Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 33 : We are just enemies


__ADS_3

Sena mengetuk perlahan pintu kamar di depannya. Setelah Vina mengirimkan pesan berisikan nama dan nomor kamar, dirinya bertanya ke salah satu perawat. Orang yang ada di dalam mengizinkan nya masuk.


"Vin?" Panggil Sena saat masuk. Sungguh tidak sopan anak ini, ini kamar orang lain, bukannya permisi dulu atau salam. Vina tersenyum. Gio hanya memasang wajah datar.


"Siapa dia ka— Vin?" Tanya Keyla yang masih terbaring di atas ranjang. Sena menatap satu persatu orang-orang di dalam kamar. Seperti terintimidasi oleh tatapan pemuda di ujung sana.


Vina melirik singkat Keyla, dan kembali menatap Sena yang berdiri kaku di depan pintu. "Sena. Namanya Sena. Sahabat aku."


"Sini Sena." Ajak Vina untuk Sena mendekatinya. Sena berjalan mendekat, sedikit canggung dengan keadaan sekitar.


"Na, kenalin ini Keyla."


"G.. gue tau. Kepala sekolah yang baru kan." Iris mata Sena menatap Keyla. Keyla mengalihkan pandangan nya. Mengangguk tipis.


"Yep. Salaman dong, kenalan gitu. Biar akrab." Vina mengambil tangan kanan Sena, dan tangan kanan Keyla untuk berjabat tangan.


Keyla tersenyum tipis. "Gue Keyla Maharani William. Panggil aja Keyla. Biar akrab."


Sena membalas senyuman itu. "Gue Sena Inara Galandra. Panggil aja Sena."


"William? Gak asing." Batin Sena.


Vina terkekeh. Lalu menatap Gio, yang hanya bergeming di tempatnya, entah apa yang dipikirkan oleh nya. Tidak seperti biasanya. Dulu Gio paling ceria, dan menghibur para anggota termasuk dirinya jika ada yang sedih.


Tapi, perubahannya sekarang membuat Vina sedikit khawatir. Karena apa sebenarnya. Apa karena kematian nya?


Gio yang hanya diam, kini berjalan mendekati mereka bertiga. "Key."


Atensi Keyla teralihkan. Menatap bingung Gio.


"Gue balik dulu. Gue gak mau mengganggu kalian." Gio membungkuk hormat. Dan berbalik menjauhi mereka, dan hilang dibalik pintu.


"Gio berubah." Ucap Vina. Keyla mengangguk. Sena mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti apa yang mereka katakan, hanya dapat menggaruk tengkuknya.


...🥀🥀🥀...


Martin membuka bungkus rokok, dan menyulutkan nya. Menghisapnya pelan sembari menikmati pemandangan dari rooftop gedung itu. Membiarkan angin mengenai badan nya yang baru saja pulih.


Memikirkan bagaimana nasibnya ke depan. Mengenai Aiden yang bahkan sudah menganggap nya tidak berguna. Dia harus mengembalikan kepercayaan Aiden lagi.

__ADS_1


Harus apa? Apa dia harus membunuh ketua Red Blood dan membawa kepalanya ke hadapan Aiden. Atau harus meruntuhkan martabat ketua kelompok itu?


Martin hanya dapat mengacak-acak rambutnya, frustasi. Masih menghisap tembakau yang diapit oleh jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Aiden. Adalah orang yang berbahaya. Kenapa gue bisa terjebak oleh permainannya!" Geram Martin pada dirinya sendiri.


"Bukan cuma Lo. Tapi semua anggota dipermainkan," ujar seseorang di belakang Martin. Membuat Martin seketika menoleh ke arah suara.


"Avrenzo." Orang yang disebutkan menyeringai, dengan kedua tangan yang berada di saku celana, berjalan mendekati Martin yang tengah duduk di tengah-tengah rooftop sendirian.


"Hai Martin. Lama tak berjumpa," sapa Avrenzo. Mendudukkan dirinya di samping Martin yang menatap dirinya dingin.


Avrenzo terkekeh geli memandang langit-langit. "Gila. Udah lama ke markas, gue malah dapat berita besar dari bos."


"Bos balik lagi." Lanjut Avrenzo menidurkan badannya di lantai tanpa beralaskan apa-apa. Martin mengangguk samar.


"Awalnya gue juga gak percaya. Kita semua gak percaya, karena dengan tubuh wanita, dia datang ke sini." Martin menekan rokok itu di lantai, membuat rokok itu mati.


