
Mata nya menatap sekitar, sejak sejam yang lalu pemuda itu meninggalkan ruangan rawat nya. Dikarenakan dirinya memiliki jadwal untuk latihan basket.
"Sena tidur, atau mati suri?" Gumam nya saat melihat seseorang yang sedari tadi masih tertidur tanpa pergerakan sedikitpun. Dirinya hanya menggaruk kepalanya.
Gadis itu menghela nafasnya, "sampai kapan gue kayak gini? Gara-gara gue ceroboh, ngebuat mereka jadi lepas, dan malah gue terluka." Kepalanya menoleh ke langit di luar jendela.
"Gue kira, gue bisa tenang. Ternyata alur cerita ini, gak se-klise yang gue bayangin."
Iya. Dirinya kini ingat, bagaimana alur cerita dari novel milik Sasya ini. Cerita ini, memang klise, seperti novel-novel kebanyakan.
Menceritakan seorang gadis yang bernama Veronica Hariadi Callandra, seorang anak tiri dari keluarga Callandra, yang sebenarnya tidak pernah dianggap. Awalnya dirinya hanyalah gadis jalanan berusia enam tahun, dan diangkat oleh seorang wanita paruh baya. Wanita itu adalah ibu dari Clarissa Davina Callandra.
Suami dari wanita itu bersikeras tidak mengizinkan gadis jalanan bawaan istrinya. Sudah cukup memiliki tiga anak. Dua laki-laki dan dua anak gadis, yang sangat dirinya sayang.
Tapi istrinya, tidak mendengarkan. Memang, dari awal mamanya itu, tidak pernah menyayangi. Semua hanya topeng, yang ia pasang. Bisa dikatakan, akan ada waktunya, dia dapat membuat sang anak perempuan pergi dari rumah.
Maya Praduta Laoranz, ibu dari tiga anak. Seorang antagonis. Kadang bisa terlihat baik, bahkan bisa terlihat jahat. Kadang keduanya. Wanita itu memang patut dicurigai.
Veronica tumbuh, dan dirinya masuk ke sekolah yang sama dengan saudara-saudara tiri nya. Kejadian, yang pernah terjadi, pada saudari nya. Yaitu, Davina yang biasa dipanggil Vina, membuatnya semakin disayang oleh keluarga nya, kecuali sang papa.
Situasi ini, membuatnya sedikit terbiasa. Bahkan ada seseorang yang masuk ke dalam hatinya, menjadikan dirinya kekasih dari pemuda itu. Ia tahu, bahwa pemuda itu, adalah kekasih dari kakaknya. Vina.
Tapi, kembali lagi ke dirinya. Mulai terbiasa dengan semua hal itu, membuatnya serakah. Dan mengambil semua, milik kakak perempuan satu-satunya. Setelah kematian, kakak perempuan pertamanya.
Clarissa Davina Callandra, seorang antagonis utama. Yang sebenarnya hanya kambing hitam dari semua. Salah paham, membuatnya terkucilkan. Dari teman, sekolah, bahkan keluarga nya.
"Memang cerita ini, agak klise sih. Tapi, kalau gue pikir, Vero anak jalanan.. itu beda dari yang lain." Tangan meraba dadanya.
"Tapi, kalau dipikir-pikir, kenapa gue baru ingat sekarang? Mengenai ingatan asli gue. Apa setelah masuk ke tubuh baru ini, ada beberapa ingatan yang gak ikut," lanjutnya. Vina menunduk menatap tangan yang berada di dadanya.
"Veronica, protagonis utama, yang di dalam novel online sebelum direvisi, yang telah membunuh Clarissa Davina Callandra. Mendorong nya, secara sengaja dari atas rooftop, saat promnight sekolah." Vina bergidik.
"Mana mau gue ikutin semua alur, kalau akhirnya gue mati. Tapi dari awal gue kan gak ikutin alur, bahkan gak ingat." Monolog nya.
"Gak ingat apa?" Vina berjengit kaget, menoleh ke asal suara. Ah, sosok itu sudah terbangun dari tidur cantik nya ternyata.
"Sena. Gue kira Lo mati suri."
__ADS_1
"Anjir, enak aja. Eh iya, Lo udah sadar! Sejak kapan?!"
"Satu setengah jam yang lalu," ujar nya singkat. Vina menatap datar temannya yang sedang berjalan mendekati tempat tidurnya.
Sena hany dapat menyengir ditatap seperti itu, dan berkata kaku, "mantep dong."
Vina memutar bola matanya malas, "jadi gimana?"
"Gimana apanya?" Tanya Sena, dengan wajah sok polos nya.
Vina dibuat kesal olehnya, "kok gagal? Gagal buat Sasya sadar."
Sena bersandar pada kursi nya, "gagal. Gue gak bisa masuk lebih jauh. Karena, gue sama dia gak terlalu dekat."
"Lo bisa, Sena. Lo kan sahabat nya." Vina menyernyit.
Mata milik Sena membalas tatapan Vina, "bukan. Sasya yang gue kenal, gak ada lagi. Dia bukan Sasya! Dia bukan sahabat gue, gue gak ngerasain apapun."
