Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 21 : She's just a doll


__ADS_3

Vina melangkah ke sebuah rumah, membuka pintu pagar dan mengetuk pintu itu. Dirinya baru saja pulang dari sekolah, masih memakai seragam sekolah nya. Menunggu beberapa saat. Pemilik rumah nya membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang mengunjungi nya.


"Halo, pak Krisna." Sapa Vina dengan tersenyum miring. Pemilik rumah itu, Krisna mengembalikan wajah kagetnya.


Krisna berdeham dan tersenyum, "ada apa kamu kesini, nak?"


Gadis itu memiringkan kepalanya, dan memasukan tangan nya ke saku. "Pak, saya ingin bertanya lebih lanjut mengenai penulis itu. Apa boleh?"


Krisna menelan ludah nya, "Boleh. Mau di dalam atau di luar?"


"Bagaimana kalau di dalam?" Vina menaikkan sebelah alisnya.


"Silahkan."


Mereka berjalan masuk ke dalam ruang tamu. Duduk bersebrangan.


"Jadi?" Krisna menautkan kedua tangannya.


Vina bersandar, "Sasya orang yang sama dengan Audi kan?"


Krisna membeku, "oh. Jadi kamu sudah tahu."


Gadis yang berhadapan nya kini menatap nya tajam, "anda, tahu saya dari mana?"


Lelaki itu tersenyum, "tentu, tahu dari keponakan saya."


"Audi? Keponakan anda?"


"Sasya! Bukan Audi!" Bantah Krisna.


"Yeah, i know it. Tapi, dia bukan Sasya yang bapak kenal 'kan? Sasya yang anda kenal, gak mungkin melakukan hal kejam seperti ini. Kehidupan seseorang dipermainkan."


"Saya tahu. Tapi saya udah gak bisa mencegahnya." Krisna menunduk, meremas jari-jarinya.


"Berapa banyak? Berapa banyak orang yang sudah dipermainkan yang Sasya, Pak?"


"Kalian semua, kalian semua dipermainkan, saya gak tahu berapa banyak." Krisna menatap sendu pada gadis di seberang nya.


"Lalu, kenapa anda tidak bertindak?" Tanya Vina, saat Krisna hendak menjawab, seseorang memotong nya.


"Terlambat." Mereka berdua menoleh ke pintu masuk. Seorang misterius itu kembali. Orang yang sama, dengan penampilan yang sama.


Lelaki itu berdiri, "apa maksud anda!?"


Orang itu menaikkan sebelah alisnya, "dia sudah sepenuhnya dibawah pengaruh saya."


"Siapa anda, sebenarnya?" Tanya Vina sembari ikut berdiri. Dirinya mulai emosi.


Orang itu memiringkan kepalanya. "Vina. Kamu pasti tau saya kan?"


Orang itu perlahan membuka topi Hoodie nya, dan membuka masker nya. Memperlihatkan wajahnya pada Vina. Membuat Vina membulatkan matanya.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


"AUDI!? TUNGGU!"


Gadis itu menahan tangan Audi, membalikkan badannya.


Gadis berkacamata itu, kini berhadapan dengan sahabat lamanya. Mata sahabatnya memancarkan kerinduan, namun tidak dengan dirinya. Mata hanya menatap datar, dan kosong pada sahabat nya.


"Ya?"


"Boleh bicara berdua?"


"Hm. Kita kan udah bicara, Sena."


"Oh iya." Gadis di hadapannya itu menggaruk tengkuknya.


"Audi itu Sasya. Memang nya Lo gak liat, hobi nya, kelakuannya, dan kesukaannya! Apa Lo gak sadar! Dia sahabat Lo, yang Lo ceritain!"


"Tapi sikap dia bukan dari dirinya sendiri. Ada seseorang yang mempengaruhi dia. Jadi, tugas Lo. Lo harus sadarin dia. Dia bukan boneka! Orang misterius, yang kita liat di taman sekolah itu. Gue curiga, dia pelaku nya."


"Vina udah bilang gitu, sih. Tapi, gue gak terlalu percaya." Batin Sena.


"Lo.. maksudnya kamu, sebenarnya siapa?" Tanya Sena.


"Eh, gue to the point, banget dah!"


"Maksud kamu?" Gadis berkacamata itu menatap tajam pada Sena, membuat Sena gelagapan.


"Mak.. maksud ku, bukan gitu. A.. aku cuman penasaran. Kenapa semua yang kamu lakuin, sama kayak sahabat aku," ujar Sena. Dengan suara mengecil di kalimat terakhir.


