Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 79 : Love Me Like You Do


__ADS_3

Lagi-lagi aku ikut campur dalam dunia gelap ini, karena keinginan ku sendiri. Aku melihat mata itu, mata yang penuh sedih dan lelah, setelah aku mati saat menjadi Rissa, kakek malah melimpahkan semuanya ada adikku.


Aku tau, bahwa tidak ada lagi yang bisa dipercaya untuk mengurus semua ini. Tak ada anak yang bahkan bisa ia tangguhkan, anak kakek mati, istrinya pun, bahkan cucu pertamanya juga, yang kumaksud adalah diriku.


Aku sadar, betapa besar perjuangannya untuk menempuh jarak yang begitu banyak. Kakek pernah sedikit bercerita mengenai perjuangan nya membangun perusahaan, dan Red Blood. Dan itu, sangat lah menyakitkan.


Mata ku menatap monitor besar yang menampakkan bahwa Xlovenos benar-benar melakukan perlawanan. Bahkan aku menyuruh semua anggota bagian barat untuk turun tangan melawan mereka.


Entahlah apa yang dipikirkan adik ku sekarang. Dia di hadapan ku, duduk diam tanpa ekspresi. Aku bisa merasakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Apakah aku ada salah? Sepertinya mood nya sedang jelek.


"Kak," panggilnya yang tiba-tiba membuat ku sedikit tersentak.


"Y.. ya?"


Dia akhirnya menatap ku, dan sedikit menyeringai. "Katanya tidak mau membantu ku, kata mu, kakak gak mau masuk ke dunia seperti ini lagi. Lalu, kenapa?"


"Hal konyol seperti itu, kenapa dipertanyakan?" Haish. Sudahlah, juga bingung kenapa dia tiba-tiba bertanya. Ku bangun dari duduk ku, berjalan menjauhinya.


"Apa karena kakak khawatir sama aku? Atau emang peduli kakak hanya karena kekayaan ini?"


Yak! Apa lagi sih? Kenapa dia jadi bertanya yang tidak-tidak? Apakah setelah masalah di rumah membuatnya terpentok sesuatu?


"Kak, apa waktu dulu, aku disayang kakek juga? Seperti kakek menyayangi mu?"


Tangan ku mengepal, tadinya aku bermaksud ikut turun untuk menghajar Xlovenos, tapi pertanyaan aneh Keyla yang tiada henti itu membuat ku berpikir, apa yang membuat nya seperti ini?


Keyla menggenggam erat gelas di tangan nya dan meminumnya perlahan. "Oh iya, aku yang lemah gini, mana disayang sama Kakek."


"Kakak diam saja, karena itu semua benar kan?" Dia bertanya sembari mengangkat kepalanya menatapku.


Aku mendekati nya berjongkok di depannya. "Bahkan aku lebih cengeng dari mu, Kay."


Air matanya menetes tanpa dikomandani, "bohong~"


Aku tersenyum, "kakek menyayangi mu, seperti dia menyayangi anaknya, dan seperti dia menyayangi ku. Kamu bahkan dipercayai untuk membantu nya menjalankan ini semua."


Kulihat dia mengigit bibirnya. Aku menggeleng menyuruh nya untuk tidak melakukan itu, takut itu menyakiti nya.


"Kak, aku tau kalau kakek menyuruh kelompok Aiden membuat alat Transmigration communicate itu, untuk bisa berbicara pada mu, selain menukar tubuh dengan yang lain."


Aku menyernyit, "kamu.. tau itu semua dari siapa?"


"Aiden, dia siuman dan menjelaskan mengapa alat itu dibuat. Dia bilang bahwa kakek ingin bisa berbicara pada cucunya. Aku gak tau sebenarnya kakek tua itu sudah tau apa nggak tentang mu," jelas Keyla padaku.

__ADS_1


"Jadi itu sebabnya," gumam ku.


"Hung?" Dia mengerjapkan matanya memandangku.


"Itukah sebabnya, kamu bilang kakek lebih menyayangi ku?"


Keyla mengembungkan mulutnya, dan mengangguk. "Saat ke sini, Paul bilang Aiden sudah mau menjelaskan semuanya. Dia bilang kalau kakak gak angkat telepon darinya."


Aaaa.. rupanya dia yang mengganggu ku saat menyetir.


Aku mengelus rambut Keyla dengan lembut. "Key, apapun yang terjadi, kakak pasti yang pertama yang paling menyayangi mu!" Seru ku dengan semangat, membuatnya terkekeh mendengar suara ku.


"Aku juga menyayangimu, kak."


"Jangan terluka," ucapnya. Membuat ku mengangguk, aku tau dia tak rela aku kembali turun untuk bertempur melawan Xlovenos. Aku takut mati, tapi mereka membutuhkan seorang pemimpin.


Keyla, doakan kakak yang terbaik. Walau dirimu gelisah, karena demi keamananmu aku rela mengorbankan diri lagi.


...🥀🥀🥀...


Roby menunduk, dirinya di hadapan Vero. Dia tahu, perempuan di depannya memang jahat, seorang yang telah melukai, dan membuat nama baik Vina hancur di sekolah. Tapi sebagai laki-laki sejati dirinya harus bertanggungjawab.


"Vero.. maaf. Maaf atas semua yang terjadi pada mu. Namun, apakah kamu mau, untuk bersanding dengan ku, dan merawat anak itu bersama?"


Vero memang meneteskan air mata, ia kira pemuda di depannya memang bejat. Tapi, ternyata dia tetap saja ingin bertanggung jawab. Mulutnya terbuka ingin menjawab, namun dari arah pintu depan ada orang yang memotong.


