Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 65 : Thanks for Staying Alive


__ADS_3

BRAK!


Terdengar gebrakan meja dari sebuah ruangan. Dia bangkit dari kursinya, dan berjalan mondar-mandir dalam ruang itu, sembari menggigit kuku jari nya. Alis tebal terangkat satu.


"Kenapa dia bisa keluar?! Padahal gue udah buat itu dunia sedemikian rupa, supaya mirip sama dunia nya. Kenapa dia bisa keluar?!" Gumamnya terus menerus. Dia gelisah.


"Padahal gue juga udah pertaruhin nyawa gue ke boss, apalagi gue gak bilang gimana hasil curian data-data itu." Pemuda itu keluar dari kamarnya, dengan berpakaian biasa. Hoodie hitam, dengan jeans pendek, dan pakaian kaos putih polos.


"Lebih baik cari makan." Langkahnya membawa dirinya masuk ke dalam minimarket dekat kontrakannya. "Mie lagi, mie lagi," batin nya, sembari mengambil salah satu mie instan yang ada di rak.


Pemuda bermata empat itu menangkap sesosok tubuh yang dia kenali. "Waduh. Itu kan Tito! Kenapa dia bisa ada di sini?" Gumamnya. Lalu bersembunyi di rak terdekat, agar tidak terlihat oleh Tito.


Di sisi Tito, pemuda itu sedang membeli makanan untuk menyetok nya di rumah yang sudah di berikan pada nya dari sang boss. "Udah itu aja, mbak. Oh iya, sini ada risol yang make saos putih gak, mbak?"


Sang mbak kasir menyernyitkan dahinya. "Maksudnya saos putih, apa ya mas?"


Tito menggaruk tengkuknya. "Itu risol, yang di dalamnya ada yang putih-putih gitu," ucap Tito mencoba menjelaskan.


"Risol mayo, mas?"


"Nah, itu maksudnya saya mbak." Tito sedikit grogi melihat mbak kasir itu sebenarnya, jadi membuatnya tak bisa berpikir. "Risol mayo nya dua aja, mbak," pinta Tito. Setelah itu membayar semua belanjaannya.


"Terima kasih, mbak." Lalu dirinya pergi, tanpa merasakan sedari tadi ada yang memperhatikan. Yaitu, pemuda berhoodie itu. Mata elang nya yang sedari tadi melotot, kembali seperti semula, saat Tito telah keluar.


"Untung saja Tito gak nengok. Kalau nengok abis lah aku."


"Salah sendiri pernah punya masalah sama kelompok mereka," Batinnya, dan itu membuatnya tersenyum miris. Lalu bergegas menuju kasir, untuk membayar semua nya.


...🥀🥀🥀...


Vina makan dengan disuapi Keyla, perlahan, namun, Vina merasakan pahit mendera lidahnya. Makanan yang masuk hambar, dan tidak ada rasa. Bubur dari rumah sakit memang tidak mengenakan, rasanya ingin beli ayam geprek seberang rumah sakit.

__ADS_1


"Udah. Gue gak mau lagi, gak enak rasanya," tolak Vina kesekian kalinya. Padahal baru tiga sendok makan yang masuk ke dalam mulutnya, dan dia saja tertidur sudah seminggu, apa tidak lapar? Atau lemas, begitu?


Keyla hanya bisa menghela nafasnya lesu. "Kak, kakak harus makan. Gak boleh gini. Aku sedih liat nya. Biar cepat sembuh, kak, gak sakit lagi, emang kakak gak mau cepet sembuh?" Keyla mencoba membujuk.


Vina hanya diam, pikirannya hanya tertuju pada dunia tak nyata yang ada di bawah alam sadarnya. Dunia itu benar-benar nyata atau tidak? Atau malah dunia ini yang bukanlah nyata?


"Bisa gila gue lama-lama."


Vina menghentakkan kepalanya ke bantal, membuat Keyla panik. "Kak. Jangan gitu, kepalanya kakak kan takutnya masih sakit. Ntar luka nya gak sembuh-sembuh," ujar Keyla khawatir.


Vina terdiam lagi, dan kini menurut, tidak lagi menghentakkan kepalanya ke bantal. "Tapi gue gak mau makan."


"I.. iya, tapi jangan kayak gitu, kak. Ntar luka kakak gak sembuh-sembuh. Keyla minta tolong ya," mohon nya. Di dalam ruangan memang hanya mereka berdua. Edward pergi sebentar keluar, entah apa yang dilakukan oleh pemuda itu.


