
Memandang wajahmu cerah..
Membuatku tersenyum senang..
Indah dunia..
Tentu saja kita pernah..
Mengalami perbedaan..
Kita lalui..
Kulepas sebelah earphone yang ada di telinga. Lagu itu sangat nyata, aku bisa merasakan, aku selalu memandang nya dari jauh. Tersenyum, saat dia bisa tersenyum dengan cerah. Dunia terasa indah, saat memandang orang yang kita cintai bisa tertawa bahagia, setelah melewati masa sedihnya.
Tapi, tetap saja. Aku tidak bisa maju, dia selalu mengejar pemuda itu, Avrenzo. Aku tahu, mereka sangat cocok, untuk kembali bersama, entah mengapa mereka putus.
Lama memandang dengan intens, sepertinya dia merasa terpantau, lihat saja, dia mendongak dan melihat sekeliling. Waktu nya tepat, aku bisa menghindari tatapan nya, mata ku kini terpaku pada handphone yang masih memainkan lagu. Lirik itu ku nyanyikan dalam hati, setidaknya orang-orang tidak melihat ku tersenyum, karena masker yang pasang.
Ku kan setia menjagamu..
Bersama dirimu dirimu oh..
Sampai nanti akan selalu..
Bersama dirimu..
Ya, harap ku begitu. Bisa menjaga mu, bersama mu. Sampai kita bisa selalu bersama, sampai maut memisahkan. Aku hanya bisa terkekeh pelan, terlalu tinggi ekspetasi ku, akan semakin sakit juga saat jatuh karena tidak sesuai harapan ku.
Aku menggalau, setiap kali melihat mu. Aku merasa jatuh terlalu dalam, cinta ku pada Vina. Pernah berkenalan dengan nya saja aku merasa senang. Sekali pernah kutunjukkan rasa peduli ku padanya, yang ditolak mentah-mentah oleh nya.
Sakit hati ku, tapi aku sadar. Aku marah, tapi sadar, aku bukanlah siapa-siapa nya, perkenalan saat itu mungkin hanya kesialan baginya. Tapi, tidak untuk ku. Aku bahagia bisa mengenal mu.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Aku rasanya ingin menangis, shock, menatap nya yang terbaring di tengah jalan, akibat tabrakan sedetik yang lalu itu. Aku melirik Avrenzo. Laki-laki itu di samping kiri ku, kira-kira hanya 3 meter dariku. Dia mematung, tapi tak dapat melakukan apapun.
Kali ini aku gagal lagi. Bodoh.
Kaki ku berlari, menuju tempat Vina yang sudah tergeletak. Pemilik mobil, yang sudah menabrak pun, juga tidak kabur. Dengan cepat, aku mengangkatnya, dalam gendongan ku. Dan membaringkan nya di dalam mobil penabrak, setelah dipersilahkan.
"Kali ini, gue harus. Maaf kalau Lo ngelarang, ataupun nolak gue di dekat Lo," batinku.
Aku ikut ke dalam mobil, bersamaan itu, kulihat Avrenzo menatap tanah, yang tadinya tempat Vina tergeletak. Masih ada darah di sana. Aku bisa melihat, betapa pilunya tatapan dari laki-laki itu.
Tapi, kenapa? Bukannya dia yang selalu mendorong Vina menjauh? Kenapa dia yang merasa tersakiti? Aku bingung apa yang terjadi pada mereka. Putus, Vina mengejar, tapi Avrenzo mendorongnya untuk menjauh, namun, pemuda itu juga yang merasa sok sedih.
Aku benci pada Avrenzo yang memainkan hati Vina. Aku malah melihatnya dekat dengan perempuan yang sok cupu itu.
Mobil sudah berjalan dari tadi. Mata ku menatap kepala Vina yang tertidur di paha ku, mata nya terkatup, bibir nya memucat, tangan ku menahan darah dari luka yang terbuka di kepalanya, menggunakan kain yang diberikan sang pemilik mobil.
...🥀🥀🥀...
Itu terakhir kali nya aku melihatnya. Ketika aku menjenguknya, kedua Abang Vina tidak memperbolehkan diriku mengetahui keberadaan kamar Vina, saat aku bertanya pada resepsionis. Jahat.
