Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 66 : Xlovenos


__ADS_3

Suara seperti alarm membuat dirinya langsung mengecek handphone di sakunya. Di situ menunjukkan titik koordinat yang tidak jauh dari tempat dirinya berada. Dahinya menyernyit saat tahu bahwa orang yang dicarinya berada dalam frekuensi tempatnya.


"Lovrras," gumamnya saat melihat orang mengendap-endap, seakan menghindarinya. Dia tidak jadi mengarah ke parkiran mobil. Dia berlari, dan orang yang dikejarnya sadar, dan berlari menghindari nya.


"Tito tau!" Seru nya dalam hati. Kaki nya yang jenjang terus berlari, kini dia tahu apa gunanya tinggi nya. Ya, untuk ini. Untuk lari dari kejaran orang. Orang keji! Kejam! Ih, menakutkan.


"Uwa.. mama!" Pekik nya, Lovrras.


"Tito Petta Vilanova! Itu nama gue, bukan Mama!" Teriak Tito, mereka berdua menjadi pusat perhatian. Tapi, Tito tidak menghiraukan tatapan-tatapan aneh dari banyaknya orang.


BUAGHH...


Tito melompat saat tepat selangkah di belakang Lovrras, dan menendang kepala pria itu dengan sekali tendang, mengakibatkan Lovrras jadi terhempas ke samping, dan memegang kepalanya.


"ARGH! Shhh.." Ringis nya memegang kepalanya, berdarah. Tangannya bergetar hebat, saat melihat darah yang ada di tangan nya. Dia phobia darah. Tubuhnya kejang-kejang, tangan nya meremat rumput di telapak tangannya.


Untung saja Tito memakai masker, orang-orang jadi tidak bisa melihat dengan jelas wajah nya. "Makanya, jangan main-main sama kelompok Xlovenos, Lovrras! Kali ini gue lagi gak mau ngotorin tangan gue hari ini. Lagi pula gue mau pulang dulu, masak, laper soal nya."


Tito berbalik setelah menendang kembali tubuh Lovrras yang terbaring, dan berdenging, akibat phobia nya. "Bye, loser."


Lovrras terbatuk-batuk, dengan pandangan nya yang blur, dia merasakan orang-orang sekitarnya membantu. Dia merasa bodoh, karena sangat berani keluar dari kontrakannya. Dia tahu bahaya nya begini.


Dia mencoba bangun. "Tidak, makasih. Saya bisa sendiri."


Lovrras dengan tergesa-gesa bangkit dan berjalan tertatih-tatih ke jalan mengarah kontrakannya. "Uh.. badan gue remuk. Gak bisa liat jalanan."


Orang-orang yang berkerumun daritadi ada yang memapahnya, dan ada juga yang hanya memandang nya dengan rasa kasihan. Beberapa tidak menolongnya dari awal, dikarenakan takut akan nama kelompok yang diomongkan oleh pemuda yang tak diketahui siapa.


Xlovenos. Mafia bengis, yang seharusnya Red Blood bantai. Karena mereka lah musuh bebuyutan terdahulu, dari Red Blood.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Vina mengetik sesuatu di laptop depannya. Tadi, dia meminta tolong pada Keyla untuk membawakan laptop milik nya, yang ada di kamar. Kamar yang ada di rumah keluarga Callandra.


Namun, sampai sekarang batang hidung dari Edward belum terlihat. Apa yang terjadi pada nya? Dan apa yang sebenarnya dia lakukan? Setelah berpamitan kepada mereka berdua.


Edward sebenarnya tertutup, dan sangat susah diketahui asal-usulnya. Dan dia juga belum terlibat lebih jauh, dengan keluarga Edward. Tapi kelihatan dari wajah pemuda itu, pemuda itu banyak pikiran. Dan entah apa itu, terkadang dia juga gelisah.


"Tuhkan, kakak melamun lagi!" Lamunan Vina buyar, tangannya yang menscrolling mouse sempat terhenti, sekarang kembali melakukan pekerjaannya.


"Apaan. Kakak gak melamun," sanggah nya, sembari memutar bola matanya malas. Dan melirik Keyla yang tengah memandang nya dengan tatapan menyelidik.


"Kakak masih ingat kan, apa yang kita omongin tadi siang?" Tanya Keyla dengan bibir yang mengerucut dan dahinya yang menyernyit. Membuat Vina menatap gemas adiknya.


"Iya, kakak ingat, adikku."


"Gitu dong. Nah, sekarang kasih tau aku, kakak lagi mikirin apa?"


