
Raditya mendekati nakas di samping ranjang dengan perlahan. Mengambil sebuah garpu yang tertancap pada potongan buah apel di piring. Menggigit dan mengunyah apel itu.
"Kamu juga sama kan seperti papa. It was an addiction, to be able to always kill someone. Kayak narkotika rasanya," ujar Raditya terkekeh. Garpu yang tadi dia pegang mulai dia eratkan.
Vina hanya diam tak menjawab, menatap setiap gerakan pria paruh baya itu. Vina menghela nafasnya lelah melihat tingkah pria itu, ternyata memang benar-benar harus di bawa ke rumah sakit jiwa.
"Gak perlu banyak omong pak Raditya. Tinggal lakukan apa yang perlu anda lakukan," balas Vina. Lalu berbalik meninggalkan Raditya yang menatap nya, tatapan berbeda dengan sebelumnya.
"I should to kill you, honey sweetie." Raditya berlari ke arah Vina, yang sedang berjalan membelakangi nya, membawa garpu yang ada di tangannya.
SAT!
Vina menghindari tusukan garpu itu. Vina menyikut Raditya, membuat Raditya mundur.
"Anda gila! Gak bisa apa waras dikit?!" Sungut Vina, sembari menggaruk pipinya. Mata Raditya memerah, menatap nyalang pada gadis itu.
"Anak manis. Kamu diem aja, ya. Nikmatin aja," ujar Raditya mulai melantur. Tangannya menunjuk wajah Vina menggunakan garpu.
"Aduh, nih orang udah gak bisa lagi disembuhkan."
Vina menepis kasar tangan Raditya, dan menepak lehernya dengan keras, lalu mengait kaki pria itu sampai tersungkur. Raditya meringis memegang leher nya.
"Akh! Anak durhaka! Main mukul orang tua!" Bentak Raditya. Gadis itu hanya menatap datar pria gila di depannya.
"Persetan." Umpat nya. Vina berbalik meninggalkan Raditya yang meringis, mengambil kunci yang ada di pintu, dan mengunci pintu kamar dari luar, agar pria tua itu tidak pergi kemana-mana.
"Oke, 'bapak Raditya yang terhormat' udah. Sekarang 'Bu Maya yang terhormat'," gumam Vina, sembari melanjutkan langkahnya.
...🥀🥀🥀...
Kamar Lavender nomor 97. Lumayan jauh letaknya dari kamar Raditya, tapi setidaknya gadis cantik nan imut ini dapat menemukan dengan tidak bersusah payah. Tentu saja, perawat yang ada di lantai empat membantunya mencari.
Vina masuk ke dalam kamar. Pemandangan yang dilihatnya tidak seperti Raditya, Maya tengah duduk di ranjangnya sembari makan makanan yang telah diberikan pihak rumah sakit.
Duduk dengan hikmat, dan tenang. Rasanya jika melihat Maya dirinya jadi mengingat orang tuanya. Vina perlahan mendekat, tak terasa senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Mama," panggil Vina dengan lembut, membuat wanita yang sedang makan menoleh padanya. Wanita itu sedikit terkejut melihat siapa yang baru saja datang, namun bisa ia netralkan kembali.
__ADS_1
"Ada apa kamu ke sini?" Tanya Maya, sembari melanjutkan makan makanannya, tanpa mau melihat Vina yang berdiri di sampingnya.
"Vina cuman mau liat keadaan mama. Mama gimana kabarnya?" Tanya Vina. Gadis itu ingin merubah sifat wanita di depannya secara perlahan, tanpa menyebabkan ketidaknyamanan pada diri Maya.
Maya terdiam, makanan yang ditelannya seakan susah untuk dicerna. Ia jadi ingat anak nya perempuan yang masih kecil, dan juga gadis yang telah beranjak dewasa di depannya ini, selalu bisa membuatnya tenang.
Tapi karena ego nya, membuat Maya mengalihkan perhatian nya pada Veronica. Kasihan, karena gadis itu dulunya hanyalah anak jalanan, yang mencari nafkah untuk dirinya sendiri.
Mata Maya mulai berkaca-kaca, wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk sekarang dia dongakan. Uh, badannya sedikit bergetar karena menahan tangisnya.
"Vina, ma.. maaf. Maafin mama," tangisnya. Vina menatap nya sendu. Tangannya ia kepalkan, menggenggam erat celana yang dipakainya.
Vina rindu, benar-benar rindu sosok seorang ibu, yang selalu memberikan nya perhatian. Bisakah Maya berubah, berubah menjadi seorang ibu yang didamba-dambakan anaknya.
