bukannya kita yang akan dapat akibat nya mas. Keluarga Callandra masih lebih besar dari kita. Kita gak akan sanggup ngelawan keluarga sebesar, dan sekuat itu!"
Wanita itu mendekati sang suami, yang sangat keras kepala, dan egois merajalela. Suaminya hanya acuh, dan tidak menjawab nya. Wanita yang menjadi istrinya menatap sendu pada suaminya, yang sudah tidak bisa diingatkan lagi.
Jadi apa gunanya lagi dia menjadi istri? Masa seorang istri hanya menjadi kambing congek, tidak melakukan apa-apa.
"Kamu gak usah ikut campur, Kiara. Saya tau apa yang ada dipikiran kamu, tapi saya hanya butuh dukungan dari kamu. Tapi kamu gak mau-mau!"
"Itu semua salah, Mas Prodibyo"
"Jangan meledek saya, ya!"
Orang-orang yang memijit Prodibyo itu pergi menjauhi mereka berdua. Dengan posisi yang belum berubah. Hanya helaan nafas berat dari pria itu. Menghadap sang istri berada.
"Kamu itu istri yang kurang ajar! Hentikan, sebelum saya berubah menjadi kasar, Kiara," ujarnya dengan geram. Kiara mundur dengan perlahan.
"Apa yang kamu mau lakukan, jika aku ikut campur terlalu dalam?!"
Prodibyo menyeringai.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...