Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Se.2_ #87. Their Evil Plan


__ADS_3

FYI GUYS,


...SEASON 2. TIDAK MEMILIKI EPS SEBANYAK SEASON 1....


...THANK YOU!...


...-----...


Roby melihat istrinya yang sedang sibuk melakukan pekerjaannya, menyiapkan masakan untuk mereka. Tersenyum menatap sang istri dengan perut yang sudah mulai membesar. Dirinya baru saja bangun dan diperlihatkan pemandangan indah.


Roby memeluk sang istri dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


"Eh.. udah bangun, sayang? Pagi banget?" Tanya sang istri. Dirinya agak merasa geli sebenarnya, karena napas yang menderu di lehernya.


"Hm.. udah dong. Aku harus kasih berkas penting ke Keyla. Harusnya kemarin, tapi aku bilang gak semudah itu," jelasnya dengan mata yang terkantuk-kantuk. Dan menggeliat mengeratkan pelukannya tapi lembut agar tak menyakiti calon anaknya di dalam perut perempuannya.


"Kamu masak apa, Ver?"


"Aku lagi pengen pasta buat sarapan. Kamu, mau yang lain atau samain sama aku?"


"Tolong samain ya, Ver."


Veronica, sang istri. Mereka sudah menikah, Roby telah menikahinya. Alasan utamanya tentu karena tanggung jawab tetaplah tanggung jawab. Memang awalnya Veronica merasa tidak enak, Roby menjadi terbebani karena kedatangannya.


"Kamu mandi, gih. Biar nanti selesai langsung makan."


"Yaudah. Aku mandi dulu, ya." Lengan kekarnya dilepas dari pinggang nya, merengut kehangatan dari pelukan dari belakang itu. Veronica tersenyum tipis menatap punggung suaminya.


"Roby, aku rasa kamu ada nutupin suatu hal. Tapi mungkin aku belum berhak tau rahasia kamu, ya?" Gumamnya Vero sembari melanjutkan masak nya, dan menghela napas panjang.


...🥀🥀🥀...


Keyla menerim berkas itu dari Roby. Dan membacanya.


"Blackkind baru saja memperkejakan pengawal pribadi pada Ciandra, dan itu baru kemarin pagi. Mereka tak pernah melakukan hal seperti itu, walau mereka mempercayai orang tersebut, ketua nya tidak akan mempercayai nya untuk menjaga anaknya. Dan mereka benar-benar menyewa seorang perempuan, sungguh tak dapat dipercaya."


Keyla menajamkan telinga nya mendengarkan penjelasan Roby. "Pengawal perempuan?"


Keyla menutup berkas itu dan menaruhnya di meja, menatap tajam Roby. "Jangan remehkan seorang perempuan, Ro. Gak semua cewek tuh lemah. Kayak gue.. kayak—"


Keyla menutup mata dan mulutnya, "ah.. bener gue janji ke diri gue sendiri, kalau gue seharusnya jangan inget kakak gue. Gue gak bakal manja dan ganggu dia lagi."


Roby menatap Keyla dengan sendu. Bagaimana cara nya untuk memberitahu yang sesungguhnya? Jika dia tahu, mungkin Keyla akan lebih hancur dari sekarang.


"Roby, suruh Gio untuk cari orang pergi ke Italia. Awasi pengawal Ciandra!"


Roby tersadar dan dengan agak gagap, "ba.. baik."

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Clank..


Gelas mereka beradu. Senyuman dari seorang Xlovenos sangatlah bahagia. Dia menatap satu persatu kelompok mafia itu.


"Everything will be fine. Kalau kita mempercepat rencana kita, tuan-tuan."


Havarreo membuka mulut, "maksudmu dengan kebangkitan Floan?"


Xlovenos mengangguk, "betul. Kekuatan kita bersatu, bantai Red Blood!"


Pemimpin Yellow Radeon mengangkat tangan kanannya, "saya sepertinya ingin merubah rencana."


Pemimpin Flandora menyernyit heran, "kenapa? Bukannya akumulasi rencana Tuan Xlovenos sangatlah bagus? Kemenangan kita 75 persen, Tuan Radeon?"


"Pengintai yang kami kirim, mengabarkan kalau Keyla sama sekali tidak tahu tentang kematian kakaknya."


"APA?! BAGAIMANA BISA?!" Xlovenos memukul meja dengan marah.


"Tunggu dulu, Tuan Xlovenos. Namun Keyla dikabarkan sangat membenci kakaknya, karena tak menepati janji."


"Jadi?"


"Kemenangan kita bukan lagi 75 persen, tapi langsung 95 persen, jika kita pura-pura bekerjasama dengan Red Blood."