Vina menggeleng sembari tersenyum. "Mama gak salah."
"Di sini yang salah adalah yang menulis setiap alur kehidupan dalam novel. Orang-orang yang tidak mengerti, bahwa hidup sedang dikontrol, malah berakhir menyakiti dirinya sendiri atas kemauan sang penulis."
Vina merasakan usapan halus pada pipi kirinya, dia memejamkan matanya merasakan ketulusan seorang ibu.
"Dia pembunuh! He killed your parents!" Teriak Maya dalam tangisnya. Vina memeluknya, berusaha menenangkan Maya.
Tertekan. Itu yang Maya rasakan, dirinya terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi, kepalanya serasa berputar. Nafasnya menjadi berat,dan masih sesenggukan. Dalam pelukan hangat sang anak, yang sudah lama tidak dirasakannya.
"Maaf. Maafin mama, kasih mama kesempatan untuk jadi mama yang lebih baik ke depannya."
...🥀🥀🥀...
Vina melihat pintu yang di depannya. Menggenggam erat kenop pintu. Kamar Audi di ujung lorong rumah sakit lantai empat. Kamar Lavender nomor 120. Kenop diputar, dan Vina membukanya.
Terlihat Audi sedang duduk di depan laptop nya. Ia yakin, Audi sedang mengetik, entah apa, mungkin revisi novelnya?
Vina masih di pintu, berdiri tanpa niat untuk mendekat. Audi sadar seseorang yang datang, tentu bangkit dari duduknya, mendekati Vina yang terdiam.
"Vin. Makasih, makasih udah mau nyelamatin gue." Kata Audi sembari membetulkan posisi kacamata nya. Vina menatap wajahnya Audi.
Sekitaran wajah ada beberapa lebam, dan luka, yang bahkan terlihat lebih parah dari Raditya dan Maya.
__ADS_1
"Lo tau," ucap Audi, sembari membalikkan tubuhnya meminum minumannya. "Tadi beberapa menit yang lalu, sebelum Lo dateng, anxiety disorder gue kambuh."
Audi kembali duduk di depan laptop nya, masih menatap lamat-lamat wajah Vina. "Dan yang dateng om gue. Gue boleh tau, waktu gue liat Lo dalam rumah Om gue, apa yang terjadi setelah itu?"
Vina menutup pintu kamar itu. "Lo gak ke kontrol, dan habis itu nyakitin om Lo. Gue juga," jelas Vina dengan singkat. "Oh iya satu lagi. Orang yang coba mengontrol Lo dateng."
Audi menunduk. Memandang sendu kedua tangannya, "a.. apa yang gue lakuin?"
"Ah, gak taulah. Gue kesini buat liat keadaan Lo aja, bukan mau jelasin yang udah lewat." Vina bersandar pada dinding depan Audi.
"Sorry~"
Vina hanya mengangguk, dan mengintip bacaan yang ada di laptop. "Apa yang Lo ketik disitu?"
Audi sadar sedari tadi Vina mengintip laptopnya, laptopnya digeser dan mengarahkan nya pada Vina. "Gue gak bisa buat semua kembali jadi semula, tapi setidaknya ini yang bisa gue bikin. Gue tulis kelanjutannya dengan lebih baik lagi."
Vina membaca per paragraf yang ada di laptop Audi. Tapi dengan cepat Audi tutup kembali laptopnya, agar tidak dibaca lebih banyak lagi.
"Loh, kok ditutup. Biarin gue baca, biar gue percaya," protes Vina. Alisnya mengerut tidak suka, dan bibirnya sedikit dimajukan.
"Jangan dibaca, nanti aja pas udah gue publish. Yang ada spoiler Lo nanti." Gerutu Audi.
Vina tersenyum. "Iya deh. Yang kepalanya kreatif banget! Gak kayak gue, pas ngegambar cuman bisa manusia lidi. Terus disuruh mikir cerpen atau novel genre romantis, yang gue bisa malah bikin cerita yang aneh-aneh."
Audi tertawa. Tangannya mengelap setitik air mata yang ada di ujung matanya. Lalu perlahan berhenti dengan sendirinya.
"Walaupun begitu, Lo berhasil. Berhasil, setidaknya ngerubah diri Lo jadi lebih baik lagi."
Audi menatap handphone yang terbuka, menampakkan wallpaper nya. Lukisan nya, lukisan dirinya, Vina, dan juga.. Sena.
"Gimana keadaan Sena, ya?" Tanya Audi pada dirinya sendiri, yang tidak sengaja didengar Vina.
"Dia benci gak sama Sasya? Sasya takut."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1