
Seorang gadis datang ke sebuah ruangan. Tempat rahasia yang hanya Red Blood yang tahu, dan tempat itu terdapat beberapa orang yang terkurung di dalam jeruji besi. Salah satu nya Martin.
Orang-orang yang ada di dalam jeruji itu adalah anak Shadow Legion yang berhasil kabur pada saat kemarin, tapi kembali tertangkap oleh mereka. Dan dilemparkan ke ruangan sempit bersama yang lainnya.
Di tangan gadis itu ada sebuah pipa besi, dan seorang pemuda ikut bersamanya di belakang. Jeruji besi dan juga pipa saling bergesekan dan berdentingan, ketika sang gadis memukul-mukul jeruji dengan pipa.
"Martin," desis sang gadis yang menatap bengis laki-laki di depannya. Di balik jeruji, dia, Martin mengepalkan tangannya, dan berlari untuk memukul gadis itu yang tengah berdiri sejengkal dari jeruji.
"VINA!"
SAT!
Gadis itu menghindari pukulan nya hanya dengan memundurkan tubuhnya, dan memasang wajah mengejek. "Lo tau gue kan? Yang pernah ikut ke markas Lo."
Martin memukul besi itu dengan keras, suara dentuman dan tangannya terdengar. Apa tidak sakit? Besi itu digenggam dengan gemas oleh Martin. Rasanya ingin membuat wajah yang mengejeknya hancur berkeping-keping.
"Vina. Jangan-jangan Lo cuman mau manfaatin sepupu gue untuk buat nyari tau hal ini kan?! Tentang Shadow Legion?" Teriak Martin.
"Santai lah, bro. Gak usah ngegas bisa gak?!" Bentak pemuda yang di belakang Vina. Martin berbalik menatap pemuda yang menyahut teriakannya tadi.
"Gio, Lo harus lepasin gue?!" Lalu Martin menunjuk wajah Vina dengan jari telunjuknya. "Dia itu pasti cuman manfaatin Lo, dia pasti mau rebut Red Blood. Dia penjahat sebenarnya!"
Gio mengeraskan rahangnya. Yang baru saja ditunjuk oleh Martin adalah ketua Red Blood sebenarnya, hanya saja beda raga. Martin 'kan memang belum tahu siapa sebenarnya gadis itu.
"Jangan tunjuk-tunjuk wakil ketua dengan jari haram Lo itu!" Sentak Gio, sembari menepis kasar tangan Martin. Membuat Martin berdecih, dan menendang besi yang menutupinya dengan telapak kakinya.
"Lo lebih baik diam, Martin. Ini pertemuan tatap muka kita yang kedua, gue cuman mau ngomong sesuatu aja." Vina memainkan pipa besi yang ada di genggaman tangannya.
"Mulai hari ini. Kelompok Shadow Legion yang ada di Bogor dan Jakarta sudah jatuh ke tangan Red Blood, dan jika seperti itu, berarti tinggal habisin sisa nya. Yaitu kalian, dan masih ada beberapa wilayah lainnya."
Vina menatap Gio. Gio yang mengerti maksud tatapannya, membuka pintu jeruji Martin, membuat Martin mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Tapi tidak berhasil, sebelum itu terjadi Gio dan Vina menahannya.
Gio kembali mengunci pintu jeruji, agar beberapa anggota Shadow Legion tidak melarikan diri.
__ADS_1
BRAK!
Memukul nya sampai terjerembab di tanah, kepalanya menabrak besi. Martin meringis meraba kepalanya, sepertinya benjol. Pemuda yang berada di samping Vina menarik kerahnya agar berdiri, lalu menyeretnya ke tempat lain.
"Mulai hari ini, mari kita mulai permainannya, Martin. Anggap aja ini balasan, karena Lo, udah buat seseorang hampir menyerahkan kekuasaan besar!" Vina mendongakan wajah Martin yang menunduk menggunakan pipa besi yang ada di tangannya.
"Dan itu adalah gue," desisnya kecil.
...🥀🥀🥀...
"Gue nyerah sama mereka." Edward sudah pasrah dengan pilihan orang tua nya, yang sudah terlihat tidak saling cocok. Setiap hari bertengkar, tanpa ada yang mengalah.
Edward menggaruk kepalanya kasar, mengingat itu kepalanya seperti mau pecah. "Gue udah gak tau mereka itu masih saling mencintai atau gak? Kita juga gak mungkin memaksa mereka 'kan, Na?"
