
Elina dan beberapa polisi lainnya menodongkan senjata mereka dari balik mobil perang mereka. Xlovenos tertawa, bersama kedua ketua mafia besar, yaitu Yellow Radeon juga Flandora.
"Kalian dibayar berapa, untuk menjaga mafia ini?" Tunjuk Xlovenos pada markas Red Blood, tangannya sudah berdarah-darah, ditangannya sudah banyak orang mati. Wajah juga tubuh nya juga sudah ada beberapa luka.
"Mereka sudah membunuh anak buah ku, orang kepercayaan ku, dan banyak lagi." Xlovenos menatap polos ada mereka.
Elina menatap datar, dan menodongkan senjata api miliknya. Dan tembakan kembali mengawali kegiatan tembak-menembak yang sempat tertunda tadi.
"Serang!"
..._____...
"Kak, cepat. Red Blood butuh kita!" Vina tengah mengendarai mobil sport miliknya dari bawah goa tadi. Dengan kecepatan di atas rata-rata, dan melewati beberapa mobil, dirinya membawa mobil itu ke markas yang tak terlalu jauh dari situ.
Red Blood, Floan, Polisi, telah perang dengan sangat sengit. Itulah di pengelihatan mereka. "Key, kamu siap?"
Keyla mengangguk, "siap!"
Vina hampir sampai dan seakan menabrak orang-orang yang sedang bertarung itu, mengerem dan memutar-mutar kan stir mobilnya, dan dengan mulus Keyla keluar dan menembaki anggota Floan.
Mengapa dia tahu siapa yang akan dia tembak? Karena Red Blood ia perintahkan untuk memakai jaket tanpa lengan kebangsaan Red Blood. Dia bisa membedakannya.
Vina menabrak beberapa anggota terakhir dari Floan. Dan langsung keluar dari mobilnya. Xlovenos mengumpat keras.
"Sial. Tinggal sedikit lagi," gumamnya. Xlovenos tertawa, sepertinya sudah gila dia.
Vina mendekat dengan wajahnya masih memakai topeng, "Xlovenos malaikat maut masih mengampuni mu saat di mobil terakhir kali aku melihat mu. Tapi kenapa tidak kamu pakai untuk hal yang baik kesempatan kedua itu?"
Xlovenos meludah, "siapa kamu?! Kamu gak tau apa-apa tentang kesempatan atau kematian apapun!"
Tangannya naik mengarah pada topengnya, dan melepas perlahan. Dan itu disaksikan oleh Floan, dengan mulut yang ternganga. Vina? Masih hidup?!
"Xlovenos anda gagal?!"
Xlovenos mengatupkan giginya kesal, memegang erat senjata di tangannya. "Mahluk mati seharusnya ada di tanah bersama reruntuhan pesawat itu!"
BUG!
Keyla memukul pelipisnya dari samping, membuat Xlovenos jadi terhuyung, "anda sudah gila!"
Vina menjatuhkan topengnya, dan tersenyum mengerikan. Dia mengeluarkan pisau lipatnya, menggerakkan dengan lihai. Keyla ditarik mundur Gio mundur, agar tak terkena hal yang berbahaya
Roby menjaga Keyla, dan Gio menatap ketua Yellow Radeon dan Flandora. Menatap mereka yang sudah kelelahan bahkan kecewa juga sedih karena anggota nya banyak yang tewas. Polisi juga, dari 18 polisi termasuk Elina 5 diantaranya luka-luka, sisanya mengalami kematian. Elina memang dilindungi, tapi Elina juga ingin melindungi.
__ADS_1
Dia mendekati mereka berdua. "Kalian masih ingin bekerjasama dengan Xlovenos? Padahal kalian hanya dimanfaatkan."
Yellow Radeon dan Flandora langsung menodongkan senjata padanya. Gio mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan wajah tengil. Dan mengedikkan bahunya.
"Kamu?! Red Blood!" Geram Flandora.
"Apa yang saya katakan benar adanya. Bagaimana dosa kalian diampuni, tapi kalian harus kerja sama dengan kami, dan bukan Xlovenos? Kalian tidak akan mati mengenaskan."
"Sampai mati pun, saya tak akan sudi!" Flandora berdecih jijik. Gio tersenyum kesal.
"Kalau itu pilihan mu," ujarnya. Dengan gerakan cepat dia mengambil gagang katana yang ada di belakang kepala nya dan menebas Flandora tepat di kepalanya. Darahnya terciprat ke mana-mana, ke wajahnya juga ke tubuh Yellow Radeon.
Gio menatap kepala Flandora yang tergelinding mendekatinya, menendangnya jauh darinya. "Jadi tuan Yellow Radeon? Bagaimana dengan anda?"
Gio memandang dengan seram, membuat Yellow Radeon sedikit gemetar, dia membuang pistolnya. Dia sudah banyak mendengar rumor bahwa Red Blood adalah sebuah monster tidur, yang jika terbangun akan membantai habis penyebab orang yang membuatnya bangun.
