Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Se.2_ #84. Death?


__ADS_3

Entah ini sudah Minggu ke berapa Rissa atau biasa dipanggil Vina? Seorang perempuan yang ber-transmigrasi ke tubuh gadis yang sebenarnya adiknya yang hilang. Hari-hari yang dilewati serasa sepi dan tanpa keceriaan oleh Keyla. Kecewa, tentunya. Kecewa karena sang kakak tak pernah mengabarinya barang sekali. Dan, katanya hanya dua minggu saja, tapi ini lewat dari hari yang ia janjikan!


“Key, mau ke pasar malam gak, nanti malam?” Tanya Gio, mencoba mengalihkan Keyla dari handphone nya yang menampilkan kontak sang kakak. Gio sudah melakukan yang terbaik dibantu Roby, agar Keyla sama sekali tidak mendengar kabar tentang berita waktu itu disiarkan di televisi. Gio selalu setia di sisi Keyla, walau sikapnya perlahan kembali seperti dulu.


Keyla hanya menengok pada Gio. Dan meletakkan handphone nya di meja. “Gue belum pernah mau ke pasar malam, karena tempat yang mau gue kunjungi sama kak Rissa adalah itu.”


“Dan sekarang gue mulai benci kata-kata itu.” Keyla menghela napasnya lalu memejamkan mata. Sedetik kemudian bangkit berdiri, dan melangkah menjauhi Gio yang menatap sendu padanya tengah masuk ke kamar. Gio menyandarkan dirinya pada sofa.


Dia dengan Roby sudah meng-hack seluruh media massa yang ada di web atau jenis lain, agar tidak ada kabar apapun mengenai Vina dan pesawat itu. Beberapa anak buah Red Blood juga mereka kerahkan mencari korban-korban termasuk Vina sendiri. Namun semua itu nihil. Yang ada hanya bukti-bukti yang mengarah kepada kematian.


Mulai dari koper yang dibawa Vina pada saat itu, juga ada beberapa potong kain dan pakaian. Dari situ ada beberapa rambut juga darah, yang sudah diidentifikasi apakah benar itu darah Vina, ataukah bukan? Mereka memang beberapa lebih maju untuk mendapatkan bukti tentang kematian gadis itu. Dan anak buah mereka menyimpulkan bahwa Clarissa Davina telah meninggal dunia. Tentu saja simpulan itu ditolak mentah-mentah oleh Gio dan Roby, mereka rela melakukan apapun untuk membuktikan bahwa Vina belum meninggal, agar tidak ada satupun yang kembali hancur hati nya karena kematian salah satu anggota keluarga tersayangnya.


“Ini salah aku, Key. Lagi-lagi, aku yang tolol jaga Vina, dan juga Rissa.” Batin Gio yang melamun menatap lurus plafon putih di atasnya. Entah keberapa kali dia berbicara seperti itu, dan Roby menyanggah itu terus menerus.


“Gue gak akan percaya, sampai gue ngeliat sendiri mayat Vina di hadapan gue. Sampai itu gak terjadi, gue percaya Vina masih hidup.” Ujar Roby dengan membentak, air matanya mengalir. Curiga pastinya, namun Vero kadang masih segan untuk bertanya lebih jauh tentang apa yang dipikirkan calon suaminya. Gio berdiri dan meninggalkan sofa itu, dirinya rasa dia membutuhkan udara segar.


...🥀🥀🥀...


“Ayo cepat, evakuasi semua jenazah!” Teriakkan seperti itu menghiasi lautan luas tanpa pulau di dekatnya. Dengan kapal-kapal penyelamat yang dikerahkan untuk mengambil puing-puing pesawat, dan penyelam-penyelam.


“Lapor pak, dari 451 penumpang baru 358 yang ditemukan, dan 306 diantaranya yang belum dapat teridentifikasi. Black Box telah ditemukan 7 menit lalu di pesisir bagian Selatan. Kami akan melanjutkan penyelamatan untuk korban lainnya,” lapor salah satu tim SAR di atas kapal itu, dan diangguki sekali oleh sang pendengar. Pelapor izin pergi, meninggalkan nya dalam sepi.


“Cucu ku. Entah kenapa, semua berita tentang mu dihapus, tapi ingatlah kakekmu lebih cerdas dari mereka yang berani menyembunyikan fakta ini!” Tangan keriputnya memegang erat tongkat yang biasa dipegang olehnya. Orang kepercayaannya lah yang memberitahukannya mengenai hal ini. Walau hatinya sakit mendengar ini, ketiga kalinya dia kehilangan cucu-nya.


Pertama, Davina waktu bayi. Rissa yang ditembak mati oleh lawan tepat di jantungnya. Lalu sekarang, Rissa yang ada di raga Davina.