Sena terdiam. Memang benar, mereka tidak terlihat seperti dua orang yang saling mencintai lagi seperti dulu. Jika dulu mereka selalu bahagia dimana pun, tapi sekarang sudah tidak bisa.
Semuanya hanya dia hadapi dengan senyuman. Bergembira, tanpa mengingat bahwa dirinya juga sedang bermasalah. Namun, kalian harus tahu, hati yang gembira adalah obat.
Obat yang membuat kita bisa menghadapi masalah. "Tapi kita belum coba, Ward. Kali ini aja, kita buat mereka menyatu lagi. Memang Lo gak mau, keluarga kita bersatu lagi?"
Sena menunduk. "Oke. Kita lanjutin di rumah, jangan di sini. Banyak orang," cicitnya. Sena mengalihkan wajahnya, agar Edward tidak melihat, dia menahan tangisnya.
Dia berdiri, tanpa menatap Edward lagi. Kakinya melangkah keluar dari cafe itu, diikuti oleh Edward dari belakangnya.
"Gue harap Vina gak tau soal masalah keluarga kita, Na. Gue.. gue malu buat ngakuin itu," kata Edward aga mengecilkan suaranya saat berada di samping Sena. Setelah itu, pergi meninggalkan gadis itu.
Tanpa orang melihat, Sena menangis tanpa suara. Helm full face nya dipakai, agar bisa menyembunyikan mata sembab nya. Dia menatap jalanan beraspal nan luas itu.
"Malu? Gue juga malu, bang. Tapi gue gak mikirin itu sekarang, gue hanyalah seorang anak yang ingin keluarga nya kembali. Apa gue terlalu egois, ya?" Bisiknya pada diri sendiri.
Sena menjalankan motornya. Walaupun hatinya sedang kacau, tapi pikiran masih berjalan dengan baik. Dia akan fokus untuk mengendarai motor nya sampai ke rumah dengan selamat.
Karena jika hal yang berbahaya terjadi, dirinya lah yang bodoh. Ingin teriak rasanya. Teriak sekeras sekerasnya, sampai dia bisa sedikit lega, setidaknya sedikit.
__ADS_1
"Tapi sekali ini aja. Gue mau menyatukan keluarga gue, gue gak mau kehilangan segalanya. Karena keluarga adalah segalanya."
...🥀🥀🥀...
Martin meringis kesakitan. Raungan nya memenuhi setiap sudut ruangan. Bahkan semuanya terdengar sampai ke luar, tempat sisa anggota Shadow Legion yang masih hidup.
Sungguh mereka merinding ketakutan mendengar suara kesakitan milik Martin. Urat-urat nadi milik Martin sampai terlihat di kulitnya yang terang.
"ARGHHHH! LEPHH.. ASH!!" Listrik kejut itu dimatikan, Martin lemas, dengan nafasnya yang terengah-engah. Penderitaan nya baru saja dimulai. Ini baru saja permulaan.
"Laki-laki kok lemah? Mana nih yang sering banget jadi pencabut nyawa? Kok malah dia yang mau dicabut nyawanya?" Ejek Gio. Vina hanya tersenyum miring, sembari berpangku tangan.
"Ini gak seberapa loh, Martin."
"Langsung aja bunuh gue! Langsung!" Teriak Martin, kesabarannya sudah diambang batas. Jika tangannya tidak di tahan seperti ini, pasti dua orang yang ada di depannya sudah dia hancurkan. Badannya saja tidak bisa dia gerakan.
TAK!
"ARGHHHH!" Pekik Martin melengking. Pipa besi itu menebas paha kanan nya dengan keras, pelakunya Vina. Vina dengan tanpa emosi di wajahnya, hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Lo terlalu berisik. Gak bisa, ya? Mulutnya diem setengah jam aja, kan gue sama Gio bersenang-senang?"
"Kalian gila?!" Bentak Martin, mencoba memberontak dan membuka ikatan yang melilit tubuhnya.
Vina menggeleng polos. "Gak kok. Gue masih waras, kalau gue udah gila gue pasti duduk-duduk di perempatan lampu merah lah."
Gio menahan tawanya dengan tangannya menutupi mulutnya.
"Sebenarnya apa mau kalian dari gue?!" Berteriak pun sudah tidak bertenaga lagi bagi Martin.
"Kesalahan Lo banyak. Nyakitin orang-orang sekitar, tau gak sih Lo?!"
DUAGH!
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...