Vina menggigit bibir bawahnya, dia jangan sampai terpengaruh oleh alam bawah sadar nya. "Maafin kakak, Key."


Keyla meletakkan mangkok bubur ke meja nakas, lalu memeluk kakaknya, tapi memastikan itu tidak menyakiti kakaknya. "Iya kak, yang penting kakak sembuh. Kakak kenapa malah jadi langganan masuk rumah sakit sih sekarang?" Tanya Keyla sembari terkekeh sedih.


Vina menggeleng dalam pelukan adiknya. "Gue juga gak tau."


Tapi, dia harus menyelesaikan tugas, misteri, dan teka-teki yang memang harus dia pecahkan. Vina tidak boleh menganggap dirinya sendirian. Keyla menatap kakak nya yang ada di dalam pelukannya.


Tatapan mata kakaknya kosong. "Kak, apa pun yang kakak pikirkan, aku harap, kakak bisa membagikan nya ke aku. Kakak gak sendirian, ada aku, ada Red Blood, ada teman-teman kakak, dan yang lainnya. Jadi, jangan menganggap kakak menghadapi setiap masalah hanya sendirian," bisik Keyla di telinga Vina.


Membuat Vina membulatkan matanya, jantung nya merasa berdenyut. Benar, Keyla mengatakan nya dengan benar. Padahal sebegitu banyaknya orang yang menyayangi nya, kenapa dia tidak menganggap ada orang-orang itu?


Kenapa hanya sendirian yang dipikirannya?


"Jangan benci siapapun, yang sebenarnya tidak berhak dibenci, kak.."


Iya, kenapa dia membenci orang yang tidak berhak dibenci?

__ADS_1


"Jangan menganggap semua musuh, kalau kakak bisa menjadikannya menjadi sahabat, bahkan bisa menjadi tempat berkeluh-kesah.."


Benar. Semua itu benar. Vina menutup matanya, menggenggam erat selimut nya. Bangga akan adiknya yang tau apa masalahnya, bangga akan kepekaan nya. Dia tidak tau, kalau adiknya telah se-dewasa ini.


"Kamu jadi dewasa, ya, Keyla. Kakak, jadi insecure," jawab Vina, sembari terkekeh, dan mendongak agar bisa melihat adik mungilnya, yang bisa berkata dewasa itu.


"Aku bukan anak kecil, dan gak mungkin aku gak merasakan masalah kakak yang kakak pikirkan. Kesendirian, adalah masalah utama setiap manusia. Terkadang, itu juga terasa di kehidupan ku."


"Aku bukan lagi bocah, yang hanya bisa menangis, jika melakukan kesalahan, atau bahkan tidak melakukannya. Itu malah jatuh nya cengeng, tau!" Keyla mengerucutkan bibirnya.


Vina mengelus tangan adiknya yang ada di pundaknya. Dan bersandar pada Keyla. "Kakak, minta maaf, menutupi masalah kakak, dari kamu. Hanya saja, kakak gak mau kamu merasa terbebani."


Keyla menggeleng keras. "Gak ada ya! Aku gak merasa terbebani kak! Aku malah pengen nya, kakak bisa berkeluh-kesah ke aku. Aku nungguin itu, supaya kita bisa lewatin ini bareng-bareng. Tapi ternyata gak, kakak menyimpan itu untuk diri kakak, sendirian. Menanggung semuanya sendiri lebih sulit, daripada bersamaan."


"Kakak, tau itu 'kan?"


Vina terdiam, dan tersenyum hangat. "Iya. Kakak tau. Dan makasih, kamu tau, ini mengingatkan kakak ke ayah sama ibu, yang selalu nasehatin kita."


Keyla mengangguk, dan mengelus kepala kakaknya, yang masih terbalut. "Kak." Panggil nya.


"Ya?"


"Makasih."


"Untuk apa?"


"Untuk tetap hidup. Makasih kakak masih ingin hidup, setidaknya jika bukan karena aku, kakak masih ingin bangun. Tapi untuk diri kakak sendiri, kakak siuman."


Vina tertegun. Sebegitu khawatir nya Keyla.


"Makasih juga, terus mendoakan yang terbaik untuk kakak. Agar kakak bisa hidup, dan bisa berjuang terus bersama kamu, adik tersayang ku."

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2