Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 73 : Confess (?)


__ADS_3

Pagi ini sepertinya keadaannya lumayan canggung diantara kami semua. Aku juga sepertinya sedang tidak tahu topik apa yang bisa membuka pembicaraan. Lihatlah, Keyla dan Gio yang duduk berjauhan, seperti sedang marahan. Tapi memang iya sih, kemarin mereka belum menyelesaikan pembicaraan mereka dengan damai.


Malam itu, bagiku adalah malam yang paling terdingin. Aish.


"Wih, siapa yang masak?" Ah, untunglah kau datang Sen motor~


"Gue," jawab Roby dengan singkat. Sok dingin memang pemuda yang satu ini. Sena datang bersama dengan Audi.


"Wah, mantep." Sena menyiapkan makanan untuknya, dan untuk Audi.


"Nih Audi Marissa." Ejek Sena.


Memang sih, dari jauh hari sebenarnya aku juga mau mengejek hal yang sama, tapi dulu hubungan pertemanan antara ku dan Audi masih kaku. Aku masih melanjutkan kunyahan ku.


"Ih, diem kau, Senter!" Oke, mereka saling mengejek sekarang, tapi tak apa, setidaknya tidak sepi seperti tadi. Tapi melihat mereka membuat ku jadi ingat waktu dulu sama Keyla. Gak pernah akur, rasanya satu hari pun tak terlepas dari satu permasalahan kecil yang membuat kita bertengkar.


Roby terkekeh, Keyla ikut mengejek Sena dan Audi. Namun, tidak dengan Gio. Dia seperti seseorang yang pertama kali ku bertemu dengan nya sebagai Vina, kaku, dingin, misterius, pendiam. Lengkap sudah. Aku melihatnya menghela nafas, dan menatap Keyla dengan tatapan sendu.


"Sen motor, semak belukar. Itu kan dari Kakak yak," tunjuk Keyla pada ku. "Nah kalau dari gue, sendok goreng."


Aku menggeleng kan kepala ku sembari tersenyum tipis. "Kasian tuh, si Sena terpojokkan," ujar ku setelah ikut tertawa.


"Gakpapa, gue diledek gini. Yang penting jangan suasana nya kayak tadi, gue.. gak suka." Batin Sena yang tadi diam, malah tiba-tiba cengengesan.


"Kapan makannya, kalian?" Tanya Roby sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Iye, iye."


...🥀🥀🥀...


Gio melangkah ke luar menghampiri Keyla yang menikmati pemandangan di luar, dengan ayunan yang ada di halaman. Pemuda itu seperti nya ragu untuk mendatangi gadis itu.


"Key," panggil Gio sembari memegang besi ayunan, dan masuk ke ayunannya, mereka kini berhadapan. Keyla tampak diam, dan memalingkan wajahnya dari Gio, dan bersandar pada ayunan.

__ADS_1


"Gue tau, gue salah menyembunyikan sesuatu yang seharusnya Lo tau." Gio menatap Keyla yang masih berdiam diri, tanpa menjawab omongan nya. "Aku.. merasa gagal, gagal gak bisa jagain kamu sama kak Rissa."


Mendengar nada dan gaya bahasa Gio yang berbeda seperti biasanya, membuat Keyla mendongak dan memandang Gio. Gio mengaitkan tangannya, saling meremat. Mata mereka saling bertemu.


"Key, aku dulu sempat menyerah, apalagi aku melihat di depan mata ku sendiri Kak Rissa terbunuh, dan kamu malah tertekan dan malah jadi pemurung, tidak suka bersosialisasi, dan hanya mengobrol jika memang sangat penting. Aku gak mau, membuat kamu tertekan lagi, Key. Aku juga gak mau, ngebuat Kak Rissa, jadi banyak pikiran akibat tau akan penyakitnya."


Gio menunduk, dan memejamkan mata. Lalu melanjutkan keluh kesahnya.


"Aku gak mau gagal lagi. Aku pengen megang janji yang aku buat bukan hanya sebagai kewajiban, tapi memang aku mau bertanggung jawab dan menjaga kalian." Gio mendongak dan mata indah Keyla kembali ia tatap.


Tangan nya terangkat, memegang kedua tangan Keyla. Mengelus pelan punggung tangan itu. "Key, kalau kamu memperbolehkan, aku pengen kalau kamu memang benar-benar lelah, aku pengen aku menjadi tempat bersandar kamu."


