Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 56 : Between life and death


__ADS_3

"PAMAN! INI SALAH AKU. SENA KAYAK GINI KARENA AKU!" Teriak Audi dalam pelukan sang paman, kedua tangannya saling bertautan. Mental nya down lagi, padahal awalnya dia sudah membaik.


"Ini bukan salah kamu, Sya. Sena tau ini bukan salah kamu, jangan salahin diri kamu sendiri," balas Krisna. Dirinya sedih melihat keponakannya begitu rapuh, bahkan menjadi buruk.


"Sena.. dia selalu nolongin aku. Tapi, aku yang gak sadar diri," ucapnya dengan lirih.


Mereka menunggu di depan ruang operasi, berharap operasi cepat selesai, dengan adanya berita baik. Sena pasti baik-baik saja, itu yang digumamkan oleh Audi berkali-kali.


"Sena, kuat. Dia pasti baik-baik aja," gumamnya. Mata nya hanya menatap kosong lantai. Tangan meremat kursi besi yang didudukinya.


"Tenang. Kamu harus tenang, Sasya." Krisna mencoba membujuk keponakannya itu, agar bisa beristirahat. Karena, mental sang gadis sudah mulai menurun.


Air mata terus mengalir, membasahi pipi nya yang sudah mengurus. Bibir nya bergetar, tanpa daya. Baju nya sudah ada beberapa bercak darah, dari Sena. Orang, pelaku penusukan itu hilang entah kemana.


Warga sekitar mencari, bahkan telah melapor ke pihak berwajib. Dan tim penyelidikan telah dikerahkan polisi. Mencari pelaku, yang pasti bersembunyi.


Semua dicari, mulai dari identitas pelaku, dan terakhir kali dimana keberadaan nya.


"Orang itu harus dihukum mati! Dia udah berani lukain sahabat aku, Paman," lirihnya.


"Iya.. iya, makanya kamu istirahat dulu ya."


"Gak, aku mau nunggu aja. Aku khawatir," jawab nya. Krisna memejamkan matanya, lagi, dia tidak bisa tegas untuk menolak kemauan keponakan nya. Dia se-sayang itu sama gadis itu.


"Aku gak tau gimana lagi, ya Tuhan," ujar nya dalam hati. Tangannya memijit pelan pangkal hidung nya. Menyandarkan tubuhnya, agar berpikir jernih. "Yaudah, paman temani di sini."


Audi hanya mengangguk, sesegukan yang terdengar dikeheningan mereka. Lampu operasi masih menyala.


"Tuhan. Aku cuman mau memohon pada Engkau, bantulah operasi Sena agar berjalan dengan lancar. Dan tolong, bantu Sena untuk sembuh, Amin."


...🥀🥀🥀...


Vina memulai peng-introgasiannya. Namun, sebelumnya Aiden bertanya mengenai kondisi Elina. Vina hanya menyunggingkan senyumnya. Perempuan itu tentu masih baik-baik saja, untung dia datang.


"Gue mau nanya. Kenapa gue sama sekali gak inget, mengenai gue, Lo, sama Elina yang pernah sahabatan?"


Aiden menggeleng. "Harusnya gue yang nanya, kenapa Lo lupa? Kenapa Lo yang nanya, Lo yang tau diri Lo sendiri, Rissa."

__ADS_1


Vina tentunya tidak semudah itu mempercayai orang di depannya. Walaupun wajah itu sangat meyakinkan. Kalau dilihat wajahnya sangatlah menyebalkan.


Gio menyernyit bingung apa yang dibicarakan mereka sebenarnya. Mereka sudah kembali tanpa Paul, karena pemuda itu sedang mengontrol Raditya, dari kejadian tadi.


Keyla telah berisitirahat kembali di kamarnya, setelah dibujuk sang kakak. Dengan embel-embel, liburannya akan dimajukan.


"Gue gak inget. Maka gue minta Lo, ceritain apa aja tentang dulu itu," tukas Vina. Gemas, dia pada ingatan nya. Tidak mungkin, dia tidak mengingat apapun di masa lalunya.


"Lo menjauh, dari kita. Entah karena apa, itu yang ngebuat kita ngerasa kehilangan," desis laki-laki itu. Mata hijaunya berkaca-kaca.


"Lo mungkin ngerasa tertekan, ada diantara kita." Aiden terkekeh pelan, pikirannya menyorot jauh masa lalu. "Selalu jadi tempat curhat gue, atau Elin. Dan itu tentang cinta, padahal lo sendiri belom ngerasain sendiri, sebelum sama si Martin itu."