"Kamu.. gak mau jawab?"


Gadis berkacamata itu menghela nafasnya. Menunduk. Mengangkat dan menatap kedua tangannya.


"Aku.. memang dia."


Jantung Sena berdegup. Keringat nya mengalir. Bibirnya kelu untuk berucap.


"J.. jadi, ini kamu Sya. Bener-bener kamu? Ba.. bagaimana bisa?"


"I don't know how. Tiba-tiba aku udah ada di dalam tubuh ini. Dan, aku merasa aneh sama tubuh ini. Aku merasa dikendalikan oleh seseorang." Gadis itu mengepalkan kedua tangannya.


Sena hanya terdiam, mendengarkan gadis itu. Sahabatnya yang dulu pernah dilindungi nya. Dia benar-benar hanya menganggap bahwa Sasya adalah adiknya. Karena umurnya lebih tua dari Sasya, walau hanya tua beberapa bulan.


"Jelasin sama gue."


"Cuman segitu yang bisa gue jelasin, Sena!"


"Kenapa?!"


"Karena gue gak mau!" Setelah itu, gadis itu berbalik dan dengan cepat menjauh dari Sena.


Sena menatap punggung Audi yang menjauh dengan sendu. Melangkah ke gerbang sekolah untuk pulang.


"Benar. Apa yang Lo bilang, benar, Vina."

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Vina menatap datar orang dihadapannya, orang itu hanya menyeringai. Krisna juga menatap heran pada dua orang di depannya ini. Apa mereka saling mengenal?


"Mama. Jadi semua ini kelakuan mama?"


Orang itu menggeleng, "No! Bukan mama, ini saya. Ketua dari Shadow Legion. Aiden Laksmana. Dan bisa berakhir di tubuh wanita tua ini, karena kelompok mu, membunuh ku."


Mata Vina berkaca-kaca, "lalu, dimana mama gue?"


"Mati. Mungkin."


"Gak mungkin! Sejak kapan Lo ada di dalam tubuh mama gue?!"


"Mungkin, sejak anda, Rissa, masuk rumah sakit. Aish, kenapa ya masuk ke tubuh wanita?" Orang itu, Maya menggaruk tengkuknya.


"Sebenarnya apa mau Lo?!" Tanya Vina, dengan nada membentak.


Krisna hanya diam, dan mendudukkan dirinya, tidak mengerti apa masalah mereka.


"Mau balas dendam. Just it." Orang itu memiringkan kepalanya, menyadarkan dirinya pada pintu.


Gadis itu berdengus, "alasan yang aneh."


"Aneh kata mu?! Boneka saya, akan membalas kan dendam ku! Sasya," ujarnya.


"Kenapa anda bawa-bawa keponakan saya!?" Krisna berdiri, dan mendekati orang itu. Dengan cepat orang itu memukul Krisna, dan membuat Krisna tersungkur. Punggung lelaki itu diinjak dan ditekan.


"Ish, sampah masyarakat." Lalu ditendang nya Krisna membuat tubuh Krisna terguling menjauh.


"Akh." Ringis Krisna.


Vina menatap Krisna, lalu beralih pada Maya. Berjalan mendekat.


"Aish. Padahal baru aja bisa ngerasain gimana rasanya punya ibu. Ternyata itu semua hanya tipuan." Vina memasukkan sebelah tangan ke saku rok nya, dan memperbaiki rambutnya dengan tangan satunya.


"Tapi, memang aneh sih. Di cerita yang gue inget itu, ibu nya Vina, gak pernah sekalipun menyayangi anak nya ini. Gak terlalu keliatan sih, kenapa nya." Gadis itu telah berada dihadapan wanita itu.


Mata indah milik Vina berpacu dengan milik Maya. Membuat Maya membeku. Mata penuh penderitaan. Mata yang sendu, dan mata itu menatapnya.


"Aiden. Lo itu, gak bakal bisa ngebalas dendam ke gue." Maya atau bisa dibilang Aiden menatap nya. "Karena gue gak percaya itu Lo!"


"Ini gue, Sialan!!" Teriak nya di depan wajah Vina. "Orang yang kalian bunuh! Bahkan dengan tubuh ini, gue bisa masuk lagi di kelompok Shadow Legion!"


Vina mengusap wajahnya, "Gak usah teriak di muka gue! Mulut Lo bau dosa."


"Aish. Agak aneh sebenarnya, kalau liat muka Lo berubah jadi wanita tua, menyebalkan." Lanjutnya.


"Tekanan batin saya dibuat anda."


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2