
Vina mendengarkan gumaman Audi. "Mau gue panggilin orang nya?"
Audi mengalihkan pandangannya dari handphonenya. Gadis itu kira 'sahabatnya' ada di sini untuk menjenguk nya barang sekali. "Dia ada di sini?" Tanyanya.
Vina menyengir dan menggeleng. "Gak sih. Tapi gue telponin aja, mau?"
Audi hanya terkekeh kecil. "Gak usah. Ini udah tengah malem, dia mungkin udah tidur."
"Iya juga ya. Ya udah deh, Lo tidur aja, istirahat, tenangin diri. Jangan buat itu otak mikir mulu, mbak." Vina menegakkan tubuhnya, dan berjalan ke arah pintu.
"Kalau gitu, gue balik dulu ya," pamit Vina lalu menghilang dari balik pintu. Audi mengangguk sebelumnya.
Audi bangun dan merebahkan dirinya di ranjang rumah sakit. Sekedar mengistirahatkan tubuh, dari masalah yang dia buat. Tak lama kemudian dia tertidur, setelah beberapa saat memejamkan matanya.
...🥀🥀🥀...
Pagi hari menyambut, suara burung bersaut-sautan, motor yang Vina pakai telah terparkir rapi di tempat parkir sekolah. Tadi subuh gadis itu pulang dari rumah sakit, setelah berpamitan pada sang adik.
Vina melangkah masuk ke kelasnya, tanpa hambatan seperti kemarin-kemarin. Walaupun tatapan berbeda-beda masih didapatkannya. Vina menghela nafasnya sembari duduk di bangkunya.
"Gimana?"
Vina menoleh pada Sena yang baru saja datang. "Apanya?"
Sena memutar bola matanya malas. "Ya, itu. Pria tua yang membunuh orang tua Lo," ujar Sena sedikit berbisik, agar hanya Vina yang bisa mendengarkan.
Vina bergeming, sebenarnya dia ragu akan ucapan Raditya, karena dia tahu kalau pria itu tidak mengucapkan itu dalam keadaan sadar. "Katanya dia bakal bertanggung jawab, kok."
Sena mengangguk dan menyandarkan tubuhnya pada kursi, masih dengan suara kecil. "Bagus deh. Kalau gak bertanggung jawab, pasti Lo bakal bikin dia koid kan."
"Iyain deh biar cepet. Gue juga mau berubah kali," cicit Vina. "Tapi kalau diperlukan sih bakalan gue lakuin."
Sena mendengus kesal. "Sama aja, Markonah!"
"Idih, sok iye lu, padahal Lo sama aja," ledek Vina. Sena hanya mengerucutkan bibirnya, tanpa membalas ucapan Vina.
Pelajaran pertama dimulai, setelah bel masuk sekolah berbunyi. Seorang guru laki-laki masuk, dan merapikan buku-buku yang dibawa nya. Lalu menatap sekeliling kelas yang sudah hening.
"Vina, Sena. Kemana kalian kemarin, kenapa tidak masuk ke sekolah?" Tanya guru itu, sembari melepaskan kacamata nya yang sedari tadi bertengger di hidungnya.
"Kayak nya tuh anak baru udah ke ikut nakal kelakuannya, pak. Kayak si Vina itu," celetuk Briana dengan senyuman mengejek nya. Membuat Vina langsung melirik sinis Briana.
__ADS_1
"Nah bener tuh, pak. Otak nya Sena tuh udah terkontaminasi akan kelakuan nya si Vina itu," sahut salah satu teman Briana, Meta namanya. Guru laki-laki itu menghela nafas.
"Tenang semua. Saya tanya sama mereka berdua, bukan kalian. Vina, Sena, kemarin kalian kemana, bahkan kedua Abang kamu tanyain kamu, Vina."
Vina menghadap pada guru laki-laki itu. "Pak, saya itu kan kemarin di rumah sakit. Bapak tau kan saya sakit."
"Iya benar. Tapi, katanya kamu menghilang dari kamar rawat kamu," jawab guru laki-laki itu, dia mengusap rambutnya ke belakang.
"Tuhkan, pak. Jangan-jangan dia—"
Omongan Briana langsung dipotong oleh sang guru. "Tolong, jangan ikut-ikutan Briana. Saya cuman tanya!"
"Mungkin mereka gak cari saya, pak. Saat itu saya lagi di kantin, abis itu ke kamar mandi cewek di luar kamar," jelas Vina dengan tenang. Sedangkan Sena menganggukan kepalanya membenarkan.
"Lalu, bagaimana dengan kamu Sena? Kemana kemarin? Kenapa di laporan kamu tidak ada keterangan?"
Sena dengan tenang juga menjawab, "tentu nya saya kemarin menjenguk Vina. Kan bareng, pak."
"Udah kan pak? Kok jadi QnA gini pak?"
Lama-lama kepala guru laki-laki itu pecah, melihat kelakuan semua anak-anak kelas ini. Daripada semakin pusing, pada akhirnya dia melanjutkan pengajaran nya pada hari ini.
...🥀🥀🥀...
"Jadi, kapan Lo jenguk si Audi?" Tanya Vina sembari makan makanan nya, yaitu bakso. Sena menyeruput secangkir teh hangat nya, menghirup aroma nya yang menyegarkan.
"Gak tau. Mungkin hari ini," jawab Sena ragu. Dan memakan nasi pentol pedasnya, katanya kalau tidak pakai nasi, tidak kenyang. Sena itu kidal, jadi memakai sendok dengan tangan kirinya.
