
Vina menutup mulutnya, memandangi orang yang sedang berjalan di dalam sana, tampak mondar-mandir. Dan mendengarkan pembicaraan mereka. "Jadi bener yang Aiden bilang, kakek lah yang mau ngebuat ini. Tapi apa tujuan nya?!" Batinnya.
Vina menegakkan tubuhnya, menunduk di depan pintu yang masih terbuka sedikit itu. Lalu memutarkan badannya dan menjauh dari pintu, setelah melihat ada yang akan keluar dari gedung.
Kembali ke tempat persembunyiannya bersama Gio, dan Paul. Dan mengisyaratkan mereka agar diam. Terlihat dari tempat mereka, seorang berkepala plontos menelpon seseorang.
"Halo. Bisa carikan dimana Aiden? Bos saya mencarinya. Dan bawa dia ke sini hidup-hidup!" Perintah nya, pada seseorang yang ada ditelepon. Dan kemudian mengedarkan pandangannya, perasaan seperti diawasi.
Tapi, mungkin itu hanyalah perasaannya saja, dirinya berlalu ke dalam setelah mematikan handphone nya. Ketiga orang yang tengah bersembunyi itu bernafas lega, karena orang itu tidak merasakan keberadaan mereka, untuk saat ini.
"Gimana? Siapa yang di dalam, Vin?" Tanya Gio penasaran. Vina memperhatikan ke gedung itu.
"Kakek William."
Gio membulatkan matanya. "Ah, jadi bener yang Aiden bilang. Tapi buat apa? Alat kayak ginian, dibuat kakek?"
"Makanya kita harus cari tau," sahut Paul mendengus kesal pada Gio. Gio mengangguk singkat, dan mereka bertiga perlahan mengendap-endap, dan menyebar ke segala arah.
Vina masuk dari salah satu jendela yang terlihat pecah, gedung itu sudah terlihat lama, dinding yang banyak coret-coretan. Tapi, walaupun begitu, gedung ini masih kokoh, dan mungkin masih bisa menjadi tempat tongkrongan yang menarik, dan syukur nya dia tidak melihat mahluk-mahluk yang seram.
Setidaknya tidak seram, hanya ada yang menampakkan wajahnya.
Perlahan tapi pasti, tubuh nya merambat di dinding, tidak menimbulkan suara. Bersembunyi digelap nya bangunan, diantara lemari. Dan melihat dua orang yang sedang mengobrol.
Pakaian nya formal, itu adalah kakeknya. "Kek. Apa guna nya alat itu sebenarnya?"
Dari sisi Gio, dirinya akan masuk dari pintu belakang, namun terhalang sesuatu, sedikit lebih mendorong ternyata masih tidak bisa. "Apaan dah, kok susah?"
Dia melirik suatu stiker yang tertera di pintu. 'Pull' yang artinya tarik. Gio dengan cepat, tapi tetap tanpa suara menarik pintu itu dan ternyata bisa. Pada akhirnya Gio masuk dengan berdecak pelan.
"Ditipu gue, sama pintu."
Paul berhasil masuk, namun, ternyata ada seseorang yang mendengar jejak sepatu nya. "Siapa di sana?!" Teriak orang itu sembari lari mendekat.
Mau tak mau, Paul berusaha kabur dari tangkapan itu. Melirik ke belakang, dan ternyata orang yang berpakaian formal itu masih mengejarnya.
"Aish.. Ada dinding."
__ADS_1
Paul mendapatkan sebuah ide, mempercepat larinya, dan meloncat menapaki dinding di depannya, tubuh nya memutar di atas pria yang mengejarnya.
BRAK!
Dan pria itu menabrak dinding di depannya dengan sangat keras. Paul berhasil menapak tanah dengan mulus, dan terkekeh melihat pria itu tergeletak di lantai.
"ADA PENYUSUP!"
Paul menengok ke belakang, "ah, shi— here we go again."
...🥀🥀🥀...
Sena dan ibunya telah menyelesaikan beres-beresnya. Dan Sena inisiatif keluar agar bisa membeli sesuatu yang bisa mengisi perut mereka yang keroncongan, karena kecapekan.
"Bu. Sena keluar dulu ya. Mau beli makanan," pamit Sena. Ibu nya tersenyum dan mengangguk singkat. Sena memutar kenop pintu, dan ternyata di luar pintu ada dua orang yang mereka ketahui, salah satu dari mereka, tangan nya terangkat untuk mengetuk pintu.
Sena menaikan sebelah alisnya. "Oh, Pak, Bu. Ada apa ya kemari?" Sapa nya dengan ramah.