Havarreo yang mendengar itu mencoba menenangkan diri. Red Blood di ujung tanduk kalau begini. Keyla tak tahu betul musuh sebenarnya dar Red Blood. Wajah-wajah musuh, gerak-gerik. Hanya Vina yang tahu.


Xlovenos tersadar dan menyeringai, "ah, benar. Kelompok mu masih menjalin hubungan yang baik dengan Red Blood 'kan? Mengenai jual beli itu. Jadi anda bisa melakukannya dengan cara itu, kami tinggal melakukan skenario yang mendalam."


Havarreo tersenyum tipis berpura-pura setuju. "Alamak. Aku harus lapor Vina!"


...🥀🥀🥀...


"Bukti yang kamu kumpulkan memang sudah sebanyak ini, tapi kamu tahu satu hal 'kan? Keluarga William tak semudah itu tersentuh oleh publik."


"Saya tau hal itu, komandan. Maka dari itu tuan William lah yang bertanggungjawab atas perbuatan perbuatan yang selama ini terjadi."


"Elina, Red Blood gak semudah itu memberitahu pada semua orang, kalau dia bukanlah kelompok yang baik. Mafia di dunia ini gak ada yang baik!" Jari telunjuk itu tepat di depannya matanya.


Tatapan tajam selalu didapat nya. Helaan napas dari lelah akan hidup yang sampai sekarang kasus tak berujung ini masih sangat panjang.


"Sudah lah, El. Semua sia-sia," pasrahnya.


"Komandan gila?! Gak ada yang sia-sia, kalau komandan gak menyerah sebelum mencoba. Korban dari William sudah banyak, dan anda sama sekali tidak tegas menghadapi semuanya!"


Tangan komandan nya mengepal, menatap manik mata hitam Elina, "gak usah sok tau, El."

__ADS_1


Dirinya berdengus, "ini yang buat persahabatan Lo, Aiden, dan Rissa putus. Karena keegoisan Lo."


Elina menarik kerah kemeja komandan nya, "komandan tau apa? Saya melakukan semua karena pekerjaan."


"Persahabatan Lo pecah, karena keegoisan Lo. Semua hancur!"


...🥀🥀🥀...


"Si bodoh itu udah masa bodo sama kehidupannya di sini, Yo. Jadi, gue gak perlu mikirin dia. Gue disini lebih fokus sama kelompok kita, dan kesejahteraan sekolah. Seperti yang kakek mau," jelas nya pada Gio. Gio dari seberang telepon panik, tentu saja ia panik, Keyla pergi ke Club sendiri, dan tengah mabuk!


"Key, gue mohon jangan tepar dulu! Inget, sadarin diri!"


"Haish.. berisik." Keyla menutup telepon dan bersandar menyernyitkan kening nya.


"Lo Keyla?"


Keyla merengut, "iyeh. Lo siapa dah?"


Pria itu tertawa, "tenang. Gue cuman mau kenalan. Kenalin gue Eric."


"Gak tertarik."


Pria itu terkekeh, "gue tau. Ini, gue taruh di tangan Lo. Kertas itu ngasih info tentang gua ada di mana, saat Lo butuh bantuan gue, Key."


Kertas dengan nama nya, nomor, dan ada nama Perusahaan, dari Pria bernama Eric tersebut. Eric tersenyum manis, dan pergi meninggalkan Keyla seorang diri, yang menatap Eric dengan sayu.


"Lumayan juga wajahnya," gumamnya.


Tak lama Gio datang mencarinya dengan melihat sekeliling, dan menatap Keyla yang bersandar di ujung bagian dinding sana. Untung saja karena tubuhnya kecil, jadi tak terlalu kelihatan oleh orang-orang mesum di sana.


"Key, ayo pulang."


Keyla tertawa aneh, "loh.. Gio kok Lo tiba-tiba udah disini aja? Tau gak tadi ada cowok ganteng—"


Gio menggendong Keyla ala bridal style, mengangkat nya masuk ke dalam mobil. Telinga nya seperti nya agak pengang mendengar ocehan Keyla mengenai pria yang dia tak tahu asal-muasalnya.


"Key, cukup. Kuping gue sakit dengernya."


...🥀🥀🥀...


"Berhasil?"


Pria itu mengangguk. "Berhasil. Gue yakin dengan cara begitu, Keyla dengan mudah penasaran dan bakal nekat dateng walau dia gak tau ini jebakan atau tidak."


"Good! Havarreo, orang pilihan mu menepati tugasnya."


Semua menepuk bahunya dengan senang, Havarreo tersenyum, "semoga rencana ini berjalan dengan lancar, semuanya."

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2