"Maksudnya?"
"Lo tau? Sebagai seorang sahabat, pasti tau, kebiasaan dan sebagainya. Semua memang sama, sama seperti Sasya. Tapi satu hal yang gak sama, karakteristik nya benar-benar berubah. Dia bukan kayak yang gue kenal lagi." Sena memperbaiki duduknya, menopang tangannya di tempat tidur Vina.
"Berarti gue benar, untuk hal dia cuman boneka. Tapi, kenapa dia bisa ngebuat semua karakter ini, hidup." Gumamnya. Gumamannya kecil, namun masih bisa Sena dengar.
"Lo tau, Vin. Gue juga merasa aneh, saat deket Lo." Vina menoleh jijik pada Sena.
"Bukan itu maksud gue! Denger gue dulu, geblek," sergah Sena, ia yakin kalau teman di hadapannya berpikiran aneh-aneh. Vina hanya mengangguk, dan mempersilahkan.
"Lo itu aneh. Lo itu kayak beda, beda sama orang-orang pada umumnya." Sena sedikit mendongak, menatap jam yang ada di dinding.
"Beda gimana maksudnya?"
"Aneh aja gitu. Lo kayak, tertarik tentang Sasya. Padahal, Lo gak kenal sama sekali. Boleh gue tau kenapa?" Sena benar-benar penasaran. Dia sadar, kalau ini terlalu jauh untuk bertanya. Bisa saja urusan pribadi, tapi kalau itu mengenai Sasya, membuatnya semakin penasaran.
Bibir Vina sedikit terbuka, tangannya bergerak mengepal. Vina mengalihkan pandangannya dari Sena.
"Karena dia, yang ngebuat gue ada di sini. Dan sekarang gue tau alasannya, dan berharap masih ada harapan, untuk dimaafkan."
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Dengan langkah yang cepat, pemuda dengan rambut undercut nya memasuki lorong rumah sakit. Setelah bertanya ke resepsionis, letak ruangan dari pasien bernama Clarissa Davina Callandra.
Sesampainya di depan pintu kamar ruang yang disebutkan resepsionis, tangannya bergerak membuka kenop pintu itu. Tangannya membawa buah-buahan untuk sang adik. Sebenarnya pemuda itu sangat marah.
Siapa yang berani-beraninya membuat adiknya masuk ke rumah sakit. Akan dibuat menyesal!
"Adik manis ku! Kakak ganteng mu, datang!" Sapa nya dengan sok akrab. Dua orang gadis yang sedang berbicara serius menjadi terhenti akibat orang itu.
Pemuda itu berjalan masuk, dengan senyumannya, "kamu baik-baik aja kan?" Kemudian meletakkan buah-buahan yang dibawanya.
"Ada yang sakit, Vina?" Tangan nya terangkat untuk mengusap kepala adiknya. Tapi langsung ditepis.
Gadis yang diajak bicara hanya menyernyit jijik dan geli, "jangan sokab anda kepada saya. Jangan sentuh saya, saya jijik sama mas."
Gadis lainnya yang sedang duduk manis di kursinya, hanya menatap datar temannya itu. Drama apa lagi yang dibuat olehnya.
Pemuda itu terkekeh, "Masa gitu sih, sama Abang kamu? Ini Lo, Abang kamu. Calos Vonasi Callandra." Bangga nya.
Vina menatap Sena yang di sampingnya kembali. Lewat tatapan matanya seperti meminta pertolongan, Sena yang menangkap sinyal itu, langsung berdiri. Dan jalan mendekat pada pemuda sok itu.
"Gak nyadar diri ya, manusia setan kek Lo." Sena menatap jijik pada Calos. "Padahal, dulu gak pernah anggep. Tapi sekarang, malah sok akrab." Lanjut nya.
Vina tersenyum sinis, "iya nih. Masa setelah semua itu, baru sekarang gue dianggap. Emang nya Lo pikir gue robot, yang gak punya perasaan, sama emosi?"
Calos mengepalkan tangannya, mengeraskan rahangnya. Merasa terpojokkan dengan situasi ini. "Semua ini, sebagai permintaan maaf dari gue. Tapi, gak pernah sedikitpun, Lo ngeliat maaf gue, Vin."
Calos menatap bergantian gadis yang tidak terlalu dikenal nya, dan juga adiknya, "gue ke sini mau minta maaf. Tapi ternyata, penolakan yang ada. Kalau kalian gak nyaman ada gue, gue bakal pergi dari sini."
Perkataan dengan nada kecewa darinya, tidak dihiraukan oleh kedua gadis yang menatap nya dengan nyalang. Langkah nya membawa dirinya pergi dari dalam kamar, dan keluar dari rumah sakit, dengan rasa amarahnya yang di ujung tanduk.
Dalam kamar kembali hening. Seperti teringat sesuatu, Vina menatap Sena yang sedang menatap pintu kamar, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gue berhak curiga 'kan, sama dia? Kenapa dia bisa tau, masa lalu gue, tentang dulu yang gak pernah dianggap."
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...