
...AKU LAMA GAK UPDATE, KARENA LAGI PAT NIH, READERS. MAAF KALAU BOLONG-BOLONG HIKS....
...___...
Esoknya, seorang gadis masih setengah terpejam, setelah bangun dari tidurnya. Seakan malas untuk bangun, bahkan seseorang yang menatap dalam diam hanya diabaikan.
Orang yang menatap sedari tadi, hanya dapat menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Karena melihat cara tidur gadis cantik di depannya, yang bahkan tidak manusiawi.
"Vin. Lo gak ada niat bangun?" Akhirnya pertanyaan orang itu, mampu membuat mata gadis itu terbuka lebar-lebar. Dan dengan reflek yang cukup bagus, membuat ia langsung melompat layak nya katak.
"Holy!" Umpat gadis itu terkaget.
Orang itu terkekeh. "Astaga Vin. Lo ternyata orangnya kagetan yah."
Mendengar itu, kepala Vina langsung mendongak dan menatapnya seseorang yang sedari tadi menggangu tidurnya. Ingin rasanya menendang wajah itu. Tunggu. Ternyata si pemuda tampan itu.
"Edward." Vina membeku, melihat tawa pemuda yang telah mengambil hati, maksudnya pemuda yang bernama Edward ini. Vina berdeham, memperbaiki posisi tidur nya.
"Ada apa?" Tanya Vina, sembari tersenyum tipis, menyembunyikan malu karena kejadian barusan.
"Mau jenguk, emang gak boleh?" Edward memasang wajah polosnya, dan memiringkan kepalanya. Kacamata yang dipakai Edward sedikit melorot, dan dengan cepat diperbaiki. Membuat penampilan Edward semakin, tampan. Menurut Vina.
Vina mengalihkan pandangannya. "Boleh lah. Masa gak boleh," ujarnya. Sebenarnya dirinya salah tingkah.
Edward tersenyum, tangannya mengusap pelan pipi Vina. "Wajah kamu kenapa merah?"
Apa. Kamu? Apa dirinya tidak salah dengar? Dengan cepat menoleh pada Edward.
"Cuman kepanasan aja," jawab nya berusaha santai.
"Kepanasan? Atau kamu salting?" Tepat sasaran. Ini rasanya jatuh cinta ya. Pertama kali dirinya merasakan hal ini, sebenarnya kedua kali. Dulu dengan Martin.
Vina berdecih pelan. "Diem."
Edward duduk di sisi ranjang, "mau makan buah? Biar aku kupasin."
"Aduh, Mak. Cogan nih, cogan!" Batinnya meronta-ronta.
Vina mengangguk pelan. Edward dengan cekatan mengupas kulit apel. Vina menatap aneh.
"Selera orang berbeda. Biasa nya aku gak perlu dikupas kayak gitu, langsung makan aja. Cuci dulu tapi." Pikir nya, sungguh tidak berfaedah.
__ADS_1
Vina mulai mengunyah apel yang diberikan Edward. Disuapin layaknya anak kecil, membuatnya sedikit geli.
Vina termenung. Ia ingat perkataan Aiden waktu itu, Edward dengan Sena sempat bertengkar di luar, sebelum mereka masuk ke rumah. Kalaupun bertanya, apa haknya. Itu privasi mungkin. Mungkin.
"Ward. Lo kenal Sena?"
"Gak terlalu, yang ku tau dia teman kamu." Edward memotong apel menjadi beberapa bagian. Dan menyuapi Vina.
Vina mengangguk. "Gue kira, Lo sama dia, punya hubungan." Ucap nya asal. Membuat Edward menegang.
"Gak lah." Sanggah Edward sedikit kikuk. Edward kembali menoleh pada Vina.
"Oh iya, hari ini kan weekend. Kamu sakit sih, jadi gak bisa malmingan," ujar Edward mengalihkan topik cerita.
Vina tersenyum, dan menggaruk pipinya. "Iya ya. Sori ya, Ward."
...🥀🥀🥀...
Kaki jenjangnya berjalan di koridor, setelah beberapa waktu mengobrol dengan Edward, membuatnya semakin tertarik dengan pemuda yang telah menganggu pikiran nya itu.
"Rumah sakit mulu gue." Keluh nya. Bibir gadis itu mencebik, tidak suka akan kondisinya yang terlalu lemah, sejak berada di tubuh Vina ini.