"Kok ragu?" Heran Vina. Sena hanya mengendikkan bahunya, dan melirik ke belakang Vina, ada beberapa orang yang datang ke arah mereka. Melihat siapa yang datang membuat nafsu makan Sena seketika menurun.
"Vin. Makanan Lo udah selesai belom? Soalnya kalau belom ntar nafsu makan Lo nurun, ada yang bakal ganggu tuh," dengus kesal Sena. Untung saja makanannya sudah hampir habis.
"Ha? Siapa emang?" Sena hanya menatap belakang Vina. Vina sedikit menoleh ke belakang.
"Vina. Kemana aja Lo dari kemarin? Lo gak ada kabar ke kita, dan gak pulang ke rumah?!" Bentak Calos, wajah nya sudah merah karena rasa marahnya meledak saat itu juga.
"Lo itu bikin khawatir tau gak sih! Mau jadi anak jalanan Lo?!" Carlos ikut memarahi Vina, bahkan terlihat tangan nya mengepal. Apa mereka akan bermain tangan lagi, seperti dulu?
Vina hanya melanjutkan makannya tanpa menghiraukan kedua Abangnya 'tiri' nya yang berkoar-koar di belakang punggungnya. Sedikit terganggu, karena menjadi pusat perhatian.
Sena diam, tidak ingin ikut campur. Namun, sebenarnya tangannya sudah gatal ingin memukul wajah busuk milik Calos dan Carlos itu. Tapi dia juga menjaga citra Vina yang sudah rusak.
__ADS_1
"Kalian ngeganggu tau gak?" Vina bangkit berdiri setelah menyapukan tisu di sekitaran mulut. Lalu jalan mendekati keduanya.
"Kalian gak pernah sadar diri ya. Kita itu udah gak saling kenal lagi! Berapa kali gue jelasin, sih. Kelakuan kalian itu dari dulu, udah melebihi batas! Dan apakah semudah membalikkan telapak tangan untuk maafin semuanya?"
Vina bisa merasakan mata penuh kemarahan dari keduanya, kini perlahan berubah menjadi tatapan sendu. Mereka berdua kasar, dan keras. Bahkan ego selalu mengalahkan semua dalam diri mereka
"Mulai dari menjauh dari Vina, menuduh nya sebagai pelaku pembunuhan Vaness, padahal bocah sekecil itu gak mungkin berbuat kayak gitu!" Rissa sadar, bahkan dirinya lebih jahat dari Vina sewaktu kecil.
Ingatkan dia bahwa, saat kecil hanya karena ingin diperhatikan orang-orang, dia membully temen sekelas nya. Dia juga mempermalukan nya di depan umum. Sasya akhirnya memiliki trauma berat akan semuanya. Ditambah pelecehan dan selebihnya.
Vina mengeraskan rahangnya. "Melemparinya dengan kata-kata kotor, dan kebencian, mencaci maki, tanpa mengetahui perasaan korban. Ini juga berlaku pada orang-orang yang melakukan nya pada Vina. Bahkan Vina dituduh sebagai orang yang membully Veronica, padahal gak!"
Omongan nya juga berlaku pada dirinya sendiri, dia tidak akan melakukan hal yang dapat merugikan diri nya sendiri di masa sekarang, maupun di masa mendatang.
"Tapi itu semua ada buktinya, Vina! Gak usah sok membela diri, kalau pada akhirnya Lo memang yang berbuat semua nya!" Sahut seorang pemuda yang berjalan dengan dua orang perempuan di sampingnya.
Calos dan Carlos menatap pemuda itu. "Vinsensius."
"Banyak luka di wajah Vero, juga ada bukti foto-foto, Lo ngebully Vero." Vinsensius mengacungkan handphone nya dan menunjukkan salah satu foto yang dimaksudkan.
Sebelum Vina kembali membuka mulutnya untuk berbicara, Sena menggeram melihat temannya dipojokkan. Dia mendekati Vinsensius, merebut handphone itu. Melihat foto-fotonya dengan lebih detail.
Sena terkekeh sinis. "Ini mah editan. Mata Lo buta atau gimana, kok gak tau?"
Vinsensius kembali merebut handphone nya melihat foto-foto yang ada. Benar, foto itu semua hanyalah editan, terlihat dari potongan wajah dan leher yang tidak se-iras. Jadi siapa yang ada dalam foto ini?
"Mungkin yang foto yang edit. Emang siapa sih yang foto? Mau sungkem dulu, betapa bodohnya dia." Vina tersenyum miring, mengapa ada orang-orang yang sampai sebegitu nya mencari kesalahan orang.
Kedua perempuan di belakang Vinsensius menegang. Mereka adalah Veronica dan Laura. Melihat keduanya, membuat Vina dan juga Sena dapat menebak.
"Aduh, apa segitu populer dan cakep nya gue, sampai gue mau pake foto editan kayak gitu?"
Dengan tingkat kepedeannya Vina berbicara seperti itu. Tapi memang benar-benar sebagian banyak murid menyanjung dan juga mengagumi paras milik gadis itu. Tapi karena tindakan-tindakan yang seenaknya dari Vina, membuat nya jadi dibenci.
Padahal semua itu, hanya tipuan dari orang yang tidak bertanggung jawab. Mengkambinghitamkan Vina, sebagai pelaku dari semua kejahatan yang seseorang itu lakukan.
Kalian tahu siapa orangnya kan?
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1