Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part 70 : She said, "Gone."


__ADS_3

"Sa.. Isaa.. Rissaaaa!"


Aku tersentak, dan bangun dari tidur ku. Menoleh ke kanan dan kiri memastikan siapa yang memanggil ku. Dan melihat seseorang yang berjalan dengan cepat ke arah ku.


"Siapa?" Tanya ku dalam gumaman. Aku takut, aku tidak mengenal siapa dia. Siapa sosok di depan!


"Tidak mengenal ku? Menyakitkan. Padahal kita selalu bertemu. Perkenalkan nama ku Clarissa Davina Callandra. Adik mu."


"Vina? Siapa Vina? Adik gue hanya ada Keyla." Bantah ku. Sungguh aku gak menyangka, sosok di depan ku ini sama sekali tidak ku tahu, bahkan siluetnya tidak familiar dengan siapapun.


Dia terlihat menghela nafas. "Kak. Aku tau, akibat kecelakaan itu, otak mu jadi sedikit rusak," ujarnya sembari menunjuk kepalanya sendiri beberapa kali. Ih, enak saja, masa otak ku dibilang sedikit rusak?


"Aku adikmu. Dan kau melupakan itu? Bagaimana aku tidak bilang bahwa otak mu rusak?" Tanya nya dengan nada menjengkelkan.


Alis ku mengerut. "Lo bisa jelasin dengan santai, kenapa malah ngegas. Lo tau, gue masih dalam mode baik, jadi jangan buat gue marah!" Kataku sambil melotot padanya.


"Kak. Aku tau, ada seseorang yang meretas data dari novel ini. Dan dia mengedit nya, membuat ingatan mu, pada identitas mu sendiri bahkan menghilang. Yang kakak bisa lakukan hanya mengontrol diri kakak, supaya kakak tidak hilang." Diri nya menunduk menatap ke bawah, yang aku liat hanya segumpal awan melayang di kaki.


"Aku mau, kakak bisa sadar siapa kakak, dan siapa aku. Kakak sebagai Rissa, diri kakak. Dan aku sebagai Vina, diriku sendiri. Jangan sampai kakak kehilangan diri kakak sendiri!"


Hei. Apa yang dia bicarakan? Aku kehilangan diri ku sendiri? Aku tidak seperti yang dia pikirkan! Pundak ku yang terasa kuat, sekarang melemah. Ugh, menyebalkan. Tunggu tubuhnya kenapa memudar?


"Bukan. Aku bukan memudar, tapi kakak sendiri yang mau menghapus ku dari pikiran kakak." Dia menatap tangannya yang seperti terbakar dan menghilang satu demi satu.

__ADS_1


"Aku cuman mau, kakak bisa menyelesaikan semua, dan bisa pergi dengan tenang. Sampai jumpa lagi, kak." Lalu kalimat terakhir nya, setelah itu menghilang bersamaan dengan aku yang tersadar dari tidur ku.


Tapi apa maksudnya? Pergi dengan tenang?


...🥀🥀🥀...


Sudah tiga hari dari mimpi itu. Aku akhirnya diperbolehkan pulang, sebenarnya rawat inap. Keluarga ku masih khawatir dengan keadaan ku, yang entah separah apa.


Dengan berada di atas kursi roda, aku terduduk. Lemah banget ya, itulah pikiran ku. Katanya kuat, katanya ini, dan katanya itu. Uh, masa bodo kalau ada orang yang berbicara seperti itu.


"Kak. Kakak melamun lagi," ujar Keyla. Aku sebenarnya tidak sedang melamun, buktinya aku tak lagi terpaku pada pikiran, namun berusaha agar bisa menyamankan diriku di sini.


"Gak, aku kan lagi liat dunia luar. Udah lama gak liat," jawab ku melihat sekeliling, yang kuyakin pasti tak banyak berubah. Ya, iyalah. Emang selama apa aku terbaring manja di ranjang rumah sakit?


"Kakak baru aja berapa minggu, itu juga gak lama banget. Gak banyak yang berubah kok, kak. Cuman kakak aja yang keliatan banget perubahan sifatnya," balas Keyla, dengan gumaman di akhir nya, yang tak terdengar olehku.


Keyla berdengus, dan menggelengkan kepalanya. "Kakak kenapa sih, aku gak merasa direpotkan. Jangan gitu, ah!"


Aku tersenyum, dan mengacak-acak rambutnya. "Iya iya, maafin kakak ya."


Dengusan dari lubang hidungnya berganti menjadi lengkungan di ujung bibirnya. Dan dia beranjak masuk ke dalam mobil, setelah melipat dan menaruh kursi roda di bagasi. Duduk di samping ku dengan tenang.


Gio yang menyetir dan di samping nya ada Roby yang mengecek I-pad di tangannya dan mengscrolling, dan mengetikkan kode pass yang dipakai nya. Aku agak aneh dengan sifat anak ini, si Gio. Kenapa dia malah diam, dan tak banyak ngomong, bukannya kemarin dia sudah kembali ceria? Hm, mulai dari aku kecelakaan, dan saat sadar sifatnya berubah drastis.

__ADS_1


"Gio," panggilku.


Dia berdeham, dan melirik sebentar ke kaca tengah, dan kembali memfokuskan tatapannya ke jalanan.


"Lo kenapa malah jadi pendiem? Ada yang lagi dipikirin?" Tidak mungkin kan dia memikirkan tentang cinta, kalau mengenai itu, aku yakin dia masih bisa mengendalikan emosi perasaannya.


Dia agak tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut ku. "Gak ada yang dipikirin kok, Vin. Gue cuman lagi capek aja kayaknya," jelasnya.


Aku curiga. Tapi, sepertinya itu privasinya tersendiri. Tujuan ku sekarang adalah hanya menyelesaikan semua, di sini. Aku tidak mau membuat nya tidak nyaman akan pertanyaan di luar nalar ini.


"Oh. Gue kira, Lo lagi pikirin sesuatu, dan tidak mau memberitahukan kepada kami," dengus Keyla yang tiba-tiba membuka pembicaraan. Mungkin dia merasakannya.


Gio menggeleng dan terkekeh, "Ya enggaklah. Gue cuman kurang tidur aja, makanya kecapekan."


Gio, kita udah dewasa bersama. Gak mungkin aku tidak tau, bahwa ada suatu hal yang menggangu pikiran mu.


"Rissa. Gue gak tau gimana jelasin nya, tapi gue takut, takut kalau penyakit ini akan semakin merajalela, dan membuat Lo gak ingat siapapun bahkan diri Lo sendiri, aku mohon, aku mohon, ya Tuhan. Berilah mujizat mu pada saudara ku, yaitu Rissa. Berilah dia kesembuhan, yang nyata Tuhan." Batin Gio.


Aku memandang setiap gedung pencakar langit di sepanjang jalan layang ini, setelah itu menikmati perjalanan dengan musik mengalun indah di pendengaran.


"Gio berbohong. Dan gue gak akan memperpanjang masalah ini, gue gak mau kalau hal ini membuat kita malah terpecah."


Setidaknya aku masih bertahan sampai sekarang. Walaupun, rasanya sudah remuk tak berdaya.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2