"Eh! Lo ngapain?! Carlos." Pemuda yang membawanya masuk ke dalam kamar adalah abang pertamanya. Tangan laki-laki itu mengunci pintu kamar, dan dengan gelisah melihat jendela.
"Vina. Dengerin gua!" Vina terlonjak kaget mendengar bentakan dari abangnya, membuat dirinya memandang sinis Carlos.
"Apa lagi, yang harus didengar, Carlos. Kalau gak penting, mending Lo pergi." Usir Vina. Carlos mendekat, dan memegang kedua bahu Vina, menatap dengan intens.
"Dia.. mau berbuat jahat ke Lo, Vina!" Wajah serius Carlos, membuat Vina tahu, kalau yang dikatakan oleh pemuda itu benar-benar serius dan penting.
"Siapa, 'dia' yang Lo maksud?" Tanya Vina penasaran, sembari menepis pelan tangan yang berada di bahu nya.
"Calos." Desis Carlos dengan pelan.
"Gue gak sengaja liat dia masuk ke bar, ternyata dia bertemu dengan kedua temannya, yang bahkan gue gak kenal." Jelas Carlos. Kembali menegakkan tubuhnya, yang tadi sedikit membungkuk untuk menatap lurus Vina.
Carlos melanjutkan perkataannya. "Gue ngedekat. Suara mereka masih terdengar, walau suara musik kencang. Mereka mau ngejebak Lo!"
"Gue gak akan biarin, hal yang jahat terjadi pada Lo, Clarissa Davina Callandra."
Vina tersenyum tipis, "setidaknya, gue bisa manfaatin, kekuatannya Carlos."
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Tangan nya mengirimkan pesan kepada seseorang, dengan kontak bernama 'kakak'. Setelah mendapatkan kontak sebenarnya dari sang kakak, dirinya sudah tidak sabar bertemu dengan kakak nya.
"Kak Rissa. Besok hari Senin, dan saat nya untuk mengungkapkan kejahatan seseorang." Tersenyum misterius, dan memutar badannya, tapi sebelum melangkah, ada seseorang yang memanggilnya. Melihat dua anak buahnya yang berlari mendekati nya, dengan wajah panik.
"Key! Gawat! Kelompok Shadow Legion, mereka nantang kita untuk berantem!" Kata Gio dengan panik, disusul oleh Roby.
Keyla membelalakkan matanya. "Apa?!"
"Persiapkan semuanya, kita akan melawan Shadow Legion!" Keyla memerintahkan keduanya, membuat keduanya hormat dan segera pergi dari sana mempersiapkan semuanya.
Keyla menggeram marah, meremas handphone yang dipegang. "Kakak. Aku butuh kakak saat ini."
...🥀🥀🥀...
Pemuda itu memakan makanan yang ada di meja makan, seperti nya jarang dia ada di rumah. Dan, kali ini dirinya pulang tanpa diminta. Kacamata yang menghiasi wajah nya, dilepaskan.
Dan seorang perempuan yang keluar dari kamarnya melihat seseorang yang sangat dikenali, sedang makan dengan hikmat.
"Edward. Lo tau pulang juga ya." Ujar nya dengan sinis. Menyiapkan makanan nya, dan duduk di seberang pemuda itu.
"Terserah. Jangan panggil gue nama, gue abang Lo, Sena." Edward menatap datar pada perempuan di depannya. Sena menggertakan gigi nya.
"Lo tau, Lo itu pengecut! Cuman karena papa sama mama berantem terus, Lo malah pergi ninggalin gue, dengan segala penderitaan ini! Kenapa gak ajak gua? atau kenapa Lo gak selalu ada buat gue? Itu pertanyaan yang ada di dalam pikiran dan hati gua!"
Perempuan itu, Sena mengeluarkan semua nya. Benar-benar rasanya seperti ingin mati saja, kenapa begitu banyak cobaan yang datang pada keluarganya, pikirnya.
Edward menatap adiknya, mengepalkan tangannya. "Gue juga, merasa kayak gitu! Bukan hanya Lo!"
Mata Sena berkaca-kaca, menundukkan kepalanya, dan menghembuskan nafasnya. "Edward. Kenapa kita gak bekerja sama saja?"
Edward menatap heran padanya, dan memiringkan kepalanya. "Apa maksud Lo?"
"Mari, bekerja sama, untuk menyatukan papa dan mama." Sena menatap serius pada abangnya itu. Namun, abangnya hanya tersenyum sinis.
"Percuma, adikku sayang. Karena mereka hanya mementingkan ego dan gengsi mereka sendiri."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1