Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 38 : Grandpa?!


__ADS_3

Baru saja Vina akan bangkit untuk pergi, Gio keluar dari kamar rawat. Dan membuatnya terkejut, karena Gio menarik tangan nya. Tidak kasar, namun tidak lembut juga tarikannya.


"Eh, gue mau dibawa ke mana?" Tanya Vina sembari mengikuti jalan Gio yang panjang.


"Obatin luka Lo," jawab Gio singkat. Vina pasrah ditarik menjauh dari kamar Keyla. Dibawa ke ruang dokter yang juga merawat Keyla, dokter khusus Red Blood.


"Paul. Tolongin temen gue, obatin gih lukanya." Gio berbicara pada dokter tampan yang tengah duduk memperhatikan sebuah notebook. Dokter itu melirik sekilas Vina.


"Siapa dia? Gak biasanya kalian bawa orang asing ke sini." Dokter yang dipanggil Paul itu menaruh notebook nya di meja, dan melepaskan kacamata yang dipakainya.


Dokter itu bermata monoloid. Dengan rambut hitam, keunguan dengan bentuk rambut Side Bangs nya. Berkulit putih tak ada ruam, apalagi badannya memakai jas putih, jas kebesaran nya. Sempurna.


"Vina. Dia sahabat si Key. Oiya, ngomong-ngomong ke mana si Sena itu?" Gio menatap Vina.


"Dia. Dia lagi ke kamar mandi tadi." Gio mengangguk mengerti.


"Ajak dia kesini. Biar luka dia diobatin juga."


"Oh, Okey." Vina mengirimkan pesan pada Sena, yang entah sedang ngapain di kamar mandi. Lama sekali, pikir nya.


Paul melihat aneh pada Gio. "Gak biasa nya Lo kek gini, Yo. Semenjak kematian 'dia' Lo dingin banget padahal, selain ke Key." Paul berdiri dari duduknya dan mendekati dua orang yang berdiri di tengah ruangan.


"Gue gak kayak gitu ya," sangkal Gio. "Lagipula, Keyla deket sama mereka," lanjut Gio.


Vina tersenyum tipis, setidaknya sikap Gio sudah lebih baik padanya, tidak seperti awal pertemuan mereka. Dingin seperti es, dan akhirnya meleleh secepat itu, anaknya memang orangnya ceria sebenarnya.


"Sini biar gue obatin Lo." Ajak Paul. Lalu menyuruh Vina untuk duduk di atas ranjang, mengobati nya menggunakan alkohol. Sesekali Vina sedikit meringis karena pedih saat alkohol membaluri lukanya.


Memar memar sudah di obati, dan lukanya sudah ditutupi. Dipandangan Paul dan Gio, sekilas Vina sangat mirip dengan orang yang mereka kenal. Rissa Arabella William. Kenangan nya tidak pernah bisa dilupa. Gadis itu sudah tenang disana, menurut mereka yang hanya mengenal Rissa.


Paul tersadar lalu membereskan peralatan nya. Dan memandang Gio. "Yo, Lo udah tau siapa ketua Shadow Legion sebenarnya?"


"Udah. Dan gadis yang baru diobatin Lo lah, yang buat ketua Shadow Legion, dirawat di rumah sakit ini. Sebenarnya mau dibunuh si, tapi katanya mau dibuat menderita dulu." Gio mendudukan diri di kursi yang ada di dekatnya.


Paul menengok pada Vina yang menatap keduanya dengan pandangan datar, membuatnya seketika merinding. Mana bisa seorang gadis seperti nya bisa melawan musuh bebuyutan Red Blood, semudah itu.


Ei, Ketua Red Blood juga seorang gadis, bung. Apakah Paul tak sadar.


"Lalu, bagaimana dengan kakek?" Tanya Paul, sembari berjalan kembali ke kursi tempat tadi dirinya duduk.

__ADS_1


"Kenapa dengan kakek, memang nya?"


"Apakah kakek sudah tau, tentang perkembangan cucunya? Dan apakah cucu nya sudah kembali?"


Gio menatap Vina. Vina tersenyum. "Kita udah tau, siapa dia. Tapi kakek belum."


"Siapa?" Tanya Paul penasaran.


Gio hanya menunjuk Vina dengan tatapan matanya. Membuat Paul mengerti, dan terkejut dengan fakta ini.


...🥀🥀🥀...


Aiden terikat di ranjang rumah sakit. Badannya hanya tidak diobati. Agar dia menderita dan kesakitan. Ruangan ini khusus untuknya, di bagian rumah sakit yang jarang tersentuh orang.


