
Mereka berdua keluar dari ruang khusus milik Vina, pipi kiri dan kanan Roby terlihat memerah. Itu bekas tamparan yang pantas ia terima dari Vina. Roby menelan ludah nya saat ditatap oleh orang-orang yang ada di dalam rumah itu, terlebih Vero juga menatapnya.
Ting..
Vina mengambil handphone nya dari saku, mengecek siapa yang mengirim pesan. Dahinya menyernyit, itu pesan dari Keyla. Kenapa Keyla harus mengirimkan pesan, kalau bisa bicara langsung?
Dia membacanya dari awal hingga akhir. Membuat dirinya yang sudah marah, bertambah murka.
Vina mengangkat wajahnya, menatap pemuda yang ada di sampingnya, "Roby Lo lakuin apa yang harusnya Lo lakuin. Guys! Gue mau pergi dulu bentar," sahut Vina setelah mengetik dan mengirim pesan balasan pada Keyla.
Tanpa mendengar jawaban dari teman-teman nya, dirinya melesat pergi. Membawa motor matic milik Vina sewaktu dirinya belum bertransmigrasi ke tubuh ini. Dia tahu motor sport milik nya rusak parah akibat kecelakaan itu.
Gadis itu memacu kecepatan motornya. Tidak mengacuhkan suara pesan yang sedari tadi masuk ke handphonenya.
'Kak! Aku bilang bareng aku, kenapa malah sendiri?'
'Kak, aku gak mau kakak kenapa-napa kalo jalan sendiri.'
'Ck. Haish, keras kepala.'
Begitulah kira-kira pesan yang Keyla kirimkan pada sang kakak. Kakak nya kembali keras kepala, apa dia tak sadar kalau keras kepalanya itu akan membuat nya terjebak dalam bahaya. Ah, tapi Keyla tidak mau berpikiran negatif.
Vina sampai di markas Red Blood. Dirinya masuk ke ruang Paul.
"Paul, apa itu benar?" Tanya Vina langsung to the poin.
Paul yang sedang menumpukan tangannya di meja, menghadap komputer besar di depannya akhirnya berbalik. Pemuda itu mengangguk.
"Apa yang kelompok itu mau?"
__ADS_1
"Seperti kelompok Aiden, mereka ingin kekuasaan Lo, Sa. Dan mereka juga bener-bener rencanain matang-matang sesuatu yang selalu buat Lo terjebak suatu hal."
"Apa yang Xlovenos lakuin ke gue?"
Paul menoleh pada komputer besar itu, dia mengusak rambut nya ke belakang. "Gue gak terlalu ngerti tentang ini, tapi ini semacam perpindahan sesuatu hal ke berbagai dimensi yang berbeda, sesuai keinginan orang yang membuatnya. Tapi yang gue bingung kenapa mereka bisa buat ini?!"
Vina memukul dinding yang ada di belakang nya dengan keras, membuat tangan kiri nya memar akibat kelakuan nya. Melampiaskan amarahnya.
"Xlovenos musuh kita selanjutnya."
...🥀🥀🥀...
Roby terduduk di depan teman-temannya, termasuk Vero. Dia mengajak berbicara serius, dia sudah siap, kalau dirinya akan meregang nyawa jika dipukuli habis-habisan, entah oleh Gio, Kevin, atau para gadis. Dia ingin bertanggung jawab atas segala sesuatu yang membuat nya merasa bersalah ada Vero.
"Gue mau ngomong suatu hal yang penting." Roby merasakan tangannya lembab karena keringat yang timbul.
Ini keputusan nya untuk bicara jujur, dan sudah siap menerima konsekuensi dari apa yang telah ia perbuat. Roby membuka mulutnya, "untuk Vero, gue minta maaf, gue gak tau sebenarnya kesalahan gue pantas diampuni apa nggak. Tapi gue bener-bener minta maaf. Minta maaf, karena gue yang buat Lo kek gini."