__ADS_1


Tangan satunya dengan kaku mengusap wajahnya, menahan cucuran air mata. “Cucuku, apakah ini karma untuk kakek tua bau tanah ini? Karena merawat kalian terlalu keras, tak melihat betapa lelah nya kalian? Tapi kenapa selalu dengan cara ini? Anakku, lalu sekarang cucu-cucu ku?”


Dia yang memimpin pencarian. Dirinya turun tangan sendiri untuk mencari korban-korban, terutama Vina. Kakek itu berlutut, menangis histeris membayangkan suatu yang tak sanggup dipikirkan. Orang kepercayaannya menangkap tubuhnya yang ringkih.


“Cucuku sayang, bertahanlah. Kumohon bertahanlah, apapun yang terjadi.”


...🥀🥀🥀...


"Apa kakak se-sibuk itu, sialan!?" Keyla semakin lama, semakin berantakan. Duduk di ruang private nya, dengan se-botol alkohol yang menemani nya. Kembali meneguk alkohol itu sampai habis.


Keyla bersandar dengan wajah me-merah. Bergumam tak jelas, "ada yang janggal, semua teras berbeda. Mereka menutupi sesuatu dari ku!"


Dia berdiri dengan tegap, walau dengan sempoyongan berjalan keluar dari ruang di markasnya itu. "Cecunguk-cecunguk itu pasti bohong!"


BRAK..


"Kalian.. berbuat begini karena meremehkan ku? Let's see," sembari mengambil katana itu dari sarungnya, menatap pahatan dari katana yang belum pernah dia pakai. "Mari kita jungkir balikkan semua nya. Dan perlihatkan bahwa seorang Keyla.. bukanlah pengecut seperti yang mereka bilang."


...🥀🥀🥀...


Paginya, Gio dan Roby datang untuk memastikan keadaan Keyla. Tapi saat masuk yang mereka lihat bukanlah hal yang baik tapi keadaan markas yang sudah tegang.


"Ke.. Key?"


Keyla yang semula menatap orang yang tengah diikat, kini mendongak menatap mereka berdua yang baru saja datang. Keyla tersenyum menyambut kedatangan Gio, dan Roby.

__ADS_1


"Oww.. Gio, Roby. Selamat datang, di Red Blood era baru!"


Gio memandang tangan Keyla yang sedang menggenggam katana yang sudah bersimbah darah. Roby memalingkan wajahnya ke arah lain, karena dia bisa ada aura lain dari Keyla. Dan berpikir apa yang terjadi pada gadis itu.


"Ke.. kenapa Lo ikat Bryan dan Lhaskar! Lo sambit!? Dan.. hei! Kalian semua, kenapa gak ada yang menghentikan Keyla?!" Gio membentak panik, takut-takut Keyla akan menyerang sesama Red Blood.


"Hey, calm down, honey~" Keyla berjalan mendekati mereka berdua, "mereka pengkhianat, Yo, Ro. Mereka sama sekali gak bisa jawab pertanyaan simple gue."


"Apa ini.. tentang Rissa lagi?" Tanya Roby, sembari menatap Keyla tajam.


Keyla terkekeh geli, "Lo tau.. khekhe.. kalian pasti tau, apa yang gue cari, right? Dan mereka berdua gak mau jelasin. Tapi gue bilang ke mereka," Keyla menunju satu persatu sisi dari anggota yang menunduk takut, tidak ikut diikat. "..mereka gak akan gue buat kayak Bryan, dan Lhaskar, kalau mereka bilang sebenarnya."


"Jadi, kalian gak akan mengkhianati sang ketua, 'kan?" Tanya Keyla memiringkan kepalanya dan menatap sok polos pada Gio dan Roby.


Gio menatap sedih ada Keyla. Dia tak mau orang yang dicintainya sampai terpuruk karena berita yang menyebar mengenai kakaknya, tetapi malah sama saja, semua kembali keterpurukan Keyla yang menjadi, bahkan lebih buruk dari kematian pertama Rissa, dan sekarang kematian kakak sekaligus raga sang adik.


Gio dan Roby saling pandang, dan tentu dengan bersama mengucapkan janji anggota dari Red Blood.


"Kami, inti Red Blood, tak akan pernah mengkhianati Red Blood, sampai kapanpun! Karena Red Blood adalah hidup dan mati kami. Kita keluarga, kita satu!"


Keyla tersenyum, "bagus!"


Lalu Keyla mengayun-ayunkan katana itu dengan lihai. "Kak Rissa selalu mengajarkan ku tentang skill katana, walau aku ogah-ogahan, aku tetap bisa menyerap pelajarannya."


"So.. bisa jelaskan apa yang terjadi pada Kak Rissa?" Tekannya, beralih menatap kedua pemuda yang menegang.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2