Secara tak langsung, apakah Gio tengah mengutarakan perasaannya pada Keyla. Keyla merasa sedikit gugup karena tangannya digenggam erat oleh Gio. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah.


"Maksud Lo apa, Yo? G.. gue, gue gak ngerti."


Gio menggigit bibir bawahnya, dia hendak melepaskan tangan nya, tapi dia sadar, dia sudah sejauh ini menerangkan apa yang selama ini mengganggu pikiran nya. Pemuda itu merasa ragu, takut tertolak, tapi, kata orang berani jatuh cinta, berani patah hati. Walaupun kurang persiapan, dan menurut nya ini tidak romantis.


Argh! Tapi kan ini bukan saatnya. "G.. gue cuman mau bilang apa yang terjadi ke gue, udah itu aja," jawab Gio sedikit terbata, dan dengan cepat ia juga melepaskan tangan itu, bisa-bisa tangannya basah akibat berkeringat. Gio memang selalu pergi dari masalah yang membicarakan percintaan, dia belum siap.


Terjadi keheningan yang tak terhindar kan diantara mereka. Keyla kaget, dengan gerakan Gio, yang tiba-tiba bangkit dan keluar dari ayunan itu, tapi sebelum nya ada gumaman dari pemuda itu yang pasti nya terdengar jelas di telinga nya.


"Maaf gak bisa terus terang, tapi aku menyukaimu, ah tidak. Aku mencintai mu," gumamnya. Keyla menegakkan badannya, dan membulatkan matanya, menengok ke arah Gio yang sudah berjalan menjauhinya. Dia pun ikut bangkit dan mengejar Gio yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Apa maksudnya, ih Gio?"


"Udah lah!" Wajah Gio memerah menyebar ke telinga. Dan terbatuk kecil, sembari memasuki rumah, diikuti Keyla.


"GIO, IH!"


...🥀🥀🥀...


Aku tertawa kecil melihat mereka, aku yakin ada suatu pembicaraan yang Gio mulai, membuat mereka kembali seperti semula. Keadaan tanpa masalah, karena permasalahan diantara mereka sudah selesai.

__ADS_1


Tapi tentunya aku masih belum bisa menerima kenyataan. Sudahlah jangan banyak melamun, Rissa. Masih banyak yang perlu dipecahkan.


...🥀🥀🥀...


Klung..


Entah sudah gelas ke berapa gadis itu minum, bukan minuman berbau alkohol, hanya saja dia minum, karena suatu hal yang dia dan teman-temannya sadari.


"Kenapa kita gak ke Jakarta aja?" Tanya salah satu dari mereka memecahkan keheningan.


"Vin, udah gue bilang jangan gegabah! Gio juga udah bilang kita disini aja, jangan berulah," jawab salah satu gadis yang duduk bersebelahan.


"Tapi kenapa kita gak boleh ikut campur sama urusan Sahabat kita sendiri, Jane?!" Sentak pemuda yang baru saja dipanggil Vin.


Gadis itu, Jane memejamkan mata dan memijit pangkal hidung nya. "Gue tau, Vina itu Rissa, dan Rissa itu sahabat kita, Kevin!"


"Ya, kenapa?!"


"Cukup," ucap gadis di samping Jane. "Jane, bener kata Kevin, kenapa Gio gak bolehin kita ke sana, ke Jakarta, padahal kita gak ikut campur, dan hanya ingin bertemu Rissa?" Tanyanya.


"Manda, gue juga mau ketemu sama Rissa lagi, walau dia agak berbeda, tapi gimana, kata Gio, kondisi Rissa di sana gak bisa dideskripsikan," balas Jane, sembari menghembuskan nafas kasar.


"Apapun itu, malam ini kita ke Jakarta!"


"Man, gak bisa gitu dong!" Iya, Amanda sudah memutuskan, dan dia bangkit dari sofa menuju salah satu ruangan disana. "Amanda!" Jane bangkit hendak mengejar Amanda.


"Amanda udah putusin, maka dari itu, kita bener-bener akan pergi hari ini, Jane." Kevin menahan Jane.


Jane melipat kedua tangannya di dada, dan tangannya mengusap rambutnya ke belakang. "Ya, mau gimana lagi. Kalau Amanda ngambek, muka nya pasti serem, gue ngikut lah."


"Gue denger ya, Jane!" Teriak Amanda dari dalam ruangan kamar itu. Jane terkekeh, diikuti Kevin.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2