Yang lain termasuk Roby dan Vero menoleh pada pemuda yang masuk ke dalam rumah dengan tidak sopan. Wajahnya merah, dan senyuman menjijikan itu ia tampilkan.


"Siapa laki-laki menjijikkan ini?" Tanya Amanda dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Tak punya sopan santun," cela Jane. Kevin hanya mengangguk membenarkan ucapan kedua gadis itu.


"Dia.. Avrenzo," kata Gio yang memandang datar pemuda itu, yang sedang berjalan ke arah mereka, dengan langkah yang limbung. "Seperti nya ada orang pemabuk di sini," tukas Gio tersenyum miring.


Vero bungkam, tangan yang bergetar digenggam erat oleh Roby. Membuat ia menoleh pada pemuda itu, yang membuatnya tetap tenang.


Avrenzo menggaruk kepalanya, "ish, masa masih mau sih sama cewek yang mau sana-sini. Kemarin itu aja, suruhan ku bawa dia ke mobil aja dia mau," tunjuk Avrenzo.


"Pembicaraan Lo kacau, Zo." Gio menggeram melihat betapa menyebalkan pemuda itu.


"Hei, Lo gak liat ya? Bahkan gue ngeliat videonya, dia kerjanya nemenin orang. Itu itu dan itu," tunjuk Avrenzo ke sembarang arah, lalu limbung ke lantai, dengan tubuh terlentang.


"Vero itu ular. Vero itu perempuan sok suci," ledek Avrenzo yang berusaha untuk bangun. "Bisa aja anak itu bukan milik mu," tawanya.

__ADS_1


"Yak! Laki-laki gila!" Roby berteriak marah. Dan menarik Avrenzo bangun, dan memukulnya dengan keras. "Bahkan mulut mu melebihi sampah, bodoh!"


Roby mundur, melihat kembali ke Vero. Vero memandang kosong ke lantai rumah. Benar, dampak nya begitu besar. Tapi, bahkan penyesalan tak cukup untuk dirinya yang begitu hina ini.


Vero terkekeh sendu, dia menatap Roby yang melangkah menuju nya. "Itu, mungkin benar, Roby. Avrenzo mungkin benar, aku cuman perempuan ular yang mau sana-sini."


Roby memeluk Vero, menenggelamkan tubuh ringkih itu di badannya. Ia mendengar Vero tetap bergumam dalam isakkan nya.


"Menangis lah, Vero. Menangis lah, keluarkan semua beban mu. Aku tau, ini semua bukan kemauan mu."


Samar-samar Roby mendengar suara gumaman Vero. "Aku hancur, karena diri ku sendiri."


Roby memejamkan matanya, mengusap kepala Vero mencoba menenangkannya. Yang lain bisa merasakan bahwa hawa sekitar malah menjadi kesedihan dan kemarahan. Kevin membantu Gio membawa Avrenzo keluar, walau pemuda itu berontak.


Di luar pagar rumah dari Vina, Gio melemparkan tubuh Avrenzo. Membuat pemuda itu tidak terima dan menarik Gio dan hendak memukul nya, namun Kevin menahan nya.


"Diem," geram Kevin berusaha menahan Avrenzo. Namun, Kevin memang masih kalah dalam hal fisik, membuat Avrenzo dapat menyikut Kevin dan memukul ujung bibir Kevin, sampai mengeluarkan darah. Gio yang melihat itu, langsung membalas pukulan yang diperbuat Avrenzo.


Kevin hanya tersenyum sendu. "Hm, gue tau, gue begitu lemah. Apa dengan begini gue bisa jagain orang yang gue cinta?"


Avrenzo kabur dengan membawa motor nya yang terparkir beberapa meter di sampingnya, setelah dipukuli Gio. "Awas aja Lo!"


Gio menepak kedua tangan nya menghilang kan debu yang ada, is menengok ke Kevin yang terdiam. Memegangi perut dan ujung bibirnya yang terluka. Mengajak nya ke dalam. "Gio."


"Ya?"


"Tolong bantu gue, buat meningkatkan kemampuan gue."


Gio tersenyum. "Tentu. Itu yang gue tungguin. Keseriusan lo."


Kembali ke Roby. Dirinya menggendong Vero yang tertidur ala bridal style, dan membawa nya ke dalam kamar Vina, memang Vina yang menyuruhnya memakai kamar sang ketua Red Blood.


Kevin masuk bersama Gio. Membuat kedua gadis itu terbangun dari duduknya. Jane menyernyitkan dahinya menatap Kevin yang memalingkan wajahnya, seperti menghindari tatapan matanya.


"Itu, wajah Lo ngapa dah?" Tanya Jane penasaran. Bagaimana tidak, perasaan tadi tidak ada, sekarang tiba-tiba ada. Amanda dengan segera mendekat pada Kevin memeriksa wajah pemuda itu. Tapi dengan tidak sengaja Kevin menepis tangan Amanda, membuat gadis itu terkesiap.


Gio hanya tersenyum tipis, ia tahu tekad Kevin yang sebenarnya sekarang. Ya, untuk melindungi Amanda, itu lah bukti keseriusan nya. Dia ingin menjadi kuat terlebih dahulu, sebelum mendekati gadis itu sebagai laki-laki.


"Gue gak papa." Walau Kevin kaget dengan refleks nya yang membuat menepis Amanda, tapi tak terhindarkan matanya melihat kekhawatiran gadis itu padanya. Jane itu hanya tersenyum memandang Kevin yang terdiam.


Kevin seperti menghindari Amanda. Pemuda itu melangkah melewati Amanda, menuju ruang tamu. Dan Amanda merasa kehilangan untuk pertama kalinya.


'Kemana Kevin yang dulu selalu mencari perhatian nya?'

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2