Vina agak terkejut. Mereka sedekat itu, sampai-sampai dia menjadi tempat curhatan, sepercaya itu mereka padanya? Dia mulai tertarik akan cerita yang Aiden bicarakan.


"Lalu, apa yang membuat gue jauh?"


"Karena Martin, dia yang buat Lo jauh!"


Martin. Memang pemuda itu tidak habis-habisnya mengganggu hidupnya, untungnya dia sudah mati mengenaskan dan jiwanya terkunci di dalam mata nya yang kelam.


Mata nya melotot kaget, Aiden menganga lebar. "Mati? Semudah itu?" Tersenyum remeh, "dia ternyata gak se-berguna itu rupanya."


"Apa? Lo juga mau, mati kayak Martin, Aiden? Kalau gak mau, berubah! Tobat lah nak, kebanyakan dosa loh!" Celetuk Gio. Pemuda itu melipat tangannya di depan dada.


Vina menyeringai, tangannya membuka permen karet yang ada di kantongnya. Mengunyahnya. "Kalau mau, sekarang juga gue lakuin."


Aiden dengan cepat menggeleng. Dia belum lega, hidupnya seharusnya masih panjang. Sadar! Sadar diri! Dia sampai sekarang masih hidup saja, dirinya bersyukur.


Rahasia terbesar nya, belum sempat dia katakan, jangan mati dulu, pikirnya. Bibir bawahnya digigit pelan.


"Gue belom menyelesaikan semuanya, Ris. Maaf, mulut gue selalu keceplosan," ringis Aiden. Mereka sedang duduk di lantai tanpa alas. "Gue harap, kalian masih kasih gue kesempatan, buat berubah. Gue, mau jujur ke satu orang, yang udah lama gak gue temuin."


Vina tahu siapa yang dimaksud Aiden. Tersenyum kecil setelahnya.


"Elina, emang bisa nerima Lo lagi? Setelah Lo juga jauh dari dia? Gue bahkan gak dikenal, wajah Vina ini kan mirip wajah Rissa," jelas nya.


"Iya juga. Apa dia masih mau liat gue, yang bahkan gak pernah ketemu dia, selama hampir sepuluh tahun." Aiden menunduk, miris sekali dia. Menelan ludah nya, membuat tenggorokan nya yang seret sedikit licin.

__ADS_1


"Lo coba aja, kali-kali beruntung."


...🥀🥀🥀...


Paul pergi ke arah lain, setelah membuat Raditya tenang, dan pada akhirnya tertidur. Dia berjalan ke arah kamar milik Audi, untuk mengecek keadaan dan kondisi mental nya.


Sesampainya disana, hanya ada satu penjaga, dan diberitahukan kalau Audi tidak ada di kamar. Namun, menunggu di depan ruang operasi, karena temannya sedang dioperasi.


"Teman? Siapa yang dimaksud?"


Paul berbalik dan menaiki lift untuk ke lantai tempat operasi, yang ada di lantai 1. Dan benar, Audi juga ada pamannya sedang duduk dengan resah di depan pintu masuk tempat operasi.


"Halo, pak Krisna."


"Dokter Paul, ah iya pasti mau pemeriksaan rutin ya. Maaf, tadi kami tidak sedang di kamar," ucap Krisna merasa tidak enak pada Paul, Karena membuat dokter muda itu capek-capek turun ke bawah sini.


"Tidak apa, pak Krisna. Ngomong-ngomong, kalian menunggu apa di sini?" Paul melihat Audi, dan sepertinya dia langsung tahu, apa yang terjadi pada Audi. Mental nya menurun.


"Sahabatnya, korban penusukan, karena menolongnya dari orang jahat. Audi menyalahkan dirinya sendiri," jawab Krisna, dengan nada agak bergetar.


"Siapa, kalau boleh tau, namanya?"


"Namanya Sena. Dia sahabat nya, selain satu orang lagi."


Sena? Dia bukannya yang pernah dibicarakan Vina, dan juga yang lainnya, yang membantu pembekukan kelompok Shadow Legion?


Jadi siapa yang melakukan itu padanya, tidak mungkin Shadow Legion, 'kan? Iya benar, tidak mungkin mereka. Karena seluruh anggota kelompok itu sudah habis dibasmi.


"Nama panjang nya apa ya, pak Krisna?"


"Sena Inara Galandra, dokter."


Benar dia. Ini harus diberitahukan ke Vina, secepatnya.


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2