Roby berjalan mendekati ruangan tempat Aiden dikurung. Masuk dan menutup kembali pintunya. Mata nya menyorot tajam Aiden yang terikat, dan sedikit memberontak. Dan terkadang meringis karena tulang bahu nya yang patah, juga luka-luka yang ada di wajahnya. Luka itu kalau tidak diobati, pasti akan infeksi.


Roby memakaikan tangannya sarung tangan khusus dokter, yang ada di gantungan di dinding. Sembari berjalan mendekat pada Aiden yang terlihat ketakutan menatap nya.


"Aiden. Coba kasih tau gue. Alat apa yang ada di tengah-tengah gedung yang tadi." Roby menopang kedua tangannya di pembatas ranjang sebelah kanan.


Aiden tidak menjawab, malah berteriak. "Lepasin gue, gue bilang! Lepas!"


Roby menatap dingin pada laki-laki yang terus berteriak bak kesetanan. Lalu menaikkan sebelah alisnya.


Aiden meringis. Mata nya mulai memerah, dan berkaca-kaca. "Shh.. sakit! Lepas!"


"Makanya jawab. Alat apa itu, yang ada di gedung? Besar banget." Gigi Roby menggelatuk.


"Lepasin dulu gue! Gue mohon!" Mohon Aiden, kepalanya menggeliat.


"Jawab dulu. Baru gue lepas."


Nafas Aiden sedikit tersengal-sengal, bulir-bulir keringat menetes dari dahi. Mengalir, dan membuat perih pada luka sekitaran wajah.


"Oke, oke gue bilang. Itu alat nama nya 'Transmigration communicate'. Dan alat itu untuk mindahin jiwa orang ke raga orang lain." Dengan sedikit terbata-bata Aiden menjelaskan.


Roby mengangguk paham. Tapi orang gila mana, yang membuat alat tersebut? Mana bisa manusia memindahkan jiwa ke raga yang lain. Mustahil bagi manusia.


"Ada yah, orang gila yang mau ngebuat alat gitu." Roby menggelengkan kepalanya aneh.

__ADS_1


"Apakah ada orang lain yang membantu kalian untuk menciptakan alat aneh itu?" Roby kembali bertanya, sembari mengambil sebuah kursi untuk duduk di samping ranjang.


Aiden menatap murka pada Roby. "Tadi katanya Lo mau lepasin gue?!"


Roby mengelap wajahnya dengan kasar. "Gak usah teriak depan wajah gue! Tinggal jawab! Masih mending Lo disini masih hidup."


Aiden memberontak. Hanya sakit yang dia dapat. Ikatan itu sangat ketat di badannya, membuat pemuda itu kesulitan bergerak.


"Lo gak perlu tau! Gue udah janji, untuk gak akan bilang siapa yang mau alat kayak gitu!"


"Jawab, Aiden! Atau orang yang Lo sayang, bakal gue hapus dari dunia ini!"


Aiden hanya terkekeh. "Gak ada yang gue sayang di dunia ini, gue cuman sendirian!"


Roby mengangkat ujung bibirnya. Lalu mengotak-atik handphone nya, membuka sebuah gambar yang ada di galeri. Dan menunjukkan nya tepat di depan wajah Aiden. Seketika badannya menegang, dan terdiam.


Seorang perempuan yang diikat di sebuah kursi, dan lakban di mulutnya. Perempuan itu hanya menunduk, tidak dapat bergerak.


"Jangan! Jangan Lo apa-apain Elin!" Bentak nya. Aiden takut sekarang, kenapa bisa ada yang tahu siapa yang sangat dia sayangi.


"Well. Kalau gitu jawab semua yang harus diungkap, Aiden. Supaya dia selamat."


Aiden meneteskan air mata nya. "Tolong lepasin dia, dia gak salah!"


Roby tertawa terbahak-bahak. "Urusan kita belum selesai, dan gue malah baru nyandera tuh cewek, masa semudah itu sih."


"Gue bakal jawab semua. Tapi lepasin dia!"


Roby menatap serius pada Aiden. "Jadi, siapa yang membantu Lo, buat alat itu?"


"Gue harap Lo percaya sama gue. Karena apa yang gue bilang adalah kebenaran."


Roby tak sabaran. "Cepet jawab!"


"Yang bantu gue buat itu alat, adalah kakek William."


"APA?"


"YAK! ROBY, KUPING GUE GAK BUDEK. JANGAN TEREAK!"

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2