"Aku akan mengikuti perintah mu!" Yellow Radeon membungkuk dan meminta ampun.
"Kalau begitu bunuh Flandora dengan tangan mu." Gio mengulurkan katana nya ke tangan Yellow Radeon.
Yellow Radeon mendongak aneh, "ta.. Tapikan—"
Flandora telah mati, mayatnya ada di samping nya, apa lagi yang harus dia bunuh?
Yellow Radeon dengan panik mengambil katana itu dengan tangan tanpa sarung nya. Dan menusuk berkali-kali tubuh Flandora. Gio tersenyum senang, dan memujinya.
Vina melirik Gio, dan kemudian ke Xlovenos. "Anda tahu? Anda akan menjadi mereka berdua, jika tidak mengikuti peraturan kami."
Xlovenos terkekeh, "kalian gila. Membunuh tanpa ragu, itu adalah sistem kalian kan?"
"Maksud perkataan anda apa?"
Xlovenos membulatkan matanya, ketika kakek William datang ke tempat itu. Lalu kegirangan memanggil nya, "Mich, itu kau kan?"
Lalu wajahnya berubah dengan cepat dari kegirangan jadi seram, "kau itu kan yang menyerang adik laki-laki ku!"
Michael, menunduk sedih. "Ya, dan aku merasa bersalah, dengan apa yang aku lakukan di saat aku memimpin Red Blood. Menjadi pemimpin, membuatku kalap."
"Mich.. Kau jahat, kakek tua Bangka sialan!"
Michael menunduk, "Maaf, maafkan aku. Maaf kan aku, Venos!"
Vina berlari saat senjata Xlovenos mengarah pada Kakeknya. Dirinya tak akan segan-segan kalau keluarganya terluka, walau sedikit. Xlovenos sudah membuat keluarganya terluka lebih dari yang ia bayangkan!
__ADS_1
Vina ingin melindungi tubuh ringkih kakeknya, yang terkejut bahwa dia hidup, dan berdiri di sini. Gio menatap Xlovenos, dan juga berlari ke arah mereka kakek William. Tapi dugaannya salah.
"Kau pikir aku akan menembak mu? Aku ingin membuat mu menderita dulu."
Roby sedang mengalami perkelahian, ternyata ada beberapa yang masih bisa bangun dan menghajarnya. Keyla juga tapi lebih sedikit. Senjatanya mengarah pada kepala Keyla.
"Aku ingin membuat mu menderita!" Seiring teriakan itu, suara tembakan terdengar menggema.
DORRR!!
Semua diam. Roby sudah mengalahkan beberapa dari mereka yang bangun itu. Keyla menatap kosong ke depannya. Melihat Gio melindunginya dengan tubuh itu.
Dengan jarak nya yang hanya beberapa meter dari nya, dia masih bisa mendengar Gio berbicara dalam sakitnya. Jatuh berlutut, dipandangi Keyla, Roby, Vina, dan Michael, juga Xlovenos.
"Aku mencintaimu dengan segenap hati, jiwa dan raga ini. Janji ku 'tuk melindungi mu terpenuhi, aku tak ingin kebobolan lagi," ujarnya terdengar serak dan tapi jelas. Tersenyum tipis lalu akan ambruk. Keyla dengan cepat memapah Gio dibantu Roby.
Vina menggeram, matanya menggelap. Sisi Willy nya keluar. "Kamu membuatku muak."
Melompat ke arah Xlovenos dan menendang nya dengan gerakan berputar. Membuat pistol itu lepas dari tangan nya. "Bajingan seperti mu, tidak diperbolehkan hidup!"
Xlovenos diberi tendangan juga pukulan berkali kali, dia hanya bisa membuat pertahanan, dan hanya bisa sesekali mendapatkan celah untuk memukul. Walau sepertinya Vina tidak merasakan sakit. Padahal darah sudah mengalir dari luka yang dibuat Xlovenos.
Tapi laki-laki di hadapannya lebih parah. Wajahnya sudah babak belur tak beraturan. Dengan tendangan terakhir yang dia kenai dengan keras pada leher Xlovenos. Membuat tubuh itu ambruk, tubuh itu tidak bisa bergerak lagi, hanya mata Xlovenos yang bisa bergetar ketakutan.
Vina, ah, bukan, ini Willy. Memakai sarung pada tangannya yang sudah terluka dan terdapat darahnya tercampur milik Xlovenos disitu, menutupnya dan mengambil pistol Xlovenos yang tergeletak. Michael, dan yang lainnya hanya bisa melihat kebengisan Willy.
Tangan kanan bersenjata itu terarah pada tubuh Xlovenos.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Suara itu bergema di tengah-tengah mereka. Ditembak nya pada perut, kaki kiri, kaki kanan, dan terakhir, kepalanya. "Mati!" Seru Willy.
Selesai sudah, tapi lalu semua menggelap.
..._____...
BERSAMBUNG...
__ADS_1