
Pipa besi itu kembali dihempaskan, dan mengenai kepala kanannya. Membuat Martin menggigit bibirnya dan darah mengalir akibat gigitan yang keras itu. Memar mulai terlihat di tempat yang terpukul.
Wajah Martin sudah memerah, urat-urat nya terlihat, keringat bercucuran, kesakitan mendera seluruh badannya. Dia belum cukup pulih, ditambah dengan apa yang diperbuat dua orang di hadapannya.
"Gue suka jeritan Lo. Itu terdengar merdu," ujar Vina mengeluarkan aura mencekam di sekitarnya. Gio dapat merasakan ketegangan mulai terjadi di sini, merinding jadinya.
"Gak cuman Lo, tapi yang lainnya pasti dapat kok, kenikmatan~"
Vina menatap Gio memberi arahan pada pemuda itu, dirinya mengangkat kursi bersama Martin yang ada duduk di atasnya. Martin membulatkan matanya.
"Mau di bawa ke mana gue?!" Ikatan yang ada di tangan dan kakinya dia goyangkan, gesekan itu semakin membuat kulitnya terluka. Jujur, sekarang dirinya takut.
Apakah hari ini nyawanya akan menghilang? Dan, semua itu bergantung pada kedua orang yang sedang memindahkannya, entah kemana. Jantung nya serasa akan lepas, merinding sekujur tubuh masih ia rasakan.
"Gue bakal lakuin apapun yang kalian mau! Asal jangan bunuh gue!" Teriaknya menggelegar dalam ruangan itu.
...🥀🥀🥀...
Sena memasuki rumahnya yang saat ini masih terasa sepi, hening. Matanya melihat sang ibu yang sedang menggulir iPad di tangannya, tidak ada lirikan padanya sama sekali.
Sena hanya terkekeh miris akan hidupnya. Kakinya melanjutkan langkah menuju kamar milik diri sendiri. Tapi sebuah suara menghentikan nya, membuatnya membalikkan badan untuk melihat, siapa yang menjadi lawan bicaranya.
"Sena." Panggil ibunya, tidak melihat nya, tatapan nya masih terfokus pada iPad yang digenggamannya.
"Iya?" Sena melihat ibunya dari tempat berdirinya, tanpa mengubah gerakan sedikit pun. Karena, seperti sudah lama tidak mendengar namanya dipanggil oleh orang tuanya.
"Ke sini, nak. Ibu mau bicara," ajak ibunya. Ibunya meletakkan iPad di meja, dan tersenyum hangat padanya. Agak takut akan sikap ibunya, namun tetap mengikuti apa yang diinginkan oleh wanita itu.
Sena duduk di sofa seberang ibunya. Duduknya terlihat gelisah, tangannya terlihat saling menaut, berusaha terbiasa. Sena menghela nafasnya dan menatap wajah ibunya yang terlihat sudah mulai mengeriput.
"Kamu tau, kenapa ibu mau bicara?" Tanya wanita itu memulai percakapan yang sedari tadi hening. Sena menjawab dengan gelengan kepala.
"Ibu mau nanya. Langsung aja ya." Raut wajah wanita itu sedikit berubah, menjadi murung dan letih. "Jika ibu dengan ayah mu pisah, kamu akan ikut siapa? Ibu atau ayah?"
__ADS_1
DEG!
Ini adalah hal yang paling dia takutkan. Pernikahan yang berakhir perpisahan, meninggalkan sejuta sakit pada anak-anak mereka, akibat keegoisan dari kedua orang tuanya.
"Kenapa? Kenapa menikah, yang pada akhirnya akan berpisah. Kenapa? Kenapa saling mencintai yang pada ujungnya hanya saling menyakiti, Bu?" Tanya Sena dengan nada sedikit bergetar, panik akan keputusan orang tuanya.
Ibunya terdiam mendengar itu, lalu berjalan mendekati sang putri yang terlihat menahan tangisnya. "Ibu hanya akan menerima keputusan yang dibuat ayah kamu. Dan ibu juga ngerasa kita sudah tidak cocok."
"Tapi, 'kan Bu, pernikahan itu berlangsung hanya satu kali seumur hidup."
Sang ibu duduk di sebelahnya, dan perlahan tubuhnya dipeluk oleh tubuh ringkih ibunya. Kepalanya diusap pelan dengan kasih sayang, sudah lama rasanya tidak merasakan kenyamanan dari wanita paruh baya ini.