Ibu yang melihatnya tersenyum. "Kami membuatkan kalian makanan, ini dari kami. Terima ya, nak."
Lalu memberikan rantang makanan yang ada ditangannya. Sena terkejut, baik sekali pemilik kontrakan ini pada mereka sampai-sampai dibawakan makanan.
"Iya betul, nak." Jawab Pria di sampingnya. Oke, dia akan menerimanya untuk hari ini, lagipula ibunya tidak melihat. Tangan mengambil dengan ragu. Dan sepasang suami istri di depannya tersenyum hangat.
"Kalau begitu, kami pamit ya. Ini sudah sore," pamit wanita itu.
"Iya, terima kasih, pak, Bu. Maaf merepotkan."
Saat di dalam, Sena mendekati ibunya yang sedang duduk melamun di kursi makan.
"Bu. Tadi Bu kost-kostan, eh Bu kontrakan sama suami nya ngasih makanan." Sena meletakkan rantang itu di meja, depan ibunya.
"Dari siapa?" Tanya ibunya, curiga. Sena menyernyit bingung.
"Sena kan udah bilang tadi." Ibunya menghela nafas, menatap Sena.
"Sena, mulai hari ini, kamu harus nunjukin, kalau kamu bisa. Tanpa bantuan orang-orang. Termasuk ayah kamu!"
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Ketukan pintu menghentikan nya dari pekerjaannya selama ini di kamar rumah sakit. Gadis itu menoleh ke arah pintu, yang kenopnya sedang berputar. Setelahnya, menampakkan seorang laki-laki yang sangat dia kenal.
"Paman."
"Hei. Keponakan paman tersayang, Sasya," sapa laki-laki itu dengan hangat. Sapaan itu, membuat Sasya, atau bisa dipanggil Audi juga, berkaca-kaca.
"Paman, kemana aja? Maafin Sasya, ya. Sasya udah buat paman sakit." Audi berjalan ke arah pamannya, yang tidak melunturkan senyuman nya.
"Sasya gak salah. Sasya cuman terpengaruh aja, sama si Aiden Aiden itu!" Krisna mengelus puncak rambut Audi dengan lembut. "Tapi paman harap, kamu jangan kayak gitu lagi ya? Berubah, ya?"
Audi mengangguk semangat. "Iya paman. Aku cuman akan menyelesaikan tugas aku, sebagai penulis. Dan akan menulis akhir yang bahagia buat semua!"
Krisna mengangguk membalas ucapan sang keponakan. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk tulisan kamu?"
Audi mengajak paman nya mendekati laptop yang terbuka di meja dekat sofa. "Aku mau cepet-cepet publish semua yang kutulis beberapa hari ini. Udah lima sampe tujuh bab yang kutulis, tinggal kirim."
Akhir bahagia yang dimaksud. Apakah memang benar-benar bahagia, atau bisa dibilang hanya karena tulisan? Walaupun mereka diatur oleh tulisan tangan seseorang, tapi, tetap, kuasa Tuhan yang menunjukkan yang terbaik untuk mereka.
"Tapi, sebenarnya ini ending masih gantung. Aku mau cepet tamatin, karena gak mau mereka menjalankan semuanya karena tulisan ku, tapi karena kemauan mereka sendiri," jelas Audi.
Krisna mengangguk mengerti. Setidaknya, keponakan nya bertanggung jawab menyelesaikan semuanya. "Bagus. Kamu jangan ngebuat hidup orang berjalan sesuai keinginan kamu. Tapi biarkan semuanya mengalir, dan tangan Tuhan yang bekerja."
"Iya, paman. Aku sungguh bersalah sudah berbuat sejauh ini."
Untuk sekarang hanya ini yang bisa dibuat Audi. Ke depannya, jika cerita yang ditulis nya tamat, namun, suatu kehidupan tetap berjalan.
Tangan Audi mengetuk mouse yang ada di tangan kanannya. Mempublish dua bab, dan hanya hitungan menit, dua bab itu langsung banjir dengan like, dan juga ada beberapa komentar yang dikirim.
'Wah, akhirnya update lagi! Ceritanya menarik, bahkan ini lebih baik dari semua novel online yang ku baca.'
'Kak, kita masih gak tau, kenapa revisi nya beda banget dari cerita yang dulu. Semua kebalikannya, tapi tetap suka!'
Beberapa potongan-potongan komentar itu membuat Audi tersenyum tipis. Ternyata masih ada yang menunggu cerita nya, walaupun dia pernah berpikir, kalau ceritanya sangat aneh, dan tak beralur.
Krisna menatap puas pada keponakan nya. "Aku bersyukur, akhirnya Sasya bisa sadar."
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...