
Dan disini aku sekarang, seperti Dejavu, pulang dari rumah sakit, ke tempat ini, rumah keluarga Callandra, tapi kenapa aku tidak pulang ke keluarga William?
Menurut ku, belum saatnya. Permasalah ini belum selesai, dan terlebih kakek. Setidaknya si Vina itu, membantu ku mengetahui apa yang harus aku selesaikan. Haish, kenapa sih kepala ku terkadang masih nyeri.
Bohong sih aku sudah baik-baik saja. Hanya saja, aku tidak bisa berdiam diri saja seperti ini. Ya, setidaknya kata dokter aku harus sering-sering check-up setiap Jumat sama Minggu.
Dan sekarang hari Minggu. Udah lama aku tidak sekolah, untung saja kepala sekolah nya Keyla, jadi dia yang mengabsenkan aku. Aku duduk di sofa, dengan Keyla dan yang lain pun ikut.
"Eh, waw. Ada PlayStation 5. Gue boleh pinjem gak, Vin?" Tanya Gio sembari berbinar saat melihat barang yang sangat dia inginkan itu ada di tempat ini.
Aku hanya mengendikkan bahu. "Itu kayaknya punya Carlos, atau gak si Calos. Pake aja, gak peduli juga."
Gio dengan girang menghidupkan PlayStation yang tersambung ke televisi. Anggota Red Blood yang lain terlihat mengambil beberapa cemilan, dari kulkas dan rak makanan. Benar-benar.
Aku hanya duduk sembari melihat Gio yang asik dengan permainannya, dengan Keyla yang ada di sampingnya, ikut bermain. Aku tersenyum. Mereka.. cocok. Setidaknya kalau aku gak ada, ada Gio dan Red Blood yang melindungi adik kecil ku.
Aku mengambil cemilan yang dibawa Roby. "Itu kan punya saya, ih."
Ternyata Roby bisa juga merengek. Aku terkekeh, "iya 'kan, minta dikit doang juga."
Chocochips emang kesukaan nya.
KRIET..
Suara pintu? Apakah pemilik rumah sebenarnya pulang? Kutengok ke arah pintu, bersamaan pemuda itu masuk. Aih, iblis itu beneran pulang.
"Siapa kalian?!" Tanya nya, iya, itu Carlos. Alis ku menukik tajam, menatap laki-laki itu datar.
"V.. Vina? Kamu akhirnya pulang, dek." Carlos beranjak dari tempatnya dan berjalan tergesa-gesa ke arah ku. Apakah tatapan ku tidak menjelaskan kalau aku benar-benar tidak mau diganggu olehnya, dan sangat jijik saat dia ada di sekitar ku, walau dalam jarak 100 meter?
Roby dengan cepat berdiri di depan ku, menghalangi Carlos yang akan memeluk ku. Roby mendorong pelan tubuh Carlos yang lumayan mengurus. Dia seperti nya jarang makan.
"Lo siapa?!" Tanya Carlos sembari membentak dan menggenggam kerah kemeja Roby. Roby menaikkan sebelah alisnya.
"Perkenalkan, saya Roby." Kepalanya miring ke kiri, dan wajah nya seperti mengejek Carlos. "Dan saya akan menjadi malaikat maut mu, kalau kamu berani menyentuh Vina."
__ADS_1
Suara serak nya dan datar nya mendominasi. Tangannya yang kekar menangkap tangan Carlos yang menggenggam erat kerah nya. Lalu menepisnya dengan kasar.
"Camkan itu. Laki-laki pecundang," ejek Roby.
Cuih..
Aku membulat kan mata, saat wajah Roby diludahi oleh Carlos dengan santai nya. Aku sangat ingat jika Roby sudah diusik seperti itu, habis sudah pemuda bodoh itu.
Respon Gio bahkan lebih aneh, dan terlalu mendramatisir keadaan. Aku hanya duduk tenang, sembari menikmati cemilan kesukaan Roby dihadapan ku.
"Berani-beraninya!"
DUAGH!
Terjadi perkelahian di depan ku. Lagipula salah Carlos sendiri, kenapa dia dengan berani mengusik singa yang tenang. Roby terkena beberapa pulang, tapi tidak membuatnya runtuh.
