Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 68 : Tears


__ADS_3

"Lo tau dari mana?" desis Calos mencoba mendudukkan dirinya. Dan dengan tenaga tersisa dia mendorong Edward. Tapi, tidak membuat Edward bergerak sedikit pun.


"Lo tau dari mana, Edward?" Tanya nya sekali lagi. Edward memiringkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Loh, bener ya, rupanya? Padahal tadi aku nebak doang loh." Ledek nya.


Calos membulatkan matanya. Dan sekejap memukul tepat di ujung bibirnya Edward dengan sekuat tenaga, walau Edward tidak merasakan sakit. Edward malah berdiri, dan mengelap ujung bibirnya.


"Udahlah, Calos. Lo udah gak ada tenaga lagi, harus nya Lo hemat tenaga Lo, dari pada abisin tenaga Lo untuk nyerang gue." Pungkas Edward. "Oh iya, lusa gue tanding. Lo datang ya," ajak Edward menatap ke bawah, ke arah Calos.


"Ah, gue baru sadar. Lo kan buat berdiri aja gak bisa, gimana caranya buat pergi ke pertandingan gue lusa, ya." Calos menggigit bibir bawahnya dengan keras. Betapa malunya dia, kalah dengan pecundang di depannya.


Padahal Edward hanya seorang cupu yang berani-beraninya mendekati Vina. Seorang cupu,yang berani-beraninya membuat nya bahkan lumpuh tenaga seperti ini!


Edward pergi, dengan meninggalkan Calos, setengah mati.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Kiara sedang memakan sarapannya tanpa menoleh pada Prodibyo yang wajahnya memerah, karena sebal pada istri barunya yang sudah tidak mempunyai peduli padanya.


"Ugh, masih baik saya membiarkan kamu menikmati harta saya!" Batin Prodibyo. Tangannya mengayun, tapu sebuah teriakkan menghentikan nya. Itu berasal dari ruang tamu.


Ada yang bertamu. Tapi siapa? Pria itu berjalan mengarah pada pintu keluar, sebuah pesanan misterius? Dia membuka kotak itu. Dan membaca surat nya.


'From : β€”


To : Prodibyo


Anda tidak akan mengenal saya. Tapi saya akan tahu, setiap perlakuan anda pada istri Anda, dan setiap perbuatan semena-mena anda. Saya bahkan memiliki setiap foto anda, yang melakukan perbuatan bajingan.


Tapi tenang saya tidak akan memberikannya pada orang tua mu, yang sudah bau tanah itu. Saya heran, mereka masih kuat untuk hidup, ya. Bahkan masih membiarkan Anda menikmati harta yang mereka miliki.

__ADS_1


Mereka tidak memberikan harta mereka seutuhnya ke anda, karena anda memang bukan orang yang dapat dipercaya, Prodibyo. Kalau mereka tahu semua nya tentang mu ini, mungkin mereka akan memberikan hartanya ke orang lain, seperti istri mu mungkin? Atau memberikannya ke panti asuhan?


Orang tua mu kan baik sekali, loh.


Note : Hanya mengingatkan, mereka tidak segan-segan membuat Anda bangkrut dalam satu jentikkan tangan.'


Prodibyo meremas kertas itu dan memasukkannya ke dalam kotak. Lalu melihat-lihat foto yang ada di dalam kotak. Matanya memerah, siapa yang berani mengancam nya seperti ini?


Berarti, ada seseorang yang selalu mengikutinya selama ini. Prodibyo menelepon salah satu tangan kanannya.


"Cepat ke sini, saya ada pekerjaan buat mu. Cari siapa yang mengikuti ku, saat aku pergi kemana pun. Dan jika ketahuan siapa dia, cepat tangkap dia. Hidup atau mati!"


Orang dibalik dinding sedari tadi bersembunyi tersenyum miring. "Ini baru langkah pertama, Prodibyo. Dasar pria tua!"


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Vina masih merasa aneh. Sebenarnya ada beberapa kali dirinya seperti melayang di suatu ruangan putih, tapi kadang keluar dari ruangan itu dan bisa melihat dunia luar.


"Apa yang terjadi. Kenapa gue bisa merasakan kalau jiwa ini punya dua tubuh?" Dia menunduk, dan melihat kedua tangan nya.