"Gue minta maaf, atas kejadian di club itu, dan setelahnya." Dengan menunduk dia tidak bisa untuk melihat reaksi dari teman-teman dan tak terkecuali Vero yang menjadi korban nya.
Niat untuk mencari cara agar Vero berhasil dibalas dengan bukti-bukti untuk bisa membersihkan nama baik Vina, malah dirinya yang membuat kesalahan besar. Nafsunya mengalahkan nya.
...🥀🥀🥀...
Pemuda itu terdiam, dirinya bersandar pada dinding melihat sang penyiksa yang terduduk di kursi dengan letih. Entah apa yang terjadi, orang di depannya datang dan duduk tanpa membuat nya tersiksa. Wajah nya terlihat sembab.
"Kenapa? Lo abis nangis?" Tanya nya dengan suara lirih dan serak. Membuat orang di depannya mendongak menatap nya.
"Gak ada yang ngajak Lo ngomong, Calos."
__ADS_1
Calos terkekeh kecil. "Tau kok, Ward, tapi keknya bukan hal sepele ya? Masalah cinta?" Tebak pemuda itu.
"Berisik!" Geram Edward memukul kursi yang didudukinya. Lalu menghembuskan nafasnya yang memburu, kedua tangannya menutupi wajahnya.
"Kenapa dia bilang gitu? Gue gak sanggup, apa gue disuruh menunggu lagi? Gue sanggup kok, gue masih sanggup buat nungguin Lo, Vina. Tapi gue gak bisa hapus perasaan ini, gue gak bisa berhenti perjuangin hal ini," gumamnya dengan suara kecil. Membuat Calos hanya mendengar samar-samar.
Calos menyadari bahwa Edward sedang patah hati, karena pendengarannya yang tajam, menangkap nama Vina diperkataan Edward. Kaki nya ia tekuk, dan dibawa kepelukannya.
"Gue rasa, Vina memang gak ada niat untuk merasa mencintai seseorang," sela Calos dari gumaman Edward yang sedari tadi memekakkan telinga, terdengar seperti lalat yang terbang di dekat telinga.
Edward tidak bisa berhenti berkata apa-apa. Tetap bergumam tak jelas, Calos menyernyit tak suka. "Berhenti gumam yang gak jelas, Ward. Jangan buat diri Lo gila, hanya karena Vina buat Lo kek gini. Perjuangin cinta Lo yang bisa bahagiain dia."
Ya, Edward memang hanya membuat nya agar sadar, kalau perbuatannya selama ini salah. Ingin membuat Vina bahagia, tapi dengan cara yang salah. Dia sadar pada akhirnya, bukan dia yang membuat sang adik bahagia, karena kalau dirinya berada di ruang lingkup yang sama dengan Vina yang ada membuat hidup gadis itu hanya penuh kesialan.
Sekarang dirinya merasakan sakit nya, penderitaan nya, seperti yang pernah gadis itu alami. Atau, ini belum seberapa?
"Lo tau? Gue harap Lo bisa bahagiain dia, tanpa buat dia sakit lagi, Ward."
Edward memandang Calos dengan aneh. "Ini Lo? Calos yang angkuh, sombong, terus gila?"
"Cih, susah ngomong sama Lo," decih Calos memalingkan wajahnya. Edward tersenyum tipis.
"Makasih, gue gak bisa janji apapun, tapi gue akan coba sebisa mungkin buat Vina bahagia dan gak nyakitin dia."
"Dan kalau Lo nyakitin dia gue sendiri yang bakal balas Lo," sahut Calos bersamaan nada dinginnya sembari memiringkan kepalanya. Tubuhnya yang penuh bekas peluh dan darah yang mengering, membuatnya tampak menyedihkan.
Edward mengangguk, dan berdiri dari tempatnya, "juga makasih untuk bisa berubah, Calos."
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...