Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 69 : Why?


__ADS_3

Gio mengambil kacamatanya dari pangkal hidung nya. Setelah selesai membaca buku yang ada di tangannya, dan menutup nya. Terdiam, menatap keluar.


"Ayah. Seperti yang ayah bilang, orang tua Kak Rissa, dan Keyla menitipkan ke kita. Aku hanya bisa menjaga mereka seperti ini. Karena apa? Karena mereka tidak suka dikekang, aku terlalu posesif terhadap kehidupan mereka."


Itu adalah segala kata-kata yang ada dalam hatinya. Dia meminum coklat panas yang sudah disiapkan nya sedari tadi.


"Tapi setelah kembali melihat Kak Rissa yang ada di tubuh 'Vina', kecelakaan. Kesehatan nya menurun, malah semakin parah, ada sesuatu yang dalam otaknya."


Gio bersandar pada kursi. Dia sedang berada di markas Red Blood di Bogor. Sendirian. Dia mengingat setiap kata-perkata yang dikeluarkan oleh dokter yang merawat Vina, bukan Paul.


'Nak, Vina, kecelakaan yang terjadi padanya selalu mengenai kepalanya. Terjadi kerusakan pada otak. Selain itu, apakah nak, Vina mengalami kekerasan atau sesuatu hal yang menyakitinya semenjak dirinya anak-anak?


Karena dia juga mengalami Gangguan disosiatif dan


Depersonalisasi adalah kondisi kejiwaan dimana seseorang merasa bahwa sekelilingnya menjadi tidak nyata.


Saya mendengar nya bergumam, dunia ini tidak nyata, atau dirinya mau kembali menjadi seseorang yang dia selalu ucapkan.'


Gio memijit pelipisnya, mata nya berkaca-kaca. Separah itu, tapi dia tidak sanggup untuk membicarakan hal ini ke Vina, maupun ke yang lainnya, termasuk Keyla.


Keyla belum tahu apapun itu, mengenai penyakit Vina, karena dirinya yang meminta dokter yang memeriksa Vina agar tidak menjelaskan pada mereka. Mereka pasti akan syok berat mendengar nya.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?"


...🥀🥀🥀...


"Ah sudahlah. Gue harus nyari cara untuk menyelesaikan semuanya, mau ini dunia itu lah, inilah." Vina berusaha bangun dari tempat tidur nya, padahal seluruh anggota tubuhnya masih lemah, akibat kerusakan pada otaknya.


Dia tidak pernah diberitahu ada apa pada tubuh nya. Apa yang akan terjadi padanya, hanya berita biasa, supaya menenangkan diri, tidak panik. Vina terjatuh pada langkah yang ketiganya, dengan tenaganya berusaha bangun.


Ternyata sang adik masuk ke dalam kamarnya, membuat Keyla membantu Vina bangun. "Kak! Kakak mau kemana? Kenapa malah bangun? Kakak tuh masih lemah!"

__ADS_1


Lemah, ya? Dia jadi ingat, dulu adik kecil nya ini selalu menjadi yang terlemah dari nya, dan selalu saja menganggap lemah, dan tak akan berubah.


Lalu malah dirinya yang terlihat lemah di depan gadis itu.


"Iya, kakak tadi cuman mau keluar. Bosen di sini," jawab Vina, sembari mendudukkan bokong nya pada ujung tempat tidur. Tangannya mengelus puncak rambut Keyla.


"Kamu udah semakin dewasa, pasti udah bisa ngalahin kakak, ya, Key."


"Aku udah kuat kak, gak lemah lagi. Aku mau kayak kakak, kuat!" Balas Keyla, membuat ujung Vina tertarik membentuk senyuman. Terdiam beberapa saat setelah percakapan itu.


"Kakak cuman mau minta, kamu bisa lawan orang-orang jahat. Kamu bisa kuat di setiap saat, apapun masalahnya, ya. Karena, kakak gak bisa setiap saat ada untuk melindungi kamu, dan melindungi Red Blood."


...🥀🥀🥀...


Sena sudah mulai kembali seperti semula. Bahkan di hari pertamanya keluar dari rumah sakit, gadis itu ingin pergi ke kamar rawat Vina. Sena bersama Audi, beserta Krisna berjalan beriringan.