"Ibu tau. Dan ayah kamu juga tau pastinya akan hal itu, tapi begini mungkin takdir kami. Perpisahan yang sudah menjadi pilihan kami," jelas ibunya.
Matanya terpejam, dia bisa mengingat bagaimana suaminya yang memperlakukan dirinya bak ratu. Bagaimana perjuangan kisah cinta mereka, dan jatuh bangunnya perusahaan mereka. Suka dan duka sudah mereka lewati bersama.
Tapi semua itu sirna hanya karena kesalahpahaman. Semua hancur atas fakta yang masih belum terbukti kebenarannya.
"If that happens, then I lose everything." Jawab Sena meregangkan pelukan ibunya.
...🥀🥀🥀...
"Calos! Kalau Lo mau marah jangan di sini! Ini markas, bukan tempat pelampiasan amarah Lo!" Bentak yang lainnya melihat pemuda yang kini menatapnya nyalang.
"Kalian semua kerja nya gak becus! Masa urus satu cewek aja kalian gak bisa!?" Teriaknya.
"Lo masih mending kita bantuin, pelepah pisang! Ini juga masih sekali percobaan. Kita harus main aman!" Calos terdiam, benar juga katanya.
"Menurut kalian apa yang bisa kita lakuin. Gue belom bisa mikir sekarang, rencana apa yang Lo maksud??" Tanyanya.
"Kayak rencana Lo di awal."
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Vina tersenyum tipis mendengar Martin yang mulai memohon-mohon. Dia sangat suka jika korban nya sangat menderita. Rissa mode monster on.
Gio sudah benar-benar percaya, jika yang di depannya benar Rissa yang berpindah raga. Mulai dari tingkah laku, sikap, bahkan Alter-ego yang hanya dimiliki Rissa ada di Vina.
"Apa Keyla udah tau, kalau kakak nya masih hidup, tapi dalam raga orang lain?"
Terkadang pertanyaan itu terlintas di pikirannya, mulai dari pengakuan dari Vina saat di mobil, sampai sekarang. Apakah sang adik telah mengetahui sang kakak masih ada?
Vina mengubah matanya menjadi biru pekat. Hanya ada kekelaman dalam tatapan nya, Martin menjadi terpaku, dan tenggelam ke dasar paling dalam kegelapan dari mata biru itu.
Mata Martin mengosong, pikirannya perlahan mulai terkikis, seperti orang bodoh. Walau jiwa nya seakan terhisap, tubuhnya masih terasa sakit, bahkan ini sangat menyesakkan.
Deru nafasnya memberat, berubah jadi gerakan seperti zombie. Tangannya gemetar, badannya kejang-kejang. Jiwa Martin sudah terperangkap, dan terkurung dalam mata milik Willy.
"Lo akan mati sebagai jiwa yang terkunci. Dan hanya gue yang bisa ngebuka itu." Desis Willy. Martin sudah menjadi mayat hidup, tubuhnya memucat dan membiru, seluruh badannya yang bergetar perlahan berhenti.
Gio melihat kengerian di depan matanya, seharusnya dia terbiasa akan hal ini. Tapi walaupun sudah sering melihat seperti ini, masih membuatnya ingin mual melihat mayat-mayat itu.
Martin dengan mata yang masih terbuka, dan mulut yang menganga, kepalanya jatuh menjadi miring ke kiri. Tubuhnya yang menggosong karena listrik memucat, dan membiru. Kematian yang sadis untuknya.
"Semoga tenang di sana, kawan." Vina berbalik dan berubah menjadi semula, dan meminta Gio untuk membakar mayat itu, atau apapun itu, yang penting mayat itu hilang dari permukaan bumi.
"Bersenang-senang?" Tanya Gio pada Vina. Setelah tadi membereskan semuanya, mereka keluar dari ruangan itu, dan berjalan di lorong rumah sakit itu ke arah tempat Keyla dirawat.
"Tentu. Thanks udah repot-repot bantuin gue. Gue lagi kumat tadi," ujar Vina. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya.
"Lo wakil kita, pilihan Keyla." Gio menatap depan, sembari melirik sesekali pada Vina. "Jadi semuanya pasti gue lakuin," lanjutnya.
Vina tersenyum puas. "Bagus deh. Gue restuin Lo sama adek gue."
"Siap calon kakak ipar."
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...