Gadis yang ditanya masih bimbang untuk menceritakan hal yang ia pikirkan. Tak mungkin dia berbicara kalau dia memikirkan Edward. Tapi pikiran nya kemarin berbeda dengan sekarang. Tangan nya mengetuk meja di depannya.


"Kakak bingung.. mau menjelaskan dari mana. Tapi intinya, saat di alam bawah sadar, kakak berada di dunia yang aneh 'menurut kakak'. Dan kakak rasa ada seseorang yang membuat kakak masuk ke dalam dunia yang tidak nyata itu!"


"Maksud nya kak?"


"Ada orang lain yang tahu sesuatu mengenai kakak." Keyla membulatkan matanya. Ada orang yang tahu sesuatu? Mengenai kakaknya? Apa itu? Apakah ada rahasia yang besar, sampai-sampai kakaknya dipermainkan di dalam dunia yang aneh itu?


"Orang itu tau kakak adalah ber-transmigrasi, dan memiliki dendam. Apa dia masih termasuk sebuah geng yang menjadi musuh Red Blood?"


Seperti nya benar dugaannya. Seharusnya dari awal dirinya menolak sang kakek untuk mengelola kelompok Red Blood, itu sama saja menemui ajal dengan cara cepat.


Apa kakek tua itu memiliki suatu rencana? Dirinya saja sampai sekarang tidak mengetahui kenapa kakek-kakek itu membuat alat Transmigration communicate.


Tangan Vina yang satunya meremas rambut nya pusing. "Dibuat pikiran lagi, dengan semua ini."

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Tawa miris terdengar di ruangan bawah tanah, di rumah sakit itu. Kaki nya berjalan, dengan tangan yang mengepal. Mata nya merah dengan amarah yang di ujung kepala. Yang sewaktu-waktu bisa meledak.


"CALOS! UDAH CUKUP GUE LIAT LO NYAKITIN VINA TERUS. ABANG MANA YANG TEGA BUAT ASIKNYA TERSAKITI!" Teriak nya di menggelegar di ruangan gelap itu.


Calos hanya bisa menatapnya dari bawah, tenaga nya habis. Tubuhnya sudah babak belur, darah keluar dari sisi-sisi lukanya. Terbaring tak berdaya. Mata nya memang menatap sebal pada pemuda yang membuatnya begini.


"Edward." Geramnya. "Biasanya Lo gak ikut campur sama urusan Vina. Tapi sekarang Lo ikut, udah gak jadi pecundang Lo?" Ledeknya.


Pemuda itu, Edward, menendang lagi tubuh Calos sekali lagi. "Gue akui, selama ini gue pecundang. Tapi gue gak sesampah itu nyakitin orang yang gue cintai. Gue tau Lo cinta kan sama Vina!" Sentak nya.


Calos yang meringis karena tendangan itu, seketika terdiam. Benar, apa yang dibicarakan Edward. Kenyataan. Kenapa dia begitu sampah? Tapi, sifat nya memang begitu. Apa yang dia inginkan harus terkabul.


Dan keinginannya adalah menjadikan Vina pasangan hidupnya. Tapi kata-kata hinaan dari Vina, membuat nya jadi geram. Dan mengakibatkan dirinya ingin membuat Vina jera, agar tidak membuatnya marah lagi. Dengan cara mencelakakan nya. Menyakiti nya.


Dia rasa, dirinya sangat gila dengan Vina. Terobsesi? Seperti nya begitu. Hhh.. ketawa dalam hati dirinya.


"Maaf," lirih Calos.


Satu kata itu membuat Edward meledak. Dia melampiaskan amarahnya pada Calos. Dan menduduki perut nya.


"Maaf apaan Lo?! Semua udah terjadi, Vina udah kecelakaan, dia sakit, terbaring lemah di rumah sakit!! LO GILA?! LO BANGSAT BANGET! GUE GAK TERIMA LO KEK GITU KE VINA!"


Calos jadi terpancing emosi. "LO JUGA NGAPAIN IKUTAN, HAH?! LO BUKAN SIAPA-SIAPA NYA VINA! LO CAMKAN ITU!" Balas Calos, sembari mengelak dari pukulan-pukulan Edward.


Mendengar itu, Edward menggeram, mata nya berkaca-kaca, pukulan nya yang semula kencang, lama-kelamaan menjadi perlahan. Masih dengan terduduk di atasnya, dan tangan terkepal.


"Iya, bener. Gue bukan siapa-siapa nya." Tawa miris nya terdengar di telinga Calos. "Tapi, Lo lebih bukan siapa-siapa dia. Karena gue tau, Lo cuman tiri sama dia!"


Tubuh Calos menegang di tempatnya.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2