BRUGH!
Detik berikutnya, Carlos lah yang tersungkur jatuh dan terbatuk-batuk lemas. "Lemah," desis Roby, sembari menginjak kepala Carlos.
Ting..
Ting..
Roby mengangguk dan membiarkan Carlos terbaring di bawah lantai. Masih kuat dia? Tidak pingsan gitu?
...🥀🥀🥀...
Edward keluar dari tempatnya, dari ruang dimana dia menyekap Calos. Dan memasang kembali kacamatanya, yang disangkutkan pada saku kemejanya.
"Hari ini Vina udah pulang. Jadi, aku bisa ke rumahnya." Dia berjalan pergi meninggalkan Calos, kesekian kalinya. Sangat muak, dengan wajah iblis itu, maka dari itu dia tak membiarkan pemuda itu kabur.
Kaki nya menapaki mobil kesayangannya, dan melihat sang adik, Sena, tengah menaiki ojek online saat di lampu merah, dia sudah lama tidak melihat adiknya. Tatapannya terlihat kerinduan yang mendalam pada gadis itu.
Pikiran buyar, saat lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Dan klakson kendaraan lain yang sangat mengganggu. Dia memindahkan perseneling, dan menginjak gas, diikuti nya Sena dari belakang.
__ADS_1
"Ini jalan ke arah rumah Vina, kan?" Gumamnya. Sembari mengusap dagu nya, sambil terus mengikuti, tanpa membuat Sena sadar akan keberadaan nya.
Tepat seperti pikirannya. Sena berhenti di depan rumah Vina. Dan langsung masuk ke dalam pagar yang menjulang tinggi itu. "Mereka memang bersahabat."
Dia turun saat sudah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah Vina. Tapi memang mereka di dalam nampaknya sangat serius. "Apa yang mereka bicarakan, ya? Kok kayaknya juga lagi rame di dalam," batinnya.
...🥀🥀🥀...
Parkiran memang penuh dengan motor dan mobil yang tak ia kenali. Tapi ada satu motor yang dia kenali. "Itu punya Carlos kan? Berarti dia ada di dalam."
"Ini Carlos? Wih wajah nya jadi hancur ya. Siapa yang gebuk?" Tanya Sena.
"Roby, dia kan memang mantep pukulannya." Vina memainkan handphonenya dan melihat-lihat penulusuran yang ada di dalamnya.
Mengenai banyak hal tentang novel ini, seperti siapa penulisnya, dan siapa editor, dan juga artikel lain nya. Dia tak ingat pernah mencari tahu tentang ini, bahkan dia tidak ingat kapan dan bagaimana dia bisa kenal dengan Sena maupun Audi.
"So, gimana keadaan Lo? Udah tau, apa yang menyebabkan Lo kayak gini?"
Gio melirik sedikit ke arah Vina dan Sena, dan menelan ludah nya, setelah itu kembali memfokuskan diri pada permainan di televisi. Nampaknya terganggu akan pertanyaan Sena.
Vina menggeleng. "Gue belum tau, dan gue juga gak tau. Kenapa dokternya bisa kayak nutupin sesuatu."
Sena ikut berpikir. "Tapi gejala kek Lo itu beda sama penyakit-penyakit umum kayak biasa. Jangan-jangan Lo dapet penyakit langka!?" Sena terlalu mendramatisir keadaan.
Gio menggigit bibir bawahnya, bersamaan dengan layar yang menunjukkan kalau dia kalah dalam permainan itu, dia menggertak kan konsol game nya dan bangkit menjauhi mereka, pergi ke arah dapur.
"Kenapa dia?" Tanya Roby, saat mereka terdiam menatap punggung Gio yang menghilang di balik dinding.
"Gak tau, mungkin kesal karena kalah terus," jawab Vina.
"Wih, masa gitu doang marah." Balas Sena, sembari tertawa.
"Iya nih, dari tadi dia kalah terus sama Keyla."
Keyla sama sekali tidak mendengarkan ocehan dari keduanya. Dia menatap punggung Gio dengan tatapan mata yang sulit dijelaskan.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...