Vina berkedip pelan. Penglihatan nya memburam. "Pengen jadi Rissa, lagi deh. Gak mau jadi Vina, kalau gue malah jadi gak percaya sama dunia ini."


Keyla sedang keluar entah kemana gadis itu pergi. Meninggalkan Vina, yang melamunkan dunia novel. Kepalanya berdenyut sakit. Benturan itu menampilkan efek samping dari sebelum kecelakaan, sampai sekarang, perbedaan nya sangat lah jelas.


"Sebenarnya gue siapa? Vina atau Rissa? Sebagai adik, atau sebagai kakak?"


...πŸ’€πŸ’€πŸ’€...


"Kak! Adik kok gak ada? Nenek juga, ayah sama bunda juga!" Tangis Keyla meraung-raung. Kakek menenangkan Keyla kecil yang menangis. Dan Rissa hanya bisa diam, dan tak dapat berbuat apa-apa.


"Nenek udah meninggal, ayah sama bunda juga udah meninggal. Adik kecil hilang, mungkin ditelan bumi," jelas Rissa dengan wajah datar. Di ujung matanya masih ada sisa air mata yang sudah mengering.

__ADS_1


"Key. Jangan nangis terus. Ini udah hari kedua, sejak kematian mereka. Kamu harus kuat, jangan lemah." Setelah mengatakan itu, Rissa berbalik dan pergi ke kamar nya. Menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras.


Kakek tua itu hanya bisa menghela nafas. Benar dikatakan cucu nya yang satu itu. "Keyla. Benar apa yang kakak kamu bilang, kamu jangan nangis terus, kamu harus kuat, kayak kakak kamu, ya."


Keyla mencoba memberhentikan tangisnya. "I.. iya kakek. Keyla mau mencoba jadi kuat, kayak kakak. Kakak kuat! Keyla juga mau!" Ujar nya dengan nafas yang tersendat karena ingus yang keluar.


Kakek tua itu hanya bisa tersenyum, dan dia akan membantu cucu-cucu nya agar bisa manjadi kuat, saat menghadapi setiap masalah. Dia juga akan begitu, bersifat tegas, dan tidak akan lemah.


Karena dia lah yang akan menjadi panutan Cucu-cucu nya. Siapa lagi yang akan menjadi contoh kedua cucu nya?


Satu lagi. Dia akan berusaha mencari Davina. Saat kemarin melihat CCTV, dia melihat cucu nya yang paling kecil itu masih hidup! Dan seseorang mengambilnya. Tapi, orang itu kenapa meninggalkan tanpa membantu orang-orang yang ada dalam kecelakaan itu?!


Keyla dipinta untuk menyusul sang kakak ke kamar, dan tidur bersama nya. Dan dirinya, mencari tahu lagi keberadaan cucu bungsunya, yang tidak terlihat siapa yang mengambilnya, atau itu adalah penculikan?


"Kenapa kita tidak meminta polisi untuk membantu?" Tanya seorang pria yang sekarang di samping kakek itu.


"Tidak. Mereka pasti tidak bisa membantu. Kamu dan squad mu, tolong cari cucu ku, ya." Lalu kakek itu pergi ke kamar satu nya, kamar miliknya.


Pria itu terdiam sambil melihat pintu yang sudah tertutup rapat itu.


"Ayah. Apakah Keyla baik-baik saja? Aku mendengar nya menangis terus dari tadi." Seorang anak kecil datang ke ayah nya dan menarik-narik kecil ujung kemeja sang ayah.


Pria itu berjongkok di depan sang anak. "Gio," senyum pria itu. "Gio, saat kamu sudah besar nanti, apapun yang terjadi, janji ya sama ayah. Kamu harus jagain terus Keyla, sama kak Rissa!"


Pria itu mengusap rambut ikal sang anak laki-lakinya yang masih kecil itu, sembari mengulurkan jari kelingkingnya. Anak itu tersenyum. Dan mengaitkan kelingking nya dengan kelingking ayah nya.


"Iya, ayah! Gio janji! Keyla dan kak Rissa, bakal Gio jagain terus!"


Pria itu tersenyum. "Tepati lah, nak. Jangan buat, keluarga William berduka lagi."


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2