"Tapi yang ngebuat kita percaya adalah, sifatnya, beladiri nya, bahkan apapun itu, sama dengan Aiden yang dulu."Jelas Martin, dirinya membuka kaleng minuman yang memang sudah dia bawa dari lantai bawah. Meminum minuman beralkohol itu.


Avrenzo menopang badannya, menjadi setengah tertidur. "Dan yang gak gue ngerti itu, kok bisa buat alat segede gaban begitu. Mana bisa buat jiwa orang pindah."


Alat itu sebenarnya belum disempurnakan, namun Aiden sudah mencobanya karena tidak sabar dengan hasil yang ada. Membuat Martin was-was, apakah akan ada efek samping, atau timbal baliknya.


Alat ilegal yang seharusnya tidak ada di bumi ini. Tidak ada yang bisa menentang kematian, atau memindahkan sesuatu yang bukan hak manusia.


Apakah ini saatnya robot berkuasa. Menguasai bumi?! Pikiran ngaco Avrenzo mulai menjadi. Mereka hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya.


"Lebih baik kita liat saja perkembangan Aiden. Karena dia terlalu bodoh untuk untuk hal seperti ini." Kata Avrenzo sembari melipat tangannya di depan dada.


"Oh ya. Badan mu. Siapa yang buat?" Tanya Avrenzo setelah hening tadi.


"Satu cewek sama dua cowok, ditambah si Gio." Jawab nya jujur. Meneguk minuman nya sampai habis, dan bersendawa.


"Cewek? Lo kalah sama cewek?" Avrenzo benar-benar tak percaya apa yang didengarnya.


"Cewek itu beda. Cewek itu, yang pernah dikenalin sama sepupu gue. Kalau gak salah namanya Vina, iya bener, Vina!"


Avrenzo terkejut. Vina? Vina yang dimaksud apakah sama dengan seseorang yang dekat dengan nya? Atau bukan? Gelisah hatinya membara.

__ADS_1


"Vina? Nama sepupu Lo siapa?"


Martin menatap aneh pada Avrenzo. "Kenapa nanyain sepupu gue? Jangan-jangan Lo suka?! Jangan, Lo kan udah punya Vero!"


"Dih. Apaan sih!? Gue mau nanya, siapa sepupunya Lo. Siapa tau gue kenal," sewot Avrenzo.


Martin memperbaiki posisi duduknya. "Sena."


"Hah?"


"Lu budek? Namanya Sena."


Avrenzo mengingat-ingat nama itu. Dia pernah sekali mendengar nama Sena, dari mulut Vina saat menguping. Berarti.. Vina yang dimaksud, sama dengan orang yang dicintainya.


"Yang Lo maksud itu, Clarissa Davina Callandra kan?" Avrenzo semakin penasaran. Apakah benar Vina, jika iya, gadis itu benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Untuk belajar beladiri saja Vina sudah ketakutan, apalagi berkelahi.


"Gue mana tau nama panjangnya."


Avrenzo menunduk. Benar juga, tidak mungkin kalau Martin tahu sejauh itu.


"Vin. Lo udah terasa asing sekarang."


......🥀🥀🥀......


Aiden telah membalas pesan nya pada Vina. Mengatakan jam, dan tanggal untuk pertemuan perdana mereka. Alamatnya telah dikirimkan. Yaitu mereka akan bertemu di kafe Glovic.


Ya. Kafe yang dikelola nya. Martin juga bekerja di sana sebagai barista. Dia selalu memperhatikan perkembangan kafe nya ini. Sekalian mempromosikan kafenya pada musuhnya tidak apa-apa kan.


"Kenapa badan saya cepat lelah ya. Padahal sebelumnya tidak begini." Gumamnya, sambil meregangkan otot-otot tangan nya. Menidurkan badannya di kasur.


Aiden menatap sekitar kamar nya. Dan tatapan jatuh ke sebuah bingkai foto yang ada di samping nakas tempat tidur. Lalu mengambil nya.


"Kau bahkan tega membunuh saya, Rissa. Membuat saya benci, sangat benci padamu. Padahal dulu sekali hubungan kita tidak seperti ini."


Aiden terduduk di atas tempat tidur. Mengelus lembut permukaan kaca bingkai. Dengan sekali hentakan, bingkai itu hancur mengenai dinding. Terbelah, dan kaca bertebaran di mana-mana.


"You're my best friend, but that was then. Now we are just enemies!" Desisnya.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2