Aku berusaha. Tapi tidak menemukan nya sama sekali. Aku berhenti, dan berharap bahwa dia baik-baik saja. Dari hari itu aku menunggu nya, di depan pagar sekolah. Seperti orang gila. Lama sekali, ya.
Beberapa hari kulewati. Akhirnya dia bisa bersekolah lagi, tapi penampilan nya tidak seperti biasa. Dia lebih dingin.Tak mengejar Avrenzo, bahkan dia sama sekali menatap Avrenzo.
Hari ini, dia bersama gadis! Apakah dia usah memiliki teman? Sahabat? Karena selama ini, dia tidak pernah dekat siapapun, kecuali 'mantan pacarnya'. Aku ikut senang akan hal itu. Tapi, lihat wajah jengahnya. Aku terkekeh melihat reaksi nya terhadap gadis yang cukup cerewet itu. Ah, anak baru itu adik ku rupanya.
Sena Inara Galandra. Dia tak pernah ingin memakai nama keluarga. Malu katanya, aku juga sebenarnya. Tapi ayah memaksa.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Dia telat hari ini. Tumben sekali. Aku melihat tangan ku yang membawa satu botol air dingin. Dia terlihat lelah, dan berkeringat. Tapi, walaupun begitu dia masih terlihat cantik dari jauh.
Dia mengipasi wajahnya, dan meregangkan tubuhnya sebentar, dan kembali ke semula. Entah kenapa, kaki ku otomatis mengarah padanya. Mulut ku terkunci, tidak bisa bertanya. Bagaimana keadaannya saat di rumah sakit? Maaf aku gak bisa datang. Maaf aku gak bisa merawat mu. Maaf melanggar lagi, saat kamu menyuruh ku untuk menjauhi ku.
Tapi tidak bisa! Aku masih ingin berusaha. Ku dengar kamu amnesia? Apa kamu melupakan ku juga? Apa kita bisa kembali berkenalan. Aku menggenggam erat botol yang baru ku beli, belum ku sentuh sedikit pun. Tanganku yang membawa botol terangkat, mendarat di pipinya. Aku melihatnya sedikit berjengit kaget.
"Minum," suruh ku, kenapa nada suara ku jadi seperti ini? Dan berbalik menghadap ku, mungkin dia akan kembali menolakku.
"Hai Vina.." Ujar ku sedikit gugup, tapi berusaha ku hilangkan. Dia melirik name-tag ku, berarti sepertinya dia tak mengingat ku. Kenapa dia menatap ku dengan intens.
Aku jadi merasa gugup kan, tenggorokan ku serak, dan agak berdeham. "I.. ini Lo minum, pasti seret kan itu lidah Lo," ucap ku, lalu kembali menyodorkan botol yang berada di tangan. Gadis ku tersadar, lalu mengambil botol nya. Gadis ku? Aku banyak mengkhayal.
"Makasih," ucap nya sembari tersenyum. Oke, aku terpana, dengan cepat aku pun mengalihkan pandangan, supaya tidak terlihat memandang nya terus menerus. Kulihat meminum air putih itu setengah. Dia terlalu haus, ya.
"Sama-sama," jawab ku.
"By the way, kita udah saling kenal?" Tanya nya, sembari menutup botol itu. Aku hanya bisa menatap Vina.
"Belum terlalu kenal sih," kata aku, menghela nafas. Tak mungkin aku memberitahukan nya, dan menceritakan bahwa aku dan dia hanya kenalan tak sengaja.
"Kalau gitu, kenalan ulang." Dia menatap lurus ke arah ku, dan lagi itu membuat ku berkeringat dingin.
Vina menjulurkan tangannya, dan berkata, "Gue Clarissa Davina, salam kenal." Aku membalas senyuman itu dengan senyuman tipis, dan menyambut tangan Vina.
"Gue Edward Narendra. Salam kenal juga," balasku. Jangan gemetar, please.
"Walaupun baru pertama kita kenalan dengan benar, dari sebelumnya, tapi gue udah lama nyimpan perasaan ini dari pandangan pertama kita, Icha." Batin ku. Panggilan itu cocok untuk kamu.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1