Sebenarnya Sena sangat menyayangkan, perasaan nya yang masih kecewa pada sang ibu. Kata-kata terakhir yang keluar dari mulut ibu nya, membuat dirinya tidak bisa bertemu lagi dengan ibunya.


"Sena, kamu tau? Vina tabrakan, kenapa ya? Kok bisa sih dia gitu?" Oceh Audi dari awal mereka menginjak lantai rumah sakit ini.


Krisna tidak mengerti, sang keponakan menjadi sangat cerewet sekali. Kecerewetan itu dimulai dari novel nya yang ter-hack oleh orang lain, sampai sekarang masih belum menemukan siapa pelakunya.


"Apa gue harus minta tolong sama Keyla? Agar bisa mencari tahu siapa yang telah menyalin seluruh database milik Sasya yang ada di laptopnya?"


Kadang Sena terpikir seperti itu, tapi rasanya tidak enak meminta tolong pada seseorang yang masih belum terlalu dekat dengannya. Dirinya melihat Keyla masuk ke dalam salah satu ruangan, yang dapat dia tebak itu adalah ruangan Vina.


"Itu Keyla kan? Memang itu ruangannya!" Seru Audi. Dan mereka beranjak ke sana, namun berhenti untuk membuka kenop pintu, mendengarkan pembicaraan mereka, tidak berniat untuk mengganggu percakapan yang terdengar cukup serius.


Menunggu beberapa saat, keheningan terjadi. Mereka masuk, setelah kalimat panjang yang mampu membuat Keyla terdiam menatap Vina dengan tajam, kalimat yang mungkin membuat Keyla sedikit marah.


"Kenapa kakak ngomong begitu?!" Batin Keyla. Dan dirinya menyambut ketiga orang yang baru saja dipersilahkan masuk.

__ADS_1


"Hai, Sena, Audi, dan Pak Krisna," sapa nya dengan ramah. Begitu juga mereka bertiga. "Silahkan duduk. Gimana keadaan Sena? Sudah membaik?"


"Udah, luka jahitannya udah mengering juga." Sena menoleh pada Vina yang masih terduduk di atas ranjang, menghadap mereka. "Gimana dengan Vina?"


"Kakak, dia baik-baik saja. Hanya saja, seperti nya ada suatu hal yang belum dokter beritahu pada kami, apa saja yang terjadi pada kak Vina, seperti ada yang ditutupi." Jelas Keyla. Iya, dia merasa janggal, dokter yang memeriksa, dan melakukan pengoperasian Vina itu, menampilkan guratan kebohongan di mimik wajah nya.


Tapi apa untungnya pak tua itu berbohong mengenai penyakit seseorang yang bahkan tak dikenalinya, 'kan?


"Ditutupi? Tapi buat apa?"


Keyla juga merasa aneh. Begitu juga tiga orang yang baru saja datang itu. Vina hanya terdiam memandangi mereka, dengan tatapan kosong lagi. Beberapa kali seperti pikirannya di awang-awang.


"Gue juga gak tau buat apa. Tapi haruskah memakai cara kasar, agar jujur?" Tanya nya dengan wajah polosnya.


Krisna tercengang dengan pertanyaan bodoh itu. "Jangan dengan cara kasar, bisa dibicarakan dengan tenang itu lebih baik," jawab Krisna.


"Lalu, kalau tetap saja tidak mau membuka mulut?"


"Pakai cara kasar," jawab Krisna dengan kekehan.


"Itu sama aja, paman bodoh." Sinis Audi, yang langsung digeplak Sena.


"Sudah lebih baik kalian diam aja." Sena berdeham dan menatap adik dari sahabatnya itu.


"Mungkin bisa kasar, tapi Lo tau kan batasannya? Jangan sampai membuat orang yang tak bersalah menjadi korban." Ucap Sena, membuat Keyla mengangguk membenarkan Sena.


"Iya, gue tau kok batasannya. Gue juga tau mungkin dokter itu ada sesuatu hal yang membuat mulutnya tertutup."


Vina membaringkan badannya di ranjang, dan menutupi dirinya dengan selimut, dan menutupi tubuhnya. Mendengarkan setiap pembicaraan mereka, supaya pikirannya tidak tertarik lagi ke dalam ruangan putih.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2